Rangkuman Berita Utama Timteng  Kamis 18 November 2021

Jakarta, ICMES.  Belasan pengunjuk rasa anti kudeta militer di Sudan tewas dan puluhan lainnya menderita luka-luka, Rabu, sehingga hari itu tercatat sebagai hari paling berdarah sejak peristiwa kudeta yang dilakukan oleh komandan militer Jenderal Abdulfattah Al-Burhan.

Satu pemuda Palestina gugur ditembak oleh polisi Israel setelah menikam dua polisi di kota Quds (Yerussalem) Timur. Keberanian pemuda itu mendapat pujian dari berbagai faksi pejuang Palestina.

Wakil Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Majid Takht-Ravanchi Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutunya di Eropa pada sesi ke-76 Majelis Umum PBB yang dengan suara bulat telah menyetujui laporan tahunan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Wakil Direktur Departemen Bimbingan Moral Kementerian Pertahanan Yaman di Sana’a, Brigjen Abdullah bin Amer, menyatakan Israel memandang Yaman sebagai ancaman dan telah terjadi agresi-agresi Israel terhadap wilayah udara dan perairan Yaman dengan semua rinciannya yang belum diungkap.

Berita Selengkapnya:

Sudan Kian Memamas, Belasan Demonstran Tewas Diserang Tentara

Belasan pengunjuk rasa anti kudeta militer di Sudan tewas dan puluhan lainnya menderita luka-luka, Rabu (17/11), sehingga hari itu tercatat sebagai hari paling berdarah sejak peristiwa kudeta yang dilakukan oleh komandan militer Jenderal Abdulfattah Al-Burhan pada 25 Oktober lalu, ketika warga Sudan terisolasi dunia akibat pemutusan total layanan telefon dan internet.

Komite Dokter Pusat yang merupakan serikat pendukung pemerintahan sipil menyatakan bahwa di pinggiran utara Ibu Kota Khartoum saja sebanyak 11 orang, satu di antaranya perempuan, tewas diterjang peluru.

Menurut komite ini, semua korban terbunuh dengan “peluru tajam yang mengena bagian tubuh antara kepala, dada dan perut” dan terdapat pula  “puluhan korban luka dengan tingkat keparahan yang bervariasi, dan mereka sedang dirawat”.

Tercatat bahwa jumlah korban tewas bertambah menjadi 39 orang, tiga di antaranya remaja, selama terjadi penindasan militer terhadap demonstran sejak Al-Burhan melakukan kudeta terhadap para mitra sipilnya dalam pemerintahan pada 25 Oktober lalu. Penindasan ini juga telah menjatuhkan ratusan korban luka.

Pada 30 Oktober dan 13 November lalu ratusan ribu warga Sudan turun ke jalan-jalan untuk menandai penolakan mereka terhadap kudeta. Penindasan dimulai dimulai sejak hari pertama unjuk rasa, tapi pada hari Rabu kemarin tampak mengalami peningkatan.  

Sejak kudeta 25 Oktober, warga Sudan bertukar informasi dan ajakan berdemonstrasi melalui SMS dan tidak lagi melalui media sosial akibat terputusnya layanan internet dalam jangka waktu yang lama, tapi sejak Rabu sore, mereka bahkan tidak dapat mengakses jaringan telefon sehingga jumlah pengunjuk rasa berkurang dratis dari puluhan ribu menjadi ribuan orang pada hari itu.

Para saksi mata mengatakan kepada AFP bahwa pasukan keamanan menembakkan gas air mata terhadap pengunjuk rasa di pusat kota Khartoum dan kawasan pesisir di timur laut Khartoum yang mengalami pemblokiran semua layanan telefon dan internet sejak 24 jam sebelumnya. (raialyoum)

Tikam Polisi Israel, Satu Pemuda Palestina Gugur dan Dipuji Kelompok-Kelompok Pejuang

Satu pemuda Palestina gugur ditembak oleh polisi Israel setelah menikam dua polisi di kota Quds (Yerussalem) Timur pada Rabu malam (17/11). Keberanian pemuda itu mendapat pujian dari berbagai faksi pejuang Palestina.

Polisi Israel menyatakan pemuda Palestina itu telah menikam dua polisi perbatasan Israel yang sedang bertugas di lokasi dekat sekolah agama Ateret Cohanim.

“Para petugas kepolisian dan penjaga keamanan sipil yang ada dilokasi telah menetralisirnya dengan tembakan,” ungkap kepolisian Israel dalam sebuah pernyataan.

Polisi Israel juga menyebutkan bahwa tikaman pemuda Palestina tersebut menyebabkan dua penjaga perbatasan menderita luka ringan dan sedang.

Beberapa faksi Palestina, termasuk Jihad Islam Palestina (PIJ) dan Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas), memuji serangan pemuda Palestina bernama Umar Abu Asab dari distrik Al-Isawiya, Quds, tersebut.

Jubir PIJ di Tepi Barat, Tariq Izzuddin, mengatakan, “Kami mengucapkan selamat atas operasi gagah berani itu, dan mengucapkan salam kepada ruh pemuda pejuang itu, yang akan menjadi duri di tenggorokan rezim pendudukan sehingga tak akan pernah menikmati rasa tentram dan aman selagi mereka masih menghinggapi dada kami, menghancurkan rumah-rumah kami, dan mengusir orang-orang kami.”

Senada dengan ini, juru bicara Hamas Hazim Qasim, menyebut serangan pemuda Palestina tersebut sebagai operasi berani mati syahid yang menunjukkan bahwa bangsa Paletina terus berjuang melawan Israel  tanpa bisa dihentikan oleh rezim Zionis tersebut.

“Operasi penuh pengobanan diri yang membuat pelakunya gugur syahid ini merupakan gambaran dari konflik besar bangsa dan para pejuang kami melawan rezim pendudukan, dan konflik tak akan pernah berakhir kecuali dengan kemenangan bangsa kami selaku pemilik tanah, hak dan sejarah,” ungkapnya.

Gerakan Mujahidin  Palestina juga memuji operasi penikaman polisi Israel oleh Umar Abu Asab dan mengucapkan selamat kepada penduduk Quds atas keberanian Umar. Faksi ini juga menekan bahwa resistensi merupakan satu-satunya opsi untuk pembebasan Palestina dari cengkraman kaum Zionis.

Faksi ini menyatakan, “Kami mengucapkan selamat kepada penduduk wilayah penduduk Quds dan Tepi Barat dengan semua pemudanya, kaum pria dan perempuannya dan para orang-orang tuanya merdeka. Kami juga menegaskan bahwa Quds dan para pejuangnya merupakan pejuang teladan bagi bangsa kita, yang melawan rezim pendudukan dengan segala sarana yang tersedia, dan menjadi benteng di depan segala konspirasi yang bertujuan menistakan kesucian dan tanah kita.” (raialyoum/alalam)

Iran: AS dan Eropalah yang Tak Patuh kepada JCPOA

Wakil Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Majid Takht-Ravanchi Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutunya di Eropa pada sesi ke-76 Majelis Umum PBB yang dengan suara bulat telah menyetujui laporan tahunan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Takht-Ravanchi mengingatkan bahwa tindakan AS keluar dari JCPOA pada Mei 2018, menerapkan kembali sanksi terhadap Irandan tak patut terhadap Resolusi Dewan Keamanan 2231 merupakan aksi pelanggaran hukum yang menghalangi Iran memanfaatkan hak-haknya yang sah sesuai resolusi PBB.

Takht-Ravanchi menyebut bahwa fakta yang tak terbantahkan tentang JCPOA adalah bahwa Teheran telah mematuhi ketentuan perjanjian ini, sedangkan AS dan tiga negara Eropa telah melanggar kewajiban mereka.

Dia memastikan Iran siap untuk sepenuhnya menerapkan JCPOA jika pihak lain secara penuh dan efektif menerapkan komitmen mereka dan ada penghapusan semua sanksi ilegal yang dapat diverifikasi dan jaminan bahwa mereka tidak lagi melanggar kewajiban.

Takht-e Ravanchi menambahkan bahwa Iran sangat kooperatif dengan IAEA sehingga bahkan jumlah inspeksi IAEA terhadap Iran tertinggi di antara semua negara anggota badan ini, inspeksi ini terus berlanjut meski di tengah kondisi pandemi Covid-19.

Lebih lanjut dia meminta organisasi-organisasi internasional mengutuk pembunuhan ilmuwan Iran dan serangan teroris di situs nuklir Iran.

Takht-Ravanchi juga mengingatkan bahwa Rezim Zionis Israel masih bukan anggota NPT dan tidak pula berkeinginan menerima perjanjiani  dan perlindungan IAEA, dan karena itu IAEA harus menangani masalah ini secara profesional dan tidak memihak. (mna)

Pejabat Sanaa: Israel Memandang Yaman Ancaman bagi Dominasi Zionis atas Laut Merah

Wakil Direktur Departemen Bimbingan Moral Kementerian Pertahanan Yaman di Sana’a, Brigjen Abdullah bin Amer, menyatakan Israel memandang Yaman sebagai ancaman dan telah terjadi agresi-agresi Israel terhadap wilayah udara dan perairan Yaman dengan semua rinciannya yang belum diungkap.

Abdullah mengatakan, “Tel Aviv melihat di Yaman bahaya besar bagi hegemoninya atas wilayah Laut Merah selatan.”

Menurutnya, Israel memperluas sepak terjangnya di Yaman dalam beberapa dekade terakhir,  dan terdapat dokumen yang mengungkap adanya kontak rahasia antara Sanaa dan Tel Aviv pada tahun 2004.

Dia menyebut Israel sebagai “musuh yang tak ingin Yaman bebas dan merdeka” dan “memandang Yaman sebagai ancaman besar bagi dominasinya atas wilayah selatan Laut Merah.”

Mengenai situasi perang di Yaman saat ini, dia mengatakan, “Rakyat Yaman semakin mendekati kemenangan dan peraihan kemerdekaan dan kebebasan mereka.”

Sanaa menilai kekhawatiran Israel atas pembebasan Marib sebagai indikasi bahwa Partai Al-Islah  sebenarnya mewakili Israel dalam perang di Yaman.

Media Israel sendiri membahas perkembangan perang di Yaman. Mengenai perang di Ma’rib, Jerusalem Post menyebutkan, “Arab Saudi dan Iran mengawasi dengan cermat, sementara pertempuran penting di Yaman mendekati titik balik potensial.” Surat kabar Israel ini juga menyebut pembebasan Ma’rib sebagai sumber keprihatinan dan ancaman bagi Israel. (raialyoum)