Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 18 Juli 2019

rudal iran dan poster syd khameneiJakarta, ICMES: Pemerintah Iran menegaskan bahwa kekuatan pertahanan negara ini merupakan “garis merah” sehingga tidak dapat diusik dengan  negosiasi.

Di tengah ketegangan antara AS dan Inggris di satu pihak dan Iran di pihak lain, London mengaku akan mengirim kapal perang ketiganya ke Teluk Persia pada akhir tahun ini.

Rusia menilai sentimen anti-Iran telah memicu ketegangan di Timur Tengah. Karena itu, dia mengingatkan bahwa sentimen demikian dapat menimbulkan “konsekuensi bencana” di kawasan ini.

Dua orang, masing diplomat Turki dan karyawan konsulat Turki, tewas dan satu lainnya terluka terkena tembakan di sebuah restoran di kota Erbil, Irak

Berita selengkapnya:

Iran Sebut Kekuatan Pertahanannya “Garis Merah”

Kepala staf Presiden Iran Hassan Rouhani,  Mahmoud Va’ezi, menegaskan bahwa kekuatan pertahanan negara ini merupakan “garis merah” sehingga tidak dapat diusik dengan  negosiasi.

“Kekuatan pertahanan negara ini adalah garis merah. Kami tidak akan mengadakan negosiasi di bidang ini dalam kondisi bagaimanapun, dan telah menegaskannya berulang kali, “kata Mahmoud Va’ezi, Rabu (17/7/2019).

Pernyataan ini terkait dengan kontroversi menyusul pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengenai tema yang sama dalam wawancara dengan NBC News pada Senin lalu.

Saat itu Zarif mengecam penjualan senjata AS ke negara-negara kawasan Teluk Persia dan menyebutnya telah menyebabkan “wilayah kami siap meledak.”

“Jadi, jika mereka (AS) ingin berbicara tentang rudal kami, mereka pertama mereka harus berhenti menjual semua senjata ini, termasuk rudal, ke wilayah kami,” ujarnya.

Pernyaan Zarif ini lantas disalah artikan oleh Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo sehingga pada Selasa lalu mengklaim bahwa “untuk pertama kalinya, Iran mengaku siap merundingkan program rudalnya.”

“Kami akan memiliki kesempatan ini, saya harap …., “lanjut Pompeo.

Associated Press (AP) juga menerbitkan laporan tentang ini dengan judul “Zarif Meningkatkan Gagasan Perundingan (tentang program rudal Iran).”

Va’ezi kemudian berkomentar, “Ini bukan hal yang baru …  para pejabat Amerika yang berbeda membuat pernyataan kontradiktif setiap menit.”

Dia juga menyebut pernyataan Zarif kepada NBC itu, “sangat jelas”, dan “tidak ada bagian dari wawancara ini yang memungkinkan tafsiran demikian.”

Sebelumnya, juru bicara misi Iran untuk PBB, Ali-Reza Mir-Yousefi juga angkat bicara mengenai kesalahpahaman tersebut.

“Kami dengan tegas menolak karakterisasi komentar Zarif dari AP … yang berarti bahwa Iran bersedia merundingkan program rudal pertahanannya di beberapa titik. Rudal Iran dan misilnya benar-benar dan dalam kondisi apa pun tak dapat dinegosiasikan dengan siapa pun atau negara mana pun, titik, ” tulis Mir-Yousefi di Twitter. (presstv/alalam)

Inggris Kerahkan Kapal Perang Ketiga ke Teluk Persia

Di tengah ketegangan antara AS dan Inggris di satu pihak dan Iran di pihak lain, London mengaku akan mengirim kapal perang ketiganya ke Teluk Persia pada akhir tahun ini.

Kementerian Pertahanan Inggris, Selasa lalu (16/7/2019) menyatakan bahwa HMS Kent, kapal fregat tipe 23, akan dikerahkan ke Teluk Persia “pada September” mendatang sebagai bagian dari operasi untuk memastikan bahwa Inggris mempertahankan keberadaannya untuk keamanan maritim yang berkelanjutan di kawasan strategis tersebut.

Pengumuman itu dinyatakan di tengah eskalasi ketegangan antara London dan Teheran terkait dengan penahanan kapal tanker minyak Iran oleh pasukan maritim Inggris di Giblartar.

Namun, Kementerian Pertahanan Inggris menekankan bahwa pengerahan itu bukanlah eskalasi dengan dalih “sudah lama direncanakan”.

“Gerakan-gerakan yang telah direncanakan ini tidak mencerminkan eskalasi pada postur Inggris di kawasan dan merupakan rutinitas,” ungkapnya.

Menurut kementerian itu, kapal fregat HMS Montrose Tipe 23 saat ini ada di Teluk Persia, tapi akan menjalani pemeliharaan dan penggantian awak dengan kapal perusak Tipe 45 HMS Duncan yang sedang dalam perjalanan menuju Teluk Persia untuk mengambil alih. Duncan diperkirakan akan tiba minggu depan.

Mengenai penahanan kapal tanker minyak Iran tersebut, Teheran dalam kecaman terhadapnya menyebut tindakan itu sebagai aksi “bajak laut” dan menuntut pembebasannya sesegera mungkin.

Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayid Ali Khamenei pada Selasa lalu bahkan mengingatkan bahwa aksi “pembajakan” tidak akan dibiarkan tanpa balasan.

“Inggris yang keji melakukan aksi pembajakan laut dan mencuri kapal kami… Mereka melakukan kejahatan dan membuatnya terlihat legal,” kecamnya.

Dia menambahkan bahwa Iran “tidak akan membiarkan kejahatan ini tanpa respon, dan akan menanggapinya pada waktu dan tempat yang tepat.” (presstv)

Rusia Sebut Sentimen Anti-Iran Pemicu Ketegangan di Timteng

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menilai sentimen anti-Iran telah memicu ketegangan di Timur Tengah. Karena itu, dia mengingatkan bahwa sentimen demikian dapat menimbulkan “konsekuensi bencana” di kawasan ini.

Dalam wawancara dengan mingguan Rusia ‘Argumenty i Fakty’ yang diterbitkan pada hari Rabu (17/7/2019), Lavrov menyebutkan bahwa sentimen itulah yang ditunjukkan AS dan para sekutunya, padahal berpotensi memicu “situasi berbahaya.”

“AS melenturkan ototnya, telah meluncurkan kampanye untuk mendiskreditkan Iran, menuduh Republik Islam atas semua dosa… Ini menciptakan situasi berbahaya di mana percikan api akan cukup untuk menyalakan api. AS akan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi,” ujarnya.

Dia lantas menekankan bahwa Iran telah berulang kali menyatakan hasratnya untuk memastikan stabilitas regional melalui dialog dengan semua negara, termasuk negara-negara Arab Teluk Persia, yang memiliki kepentingan di kawasan ini.

Sedangkan Rusia sendiri, menurut Lavrov, menempuh berbagai langkah untuk meredakan ketegangan dan mempromosikan keamanan kolektif di Teluk Persia melalui upaya-upaya membangun kepercayaan.

“Kami bekerja dengan mitra kami untuk mempertahankan perjanjian multilateral dan menyelesaikan situasi di sekitar program nuklir Iran,” tutur Lavrov. (presstv)

Diplomat Turki Ditembak Mati di Erbil, Irak

Dua orang, masing diplomat Turki dan karyawan konsulat Turki, tewas dan satu lainnya terluka terkena tembakan di sebuah restoran di kota Erbil, Irak

Pejabat keamanan Kurdi dan seorang saksi mengatakan kepada Reuters bahwa seorang pria bersenjata menembaki diplomat Turki sebelum melarikan diri dengan mobil yang dikendarai oleh rekannya, Rabu (17/7/2019).

Belum ada pihak yang mengaku bertanggungjawab atas serangan itu, sementara pasukan keamanan mulai mencari pelakunya.

Serangan itu menuai kecaman dari pemerintah Turki, Iran dan Kurdi di Erbil.

Turki berjanji akan membalas serangan itu, dan mengaku telah menggerakkan upaya mengidentifikasi dan menemukan pelaku.

“Balasan yang diperlukan akan diberikan kepada mereka yang melakukan serangan berbahaya ini,” cuit juru bicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalin di Twitter. (presstv)