Rangkuman Berita Utama Timteng  Kamis 17 September 2020

Saraya Waad Allah BahrainJakarta, ICMES. Sebuah kelompok resistensi di Bahrain yang menamakan dirinya Saraya Waad Allah (Janji Allah) mengumumkan pembentukan “Brigade Syuhada Quds” yang bermisi melawan eksistensi Zionis di Bahrain.

Persatuan Ulama Palestina menggelar muktamar yang menghasilkan fatwa yang mengharamkan normalisasi dengan Israel dan penjalinan hubungan dengannya dalam kapasitas apapun.

Presiden Iran Hassan Rouhani memperingatkan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain serta menuding keduanya berusaha menyediakan pangkapan militer untuk Rezim Zionis Israel.

Sebuah rekaman video singkat yang dipublikasikan di media sosial pada hari Selasa (15/9/2020 memperlihatkan lokasi rudal yang ditembakkan dari Jalur Gaza ke sebuah permukiman Israel di sekitar Jalur tersebut.

Berita selengkapnya:

Kelompok Saraya Waad Allah Bahrain Umumkan Pembentukan “Brigade Syuhada Quds”

Sebuah kelompok resistensi di Bahrain yang menamakan dirinya Saraya Waad Allah (Janji Allah) mengumumkan pembentukan “Brigade Syuhada Quds” yang bermisi melawan eksistensi Zionis di Bahrain.

“Saraya Waad Allah atas namanya dan atas nama saudara-saudara sesama mujahidinnya dalam resistensi Islam di Bahran mengumumkan pembukaan pendaftaran untuk bergabung dengan Brigade Syuhada Quds yang dikhususkan untuk perlawanan terhadap eksistensi Zionis di Bahrain,” ungkap kelompok itu dalam sebuah pernyataan yang dirilisnya, Rabu (16/12/2020).

Kelompok itu menegaskan, “Kami di Saraya Waad Allah dan faksi-faksi resistensi Islam lain di Bahrain serta bangsa kami berhasrat memerangi musuh, Zionis, dan melawan segala kebijakan arogan yang hendak dipaksakan terhadap bangsa dan umat kami.”

Saraya Waad Allah menyebut perjanjian normalisasi hubungan Bahrain dengan Israel sebagai “pelanggaran terhadap prinsip dan nilai yang diyakini oleh bangsa Bahrain, yang menolak segala bentuk normalisasi”.

“Normalisasi batil dengan Zionis tak lain adalah upaya merampungkan penguatan kanker ini di tubuh umat, merupakan hasil pembusukan bertahun-tahun berupa pengkhianatan pemerintahan-pemerintahan yang terzionisasi terhadap dasar-dasar keyakinan dan kehendak bangsa-bangsa merdeka, dan merupakan awal perwakilan diplomatik, interaksi perdagangan, pertukaran kebudayaan, dan kehadiran keamanan di negara yang penuh dengan pangkalan dan pusat militer asing yang tidak menyisakan apapun untuk kedaulatan negara ini,” ungkap kelompok itu.

Saraya Waad Allah menyatakan bahwa normalisasi dengan Rezim Zionis tak dapat diterima secara logika maupun syariat dan kerakyatan, dan karena itu hanya akan “sia-sia” bak “fatamorgana”.

Kelompok ini kemudian memastikan bahwa rakyat Bahrain akan berperan besar dalam perlawanan terhadap normalisi dan tidak akan membiarkan kaum Zionis eksis di Bahrain. (alalam)

Persatuan Ulama Palestina Haramkan Normalisasi Hubungan dengan Israel

Para tokoh dan aktivis Palestina di Jalur Gaza terus melakukan aktivitas penolakan terhadap normalisasi hubungan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan rezim pendudukan, Israel.

Dewan Perwakilan Rakyat Palestina, Rabu (16/9/2020), menggelar sidang khusus untuk membahas mekanisme perlawanan terhadap penutupan berkas perkara Palestina, sementara Persatuan Ulama Palestina menggelar muktamar yang menghasilkan fatwa yang mengharamkan normalisasi dengan Israel dan penjalinan hubungan dengannya dalam kapasitas apapun.

Para ulama Palestina menegaskan bahwa normalisasi itu haram secara syariat dan tak dapat diterima, dan bahwa umat Islam dan bangsa-bangsa Arab wajib menolaknya mentah-mentah.

“Tak ada perselisihan bahwa normalisasi itu merupakan kejahatan di mata agama dan kemanusiaan, serta merupakan pengkhianatan di mata bangsa, tikaman terhadap Arabisme, keberpihakan total kepada kepentingan musuh, dan perlawanan terhadap persaudaraan dalam agama dan akidah,” ungkap Ketua Persatuan Ulama Palestina, Syeikh Marwan Abu Rais, dalam pembacaan fatwa.

Nasim Yasin, anggota Persatuan Ulama Palestina, mengatakan, “Siapa yang menjulurkan tangannya kepada mereka (Israel) maka dia adalah wali (sekutu) bagi mereka, sebagaimana dinyatakan dalam ayat suci: ‘Siapa diantara kamu (wahai Muslimin) menjadikan mereka sebagai wali, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka’ (QS. Al-Maidah: 51)”.

Dia menambahkan, “Dengan demikian, maka ini merupakan kejahatan serta pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya, terhadap orang-orang yang beriman, dan terhadap perkara sentral Muslimin, yaitu perkara Palestina.” (alalam)

Rouhani Tuding UEA dan Bahrain Berusaha Menyediakan Pangkalan untuk Israel

Presiden Iran Hassan Rouhani memperingatkan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain serta menuding keduanya berusaha menyediakan pangkapan militer untuk Rezim Zionis Israel.

Dalam rapat mingguan pemerintahannya, Rabu (16/9/2020), Rouhani mula-mula mengecam keras normalisasi dua negara jirannya itu dengan Israel, menyebutnya sebagai “kebodohan strategis” yang mencapai batas “pengkhianatan”, dan menyatakan bahwa rezim Zionis setiap hari melakukan kejahatan di Palestina.

Ditujukan kepada UEA dan Bahrain dia memperingatkan, “Bagaimana kalian sampai menjulurkan tangan kepada Israel, dan kemudian hendak memberinya pangkalan di kawasan? Semua dampak fatalnya akan jatuh ke pundak kalian, kalian melakukan tindakan ilegal terhadap keamanan kawasan.”

Sehari sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meneken dua perjanjian normalisasi hubungan, masing-masing bersama Menteri Luar Negeri UEA Abdullah bin Zayed Al-Nahyan dan Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Al-Zayani di Gedung Putih, Amerika Serikat (AS).

Dengan demikian, UEA dan Bahrain masing-masing menjadi negara ketiga dan keempat yang meneken perjanjian damai dengan Israel setelah Mesir pada tahun 1979 dan Yordania pada tahun 1994. Sebagaimana Israel, dua negara Arab Teluk Persia itu memusuhi Iran yang juga sangat dimusuhi oleh AS

Pemimpin Besar Iran pada awal September lalu menilai UEA “mengkhianati dunia Islam”. Sekira dua pekan kemudian, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut perjanjian normalisasi dengan Israel sebagai “kebodohan strategis” yang tidak akan menghasilkan apapun kecuali “menguatnya Poros Resistensi”. (alalam/raialyoum)

[Berita Video]: Rudal Palestina Menerjang Israel, Delapan Terluka

Sebuah rekaman video singkat yang dipublikasikan di media sosial pada hari Selasa (15/9/2020 memperlihatkan lokasi rudal yang ditembakkan dari Jalur Gaza ke sebuah permukiman Israel di sekitar Jalur tersebut.

Dalam video yang berdurasi hanya 10 detik  itu juga tampak di malam hari kerusakan yang diakibatkan oleh ledakan rudal, dan sejumlah warga kota berkumpul di sekitar korban yang terluka oleh serpihan.

Situs berita RT Arabic melaporkan bahwa sedikitnya delapan orang dinyatakan menderita luka akibat ledakan rudal yang dilesatkan dari Jalur Gaza ke kota Ashdod di bagian selatan Israel (Palestina pendudukan 1948).

Laporan lain sebelumnya menyebutkan bahwa dua rudal telah ditembakkan dari Jalur Gaza dan menyebabkan dua orang Israel terluka.

Peluncuran rudal itu dilakukan tepat pada hari penandatangan perjanjian normalisasi hubungan Israel dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain di Gedung Putih, Washington, AS, Selasa (15/9/2020).

Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas penembakan dua roket tersebut, namun pengamat setempat mengatakan bahwa peluncuran roket itu dilakukan sebagai reaksi terhadap upacara penandatanganan perjanjian pemulihan hubungan yang dimediasi oleh Presiden AS Donald Trump tersebut. (rtarabic)