Jakarta, ICMES. Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melontarkan peringatan keras terhadap para penguasa Arab Teluk Persia bahwa negara-negara mereka beresiko mendapat serangan rudal siluman dari IRGC.

Kecemasan Israel atas ancaman Hizbullah terhadap pasukan rezim Zionis tersebut, terutama angkatan udaranya, meningkat drastis.
Wakil Tetap Israel untuk Perserikat Bangsa-Bangsa (PBB) Gilad Erdan melaporkan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres ihwal drone dan rudal presisi yang dikembangkan Hizbullah Lebanon.
Amerika Serikat dikabarkan sedang mempertimbangkan penghapusan pasukan elit Iran IRGC dari daftar hitam terorisme jika Iran menunjukkan komitmen secara terbuka untuk mengurangi eskalasi di kawasan Timteng.
Berita Selengkapnya:
Peringatan Keras kepada Para Penguasa Teluk, IRGC: Kami akan Menyerang dengan Rudal Siluman
Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melontarkan peringatan keras terhadap para penguasa Arab Teluk Persia bahwa negara-negara mereka beresiko mendapat serangan rudal siluman dari IRGC.
Dalam pernyataan yang dikutip saluran telegram Pasukan Quds IRGC, Rabu (16/3), komandan IRGC Jenderal Mohammad Tehrani Moghaddam memperingatkan, “Jika Israel nekat mengganggu Iran dari negara-negara pesisir Teluk Persia maka kami memperingatkan kepada para penguasa negara-negara Arab ini bahwa kami tentu akan menyerang dengan panah IRGC yang tak terlihat, yakni rudal-rudal yang tak terlacak.â€
Mengenai serangan IRGC ke Erbil, Moghaddam mengatakan, “Serangan sengit Iran terhadap pangkalan keji Israel ini adalah akibat dari aksi spionase dan kejahatan rezim Zionis serta serangan-serangan yang mereka lakukan.â€
Dia juga mengancam akan menyerang pasukan AS dengan “panah tak terlihat IRGC†jika mereka tak meninggalkan kawasan.
Seperti diketahui, IRGC pada dini hari Ahad lalu melepaskan 12 rudal balistik dengan sasaran sebuah komplek dekat Konsulat AS. Menurut IRGC, sasaran itu berupa “markas strategis†dinas rahasia Israel, MOSSAD. Media yang dekat dengan IRGC melaporkan empat perwira Israel tewas dan tujuh lainnya terluka akibat serangan ini.
Jubir Kemlu Iran Saeed Khatibzadeh Senin lalu menyatakan bahwa Teheran sudah berulang kali memperingatkan pemerintah Baghdad untuk tidak membiarkan wilayah Irak dijadikan oleh pihak ketiga untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Di bagian lain, IRGC pada Selasa lalu untuk pertama kalinya membekali angkatan lautnya dengan sejumlah besar drone kapal selam dan kapal cepat peluncur rudal dan roket.
Dilaporkan bahwa pada tahap ke-8 pembekalan alutsista khusus AL IRGC, telah diperlihatkan peralatan, sistem rudal, kapal permukaan dan kapal selam dengan kapabilitas operasional baru.
Dalam upacara yang dihadiri Panglima IRGC, Mayjen Hossein Salami, pasukan elit Iran ini diperkuat dengan kapal-kapal selam pintar, kapal-kapal cepat baru berkecepatan 95 knot dan berpeluncur roket dan rudal serta kapal deteksi, sistem-sistem rudal baru dengan jarak jangkau yang ditingkatkan serta dapat bermanuver dan berkelit dari peperangan elektronik dan memiliki daya ledak dan destruktif yang besar. (raialyoum/fna)
Media Israel Ungkap Kecemasan Pasukan Zionis terhadap Pertahanan Udara Hizbullah
Kecemasan Israel atas ancaman Hizbullah terhadap pasukan rezim Zionis tersebut, terutama angkatan udaranya, meningkat drastis.
Dikutip Fars, Rabu (16/3), surat kabar Israel Hayom saat melaporkan hal tersebut mengabarkan bahwa penerbangan drone Israel ke wilayah udara Lebanon berkurang akibat kekhawatiran terhadap kemungkinan terkena serangan rudal pertahanan udara Hizbullah, meskipun secara parsial.
“Hizbullah sedang bekerja untuk mengacaukan aktivitas Israel di angkasa Lebanon, dan Tel Aviv harus menemukan solusi praktis sebelum mengatasi akar persoalan ini,†tulis Israel Hayom.
Mengenai hal yang sama, saluran Kan milik Israel menyatakan bahwa menyusul serangkaian peristiwa yang terjadi dalam satu bulan terakhir badan-badan keamanan udara dan dinas-dinas intelijen Israel berada dalam status siaga penuh, terutama di bidang drone di mana Israel berhadapan dengan konfrontasi baru dengan Iran di kawasan.
Pekan lalu, media Israel melaporkan bahwa negara ilegal Zionis ini meningkatkan level kesiagaannya di bagian utara wilayah pendudukan Palestina 1948. (fna)
Ngeri Menyaksikan Pesatnya Kekuatan Hizbullah, Wakil Tetap Israel Curhat ke Sekjen PBB
Wakil Tetap Israel untuk Perserikat Bangsa-Bangsa (PBB) Gilad Erdan melaporkan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres ihwal drone dan rudal presisi yang dikembangkan Hizbullah Lebanon.
Dikutip The Jerussalem Post, Rabu (16/3), Erdan membuat laporan tertulis kepada Guterres bahwa ada “perkembangan meresahkan yang mengancam perdamaian dan keamanan Israel dan Lebanon, serta kawasan secara keseluruhanâ€, semisal “upaya Hizbullah untuk mendapatkan sistem senjata canggih, termasuk UAV (drone) dan rudal berpanduan presisi (Precision-Guided Missiles/PGM)â€.
Hal itu dinyatakan Erdan menjelang diskusi Dewan Keamanan PBB yang dijadwalkan pada hari Kamis tentang laporan berkala Sekjen PBB mengenai kepatuhan terhadap Resolusi 1701, yang menetapkan persyaratan gencatan senjata yang mengakhiri Perang Lebanon II pada tahun 2006.
Erdan menyinggung pidato Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah pada 16 Februari lalu. Saat itu Sayid Nasrallah mengumumkan kemampuan Hizbullah memroduksi drone secara mandiri dan memodifikasi roket menjadi rudal berpresisi.
“Nasrallah sekali lagi merujuk pada bantuan dan keahlian rezim Iran dalam mengubah persenjataan roket Hizbullah menjadi PGM, dan kerjasama terkoordinasi Hizbullah dengan para ahli dari Republik Islam Iran,†kata Erdan.
Pusat Penelitian ALMA mencatat Hizbullah memiliki 2.000 drone yang banyak di antaranya merupakan UAV canggih dari Iran, dan lainnya diproduksi secara independen oleh Hizbullah.
The Jerussalem Post menyebutkan bahwa Hizbullah menggunakan UAV sejak tahun 1990-an, pernah menggunakan drone-nya di Suriah dan terhadap Israel, dan bahkan sebelum Perang Lebanon II pernah meluncurkan drone serta melesatkan beberapa drone bersenjata ke Israel selama perang.
Bulan lalu, Hizbullah menerbangkan drone ke wilayah Israel selama 40 menit hingga kemudian Angkatan Udara (AU) Israel mengrim jet tempur untuk menjatuhkannya.
Tapi, menurut The Jerussalem Post, AU Israel tak jadi menembaknya dengan alasan bahwa akan terlalu berisiko untuk mencegatnya dengan rudal, yang bisa jatuh di daerah perumahan seperti Rosh Pina jika gagal.
Sebuah rudal pencegat Tamir kemudian diluncurkan dari baterai Iron Dome namun meleset sehingga drone Hizbullah itu dapat terbang kembali ke operatornya di Lebanon.
Meskipun Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memiliki berbagai cara untuk mencegat drone, termasuki peperangan elektronik, Iron Dome, dan jet tempur seperti F-35, namun drone Hizbullah itu menjadi tantangan untuk diidentifikasi dan ditembak jatuh karena ukurannya kecil, cepat, dan terbang rendah sehingga mempersulit radar Israel untuk mendeteksinya.
Selain drone, Hizbullah memiliki sekira 150.000 roket dan rudal, dan telah mengerjakan proyek rudal presisi selama hampir satu dekade. (jp)
AS Dikabarkan Mempertimbangkan Penghapusan IRGC dari Daftar Hitam
Situs Axios yang berbasis di Amerika Serikat (AS) mengutip pernyataan tiga narasumber dari AS dan Israel bahwa pemerintahan Presiden AS Joe Biden sedang mempertimbangkan penghapusan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dari daftar hitam terorisme jika Iran menunjukkan komitmen secara terbuka untuk mengurangi eskalasi di kawasan Timteng.
Sumber-sumber itu menyebutkan, “Klasifikasi IRGC tidak terkait langsung dengan perjanjian nuklir,†dan “keputusan apa pun akan mengambil bentuk pemahaman bilateral yang terpisah antara AS dan Iran.â€
Dikutip Al-Mayadeen, Rabu (16/3), mereka menjelaskan, “Salah satu ide yang dibahas oleh pemerintahan Biden akan menjadi deklarasi publik bahwa AS berhak untuk mengembalikan nama IRGC (ke daftar itu) jika memandang Iran belum memenuhi janjinya untuk menghentikan eskalasi di kawasan.â€
Menurut mereka, pemerintahan Biden memberi tahu pemerintah Israel bahwa kemungkinan seperti itu sedang dipertimbangkan, tapi mereka menekankan bahwa belum ada keputusan yang diambil.
Sumber-sumber itu juga menyatakan adanya “ketakutan dan kekhawatiran pemerintah Israel atas gagasan ini,” terutama karena “AS tidak meminta komitmen khusus dari Iran untuk tidak menyerang AS dan sekutunya di kawasanâ€.
Menurut laporan Axios, mantan Wakil Presiden Mike Pence ketika mengunjungi Israel pada pekan lalu dan mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Naftali Bennett dan Menteri Luar Negeri Yair Lapid mengklaim bahwa Biden berencana menghapus IRGC dari daftar hitam dengan imbalan komitmen yang lebih ketat untuk tidak menyerang AS. Namun, ketika para pejabat Israel mencoba mengkonfirmasi hal ini di Washington, mereka diberitahu bahwa pemerintahan Biden memang telah membahasnya tapi tingkat kemungkinan terlaksananya kecil.
AS pada tahun 2019 mencantumkan IRGC dalam daftar organisasi “teroris”. Menteri Luar Negeri Iran Amir Abdollahian ketika berbicara tentang perkembangan negosiasi di Wina menegaskan, “Beberapa persoalan yang terkait dengan para pahlawan nasional kami tak dapat diperdebatkan.” (raialyoum)







