Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 17 Desember 2020

ayatullah khamenei melambaiJakarta, ICMES. Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei kembali tampil di hadapan publik setelah tersiar berita-berita hoax bahwa dia jatuh sakit dan kondisinya memburuk.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa Iran menginginkan keamanan dan stabilitas di seluruh dunia serta dialog yang konstruktif dengan negara-negara yang bersedia memilih jalur dialog.

Menanggapi insiden ledakan kapal tanker minyak di pelabuhan Jeddah, Arab Saudi, yang terjadi pada awal pekan ini Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa negara republik Islam ini menentang aksi sabotase terhadap keamanan maritim.

Berita Selengkapnya:

Tampil Bugar, Ayatullah Khamenei Sebut Eropa Munafik, dan AS di Era Biden Tetap Musuhi Iran

Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei kembali tampil di hadapan publik setelah tersiar berita-berita hoax bahwa dia jatuh sakit dan kondisinya memburuk.

Dalam tampilan itu dia mengecam apa yang disebutnya kemunafikan Eropa, dan menyerukan kepada pemerintah dan segenap elemen bangsa Iran untuk menjaga persatuan melawan sanksi asing dengan memperkuat kemampuan dalam negeri di segala bidang serta tidak mudah percaya kepada musuh.

Hal itu dia sampaikan dalam pertemuannya dengan keluarga dan panitia acara haul pertama jenderal legendaris  Qassem Soleimani dan pejuang Irak Abu Mahdi Al-Muhandis, Rabu malam (16/12)

Dia menyebut Soleimani dan Al-Muhandis, yang gugur diserang oleh pasukan AS di Irak pada Januari 2020,  sebagai pahlawan besar bagi bangsa Iran maupun umat Islam sehingga prosesi pemakaman keduanya diikuti oleh lautan manusia.

Dia menyebutkan bahwa prosesi itu menjadi tamparan keras bagi AS, yang disusul dengan tamparan-tamparan lain, termasuk gempuran rudal Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang meluluh lantakkan Pangkalan Udara Ain Assad yang ditempati oleh pasukan AS di Irak barat, dan tamparan yang lebih keras dari semua itu adalah menguatnya proses perlawanan terhadap hegemoni AS di Timteng.

Ayatullah Khamenei menjelaskan bahwa kegagalan AS di Irak dan Suriah adalah karena perjuangan Jenderal Soleimani dan orang-orangnya. Menurutnya, mereka bukan hanya mengalahkan geng-geng Amerika yang direpresentasi oleh ISIS dan kelompok-kelompok takfiri lainya, melainkan juga mengalahkan AS sendiri sehingga presiden negara ini berkunjung ke Irak secara diam-diam dan pada malam hari “seperti maling” meskipun jet-jet tempur, kapal-kapal perang, dan pangkalan-pangkalan militer beroperasi di kawasan sekitar.

“Syahid Soleimani telah mengalahkan kubu arogan, baik ketika hidupnya maupun dengan kesyahidannya. Presiden AS mengaku telah menghabiskan 7 miliar dolar di kawasan tanpa mencapai apapun. AS gagal mencapai tujuannya di Suriah dan Irak. Pahlawan di balik tugas besar ini adalah Jenderal Soleimani,” ungkapnya.

Ayatullah Khamenei kemudian mengimbau pemerintah dan rakyat Iran agar memperkuat diri di semua bidang, tidak mempercayai musuh, menjaga persatuan nasional dan lebih memilih berusaha mengatasi sendiri dampak sanksi daripada berusaha mencabutnya.

“Kita harus kuat di segala bidang, baik ekonomi, sains, teknologi, dan pertahanan,” ujarnya.

Dia memperingatkan kepada para pejabat Iran untuk tidak tergoda oleh janji-janji musuh untuk menyelesaikan masalah rakyat dan masa depan negara.

“Saran tegas saya adalah jangan percaya kepada musuh,” imbaunya.

Mengenai Joe Biden yang akan menggantikan Donald Trump di Gedung Putih, Ayatullah Khamenei menekankan bahwa pemerintah demi pemerintah AS tidaklah berbeda satu sama lain dalam kebencian dan permusuhannya terhadap Republik Islam Iran.

Mengenai perilaku Eropa terkait dengan perjanjian nuklir, dia mengecam dan menyebut tiga negara Eropa Inggris, Prancis, dan Jerman yang mewakili Eropa telah menunjukkan kebencian dan kemunafikan yang bahkan  ekstrim terhadap Iran.

Laporan Hoax

Kehadiran Ayatullah Ali Khamenei dalam kondisi bugar pada pertemuan tersebut merupakan kemunculannya pertama kali di hadapan publik setelah sempat tersebar rumor dan berita-berita hoax bahwa dia jatuh sakit dan kondisi kesehatannya memburuk.

Dalam berita hoax itu, majalah News Week yang berbasis di AS beberapa hari yang lalu menerbitkan laporan yang berbunyi: “Khamenei mengalihkan kekuasaannya kepada putranya dengan kekhawatiran yang meningkat tentang menurunnya kondisi kesehatannya.” Laporan ini terdengar sangat janggal karena dalam sistem pemerintahan di Iran sama sekali tak berlaku sistem berbau feodalisme, dan bahkan dalam budaya keagamaannya juga  demikian.

Laporan yang disebutkan bersumber dari wartawan Iran itu juga menyebutkan bahwa Presiden Iran Hassan Rouhani dijadwalkan bertemu dengan Ayatullah Khamenei, tapi dibatalkan karena memburuknya kondisi kesehatan Ayatullah Khamenei.

Sumber-sumber yang dekat dengan Ayatullah Khamenei membantah laporan itu sembari menyebutkan bahwa kondisinya kesehatannya normal dan masih menjalankan tugasnya seperti biasa, dan bahwa laporan-laporan itu adalah hoax belaka yang bermotif perang psikologis musuh terhadap rakyat Iran. (alalam/mehrnews)

Sayangkan AS, IAEA Sebut Iran Ingin Keamanan dan Stabilitas di Dunia

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa Iran menginginkan keamanan dan stabilitas di seluruh dunia serta dialog yang konstruktif dengan negara-negara yang bersedia memilih jalur dialog.

Dalam wawancara dengan CBS News, Rabu (16/12), Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi menyatakan hal tersebut sembari menyayangkan keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menarik negaranya dari Kesepakatan Nuklir.

“Iran melanjutkan program nuklirnya. Seperti Anda ketahui, ini tidak bekerja atau beroperasi dalam ruang hampa. Hal ini dilakukan dalam kerangka kesepakatan, yang ditandatangani oleh P5 (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB: AS, Inggris, Prancis, Rusia, dan China) plus Jerman, (dan) Uni Eropa pada tahun 2015,” ungkapnya. ‘

Dia menambahkan, “Anda ingat bahwa AS menarik diri dari perjanjian ini pada tahun 2018, beberapa tahun yang lalu, dan sejak saat itu, Iran, sebagai balasannya, sebagai tanggapan atas hal ini, memutuskan untuk secara bertahap mulai mengurangi kepatuhannya terhadap perjanjian ini.”

Dia kemudian menjelaskan, “Masalahnya adalah IAEA masih ada di sana untuk mengatakan apa yang terjadi. Masa depan akan sangat bergantung pada apa yang diputuskan oleh negara-negara yang menjadi pihak, untuk perjanjian ini, dan saya akan mengatakan dalam beberapa minggu dan bulan ke depan. Saya yakin akan ada aktivitas baru di sekitarnya begitu ada pemerintahan baru di Washington dan beberapa faktor lain bertemu dengan apa yang kami harap akan menjadi negosiasi.” (mehrnews)

Iran Tanggapi Insiden Ledakan Kapal Tanker di Pelabuhan Jeddah

Menanggapi insiden ledakan kapal tanker minyak di pelabuhan Jeddah, Arab Saudi, yang terjadi pada awal pekan ini Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa negara republik Islam ini menentang aksi sabotase terhadap keamanan maritim.

“Republik Islam Iran menolak setiap tindakan sabotase terhadap keselamatan dan keamanan maritim dan kebebasan perdagangan internasional,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, saat ditanya mengenai insiden tersebut, Rabu (16/12).

Dia menekankan kesolidan pendirian Iran dalam upaya menjaga stabilitas dan keamanan kawasan.

Dia lantas mengungungkap harapannya agar negara-negara regional dapat meningkatkan upaya dan memperkuat kerjasama menjamin keamanan maritim, memerangi pembajakan, dan memberantas perdagangan gelap demi mencapai keamanan regional yang permanen.

BW Rhine, sebuah kapal tanker minyak berbendera Singapura (sebelumnya dikabarkan berbendera Saudi – red.), yang membawa produk olahan, diserang oleh sumber eksternal saat bongkar muatan di Jeddah pada dini hari Senin, menurut pernyataan dari perusahaan operator kapal Hafnia, pemilik BW Group.

Tidak ada korban jiwa maupun gangguan terhadap pasokan minyak atau bahan bakar, tapi Arab Saudi menyatakan kapal itu dihantam oleh perahu bermuatan bahan peledak dalam sebuah serangan “teroris”.

Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mengatakan pihaknya mengetehui adanya ledakan itu dan memperingatkan kapal-kapal di daerah tersebut agar “sangat hati-hati”.

Mesir, UEA, Lebanon, Pakistan, dan Djibouti, serta beberapa pejabat dan institusi Arab lainnya, mengutuk peledakan tersebut. (mehrnews)