Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 16 Januari 2020

puing di ain assadJakarta, ICMES. Sekretaris Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) Ryan McCarthy menyatakan bahwa serangan rudal balistik Iran ke Pangkalan Udara (Lanud) Ain Assad di Irak telah menambah kemampuan Iran menyasar dan membunuh tentara AS.

Jet tempur Israel melancarkan serangan ke beberapa posisi Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, di Jalur Gaza.

Beberapa sumber di Suriah menyebutkan bahwa sebanyak 2000 militan Suriah telah bertolak dari Turki dan akan segera tiba di Libya untuk berperang, sehingga menjadi satu perkembangan baru yang dinilai akan memperumit krisis di negara ini.

Beirut, ibu kota Libanon, kembali dilanda unjuk rasa yang berujung bentrokan pengunjuk rasa dengan aparat yang berusaha membubarkan kerumunan hingga jatuh beberapa korban luka dan puluhan orang ditangkap.

Berita selengkapnya:

Sekretaris AD AS Nyatakan Kemampuan Iran Membunuh Tentara AS Meningkat

Sekretaris Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) Ryan McCarthy menyatakan bahwa serangan rudal balistik Iran ke Pangkalan Udara (Lanud) Ain Assad di Irak telah menambah kemampuan Iran menyasar dan membunuh tentara AS.

“Mereka (Iran) adalah musuh yang sangat diterima, mereka memiliki kemampuan yang dapat menyerang kita dan membunuh orang-orang Amerika,” ungkap McCarthy, seperti dikutip Fars, Rabu (15/1/2020).

Menyusul serangan Iran yang terjadi pada 8 Januari lalu itu Kementerian Pertahanan AS, Pentagon, mempelajari masalah pengiriman sistem-sistem pertahanan anti-rudal dan berbagai perlengkapan lain ke Timur Tengah untuk melindungi pasukan AS.

McCarthy menyebutkan bahwa keputusan terakhir mengenai penguatan kemampuan pertahanan AS di Timur Tengah ada di pundak Menteri Pertahanan Mark Esper.

Tanpa menyebutkan rincian mengenai perlengkapan yang mungkin akan dikirim ke Timur Tengah, dia mengatakan, “Bisa jadi beberapa kemampuan yang mencakup sistem anti-rudal dan perlengkapan lain akan dikirim, dan kami sedang mempelajarinya.”

Seperti diketahui, pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada dini hari Rabu 8 Januari lalu telah menyerang pasukan AS di Lanud Ain Assad sebagai balasan atas serangan udara AS yang menewaskan komandan Divisi Quds IRGC Jenderal Qassem Soleimani di Baghdad pada 3 Januari. (fars)

Israel Serang Hamas di Beberapa Lokasi di Jalur Gaza

Jet tempur Israel melancarkan serangan ke beberapa posisi Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, di Jalur Gaza, Rabu malam (15/1/2020).

Kantor berita Turki, Anatolia, melaporkan bahwa beberapa jet tempur Israel telah menembakkan sejumlah rudal ke sebuah posisi Brigade Ezzeddin al-Qassam, sayap militer Hamas, di bagian utara Jalur Gaza.

Serangan udara Israel itu menimbulkan kerugian materi dan kerusakan pada properti warga yang ada di sekitar target serangan, namun tidak ada laporan mengenai jatuhnya korban tewas ataupun luka.

Serangan itu terjadi beberapa jam setelah militer Israel mengklaim telah terjadi penembakan empat roket dari Jalur Gaza ke arah Israel, yang dua di antaranya dapat dicegat, sementara dua lainnya jatuh di tempat terbuka tanpa menimbulkan korban maupun kerusakan.

Tak ada kelompok Palestina yang mengaku bertanggungjawab penembakan roket pada Rabu malam sekitar jam 19.00 waktu setempat itu.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa sebuah balon berisi bahan peledak juga telah jatuh di kota Sderot di bagian selatan Israel (Palestina pendudukan 1948) pada Rabu sore.

Surat kabar Yedioth Ahronoth menyebutkan bahwa para ahli bahan peledak Israel lantas mendatangi lokasi jatuhnya balon tersebut.

Layang-layang dan balon yang membawa bahan-bahan pembakar pernah dijadikan senjata oleh orang-orang Palestina di Jalur Gaza untuk menyerang tentara dan kaum Zionis di wilayah pendudukan sejak Jalur Gaza kerap diriuhkan oleh aksi unjuk rasa menuntut pemulangan seluruh pengungsi Palestina dan penghentian blokade Israel terhadap Jalur Gaza.

Ketegangan meletus pada November 2019 setelah Israel membunuh seorang pemimpin terkemuka Jihad Islam Palestina, yang menyebabkan terjadinya serangan roket faksi itu dan kemudian reaksi balik Israel berupa serangan udara ke Jalur Gaza. (raialyoum)

Turki Kirim 2000 Militan Suriah untuk Berperang di Libya

Beberapa sumber di Suriah menyebutkan bahwa sebanyak 2000 militan Suriah telah bertolak dari Turki dan akan segera tiba di Libya untuk berperang, sehingga menjadi satu perkembangan baru yang dinilai akan memperumit krisis di negara ini.

Surat kabar Inggris The Guardian, Rabu (15/1/2020), melaporkan bahwa pengerahan militan itu terjadi setelah Turki pada bulan lalu menyepakati pengiriman bantuan pasukan untuk menyokong kubu Pemerintahan Kesepakatan Nasional (Government of National Accord/GNA) yang dipimpin Perdana Menteri Fayez Mustafa al-Sarraj dan bermarkas di ibu kota, Tripoli, dalam perang saudara melawan Tentara Nasional Libya (Libyan National Army/LNA) yang dipimpin Marsekal Lapangan Khalifa Belqasim Haftar yang mendapat dukungan dari Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA).

The Guardian menyebutkan bahwa Ankara telah menyokong kubu oposisi Suriah sejak hari-hari pertama pemberontakan terhadap Suriah Bashar Assad hingga ketika kelompok oposisi yang menaungi Pasukan Kebebasan Suriah (FSA) itu melemah dan terpecah belah akibat konflik internal dan tumbuhnya anasir (ekstremis) Islamis  dalam tubuh pemberontak.

Menurut surat kabar Inggris ini, sekarang Turki menggunakan militan pemberontak Suriah itu sebagai proksinya untuk melawan milisi Kurdi, meskipun berbagai organisasi peduli kemanusiaan menengarai terjadinya kasus-kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh militan tersebut.

Claudia Gazzini, analis senior untuk Libya dari International Crisis Group mengatakan kondisi ini jauh berbeda dengan Suriah, dan sekarang sentimen anti-Turki menguat akibat campur tangan Ankara sehingga menguntungkan kubu Haftar.

GNA semula enggan menerima kedatangan militan Suriah sebagai pengganti pasukan Turki, tapi mereka berubah pikiran setelah pasukan Haftar mendekati Tripoli.

Tentang ini Gazzini mengatakan, “Mengizinkan militan Suriah yang menjadi proksinya untuk berperang berarti bahwa Ankara dapat menghindarkan pasukannya dari konfrontasi potensial di Libya.” (raialyoum)

Bentrokan di Beirut, Sejumlah Orang Terluka, Aparat Menangkap Puluhan

Beirut, ibu kota Libanon, kembali dilanda unjuk rasa yang berujung bentrokan pengunjuk rasa dengan aparat yang berusaha membubarkan kerumunan pada Rabu malam (15/1/2020), hingga jatuh beberapa korban luka dan puluhan orang ditangkap.

Para aktivis Libanon kepada kantor berita Sputnik milik Rusia mengatakan, “Terjadi bentrokan sengit antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan di Beirut hingga jatuh sejumlah korban luka di pihak pengunjuk rasa.”

Palang Merah Libanon mencatat 35 orang terluka dan dilarikan ke rumah sakit, dan sebanyak 10 orang mendapat pertolongan di tempat.

Otoritas Libanon menyatakan sebanyak 47 petugas keamanan, empat di antaranya perwira, menderita luka, dan sebanyak 59 orang telah ditangkap dalam kericuhan yang berlangsung selama lima jam di pusat kota Beirut.

Dalam aksi itu massa antara lain menuntut pembebasan orang-orang yang ditangkap dalam unjuk rasa yang terjadi sehari sebelumnya. (rtarabic)