Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 15 Juli 2021

rouhani dan proyek nuklir iranJakarta, ICMES. Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan negaranya sanggup memperkaya uranium 90% jika diperlukan, sementara Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menyatakan simpanan uranium yang telah diperkaya dengan level kemurnian yang tinggi telah meningkat tiga kali lipat sejak Juni lalu.

Menhan Israel Benny Gantz menginginkan perubahan pada program nuklir negaranya untuk menghadapi Iran sebagai negara berkekuatan nuklir di masa mendatang.

Sistem pertahanan udara Israel Kubah Besi (Iron Dome) telah salah sasaran dan mengena jet tempur Israel sendiri dalam peristiwa perang Gaza-Israel pada Mei lalu. Demikian dilaporkan saluran 13 TV Israel.

Partai Keadilan dan Pembangunan yang berkuasa di Turki menyatakan bahwa  negara ini dan Israel bersepakat untuk berusaha memperbaiki hubungan bilateral antara keduanya setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengadakan kontak telefon dengan Presiden Israel Isaac Herzog.

Berita Selengkapnya:

Iran Nyatakan Bisa Perkaya Uranium 90% dan Cadangan Uraniumnya Meningkat Tiga Kali Lipat

Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan negaranya sanggup memperkaya uranium 90% jika diperlukan, sementara Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menyatakan simpanan uranium yang telah diperkaya dengan level kemurnian yang tinggi telah meningkat tiga kali lipat sejak Juni lalu.

“Badan Tenaga Atom Iran mampu memperkaya uranium 20% dan 60%, dan sanggup pula memperkayanya 90% jika kami memerlukannya,” ungkap Rouhani, Rabu (14/7), seperti dikutip Fars.

Dia menggaris bawahi bahwa tujuan yang sangat penting bagi negaranya ialah “memenuhi hak bangsa di bidang-bidang teknologi mutakhir, perdagangan, ekonomi serta aktivitas perekonomian dan industri”.

Rouhani yang masa jabatannya akan berakhir pada 3 Agustus mendatang mengakui pihaknya tak akan dapat menghidupkan kembali perjanjian nuklir Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) Iran dengan negara-negara terkemuka dunia dalam sisa waktu beberapa minggu pemerintahannya.

Kantor berita Bloomberg melaporkan bahwa dia berharap pemerintahan Sayid Ebrahim Raisi yang akan segera menggantikannya dapat melanjutkan upaya reaktivasi perjanjian tersebut dengan AS untuk kemudian Negeri Paman ini mencabut semua sanksinya terhadap Iran.

Beberapa jam setelah Rouhani menyatakan demikian, Menlu Iran Mohammad Javad Zarif memublikasi pernyataan resmi yang menyebutkan bahwa cadangan uranium Iran yang sudah diperkaya pada level tinggi telah meningkat sekira tiga kali lipat sejak Juni lalu.

Para diplomat pekan ini menyatakan bahwa kemungkinan besar Iran akan kembali kepada perundingan yang bertujuan memulihkan JCPOA yang nyaris buyar secara total sejak AS di bawah kepresidenan Donald Trump keluar darinya pada tahun 2018.

Putaran keenam perundingan Iran dengan Inggris, Prancis, Rusia, China dan Jerman di Wina, Swiss, berakhir pada bulan lalu. (raialyoum)

Menhan Israel: Kita Harus Siap Menghadapi Negara “Berkekuatan Nuklir” Iran

Menhan Israel Benny Gantz menginginkan perubahan pada program nuklir negaranya untuk menghadapi Iran sebagai negara berkekuatan nuklir di masa mendatang.

Dalam sebuah pidato di akademi militer Israel di Tel Aviv Rabu malam (14/7) dia mengklaim, “Di depan ancaman terbesar bagi Israel berupa keberhasilan Iran meraih senjata nuklir tak ada jalan lain kecuali menambah kekuatannya dengan mengandalkan sumber daya manusia dan menerapkannya pada program-program kita.”

Times of Israel melaporkan Gantz meminta kabinet baru Israel agar menempuh langkah-langkah persiapan pasukan keamanan untuk menjaga keunggulan militernya.

“Semua ancaman ini mengharus kita menambah dan mempercepat kesiapan untuk menjalankan misi dengan tindakan tegas, bukan sebatas pernyataan,” ujarnya.

Sebelumnya, Gantz bersumbar bahwa Israel pasti menghadang apa yang disebutnya ambisi Iran untuk mendapatkan senjata nuklir , dan bahwa penghadangan ini akan dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat.

Kabinet baru Israel sejak bekerja dalam beberapa bulan terakhir ini telah mengerahkan kemampuannya dengan mengirim beberapa pejabatnya ke AS dan mengadakan pertemuan dengan para pejabat AS dan negara-negara penandatangan perjanjian nuklir Iran lainnya  agar tidak memulihkan perjanjian ini.

Sebelumnya, Wakil Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang akan segera mengakhiri jabatannya, Mayjen Eyal Zamir, bersumbar bahwa IDF sejauh ini masih menggunakan kemampuan minimalnya dalam menghadapi ancaman di berbagai bidang. (fna)

Kubah Besi Salah Tembak Pesawat Israel Sendiri dalam Perang Gaza-Israel

Sistem pertahanan udara Israel Kubah Besi (Iron Dome) telah salah sasaran dan mengena jet tempur Israel sendiri dalam peristiwa perang Gaza-Israel pada Mei lalu. Demikian dilaporkan saluran 13 TV Israel, Rabu (14/7).

Berdasar keterangan sumber-sumber Israel, saluran ini menyebutkan bahwa reaksi Kubah Besi sangat berbahaya, dan dalam peristiwa tersebut serpihan rudal Kubah Besi telah menimpa sebuah jet tempur F-15 milik Israel sendiri.

Sebelumnya, surat kabar Israel Haaretz melaporkan bahwa dalam perang tersebut Kubah Besi telah mendeteksi sebuah pesawat nirawak Israel sebagai obyek penyerang sehingga melakukan tindakan pencegatan terhadapnya.

Kinerja sistem pertahanan udara Israel yang produksinya telah mengurasi banyak dana negara Zionis ilegal ini belakangan menjadi isu kontroversial di tengah publik Israel.

Media Israel membicarakan kegagalan sistem ini mencegat banyak roket para pejuang Palestina serta sebuah roket yang melesat dari wilayah Suriah dan jatuh di dekat komplek nuklir Israel Dimona di bagian selatan Israel (Palestina pendudukan 1948).

Mengenai rudal yang melesat dari wilayah Suriah, militer Israel secara resmi gagal mencegatnya. Reporter saluran Al-Arabiya tentang ini melaporkan bahwa Kubah Besi telah dua kali gagal menangkis rudal tersebut. (fna)

Turki dan Israel Berharap Dapat Perbaiki Hubungan Bilateral

Partai Keadilan dan Pembangunan yang berkuasa di Turki menyatakan bahwa  negara ini dan Israel bersepakat untuk berusaha memperbaiki hubungan bilateral antara keduanya setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengadakan kontak telefon dengan Presiden Israel Isaac Herzog.

Kedua negara terlibat saling usir duta besar setelah berselisih tajam mengenai isu Palestina pada tahun 2018. Ankara mengecam tindakan agresif Israel di Tepi Barat dan perlakuannya terhadap orang-orang Palestina, sementara Israel mendesak Turki agar menghentikan dukungannya kepada Hamas yang berkuasa di Jalur Gaza.

Kedua pihak saling mendesak untuk kembali kepada posisi semula untuk pendekatan dan pemulihan hubungan bilateral.

Seperti pernah diberitakan, Kantor Kepresiden Turki, Senin lalu mengumumkan bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah mengadakan kontak telefon dengan Presiden Israel Isaac Herzog .

Dalam panggilan telefon itu Erdogan mengucapkan selamat atas pelantikan  Herzog sebagai presiden Israel, dan menyatakan bahwa hubungan antara Turki dan Israel penting bagi Timur Tengah dan terbuka kemungkinan bagi kerjasama antara keduanya.

Jubir Partai Keadilan dan Pembangunan Turki Omer Celik menyebutkan bahwa usai rapat partai ini “kerangka kerja telah mengkristal usai komunikasi ini, yang pada gilirannya akan menghasilkan kemajuan dalam berbagai urusan yang dapat diperbaiki dan diambil langkah-langkah menuju penyelesaian perselisihan”.

Celik juga menyatakan bahwa isu Palestina merupakan salah satu perkara yang hendak dibicarakan oleh Turki dengan Israel, dan bahwa bidang-bidang lain seperti pariwisata dan perdagangan harus menguntungkan kedua belah pihak.

Selama ini hubungan perdagangan antara Turki-Israel tetap terjalin kuat meski hubungan diplomatiknya mengalami krisis. (raialyoum)