Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 15 Februari 2019

iran pesiden hassan rouhaniJakarta, ICMES: Presiden Iran bersumpah akan membalas “kelompok tentara bayaran” yang telah melancarkan serangan bom bunuh diri yang menewaskan 27 anggota Korps Garda Revolusi Islam.

Presiden Rusia, Iran dan Turki dalam pertemuan mereka di Sochi, menyatakan menyambut baik pengumuman penarikan pasukan AS dari Suriah, dan berjanji “memperkuat kerja sama mereka” untuk mengakhiri konflik di Suriah.

Kongres Amerika Serikat mengeluarkan resolusi yang akan memaksa pemerintah untuk menarik pasukan dari Yaman.

Sedikitnya 44 personel paramiliter India tewas dan puluhan lainnya cedera terkena ledakan bom mobil yang menyasar konvoi militer di Kashmir.

Berita selengkapnya:

Presiden Iran Bersumpah Akan Membalas Serangan Teror

Presiden Iran Hassan Rouhani, Kamis (14/2/2019), bersumpah akan membalas “kelompok tentara bayaran” yang telah melancarkan serangan bom bunuh diri yang menewaskan 27 anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada sehari sebelumnya. Dia menuduh Amerika Serikat (AS) dan Israel “mendukung terorisme.”

“Akar utama terorisme di kawasan itu adalah AS, Zionisme, dan beberapa negara minyak regional, yang secara finansial mendukung para teroris,” kata Rouhani sebelum bertolak menuju ke Sochi, Rusia, untuk pertemuan puncak dengan sejawat Rusia dan Turkinya mengenai Suriah.

Seperti pernah diberitakan, sedikitnya 27 anggota IRGC meninggal dan 13 lainnya cedera terkena ledakan bom bunuh diri yang menyasar sebuah bus pasukan elit Iran ini di daerah Sistan-Baluchestan di bagian tenggara Iran, Rabu (13/2/2019).

Kelompok teroris “Jaish al-Adl” (Pasukan Keadilan) menyatakan bertanggungjawab serangan tersebut.

Dalam pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita resmi IRNA itu Rouhani menambahkan, “Kami pasti akan membalas darah para syuhadami kami terhadap sekumpulan agen itu.”

Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyebut para penyerang “terhubung dengan badan-badan intelijen negara-negara regional dan internasional.”

Wilayah Sistan-Baluchistan, yang berbatasan dengan Pakistan dan Afghanistan, kerap menjadi ajang bentrokan berdarah antara pasukan keamanan dan separatis Baluch.

Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa upacara penghormatan kepada para korban akan diselenggarakan pada Jumat malam di Isfahan, sementara pemakaman akan diadakan pada hari Sabtu di kota di mana markas mereka berada tersebut.

Iran menuduh AS, Israel dan Arab Saudi menyokong kelompok-kelompok separatis Iran. Karena itu, Rouhani mendesak negara-negara jirannya untuk “melaksanakan kewajiban hukum mereka dalam kerangka hubungan baik-bertetangga … dan tidak membiarkan teroris melakukan tindakan teroris terhadap tetangga mereka dengan memanfaatkan wilayah mereka.”

Dia lantas mengingatkan, “Jika tindakan ini berlanjut sementara negara-negara ini tidak dapat mengusir teroris maka jelas bahwa kami memiliki hak dalam hal standar hukum internasional, dan kami akan dapat memenuhi hak-hak kami secara tepat waktu.” (raialyoum/alalam)

Pertemuan Segi Tiga Iran, Turki, Dan Rusia Tanggapi Isu Penarikan Pasukan AS Dari Suriah

Presiden Rusia, Iran dan Turki dalam pertemuan mereka di Sochi, Rusia, Kamis (14/2/2019), menyatakan menyambut baik pengumuman penarikan pasukan AS dari Suriah, dan berjanji “memperkuat kerja sama mereka” untuk mengakhiri konflik di Suriah.

Presiden Rusia, Iran dan Turki mengadakan pertemuan di Rusia selatan tersebut dalam rangka  menghidupkan kembali proses penyelesaian kemelut Suriah.

Suriah yang didera perang selama delapan tahun yang telah mewaskan lebih dari 350.000 orang sedang menjadi sorotan gerakan diplomatik intensif pekan ini dengan adanya pertemuan Aliansi Internasional Kontra-Organisasi Jihad di Munich, Jerman, dan KTT Warsawa, Polandia, mengenai Timteng yang dihadiri Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo,  Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, serta para menteri luar negeri beberapa negara.

Presiden Rusia mengatakan pertemuan segi tiga di Sochi itu “membahas pengaruh pengumuman rencana Washington menarik pasukan AS dari wilayah timur laut Suriah bagi perkembangan masa depan situasi negara ini.”

“Pandangan umum kami ialah bahwa penyelesaian fase ini akan menjadi titik positif yang akan membantu menstabilkan situasi di kawasan ini,” lanjutnya.

Pertemuan itu juga membahas kondisi provinsi Idlib yang menjadi benteng pertahanan terakhir dari faksi-faksi oposisi dan kawanan teroris di Suriah. Tiga presiden itu sepakat mengambil “langkah konkret” untuk memastikan stabilitas di kawasan yang diwarnai konfrontasi sporadis dalam selama beberapa minggu terakhir itu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, “Kami tidak ingin krisis kemanusiaan baru dan bencana baru di Idlib atau daerah lain di Suriah.”

Dia juga mengaku berharap pemerintah Suriah menghormati gencatan senjata di Idlib.

Tanpa rincian lebih jauh, dia menambahkan bahwa Rusia dan Turki telah mencapai “perjanjian” untuk melakukan “patroli bersama” untuk mengendalikan “kelompok-kelompok ekstremis” di provinsi Idlib.

KTT terakhir antara presiden Iran, Turki dan Rusia di Iran pada September 2018 memperlihatkan perbedaan pendapat mereka mengenai nasib Idlib.

Pertemuan ini disusul pertemuan antara Putin dan Erdogan yang ditujukan untuk menghindari serangan yang direncanakan oleh pemerintah Suriah ke provinsi tersebut. Rusia dan Turki lantas mengumumkan “zona demiliterisasi” Idlib yang masih lepas dari kendali pemerintah Suriah.

Sesuai perjanjian Rusia-Turki, semua militan ekstremis, terutama kelompok Hay’at Tahrir al-Shams  (HTS) alias Jabhat al-Nusra yang merupakan cabang al-Qaeda di Suriah, harus menarik diri dari wilayah tersebut. Namun, menurut Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, sejak itu HTS justru memperkuat dominasi mereka dan bahkan mengendalikan “lebih dari 90 persen” wilayah Idlib. (raialyoum)

Kongres Keluarkan Resolusi Penarikan Pasukan AS Dari Yaman

Kongres Amerika Serikat (AS), Rabu (13/2/2019), mengeluarkan resolusi yang akan memaksa pemerintah untuk menarik pasukan dari Yaman dan menjadi teguran bagi aliansi Presiden Donald Trump dengan koalisi pimpinan Arab Saudi yang melakukan intervensi militer terhadap Yaman.

Pembuat undang-undang dari pihak Demokrat maupun Republik semakin gelisah atas krisis kemanusiaan di Yaman dan skeptis terhadap kemitraan AS dengan koalisi itu, terutama setelah pemerintah Arab Saudi terlibat kasus pembunuhan kolumnis Washington Post asal Saudi, Jamal Khashoggi, yang kritis terhadap keluarga kerajaan Saudi.

Hal ini menandai pertama kalinya Kongres mengandalkan Resolusi Kekuatan Perang untuk menghentikan intervensi militer, dan juga akan membentuk konfrontasi potensial dengan Gedung Putih yang mengancam akan menggunakan hak veto.

Dengan suara 248-177, Kongres menyetujui langkah itu dan mengirimkannya ke Senat yang telah mengeluarkan resolusi serupa  setahun yang lalu.

“Kita telah membantu menciptakan, dan memperburuk krisis kemanusiaan terbesar di dunia. Keterlibatan kita dalam perang ini, terus terang, sangat memalukan,” kata Barbara Lee dalam perdebatan di Kongres.

Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Kongres Eliot Engel mengatakan suara itu mewakili “kembalinya klaim Kongres atas perannya dalam kebijakan luar negeri.”

Di pihak lain, Gedung Putih menyebut resolusi Kongres itu “cacat” dengan dalih bahwa pasukan AS tidak secara langsung terlibat dalam aksi militer di Yaman.

Gedung Putih menyatakan bahwa sejak tahun 2015 AS telah memberikan dukungan kepada koalisi, termasuk di bidang intelijen dan pengisian bahan bakar di udara, tetapi tidak melibatkan pasukan dalam “persiteruan” di Yaman. (ap)

Bom Bunuh Diri Di Kashmir Tewaskan 44 Paramiliter India

Sedikitnya 44 personel paramiliter India tewas dan puluhan lainnya cedera terkena ledakan bom mobil yang menyasar konvoi militer di Kashmir.

Korban berjatuhan setelah setelah satu unit mobil van menabrak bus dalam konvoi 78 kendaraan yang membawa sekitar 2.500 anggota paramiliter Pasukan Polisi Cadangan Pusat (CRPF) di sepanjang jalan raya utama di lembah yang dipersengketakan.

Perwira senior polisi Muneer Ahmed Khan mengatakan serangan itu terjadi ketika konvoi itu mencapai kota Lethpora selatan di pinggiran kota Srinagar di wilayah Himalaya yang disengketakan. Dia mengatakan satu unit bus hancur dan setidaknya lima kendaraan lainnya rusak akibat ledakan itu.

Sebanyak hampir 30 tentara juga terluka, dan video dari lokasi ledakan memperlihatkan kepulan asap dari serpihan kkendaraan, sementara mayat berserakan di seberang jalan.

Mohammad Yunis, seorang wartawan, yang mencapai lokasi persitiwa beberapa menit setelah kejadian mengatakan ledakan itu terdengar dari jarak beberapa mil, dan dia melihat darah dan bagian-bagian tubuh tersebar di sepanjang 100 meter jalan raya. (mm/presstv)