Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 16 April  2021

agen israelJakarta, ICMES.  Sebuah pusat intelijen Israel, Mossad, dilaporkan mendapat serangan sengit di Irak Utara.

Rezim Zionis Israel dikabarkan mengaku tak bermaksud melancarkan serangan balasan atas serangan yang menerjang kapal Hyperion Ray miliknya.

Arab Saudi dan sejumlah negara terkemuka Eropa menyayangkan perkembangan isu nuklir Iran yang belakangan ini berujung pada peningkatan pengayaan uranium hingga kemurnian 60%.

Di bulan suci Ramadhan, Arab Saudi melancarkan serangan ke sebuah daerah perbatasan utara Yaman di provinsi Sa’dah hingga menewaskan dua anak kecil dan melukai beberapa orang lainnya.

Berita Selengkapnya:

Diserang Pejuang Irak, Para Agen Intelijen Israel Tewas dan Luka

Sebuah pusat intelijen Israel, Mossad, dilaporkan mendapat serangan sengit di Irak Utara.

Sumber keamanan Selasa malam (13/4) saat melaporkan serangan tersebut mengataan bahwa seorang agen intelijen senior Israel tewas dalam serangan itu dan beberapa lainnya terluka.

Lembaga pemberitaan Sabereen News yang berbasis di Irak mengutip pernyataan sumber-sumber keamanan bahwa sebuah pusat intelijen Mossad diserang oleh “pasukan perlawanan tak dikenal” di  Irak utara.

Media itu menambahkan bahwa serangan itu mengakibatkan kematian dan cederanya sejumlah pasukan Israel, termasuk seorang perwira senior, dan memberikan “pukulan berat” terhadap Israel dan para agen spionasenya.

Sabereen News menyatakan dalam waktu dekat akan membagikan beberapa gambar terkait operasi tersebut.

Insiden itu terjadi beberapa jam setelah kapal Israel dilaporkan mendapat serangan dari Iran di dekat pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab, hingga menyebabkan kerusakan namun tak ada laporan jatuhnya korban jiwa maupun luka. (mna)

Kapalnya “Diserang Iran”, Israel Mengaku Tak Mau Membalas, Tapi Minta Bantuan AS

Rezim Zionis Israel dikabarkan mengaku tak bermaksud melancarkan serangan balasan atas serangan yang menerjang kapal Hyperion Ray miliknya.

Seperti pernah diberitakan, Channel 12, Selasa (13/4), melaporkan bahwa seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya menuduh Iran sebagai pelaku “serangan rudal”  tersebut.

Namun, dikutip surat kabar New York Times, Rabu (14/4), seorang pejabat Israel yang juga anonim mengatakan, “Israel tak berniat membalas dengan menyerang kapal Iran, demi membatasi ketegangan di kawasan.”

Surat kabar ini juga mengutip pernyataan seorang pejabat AS bahwa Israel beberapa hari lalu meminta AS membantu melindungi kapal Israel.

Menurut pejabat itu, para pejabat Israel “mencemaskan kemungkinan serangan dari Iran, sebagai balasan atas serangan ranjau yang dilakukan Israel pada pekan lalu terhadap kapal Iran di Laut Merah”.

Sementara itu, juru bicara Komando Pusat AL AS menyatakan pihaknya mengetahui laporan-laporan mengenai serangan terhadap kapal Israel Hyperion Ray di lepas pantai Uni Emirat Arab.

Hyperion dicatat Israel sebagai kapal ketiga yang mendapat serangan dalam satu setengah bulan terakhir di mana Tel Aviv menuding Teheran sebagai pelakunya.

Di tengah ketegangan di laut antara Teheran dan Tel Aviv ini kabinet Israel Ahad mendatang akan menggelar rapat yang dikhususkan untuk membicarakan isu Iran. (raialyoum)

Iran Perkaya Uranium 60%, Ini Tanggapan Kritis Saudi dan Eropa

Arab Saudi dan sejumlah negara terkemuka Eropa menyayangkan perkembangan isu nuklir Iran yang belakangan ini berujung pada peningkatan pengayaan uranium hingga kemurnian 60%.

Sebagaimana dilaporkan kantor berita Saudi, SPA, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Saudi, Rabu (14/4), menyatakan bahwa dengan tingkat pengayaan itu proyek nuklir Iran tak dapat dianggap bertujuan damai.

Kemlu Saudi menegaskan bahwa negara kerajaan ini mendesak Iran menghindari eskalasi, tidak mengusik keamanan dan stabilitas kawasan dengan ketegangan lebih lanjut, terlibat secara serius dalam negosiasi yang sedang berlangsung, sejalan dengan harapan komunitas internasional agar Iran memanfaatkan program nuklirnya untuk tujuan damai dan berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) serta sesuai apa yang dapat mewujudkan keamanan dan stabilitas regional dan global dan membatas penyebaran senjata pemusnah massal.

Saudi juga menekankan pentingnya komunitas internasional mencapai kesepakatan yang determinan, lebih kuat dan lebih lama, dengan cara yang mengoptimalkan langkah-langkah pemantauan dan pengendalian untuk memastikan pencegahan Iran dari memperoleh senjata nuklir atau mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk ini, serta mempertimbangkan keprihatinan yang mendalam negara-negara regional terhadap langkah-langkah eskalasi yang diambil Iran “untuk mengacaukan keamanan dan stabilitas kawasan”, termasuk program nuklirnya.

Di hari yang sama, Inggris, Prancis, dan Jerman mengaku prihatin dan tak dapat menerimas langkah terbaru Iran memperkaya uranium hingga 60 persen.

Menteri luar negeri dari tiga negara Eropa itu dalam sebuah statemen bersama menyatakan, “Produksi uranium yang diperkaya merupakan langkah penting untuk produksi senjata nuklir. Iran tidak memiliki kebutuhan sipil yang dapat diverifikasi untuk pengayaan dengan persentase ini.”

Sebelumnya, Organisasi Tenaga Atom Iran menyatakan bahwa pengayaan uranium dimaksudkan untuk tujuan medis.

Meski Iran sudah mengumumkan pengayaan uranium 60%, presiden negara ini, Hassan Rouhani,  menyatakan niatnya untuk melanjutkan negosiasi untuk kembali ke perjanjian nuklir yang ditandatangani di Wina, Swiss, pada tahun 2015.

Dia mengatakan, “Bahkan jika kami ingin memperkaya uranium hingga 60%, kami masih tidak memiliki masalah sehubungan dengan negosiasi, bahkan dengan AS.” (raialyoum)

Di Bulan Suci, Saudi Masih Menebar Maut di Tengah Warga Sipil Yaman, Dua Bocah Terbunuh

Bulan suci Ramadhan tak menghalangi Arab Saudi dalam melanjutkan serangannya ke Yaman yang banyak menjatuhkan korban sipil.

Sumber-sumber Yaman menyebutkan bahwa pada Rabu sore waktu setempat Saudi melancarkan serangan ke sebuah daerah perbatasan utara Yaman di provinsi Sa’dah.

Saluran Al-Masirah milik Ansarullah melaporkan bahwa serangan itu menerjang kawasan al-Raqwu di distrik Manbah dan menyebabkan dua bocah kecil Yaman gugur dan empat orang lain, termasuk dua perempuan, menderita luka-luka.

Selama enam tahun perang yang melanda Yaman, berbagai daerah perbatasan Yaman-Saudi erap mendapat serangan rudal dan artileri dari pasukan koalisi yang dipimpin Saudi maupun pasukan penjaga perbatasan Saudi.

Sejak Maret 2015 pasukan koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi dan didukung AS, Israel dan negara-negara Barat melancarkan invasi militer ke Yaman untuk membela pemerintahan presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi melawan gerakan Ansarullah yang didukung tentara Yaman.

Invasi itu menyebabkan kematian puluhan ribu orang, terutama warga sipil, pengungsian jutaan orang, kehancuran banyak fasilitas umum dan properti pribadi, dan bencana kelaparan.

Meski demikian, Ansarullah dan tentara Yaman sekarang justru semakin tangguh dan semakin gencar melesatkan rudal balistik dan drone ke wilayah Saudi sebagai balasan atas blokade dan serangan udara Saudi dan sekutunya. (fna)