Jakarta, ICMES. Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei pada hari Rabu (14/8) menegaskan bahwa perang psikologis terhadap Iran merupakan tipu daya yang bertujuan menimbulkan ketakutan pada jiwa masyarakat demi memaksa mereka mundur.

Surat kabar Inggris Financial Times mengutip pernyataan sumber-sumber diplomatik bahwa sejak peristiwa pembunuhan seorang komandan senior Hizbullah oleh Israel, kelompok pejuang Lebanon ini tidak lagi memiliki mood yang baik untuk menyimak saran dan masukan, dan bahwa semua pihak yang telah mencoba bersaran kepadanya jarang sekali mendapat tanggapan apapun darinya.
Ketua dewan politik Gerakan al-Nujaba, kelompok pejuang terkemuka Irak, Syeikh Ali al-Asadi, menyatakan bahwa pembalasan yang berpotensi dilakukan Iran terhadap Israel akan kuat dan diperhitungkan secara matang sehingga akan berdampak besar.
Berita selengkapnya:
Ayatullah Khamenei: Pengerahan Pasukan AS Bukti Ketidak Mampuan Israel Membela Diri
Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei pada hari Rabu (14/8) menegaskan bahwa perang psikologis terhadap Iran merupakan tipu daya yang bertujuan menimbulkan ketakutan pada jiwa masyarakat demi memaksa mereka mundur, dan bahwa mengetahui kemampuan diri sendiri dan menghindari melebih-lebihkan kemampuan musuh merupakan cara untuk menggagalkan tujuan musuh tersebut.
Membesar-besarkan kemampuan militer dan melebih-lebihkan persenjataan dan peralatan logistik musuh adalah bagian dari tipuan perang psikologis yang hendak dipraktikkan oleh entitas Israel dan AS terhadap Iran. Demikianlah dikatakan Ayatullah Khamenei dalam menggambarkan intimidasi AS-Israel terhadap Iran.
Dia menekankan bahwa perang psikologis yang dikoarkan Barat terhadap Iran bertumpu pada aksi melebih-lebihkan kemampuan Barat, dan merupakan trik yang bertujuan untuk membangkitkan ketakutan di hati masyarakat demi memaksa mereka mundur di berbagai bidang, sementara kenyataannya, kekuatan Barat justru berlawanan dengan apa yang dikoarkan.
Ayatullah Khamenei menekankan bahwa cara untuk menggagalkannya adalah percaya pada kemampuan negara-negara regional sendiri. Dia menyerukan untuk tidak melebih-lebihkan kemampuan pihak lawan.
Menurut saluran berita Al-Alam milik Iran, gambaran yang diberikan oleh Pemimpin Besar Iran mengenai dukungan AS kepada Israel tersebut mencerminkan kesadaran dan pengetahuan akan aspek dan pesan dari dukungan tersebut, yang mengungkapkan kelemahan Israel, yang menuntut kehadiran Barat secara langsung untuk membelanya.
Al-Alam menilai janji para politisi Barat untuk melindungi entitas Zionis itu dari serangan balasan Iran kembali membuktikan bahwa ancaman rezim pendudukan Israel hanyalah gelembung yang dipecahkan oleh pengerahan pasukan Barat untuk membelanya.
Pengerahan pasukan itu menghapus pamor palsu tentara pendudukan Israel, apalagi mengingat bahwa tentara ini pada kenyataannya masih terjebak pada kubangan maut di Gaza dalam perang tak seimbang dengan faksi-faksi pejuang Palestina, perang yang selama 10 bulan ini telah menewaskan dan melukai lebih dari 10,000 tentaranya, menurut media Israel sendiri. (alalam)
Financial Times: Balasan Hizbullah akan Mengguncang Tentara Israel
Surat kabar Inggris Financial Times pada hari Rabu (14/8 mengutip pernyataan sumber-sumber diplomatik bahwa sejak peristiwa pembunuhan seorang komandan senior Hizbullah oleh Israel, kelompok pejuang Lebanon ini tidak lagi memiliki mood yang baik untuk menyimak saran dan masukan, dan bahwa semua pihak yang telah mencoba bersaran kepadanya jarang sekali mendapat tanggapan apapun darinya.
“Hizbullah merahasiakan diskusinya sendiri mengenai bagaimana tanggapannya (atas serangan Israel,” ungkap Financial Times, berdasarkan keterangan orang-orang yang terlibat dalam upaya diplomatik tersebut.
Surat kabar tersebut juga mengutip pernyatan para pengamat bahwa Hizbullah ingin membiarkan musuh-musuhnya tetap bersiap, dan juga ingin menciptakan pengaruh dalam diplomasi berisiko tinggi.
Menurut Financial Times, para ahli memperkirakan Hizbullah akan mampu menyerang “target bernilai tinggi di wilayah Israel,” sebuah lokasi yang sebagian besar tidak diketahui publik dan “akan mengguncang fondasi tentara Israel.”
Mereka juga menyebutkan; “Hizbullah bisa jadi akan berusaha memamerkan kekuatannya di bidang persenjataan dengan cara membidikkan serangan presisinya pada instalasi besar.” (raialyoum)
Al-Nujaba Irak: Balasan Potensial Iran terhadap Israel Diperhitungkan Secara Matang
Ketua dewan politik Gerakan al-Nujaba, kelompok pejuang terkemuka Irak, Syeikh Ali al-Asadi, menyatakan bahwa pembalasan yang berpotensi dilakukan Iran terhadap Israel akan kuat dan diperhitungkan secara matang sehingga akan berdampak besar.
“Iran adalah negara yang memiliki kebijakan untuk merespons dengan serangan yang diperhitungkan dan berdampak,” kata dalam wawancara dengan jaringan televisi Irak al-Sumaria pada hari Selasa (14/8).
“Respon Iran akan sebanding dengan agresi yang terjadi di wilayahnya, dan karena itu Iran akan merespon dengan cara yang sama dan di tempat yang sama (serupa),” sambungnya.
Dia menekankan bahwa Irak dan kelompok perlawanannya akan berkontribusi pada pembalasan atas pembunuhan Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh dan komandan senior Hizbullah Fuad Shukr oleh Israel.
Al-Asadi mengecam kehadiran pasukan pendudukan asing, termasuk AS, di Irak.
“Semua pejuang perlawanan mendukung pandangan kami, yaitu bahwa Amerika adalah musuh dan harus diusir dari negara ini. Sidang parlemen yang menyetujui pengusiran pasukan asing dihadiri oleh mereka yang menentang pendudukan dan menuntut pengusiran.”
Mengenai serangan para pejuang Irak terhadap pangkalan-pangkalan AS, dia mengatakan, “Kubu pejuang memahami bahwa pihak agresor hanya memahami bahasa kekerasan, dan kubu ini mulai menghadapinya dengan cara yang sama.”
Pada tahun 2020, parlemen Irak menyetujui pengusiran pasukan asing setelah serangan drone AS menggugurkan jenderal legendaris Iran Qassem Soleimani dan wakil komandan pasukan relawan Irak Al-Hash al-Shaabi, Abu Mahdi Al-Muhandis, di dekat Bandara Internasional Baghdad.
Di Irak terdapat sekira 2.500 tentara AS, sedangkan di Suriah sekira 900 tentara. Tentara pendudukan ini bercokol dengan dalih demi menumpas kawanan teroris ISIS, padahal Suriah dan Irak serta sekutunya sudah berhasil mengalahkan kawanan itu pada akhir tahun 2017. (presstv)







