Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 14 November 2019

serangan israel ke gazaJakarta, ICMES. Sayap militer Gerakan Jihad Islam Palestina, Brigade Quds, menyatakan pihaknya kembali menggempur Tel Aviv dan Quds (Yerussalem) dengan hujan roket.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu usai rapat kabinetnya menyatakan akan terus menyerang Jihad Islam.

Rezim Zionis Israel dalam konfrontasi dengan para pejuang Palestina kali ini berbeda dalam memandang Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) yang berkuasa di Jalur Gaza.

Berbagai media di negara-negara Arab kawasan Teluk Persia tampak tidak menunjukkan perhatian, simpati, dan solidaritas yang semestinya kepada Gerakan Jihad Islam Palestina yang sedang bertempur melawan pasukan Zionis Israel.

Berita selengkapnya:

Gerakan Jihad Islam Palestina dan Israel Masih Saling Gempur, Korban Bertambah

Sayap militer Gerakan Jihad Islam Palestina, Brigade Quds, Rabu malam (13/11/2019), menyatakan pihaknya kembali menggempur Tel Aviv dan Quds (Yerussalem) dengan hujan roket.

“Perang ‘Teriakan Fajar’ berlanjut…. Brigade Quds menyasar Tel Aviv dan Quds dengan hujan roket… Tepat pukul 11.20 Brigade Quds melesatkan roket dalam jumlah besar dengan sasaran berbagai kota besar pendudukan dan menghantam kedalamannya, ” bunyi pernyataan Brigade Quds.

Media Israel melaporkan satu warga Israel terluka akibat jatuhnya roket pejuang Palestina di selatan Tel Aviv, sementara otoritas Israel belum berkomentar mengenai serangan dari Gaza ke Tel Aviv dan Quds.

Rabu malam lalu militer Israel mengaku telah mendeteksi 360 roket yang melesat dari Gaza menuju Israel sejak Selasa. Badan penyiaran resmi Israel menyebutkan 64 orang terluka akibat gempuran roket dari Gaza. 23 di antara puluhan orang itu terluka ketika dalam perjalanan menuju tempat perlindungan.

Juru bicara militer Israel Avichai Adraee menyatakan pihaknya telah melesatkan jet-jet tempurnya pada Rabu malam untuk menggempur beberapa sasaran milik Jihad Islam di Jalur Gaza.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengumumkan sebanyak 26 orang Palestina, tiga di antaranya anak kecil, gugur syahid dan 85 lainnya, termasuk 31 anak kecil dan 14 perempuan dewasa, menderita luka terkena serangan Israel ke Gaza sejak Selasa pagi. (raialyoum)

Netanyahu: Hanya Ada Satu Pilihan bagi Jihad Islam Palestina

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu usai rapat kabinetnya, Rabu(13/11/2019) menyatakan akan terus menyerang Jihad Islam.

“Kami terus menghantam Jihad Islam setelah kami habisi pemimpin besarnya di Jalur Gaza. Di depan mereka hanya ada satu pilihan; menghentikan serangan, atau akan terkena serangan lebih banyak. Inilah pilihan bagi mereka… Saya kira mereka mengetahui bahwa kami akan terus menggempur mereka tanpa ampun, bahwa kekuatan Israel besar, dan kehendak kami sangat besar, ” tegas Netanyahu.

Sumber diplomatik menyebutkan bahwa utusan khusus PBB Nickolay Mladenov akan mendatangi Kairo untuk mengadakan pembicaraan mengenai penghentian ketegangan Gaza-Israel.

Namun demikian, juru bicara Gerakan Jihad Islam Musab al-Barim menyatakan pihaknya menolak mediasi sebelum menuntaskan balasannya terhadap Israel.

“Tak ada pembicaraan mengenai mediasi, dan tidak relevan bicara tentang ini, tanpa mengurangi hormat kami kepada upaya Arab. Ketika pesan balasan tuntas maka dapatlah kiranya berbicara mengenai ketenangan,” ungkap al-Barim.  (raialyoum)

Israel Dalam Konfrontasi Kali Ini Mencoba Bedakan Hamas dengan Jihad Islam

Rezim Zionis Israel dalam konfrontasi dengan para pejuang Palestina kali ini berbeda dalam memandang Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) yang berkuasa di Jalur Gaza.

Hal ini terungkap dari pernyataan-pernyataan yang tak biasanya dari Israel belakangan ini bahwa serangan udaranya di Jalur Gaza terbatas hanya pada posisi-posisi Jihad Islam, tidak mencakup posisi-posisi Hamas, sehingga tampak bahwa Israel berusaha menghindari eskalasi besar,

Perkembangan ini juga telah disinggung di sejumlah media Israel. Bin Kaspit, jurnalis surat kabar Israel Maariv, berkomentar, “Baru sekarang di era kontemporer Israel membedakan antara Hamas dan Jihad Islam, dan dengan demikian Israel telah menyimpang dari prinsipnya bahwa Hamas selaku penguasa di Gaza harus membayar segala tindakan yang dilakukan oleh siapapun di Jalur Gaza. Israel sekarang tidak lagi demikian.”

Senada dengan ini, Haaretz, surat kabar Israel lainnya, menyatakan bahwa di tengah eskalasi Gaza-Israel “Mesir dan beberapa pihak internasional lain mengupayakan gencatan senjata, dan tekanan utama mengarah pada Hamas yang berkuasa di Jalur Gaza, sebagai upaya mencegah Hamas bergabung dengan Jihad Islam dalam serangan ke Israel.”

Sementara itu, juru bicara Hamas Fawi Barhoum justru memperingatkan Israel untuk tidak menyendirikan Gerakan Jihad Islam.

“Kami tegaskan kepada rezim pendudukan (Israel) agar tidak menyendirikan Jihad Islam,” tegasnya. Dia menjelaskan bahwa Brigade Ezzeddin al-Qassam, sayap militer Hamas, “bahu membahu dengan Brigade Quds (sayap militer Gerakan Jihad Islam) dalam pertempuran.”

Di sisi lain, juru bicara Kepresidenan Palestina Nabil Abu Rudainah mendesak Israel agar segera menghentikan serangannya terhadap orang-orang Palestina. Dia juga menyebutkan bahwa  Presiden Palestina Mahmoud Abbas “sedangkan mengerahkan upaya intensif untuk mencegah eskalasi bahaya Israel dan menghindari dampaknya.”

Rudainah menyerukan kepada masyarakat dunia, terutama PBB, agar “segera turun tangan menekan Israel agar menghentikan agresinya yang berkelanjutan terhadap bangsa kami, menghormati undang-undang internasional yang menegaskan keharusan penyediaan perlindungan internasional bagi rakyat Palestina.” (raialyoum)

Arab Teluk Cueki Gerakan Jihad Islam Palestina, Mengapa?

Berbagai media di negara-negara Arab kawasan Teluk Persia tampak tidak menunjukkan perhatian, simpati, dan solidaritas yang semestinya kepada Gerakan Jihad Islam Palestina yang sedang bertempur melawan pasukan Zionis Israel, menyusul serangan teror Israel terhadap seorang seorang komandan terkemuka sayap militer Gerakan Jihad Islam, Brigade Quds, Baha Abu al-Ata, di Jalur Gaza, dan tokoh Jihad Islam lain, Akram al-Ajouri, di Damaskus, ibukota Suriah.

Pasalnya, media negara-negara Arab reaksioner itu terlihat lebih mengedepankan sektarianisme dan sentimen anti-Iran daripada semangat ke-Araban, keislaman, ataupun kemanusiaan di depan agresi brutal Israel terhadap orang-orang Palestina.

Menurut laporan al-Alam milik Iran, Rabu (13/11/2019),media itu cendrrung sinis kepada Gerakan Jihas Islam Palestina karena salah satu faksi pejuang terkemuka di Jalur Gaza ini dikenal sangat dekat dengan Iran.

Salah satu media itu mencatat, “Abu al-Ata adalah tokoh militer yang paling dekat dengan Iran dan paling getol mendukungnya. Sedangkan al-Ajouri memiliki hubungan tersendiri dan erat dengan rezim Iran, terutama komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Qasem Soleimani dan Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah, dan inilah yang menyebabkan mata-mata Israel membuntuti al-Ajouri.”

Dengan catatan demikian, media Arab Teluk seakan memaklumi serangan Israel terhadap Gerakan Jihad Islam Palestina.

Berbeda dengan media Arab itu, Ketua Dewan Tinggi Islam Syiah di Libanon Syeikh Abdul Amir Qabalan dalam sebuah statemennya yang mengutuk pembunuhan Abu al-Ata oleh Israel menegaskan bahwa memperkuat persatuan Arab dan Islam serta keterlibatan dalam front resistensi anti-Israel merupakan reaksi terbaik terhadap agresi kaum Zionis.

Syeikh Qabalan mengingatkan bahwa menebar fitnah dan kekacauan di tengah negara-negara Arab dan Islam merupakan salah satu modus Israel dalam upaya memuluskan rencana-rencana kejinya, dan karena itu umat Islam jangan sampai menelantarkan bangsa Palestina dan poros resistensi anti-Israel.

Sementara itu, pemimpin Gerakan Jihad Islam Palestina Ziyad al-Nakhalah menegaskan  pihaknya berhak membalas Israel, dan bahwa balasan yang dilakukan sejak Selasa lalu sampai Rabu kemarin masih belum mengerahkan semua roket dan senjata yang dimilikinya.( alalam/mayadeen)