Jakarta, ICMES. Pemimpin Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa demi suatu tujuan, Hizbullah sengaja menerbangkan drone tak bersenjata ke ladang gas Karish yang disengketakan oleh Lebanon dan Israel justru supaya drone itu ditembak oleh Israel.

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi menegaskan negaranya pantang mundur dari “pendiriannya yang benar dan rasionalâ€, dan menasehati Amerika Serikat (AS) agar melihat realitas dan memetik pelajaran dari masa lalu.
Presiden AS Joe Biden telah mendarat di Tel Aviv, Israel, pada kunjungan pertamanya ke Timur Tengah sejak memimpin AS.
Berita Selengkapnya:
Sayid Nasrallah: Drone Hizbullah ke Ladang Karish Hanya Pemanasan Sederhana
Pemimpin Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa demi suatu tujuan, Hizbullah sengaja menerbangkan drone tak bersenjata ke ladang gas Karish yang disengketakan oleh Lebanon dan Israel justru supaya drone itu ditembak oleh Israel.
Dalam pidato terbarunya pada Rabu (13/7), SayidNasrallah mula-mula berkomentar mengenai kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden ke Timur Tengah dengan mengatakan bahwa Biden datang ke kawasan ini ketika AS sekarang sudah bukan lagi AS dulu, dan AS bagi Lebanon bukanlah mediator melainkan negara yang bermaksud menekan demi kepentingan Israel.
“AS sekarang bukanlah AS pada pada tahun 2003 atau 2006. Presiden tua renta AS adalah gambaran AS yang sudah memasuki usia senja. Kehadiran AS di kancah internasional sudah jauh menurun, hari ini ia mengalami tingkat inflasi tertinggi, dan kondisi sosial, keamanan dan dalam negerinya tak sehat,†ujar Nasrallah.
Mengenai motif kunjungan Biden, Nasrallah mengatakan, “Saya kira, apa yang dibawa oleh Presiden AS ke kawasan ialah dua perkara. Pertama, meyakinankan negara-negara Teluk agar memroduksi dan mengekspor tambahan migas, sedangkan entitas Zionis ada di tahap kedua.â€
Dia menjelaskan, “AS memerangi pemerintah dan bangsa Rusia di Ukraina, menyeret semua negara Eropa, dan salah satu unsur peperangan ini ialah boikot migas Rusia oleh Eropa. AS bertanggungjawab memenuhi pasokan alternatif, sementara waktu sudah mepet karena musim dingin sudah di ambang pintu, dan mereka perlu menyimpan cadangan alternatif selama musim panas.â€
Mengenai hubungan Biden dengan Israel, Sekjen Hizbullah mengatakan, “Sejak tampil sebagai presiden, Biden sudah mengaku sebagai seorang Zionis ketika dia mengatakan bahwa tak harus orang Yahudi untuk menjadi seorang Zionis. Apa yang dia katakan begitu tiba (di Timur Tengah) sekarang mengenai Solusi Dua Negara hanyalah basa-basi belaka.â€
Mengenai perang di Yaman, dia mengatakan, “AS adalah pihak yang menginginkan agresi terhadap Yaman, sedangkan Saudi hanyalah alat. Biden dengan mudah dapat menghentikan perang dan mencabut blokade terhadap Yaman.â€
Menyinggung ancaman Israel terhadap Lebanon, Sayid Nasrallah mengatakan, “Menteri Perang musuh (Israel) Benny Gantz mengancam akan mendatangi Beirut, Sidon dan Tyre, padahal dia tahu sedang menertawai dirinya dan rakyatnya, dan orang-orang Israel tahu bahwa itu omong kosong belaka. Gantz bahkan tak berani melangkah ke arah Gaza yang diblokade, dan kami menasihatinya untuk mengingat Perang Juli (Hizbullah VS Israel tahun 2006) dan terutama upaya mereka memasuki Bint Jbeil.â€
Mengenai sengketa ladang migas di perairan Mediterania antara Lebanon dan Israel, dia mengatakan, “Salah satu pelajaran yang harus dipetik dari Perang Juli ialah bahwa lingkungan kerakyatan di selatan (Lebanon) mengayomi kubu resistensi, dan kapabilitas kubu resistensi sekarang lebih besar dari sebelumnya. Kubu resistensi adalah kekuatan satu-satunya yang dimiliki Lebanon untuk mendapatkan haknya mengeksplorasi dan menjual migas. Tak seorangpun di dalam negeri ini menyangsikan bahwa migas adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari krisis, karena kondisi negara ini sangat sulit. Dana dari Bank Dunia tak akan pernah menyelesaikan krisis, melainkan akan menjadi utang. Solusi mendasar adalah dengan ratusan miliar dolar yang kita miliki. Eksplorasi migas akan memenuhi dana miliaran dolar untuk pemerintah Lebanon tanpa utang luar negeri, dan inilah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan negara ini.â€
Mengenai peran AS dalam sengketa tersebut, Sayid Nasrallah mengatakan, “Di depan kita hanya adalah waktu dua bulan, sebab otoritas rezim pendudukan berbicara mengenai ekplorasi minyak pada September mendatang. Jika kita tak bergerak untuk menetapkan damarkasi perbatasan secepatnya maka urusan akan sulit. Kami tak menganggap mediator AS (Amos) Hochstein sebagai penengah, sebab dia bekerja demi kepentingan Israel, dan dia datang demi kebutuhan mendesak Eropa kepada gas dan karena ada ancaman serius dari kubu resistensi.â€
Mengenai drone yang diterbangkan Hizbullah ke ladang gas Karish yang disengketakan, Sayid Nasrallah menegaskan, “Kami meluncurkan beberapa drone dengan beragam ukuran dan tak bersenjata, dan kami telah sepakat untuk mengirim drone-drone itu untuk ditembak jatuh oleh Israel, sebab kami ingin rudal ditembakkan supaya pekerja di kawasan itu tahu bahwa kawasan ini tak aman.â€
Dia juga menjelaskan, “Untuk pertama kalinya dalam sejarah entitas Zionis, kubu resistensi meluncurkan tiga drone secara serempak dan setujuan. Kami sanggup mengirim drone bersenjata dengan beragam ukuran dan dalam jumlah lebih besar.â€
Mengenai pesan di balik penerbangan drone itu dia menegaskan, “Pesan dari drone dengan berbagai ukuran itu ialah bahwa kami serius, akan maju dengan opsi-opsi kami, kami akan melakukan apa yang diperlukan, dan pesan ini telah sampai ke musuh. Kami memiliki beragam kekuatan di darat, laut dan udara. Semua opsi ini terbuka, dan segala yang mendukung urusan kami akan kami lakukan dengan kapasitas, waktu dan bentuk yang sesuai.â€
Sayid Nasrallah lantas memperingatkan, “Berperang lebih mulia daripada (menerima) apa yang diinginkan musuh terhadap kami. Kami tegaskan kepada musuh, Zionis dan AS, bahwa pesan drone adalah awalan sederhana dari apa yang dapat kami lakukan selanjutnya.†(alalam)
Presiden AS Tiba di Israel, Presiden Iran: Kami Pantang Mundur
Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi menegaskan negaranya pantang mundur dari “pendiriannya yang benar dan rasionalâ€, dan menasehati Amerika Serikat (AS) agar melihat realitas dan memetik pelajaran dari masa lalu.
Dalam rapat pemerintahannya, Rabu (13/7), hari di mana Presiden AS Joe Biden tiba di Israel dalam perjalanannya ke sejumlah negara Timur Tengah, Raisi menanggapi klaim AS belakangan ini mengenai perjanjian nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).
“AS mengatakan bahwa Iran harus kembali ke JCPIA, padahal Republik Islam (Iran) tak pernah menarik dari JCPOA, AS-lah yang melanggar perjanjian ini,†ujarnya.
Dia menambahkan, “Bukan hanya Eropa, yang notabene sekutu AS dalam negosiasi, melainkan juga semua negara dunia menyoal mengapa AS tak konsisten kepada JCPOA dan keluar darinya.â€
Mengenai sanksi AS terhadap Iran, Raisi mengatakan, “AS berulangkali mengatakan bahwa tekanan yang diterapkannya terhadap bangsa Iran belum pernah terjadi sebelumnya dan bertaraf maksimum, tapi jubir kemlu negara ini secara resmi justru mengatakan tekanan ini sama tak berguna serta gagal secara hina.â€
Dia lantas menegaskan bahwa Iran “pantang mundur dari pendiriannya yang benar dan rasionalâ€, dan menasihati AS agar “melihat realitas dan memetik pelajaran dari masa lalu daripada mengulangi pengalaman gagal tekanan maksimum terhadap bangsa Iran.â€
Dia juga mengatakan, “AS harus menyadari dalam 43 tahun terakhir ini bahwa bicara dengan bangsa Iran tak bisa dengan menggunakan bahasa kekuatan. Anehnya, mereka masih saja ingin bicara dengan retorika yang sama, yang jelas-jelas tak akan menghasilkan (keuntungan) apapun bagi mereka.†(alalam)
Tiba di Israel, Biden: Tak Harus Orang Yahudi untuk Menjadi Zionis
Presiden AS Joe Biden telah mendarat di Tel Aviv, Israel, pada kunjungan pertamanya ke Timur Tengah sejak memimpin AS.
Tiba di Air Force One di bandara Ben Gurion, Rabu (13/7), Biden yang disambut hangat oleh para pejabat Israel, dalam pidatonya menyebut hubungan AS dengan Israel “sangat dalamâ€.
“Anda tak perlu menjadi seorang Yahudi untuk menjadi seorang Zionis. Hubungan antara orang-orang Israel dan Amerika sangat dalam … Saya bangga mengatakan bahwa hubungan AS dengan Israel lebih dalam dan lebih kuat dari sebelumnya,†kata Biden dalam sambutan pembukaannya.
Biden juga mengaku tetap mendukung Solusi Dua Negara untuk konflik Israel-Palestina.
Di pihak lain, Perdana Menteri Israel Yair Lapid menyebut Biden sebagai “Zionis hebat”.
“Hubungan Anda dengan Israel selalu bersifat pribadi,†kata Lapid, sembari menyebut Biden “salah satu teman terbaik yang pernah dikenal Israelâ€.
Kunjungan ini tercatat sebagai kunjungan ke-10 Biden ke Israel (Palestina pendudukan 1948). Kunjungan pertama dia lakukan ketika dia menjabat sebagai senator AS periode pertama dari Delaware pada tahun 1973.
Biden akan menghabiskan dua hari di kota Quds (Yerusalem) untuk melakukan pembicaraan dengan para gembong Zionis Israel, termasuk Lapid dan mantan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, sebelum bertemu dengan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas di Tepi Barat pada hari Jumat.
Dia kemudian akan melakukan penerbangan langsung yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Israel ke Jeddah, Arab Saudi – karena Riyadh belum mengakui eksistensi Israel – untuk berbicara dengan pejabat Saudi dan menghadiri pertemuan puncak aliansi Teluk. (aljazeera)







