Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 13 Oktober 2022

Jakarta, ICMES. Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan Dewan Kebijaksanaan Iran, Rabu (12/10), menyinggung aksi-aksi demo rusuh yang dilakukan oleh sejumlah massa di berbagai kota dan daerah Iran di tengah heboh kematian wanita muda Iran bersuku Kurdi Mahsa Amini, 22 tahun.

Mantan Perdana Menteri Israel periode 2009-2021, Benjamin Netanyahu, menyebut perjanjian demarkasi perbatasan Israel dengan Lebanon sebagai “memalukan” karena “menyerah” kepada tuntutan Hizbullah yang mengizinkan Iran melakukan pengeboran gas di lepas pantai Israel.

Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan satu remaja Palestina gugur syahid dalam bentrokan dengan tentara Israel  di Tepi Barat.

Berita Selengkapnya:

Ayatullah Khamenei Sebut Demo Rusuh sebagai Reaksi “Pasif” dan “Sekenanya” dari Musuh

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan Dewan Kebijaksanaan Iran, Rabu (12/10), menyinggung aksi-aksi demo rusuh yang dilakukan oleh sejumlah massa di berbagai kota dan daerah Iran di tengah heboh kematian wanita muda Iran bersuku Kurdi Mahsa Amini, 22 tahun.

Ayatullah Khamenei menyebut aksi-aksi itu sudah direncanakan oleh musuh-musuh Iran (AS dan sekutunya), namun dalam bentuk yang “pasif”, “bodoh” dan “sekenanya”, sebagai reaksi atas pesatnya prestasi dan kemajuan Iran.

“Selagi bangsa ini masih berjalan di jalur pemerintahan Islam dan nilai-nilai religius, permusuhan ini akan terus berlanjut, dan satu-satunya jalan untuk mengatasinya adalah resistensi,” ungkapnya.

Dia mengimbau, “ Para pejabat negara juga harus waspada agar masalah seperti ini jangan sampai menghalangi tanggungjawab dan tugas utama mereka di kancah dalam dan luar negeri.”

Dia juga mengatakan, “Bangsa Iran membuat langkah besar dalam waktu singkat, yang 180 derajat berlawanan dengan kebijakan arogansi global sehingga mereka terpaksa bereaksi.” (tasnim)

Netanyahu Kecam “Menyerahnya” Perdana Menteri Israel kepada Hizbullah

Mantan Perdana Menteri Israel periode 2009-2021, Benjamin Netanyahu, menyebut perjanjian demarkasi perbatasan Israel dengan Lebanon sebagai “memalukan” karena “menyerah” kepada tuntutan Hizbullah yang mengizinkan Iran melakukan pengeboran gas di lepas pantai Israel.

“Ini bukan perjanjian bersejarah, melainkan penyerahan bersejarah,” kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan di akun Twitter-nya,  yang disiarkan di televisi Israel pada Rabu malam (12/10)

 â€œAda pembicaraan tentang kesepakatan penyerahan yang memalukan oleh (Perdana Menteri Yair) Lapid dan (Menteri Pertahanan Benny) Gantz kepada ( Sekjen Hizbullah Lebanon  Hassan) Nasrallah,” lanjutnya.

Selasa lalu, Sayid Hassan Nasrallah dalam pidato yang disiarkan televisi mengatakan, “Kami berdiri di belakang negara dalam masalah tuntutan Lebanon mengenai demarkasi perbatasan laut selatan, dan yang menjadi perhatian kami adalah ekstraksi migas dari ladang Lebanon.”

Netanyahu yang sedang menjadi kepala kubu oposisi di Israel mengatakan, “Mereka (Lapid dan Gantz) memberinya perairan teritorial, wilayah kedaulatan dan gas kita, dan pada akhirnya mereka juga menyerah pada tuntutan Hizbullah untuk mengizinkan Iran mengebor gas di lepas pantai Israel. Mereka telah membawa Iran ke perbatasan utara kita.”

Dia juga menegaskan, “Lebanon mendapat 100 persen, sementara Israel menerima nol persen. Ini bukan perjanjian bersejarah, melainkan penyerahan bersejarah.”

Netanyahu menjelaskan, “Ini tentang kesepakatan menyerahnya perdana menteri transisi yang lemah dan amatir. Hal yang paling berbahaya adalah bahwa Lapid dan Gantz menetapkan preseden yang sangat berbahaya – terorisme mengancam dan Israel mundur. Ini adalah pukulan serius bagi kekuatan pencegah kita.” Dia mengacu pada ancaman sebelumnya oleh Hizbullah bahwa kelompok pejuang yang didukung Iran ini akan bereaksi keras jika Israel mulai mengebor gas di ladang Karish tanpa mencapai kesepakatan untuk membatasi perbatasan.

Netanyahu berkoar demikian setelah Lapid dan Gantz dalam sebuah konferensi pers membela perjanjian itu sembari menyebutkan beberapa keuntungan keamanan dan ekonominya bagi Israel.

Selasa lalu, Kepresidenan Lebanon dalam sebuah pernyataan mengumumkan bahwa versi terbaru usulan AS selaku mediator mengenai perjanjian demarkasi perbatasan maritim dengan Israel “memuaskan Lebanon, memenuhi tuntutannya dan menjaga  haknya atas kekayaan alamnya.”

Di pihak lain, Perdana Menteri Israel Yair Lapid menyebut perjanjian itu sebagai  â€œpencapaian besar” dan “bersejarah.”

“Ini merupakan pencapaian besar bagi Negara Israel, ekonomi Israel, dan keamanannya. Perjanjian ini tidak menjaga keamanan, melainkan meningkatkan keamanan dan menghilangkan kemungkinan eskalasi dengan Hizbullah,” ujarnya.

Dia menjelaskan, “Israel tidak takut pada Hizbullah. Tentara Israel lebih kuat dari organisasi teroris mana pun. Jika kita memasuki pertempuran, kita akan memukul keras mereka, dan peran pemerintah yang bertanggung jawab adalah mencegah perang.”

Lapid menambahkan: “Kami menjelaskan kepada Lebanon bahwa Israel tidak akan menunda produksi di reservoir Karish selama satu hari dan tidak akan menjadi sasaran ancaman apa pun. Serangan terhadap Karish adalah serangan terhadap Israel.”

Dia juga menegaskan, “Kami tidak akan ragu barang sesaat untuk menggunakan kekuatan dalam melindungi  kilang.”

Israel dan Lebanon terlibat negosiasi tidak langsung selama dua tahun dengan mediasi AS mengenai demarkasi perbatasan di wilayah yang kaya migas seluas 860 kilometer persegi di Laut Mediterania. (raialyoum)

Satu Remaja Palestina Gugur dalam Bentrokan dengan Pasukan Zionis di Tepi Barat

Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan satu remaja Palestina gugur syahid dalam bentrokan dengan tentara Israel  di Tepi Barat, Rabu (12/10).

Kementerian itu menyebutkan, “Osama Mahmoud Adawi, 18 tahun,  gugur syahid terkena peluru tajam di perut di kamp Al-Aroub, selatan Betlehem, wilayah pendudukan Tepi Barat.”

Menurut Kantor Berita Palestina,Wafa, bentrokan terjadi di gerbang kamp Al-Aroub antara tentara Zionis Israel dan massa pemuda Palestina yang memprotes operasi militer Israel.

Bentrokan terjadi di berbagai wilayah Tepi Barat mengakibatkan dua warga Palestina terluka oleh peluru tentara Israel, menurut lembaga Bulan Sabit Merah dan Kementerian Kesehatan Palestina.

Kawasan Qusd (Yerusalem) Timur dilanda aksi mogok untuk menandai protes atas tindakan otoritas Israel memblokir kamp pengungsi Shuafat dan berlanjutnya operasi skala besar untuk menangkap penembak seorang tentara wanita Israel.

Tentara wanita itu tewas dalam serangan di pos pemeriksaan yang memisahkan kamp pengungsi Shuafat dari Quds Timur pada Sabtu lalu.

Pasukan Israel memblokir kamp pengungsi Shuafat sehingga ​​sekolah dan pusat kesehatan terganggu, dan bentrokanpun meletus antara pasukan Israel dan pemuda Palestina yang membakar ban-ban bekas dan melemparkan batu.

Aksi mogok juga menyebar ke kota Nablus di mana lalu seorang tentara Israel lainnya tewas di sebelah baratnya, dan kelompok “Lion’s Den” mengaku bertanggung jawab atas hal ini.

Pada hari Rabu, tentara Israel menyatakan telah menutup jalan di sekitar kota Nablus dan memasang penghalang jalan.

Sejak Jumat pekan lalu, pasukan Israel telah membunuh remaja di Tepi Barat, menurut Kementerian Kesehatan, yang pada hari Senin mengumumkan gugurnya seorang bocah berusia 12 tahun karena luka yang dideritanya sejak bulan lalu akibat operasi militer Israel di Jenin. (raialyoum)