Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 13 Juni 2019

bandara abha saudiJakarta, ICMES: Pasukan Yaman menyatakan bahwa rudal cruise yang ditembakkan ke Bandara Abha, Arab Saudi, tepat mengena sasaran berupa menara pengatur lalu lintas udara sehingga aktivitas penerbangan di bandara ini berhenti.

Para pakar militer dari Inggris, Amerika Serikat, dan Prancis gagal mencegat sebagian besar rudal dan pesawat nirawak pasukan Ansarullah Yaman yang menggempur sasaran-sasaran militer dan bandara-bandara di Saudi.

Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi mengutuk serangan rudal cruise pasukan Ansarullah Yaman ke Bandara Abha, Saudi, mengancam akan melancarkan serangan balik yang “sengit”, dan menyebut nama Iran terkait dengan senjata-senjata baru yang digunakan oleh Ansarullah.

Presiden Iran Hassan Rouhani memperkirakan akan terjadi “perubahan yang sangat positif” di Timur Tengah dan dunia jika Amerika Serikat menghentikan tekanan ekonomi dan sanksinya terhadap Iran.

Berita selengkapnya:

Pasukan Yaman Ungkap Hasil Serangan ke Bandara Abha Milik Saudi

Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman Brigjen Yahya Sarie menyatakan bahwa rudal cruise yang ditembakkan ke Bandara Abha, Arab Saudi, tepat mengena sasaran berupa menara pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Controller/ATC) sehingga aktivitas penerbangan di bandara ini berhenti.

“Sistem-sistem mutakhir Amerika Serikat (AS) tak dapat mencegat rudal ini. Serangan ini membuat musuh panik dan takut, dan menimbulkan kebingungan besar dalam barisan mereka,” lanjut Sarie.

Dia menjelaskan bahwa serangan ke Bandara Abha ini merupakan balasan yang sah atas kejahatan agresi dan kezaliman blokade Saudi terhadap bangsa Yaman.

Yahya Sarie juga mengingatkan warga Saudi dan lain-lain agar menjauhi bandara dan posisi-posisi militer.

“Kami ingatkan lagi kepada segenap warga dan perusahaan-perusahaan yang bekerja di negara-negara agresor (Saudi dan sekutunya) agar menjauhi semua bandara dan posisi-posisi militer,” pintanya.

Dia kemudian menegaskan, “Selama agresi kejam dan blokade zalim terhadap Yaman masih ada maka pihak agresor hendaknya yakin bahwa kami tidak akan pernah diam berpangku tangan atas semua itu.”

Seperti pernah diberitakan, Unit Rudal Yaman mengaku telah melepaskan rudal bersayap jenis cruise ke Bandara Internasional Abha di wilayah selatan Arab Saudi pada dini hari Rabu (12/6/2019).

Saat itu sumber dari unit rudal Yaman juga memastikan bahwa rudal itu tepat mengena ke sasaran sehingga aktivitas aviasi di bandara itu terhenti.

Angkatan Bersenjata Yaman dan sekutunya, Komite Rakyat yang berafiliasi dengan gerakan Ansarullah (Houthi), dalam beberapa hari terakhir ini meningkatkan operasi serangannya ke berbagai sasaran di Saudi.

Serangan terbaru di antaranya menyasar gudang-gudang senjata, radar-radar canggih, dan ruang-ruang kontrol di  Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait dengan beberapa unit pesawat nirawak Qasif K2 pada Selasa lalu (11/6/2019).

Selain itu, di hari yang sama pasukan Yaman juga menggempur Bandara Jizan dengan sejumlah pesawat nirawak dari jenis yang sama dengan sasaran terminal dan hanggar pesawat nirawak yang digunakan Saudi dalam serangan ke Yaman. (alalam)

Para Ahli AS, Inggris  dan Prancis Tak Sanggup Hadapi Rudal Yaman

Para pakar militer dari Inggris, Amerika Serikat (AS), dan Prancis gagal mencegat sebagian besar rudal dan pesawat nirawak pasukan Ansarullah Yaman yang menggempur sasaran-sasaran militer dan bandara-bandara di Arab Saudi, dan mereka akan semakin sulit ketika pasukan Ansarullah menggunakan rudal cruise. Demikian disebutkan dalam sebuah artikel yang dimuat oleh media online berbahasa Arab Rai al-Youm yang bermarkas di London, Inggris, Rabu (12/6/2019).

Menurut media ini, laporan mengenai serangan udara Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) selama tiga tahun terakhir ini sudah menjadi berita “biasa”. Tapi belakangan ini, berita keberhasilan pesawat nirawak dan rudal Ansarullah dalam serangan ke berbagai sasaran, termasuk bandara, di kedalaman wilayah Saudi ternyata juga sudah menjadi berita yang “sangat biasa” ketika dalam beberapa pekan terakhir ini intesitasnya meningkat.

“Ansarullah semula hanya mengandalkan rudal balistik, tapi sekarang juga mulai menggunakan rudal cruise yang presisinya lebih tinggi sehingga memerlukan kesiapan khusus. Selain itu, mereka juga meningkatkan pengerahan pesawat nirawak,” tulis Rai al-Youm.

Media ini menjelaskan bahwa sekarang merupakan kali kedua Ansarullah menembakkan rudal cruise terhadap negara-negara anggota pasukan koalisi yang melancarkan operasi militer bersandi “Badai Mematikan” terhadap Yaman, setelah kali pertama dilakukan dengan sasaran reaktor nuklir di Abu Dhabi, UEA, pada Desember 2017.

Juru bicara pasukan koalisi Kol. Turki al-Maliki mengakui bahwa rudal itu menerjang Bandara Abha hingga menjatuhkan 26 korban luka. Saudi biasanya membantah rudal Yaman mengena sasaran, tapi kali ini membuat pengakuan dengan menyatakan bahwa rudal Yaman telah menerjang ruang tunggu di bandara.

Saudi menjalin kontrak dengan para pakar militer AS, Inggris, dan Prancis, terutama yang bekerja di sistem pertahanan udara, untuk mencegat serangan rudal balistik, pesawat nirawak, dan kini juga rudal cruise.  Saudi menempuh langkah ini pada akhir tahun 2017 setelah Ansarullah berhasil menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, ibu kota Saudi, dengan rudal balistik yang tak tercegat oleh sistem payung udara Patriot buatan AS.

Menurut The New York Times, pada akhir tahun 2018 Kementerian Pertahanan AS, Pentagon, telah mengizinkan pengiriman pasukan khusus ke berbagai wilayah di Yaman untuk menemukan lokasi-lokasi peluncuran rudal balistik Ansarullah, tapi mereka gagal. Saat itu Pentagon bermaksud meringankan tekanan yang menimpa Saudi sekaligus membatasi penembakan rudal balistik setelah Patriot gagal menangkis sebagian besar rudal Yaman agar reputasi sistem ini tidak kian memburuk di mata dunia.

Di bagian akhir, Rai al-Youm menyebutkan, “Kegagalan para ahli Barat mencegat sebagian besar rudal yang melesat dari Yaman membuat Saudi berhadapan dengan hari-hari sulit, dan membuktikan kerapuhan persenjataan khusus sistem pertahanan udara dan radar pemantau.” (raialyoum)

Bandara Abha Diterjang Rudal Cruise Yaman, Pasukan Koalisi Tuding Iran

Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi mengutuk serangan rudal cruise pasukan Ansarullah Yaman ke Bandara Abha, Saudi, mengancam akan melancarkan serangan balik yang “sengit”, dan menyebut nama Iran terkait dengan senjata-senjata baru yang digunakan oleh Ansarullah.

Juru bicara pasukan koalisi Arab Kol. Turki al-Maliki menyatakan bahwa pengakuan Ansarullah atas serangan ke bandara itu “merupakan pengakuan terbuka untuk tanggungjawabnya secara penuh atas serangan yang menyasar obyek-obyek dan warga sipil” sehingga berkemungkinan meningkat menjadi “kejahatan perang.”

Dia menambahkan bahwa serangan itu membuktikan keberhasilan Ansarullah Yaman meraih “senjata istimewa baru, dan kontinyuitas rezim Iran menyokong dan melakukan tindakan teror lintas perbatasan.”

Pasukan koalisi pimpinan Saudi kemudian bersumbar akan menempuh “tindakan sengit dan segera untuk menghalau milisi teroris ini”, dan menegaskan bahwa “akan selesai perhitungan terhadap anasir teroris yang bertanggung merencanakan dan mengimplementasikan serangan teror ini.”

Seperti pernah diberitakan, Unit Rudal Yaman mengaku telah melepaskan rudal bersayap jenis cruise ke Bandara Internasional Abha di wilayah selatan Arab Saudi pada dini hari Rabu (12/6/2019).

Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman Brigjen Yahya Sarie menyatakan bahwa rudal cruise yang ditembakkan ke Bandara Abha, Arab Saudi, tepat mengena sasaran berupa menara pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Controller/ATC) sehingga aktivitas penerbangan di bandara ini berhenti. (raialyoum)

Rouhani: Ketegangan Akan Berhenti Jika “Perang Ekonomi” AS Berhenti

Presiden Iran Hassan Rouhani memperkirakan akan terjadi “perubahan yang sangat positif” di Timur Tengah dan dunia jika Amerika Serikat (AS) menghentikan tekanan ekonomi dan sanksinya terhadap Iran.

“Jika ada ketegangan, akarnya disebabkan oleh perang ekonomi AS terhadap Iran. Jika itu berhenti maka kita akan melihat perubahan yang sangat positif di kawasan dan di dunia, “ungkapnya pada konferensi pers dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di Teheran, ibu kota Iran, Rabu (12/6/2019).

Sementara itu, Perdana Menteri Jepang meminta Iran memainkan peran konstruktif dalam mencapai perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, dan mengatakan bahwa Jepang bertekad untuk melakukan apa yang terbaik untuk membantu hal ini.

“Dalam menghadapi meningkatnya ketegangan, Iran harus memainkan peran konstruktif dalam mempromosikan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah agar instabilitas tidak meningkat atau terjadi konfrontasi,” kata Abe pada kesempatan yang sama.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe tiba di Teheran di hari yang sama dalam rangka kunjungan kenegaraan selama dua hari di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS.

Sebelumnya, kepada wartawan ketika dia akan meninggalkan Bandara Haneda, Tokyo, Abe mengatakan, “Berdasarkan hubungan persahabatan tradisional antara Jepang dan Iran, saya ingin bertukar pandangan secara terbuka untuk meredakan ketegangan.”

Abe bermaksud berperan sebagai mediator, karena Jepang memiliki hubungan persahabatan dengan Iran serta lama bergantung pada minyak Iran hingga kemudian Presiden AS Donald Trump mengakhiri pengecualian Jepang dalam sanksi minyak AS terhadap Iran.

Kunjungan Abe ke Iran dilakukan bertepatan dengan peringatan 90 tahun terjalinnya hubungan diplomatik antara kedua negara. (raialyoum)