Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 11 Juni 2020

replika kapal induk di iranJakarta, ICMES. Iran dilaporkan telah membuat replika kapal induk yang diduga akan dipakai sebagai target serangan dalam latihan perang.

Pemerintah Arab Saudi mulai berbicara mengenai perlunya negara kerajaan ini membuka kembali kedutaan besar (kedubesnya) untuk Suriah, dan kembalinya Suriah ke Liga Arab.

Arab Saudi untuk pertama kalinya memberikan pengakuan resmi terkait upayanya menggalang normalisasi hubungan Arab – Israel.

Pemerintah Turki menolak gagasan pemerintah Mesir untuk penyelesaian krisis Libya.

Berita selengkapnya:

Iran Membuat lagi Replika Kapal Induk AS untuk Latihan Perang

replika kapal induk di iran 2

Iran dilaporkan telah membuat replika kapal induk yang diduga akan dipakai sebagai target serangan dalam latihan perang.

Dalam beberapa foto satelit yang diambil oleh Maxar Technologies dan beredar pada hari  Selasa (9/6/2020) terlihat satu kapal induk dengan satu skuadron pesawat tempur mengapung  di sebuah pelabuhan di Iran selatan.

Kapal itu menyerupai kapal induk kelas Nimitz milik AS, namun dengan ukuran yang lebih kecil, yaitu panjang 198 meter dan lebar 48  meter, sedangkan aslinya berukuran lebih dari 300 meter dengan lebar 75 meter.

Fox News menyebutkan bahwa Iran membuat replika kapal induk itu untuk dijadikan target gempuran dalam latihan militer yang dilakukan untuk menghadapi kemungkinan pecahnya perang di kawasan Teluk Persia sehubungan dengan meningkatnya ketegangan negara ini dengan Amerika Serikat (AS).

Menurut Fox News,  replika itu sepenuhnya identik dengan kapal induk Nimitz, dan di atasnya terlihat jelas 16 jet replika penyerang dan multi-tugas terparkir di atas geladaknya. Replika ini memperlihatkan bahwa Iran berusaha mengimplementasikan operasi replika kapal induk itu di sebelah Selat Hormuz, yang menjadi perlintasan 20% minyak dunia.

Pada Februari 2015 Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga pernah menampilkan replika kapal induk AS yang kemudian dipakai dalam latihan tempur yang antara lain menampilkan adegan di mana kapal-kapal cepat Iran mengepung dan menggempurnya.

Komandan IRGC, Mayjen Hossein Salami, pada akhir bulan lalu menyatakan bahwa kemampuan pertahanan negaranya ada yang terpublikasi dan ada pula yang sengaja disembunyikan, dan yang disembunyikan itu merupakan bagian yang terpenting dan paling berbahaya.

Dia memastikan bahwa kekuatan yang tersembunyi itu baru akan terlihat jika musuh menyerang, “karena akan melihat neraka ketika terbakar dari semua sisi”. (amn/an)

Saudi Mulai Bicara mengenai Pembukaan Kembali Kedubesnya untuk Suriah

Pemerintah Arab Saudi mulai berbicara mengenai perlunya negara kerajaan ini membuka kembali kedutaan besar (kedubesnya) untuk Suriah, dan kembalinya Suriah ke Liga Arab.

Hal tersebut dinyatakan Saudi melalui wakil tetapnya untuk PBB, Abdullah bin Yahya Al-Muallami, dalam wawancara dengan RT Arabic milik Rusia, Rabu (10/6/2020).

Dia mengatakan bahwa hubungan Riyadh dengan Damaskus dapat dipulihkan kapanpun ketika krisis Suriah berakhir dan berbagai faksi di Suriah menyetujui arah masa depan di negara ini.

Mengenai kemungkinan membuka kembali Kedubes Saudi untuk Suriah di Damaskus sebagaimana kedubes Uni Emirat Arab (UEA), Al-Muallami mengatakan bahwa “sejauh ini tidak ada langkah serupa untuk waktu dekat karena belum tiba saatnya.”

Menurut kantor berita Suriah, SANA, delegasi Suriah berkunjung ke  Abu Dhabi setelah UEA membuka kembali kedutaannya di Damaskus pada tahun lalu, dan forum sektor swasta kedua negara diadakan di Abu Dhabi .

“Forum ini diadakan dalam rangka pengembangan hubungan positif antara kedua sektor swasta Suriah dan UEA untuk membangun investasi bersama,” kata Ketua Federasi Kamar Dagang dan Industri UEA, Mohammed Thani Murshid Al-Rumaithi. (amn)

Pertama Kali, Saudi Resmi Akui Kerjasamanya dengan Israel

Sebuah cuitan di akun Twitter milik Kedutaan Besar (Kedubes) Arab Saudi untuk Amerika Serikat (AS) di Washington telah membangkitkan polemik luas di media sosial Arab, karena cuitan itu tak ubahnya dengan pengakuan resmi Saudi untuk pertama kalinya dalam menggalang normalisasi hubungan Arab dengan Rezim Zionis Israel.

Akun “Arabia Now” milik kedubes Saudi tersebut dalam sebuah postingannya menyebutkan bahwa Kabinet Arab Saudi menyetujui perusahaan Check Point milik Israel untuk menerima misi pengaturan sistem informasi dalam Proyek NEOM yang dicanangkan oleh Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.

Aktivis media sosial Saudi pengguna akun ternama “mujtahidd” menyatakan bahwa statemen dari Kedubes Saudi itu dalam waktu dekat akan disusul dengan pernyataan-pernyataan resmi selanjutnya dari pihak-pihak lain yang lebih merepresentasikan otoritas Saudi.

Sementara itu, mengenai rencana Israel menganeksasi beberapa bagian wilayah pendudukan Tepi Barat, Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan menyebutnya sebagai “eskalasi berbahaya” yang mengancam proses perdamaian Israel-Palestina.

Kepada para menteri luar negeri pada pertemuan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk membahas tanggapan atas rencana aneksasi tersebut, Faisal mengatakan bahwa rencana yang diumumkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu itu merupakan “eskalasi berbahaya yang mengancam peluang untuk melanjutkan kembali proses perdamaian untuk mencapai keamanan dan stabilitas di kawasan, dan karena itu Saudi mengecam dan menolaknya. (alalam/an)

Turki Tolak Deklarasi Mesir untuk Perdamaian Libya, Mengapa?

Pemerintah Turki menolak gagasan pemerintah Mesir untuk penyelesaian krisis Libya.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Çavuşoglu menyatakan Ankara menolak “Deklarasi Kairo” untuk penyelesaian krisis Libya dengan alasan deklarasi itu lebih merupakan upaya Mesir menyelamatkan kubu Khalifa Haftar yang belakangan ini menderita banyak kerugian di medan perang.

Khalifa Haftar adalah pemimpin kubu Tentara Nasional Libya (LNA) yang didukung Mesir dan Uni Emirat Arab dalam perang saudara melawan pasukan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang didukung Turki.

“Upaya gencatan senjata yang diumumkan di Kairo sudah mati di masa pertumbuhan. Jika gencatan senjata ditandatangani, itu harus melalui platform yang menyatukan semua pihak, ” ujar Çavuşoglu kepada surat kabar Hurriyet, Rabu (10/6/2020).

“Kami tidak melihat seruan gencatan senjata untuk menyelamatkan Haftar itu murni, atau kami bisa mempercayainya,” lanjutnya.

Sementara itu, LNA dalam serangan balasan terhadap GNA di barat kota Sirte berhasil merebut kembali beberapa daerah yang sebelumnya direbut oleh GNA.

LNA yang juga didukung Rusia menyatakan pihaknya telah merebut kembali Lembah Jarif, desa Al-Qubayah, dan sejumlah titik di sekitar poros barat Sirte, meskipun menjadi sasaran serangan drone Angkatan Udara Turki.

Keberhasilan LNA itu banyak dikaitkan dengan sistem pertahanan udara mereka, yang berhasil merontokkan empat unit drone Turki di front Sirte.

Menggunakan sistem Pantsir buatan Rusia mereka, LNA dapat membatasi efektivitas drone Turki dan memaksa pasukan GNA bertempur di tempat terbuka. (amn)