Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 11 Juli 2019

hamas mahmoud al-zaharJakarta, ICMES: Tokoh Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas), Mahmoud al-Zahar, memuji Presiden Suriah Bashar al-Assad dan berharap adanya upaya pemulihan hubungan faksi militan Palestina ini dengan Damaskus.

Presiden Hassan Rouhani memperingatkan Inggris soal “konsekuensi” tindakannya menahan kapal tanker minyak Iran.

Kepala otoritas Terusan Suez, Mesir, Laksamana Madya Mohab Mamish, angkat bicara mengenai kabar penahanan salah satu kapal tanker minyak Iran yang berlayar menuju Suriah.

Wakil juru bicara militer Yaman yang bersekutu dengan gerakan Ansarullah, Brigjen Aziz Rashid, menyatakan siap “mengekspor senjata buatan Yaman” ke Arab Saudi setelah “persenjataan AS terbukti gagal mengatasi rudal-rudal Yaman.”

Berita selengkapnya:

Tokoh Hamas Memuji Presiden Suriah dan Berharap Normalisasi Hubungan Dengan Damaskus

Tokoh Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas), Mahmoud al-Zahar, memuji Presiden Suriah Bashar al-Assad dan berharap adanya upaya pemulihan hubungan faksi militan Palestina ini dengan Damaskus.

“Adalah bagian dari kemaslahatan kubu resistensi adanya hubungan baik dengan semua negara yang memusuhi Israel serta memiliki pendirian yang jelas dan tegas terhadap rezim pendudukan (Israel) semisal Suriah, Libanon, dan Iran,” ujar al-Zahar, seperti dilansir al-Nahda News dan dikutip Rai al-Youm, Rabu (10/7/2019).

Al-Zahar dalam wawancara dengan al-Nahda News menyebutkan bahwa Suriah “merasa terluka oleh apa yang terjadi pada hubungan” antara Damaskus dan Hamas.

“Sebelum krisis, Presiden Suriah Bashar al-Assad telah membukakan untuk kami kepada seluruh dunia. Kami dulu melakukan pergerakan di Suriah sebagaimana kami bergerak di Palestina. Tapi tiba-tiba hubungan ini runtuh akibat krisis Suriah. Saya kira, lebih baik tidak meninggalkannya, tidak masuk bersamanya, maupun anti terhadapnya pada jalur-jalur krisis,” lanjut al-Zahar yang juga mantan menteri luar negeri Palestina.

Menurut al-Zahar, hubungan semula Hamas dengan para pemimpin Suriah terepresentasi oleh Presiden al-Assad hingga mengalami kemajuan pesat. Dia mengaku berkunjung ke Suriah ketika menjabat sebagai menteri luar negeri Palestina pada tahun 2006.

“Saat itu saya mengambil keputusan-keputusan penting dari dalam kantor al-Assad, antara lain penerimaan Suriah atas para pengungsi Palestina yang terkatung-katung di perbatasan Yordania-Irak,” terangnya.

Salah satu pendiri Hamas ini menilai Presiden Suriah “tidak ragu dalam memenuhi permintaan (al-Zahar) dalam kapasitasnya sebagai menteri luar negeri.”

Dia yang juga anggota dewan kepemimpinan Hamas ini menambahkan bahwa Suriah membuka pintu bukan hanya bagi Hamas, melainkan juga kepada semua organisasi Palestina.

“Kita harus meneriakkan pernyataan yang benar dan jujur, walaupun pendirian ini tidak dihargai oleh banyak orang,” tuturnya.

Ketika krisis pemberontakan dan terorisme baru melanda Suriah, hubungan Hamas dengan Damaskus memburuk hingga terputus total. Para pemimpin Hamas pindah ke ibu kota negara-negara lain, terutama Doha, Qatar, setelah pemerintah Suriah menutup kantor-kantor Hamas di Damaskus menyusul tersadapnya data dan informasi dukungan Hamas kepada kelompok-kelompok pemberontak Suriah. Pemerintahan al-Assad menganggap Hamas menyokong terorisme di Suriah.

Sejak sekira satu bulan lalu desas-desus mengenai pemulihan hubungan Hamas dengan Damaskus menguat hingga kemudian ditepis oleh Damaskus manakala kantor kepresidenan Suriah merilis pernyataan al-Assad tentang Hamas, yang antara lain menyebutkan; “Pendirian Suriah dalam masalah ini bersifat mendasar, yang semula berasumsi bahwa Hamas adalah gerakan perlawanan anti Israel, tapi kemudian terungkap bahwa darah Ikwani (Ikhwanul Muslimin, red.) dominan pada gerakan ini ketika menyokong para teroris di Suriah dan berjalan di jalur yang justru dikehendaki oleh Israel.” (raialyoum)

Rouhani Ingatkan Inggris Resiko Penahanan Kapal Tanker Iran

Presiden Hassan Rouhani memperingatkan Inggris soal “konsekuensi” tindakannya menahan kapal tanker minyak Iran.

“Saya mengingatkan kepada Inggris; Anda adalah orang yang menginisiasi ketidakamanan, dan akan menyadari konsekuensinya di masa mendatang,” katanya saat rapat pemerintah di Teheran, Rabu (10/7/2019).

Rouhani menyebut tindakan itu “sangat kekanak-kanakan, keji, dan salah” serta “merugikan mereka (Inggris sendiri)”, dan mengimbau masyarakat internasional agar memastikan keamanan maritim.

Kapal supertanker minyak Grace 1 sejak pekan lalu ditahan oleh marinir Inggris dan agen-agen pelabuhan Gibraltar karena diduga mengangkut minyak menuju Suriah sehingga dianggap melanggar sanksi Uni Eropa terhadap Suriah.

Iran mengecam keras dan menyebut penahanan kapal itu sebagai “pembajakan laut”, dan memanggil duta besar Inggris pada tiga kesempatan untuk menyampaikan nota protesnya atas kasus ini.

Mengacu pada pernyataan berbagai akun resmi, termasuk milik Kementerian Luar Negeri Spanyol, yang mengungkap bahwa Inggris melakukan penyitaan atas perintah AS, Rouhani menambahkan bahwa tindakan pasukan Inggris itu dilakukan atas “atas nama orang lain.”

Presiden Iran juga mencatat bahwa Inggris mencegat dan menahan kapal itu di wilayah yang praktis telah diambil dari Spanyol sehingga orang-orang Spanyol sendiri juga menyesalkan tindakan itu. (presstv)

Mesir Bantah Kabar Penahanan Kapal Tanker Minyak Iran

Kepala otoritas Terusan Suez, Mesir, Laksamana Madya Mohab Mamish, angkat bicara mengenai kabar penahanan salah satu kapal tanker minyak Iran yang berlayar menuju Suriah.

Dalam siaran persnya yang dikutip oleh saluran TV Mesir Sada Elbalad, Rabu (10/9/2019), Mamish membantah kabar itu sembari menegaskan bahwa otoritas Terusan Suez konsisten kepada aturan kebebasan pelayaran internasional untuk terusan ini dan memperkenankan kapal-kapal melintasinya dengan aman, kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu.

“Saya tak dapat mencegah kapal melintas, bisnis minyak adalah bisnis yang sah, demikian pula perdagangan senjata,” ujarnya.

Mengenai kapan larangan melintas diberlakukan, dia menyebutkan dua keadaan; pertama, ada pemberitahuan dari PBB; kedua, jika kapal membawa muatan yang melanggar hukum.

Berdasar Konvensi Konstantinopel, otoritas Terusan Suez bersikap netral dan berkomitmen pada kebebasan pelayaran internasional di Terusan Suez kecuali untuk kapal yang dalam kondisi perang mengibarkan bendera negara yang berperang dengan Mesir.

Terusan Suez merupakan jalur tembusan terpenting yang menghubungkan tiga benua Afrika, Asia, dan Eropa satu sama lain, karena terusan ini menghubungkan Laut Merah dan Laut Tengah. Terusan ini antara lain dilintasi oleh kapal-kapal tanker besar terutama yang datang dari negara-negara kaya minyak yang ada di dekatnya menuju berbagai negara dunia. (raialyoum)

Ansarullah Yaman Tawarkan “Ekspor Senjata” ke Arab Saudi

Wakil juru bicara militer Yaman yang bersekutu dengan gerakan Ansarullah, Brigjen Aziz Rashid, menyatakan siap “mengekspor senjata buatan Yaman” ke Arab Saudi setelah “persenjataan AS terbukti gagal mengatasi rudal-rudal Yaman.”

“Kami mencegah Saudi menggunakan bandara-bandara Najran, Abha, Khamis Mushait, dan Jizan yang tersebar di wilayah geografis yang luasnya setara dengan beberapa kali wilayah geografis Yaman… Kami mengimbau perusahaan-perusahaan internasional dan Arab agar meninggalkan wilayah negara kerajaan (Saudi) ini, karena wilayah ini menjadi sasaran serangan,” ujar Rashid.

Dia menambahkan,“Harus memiliki senjata pencegah dalam menghadapi Saudi untuk menggempur berbagai kawasan strategis dan vital serta bandara-bandara militer. Kami memiliki akal dan kepintaran untuk membuat rudal.”

Menurutnya, Saudi kalah di bidang industri dengan Yaman, dan meskipun Saudi memiliki “imperium besar keuangan” tapi “AS memaksanya untuk tidak berindustri”.

Karena itu, Rashid mengatakan, “Kami siap menyuplai senjata ke Saudi. Senjata-senjata AS terbukti gagal di depan rudal-rudal Yaman, dan pada gilirannya Saudi harus mencari rudal-rudal seperti ini sebagai ganti sistem-sistem rudal AS. Karena itu, Saudi hendaknya menghentikan agresi untuk kemudian membeli senjata dari Yaman, yang bisa jadi berguna baginya dalam melawan agresi asing.”

Jenderal Rashid memastikan bahwa pasukan Yaman sudah mencapai tahap yang canggih dalam industri senjata strategis hingga dapat mengatasi sistem Patriot buatan AS. (raialyoum)