Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 11 Agustus 2022

Jakarta, ICMES. Anak di bawah umur menempati sepertiga jumlah orang Palestina yang gugur akibat serangan terbaru Rezim Zionis Israel di Jalur Gaza pada 6-8 Agustus lalu.

Presiden Iran Sayid Ebrahim memastikan negaranya akan meraih prestasi baru di bidang teknologi kedirgantaraan dalam waktu dekat.

Iran menepis tuduhan pemerintah AS bahwa ada orang Iran yang merencanakan pembunuhan tokoh ternama AS John Bolton yang pernah menjabat sebagai penasihat keamanan nasional di masa kepresiden Donald Trump.

Berita Selengkapnya:

Duka Gaza atas Gugurnya 16 Anak Palestina Akibat Serangan Terbaru Israel

Anak di bawah umur menempati sepertiga jumlah orang Palestina yang gugur akibat serangan terbaru Rezim Zionis Israel di Jalur Gaza pada 6-8 Agustus lalu.

Gelombang serangan Zionis selama tiga hari itu merenggut nyawa 47 orang Palestina, termasuk 16 anak kecil.

Dalam beberapa jam menjelang pengumuman gencatan senjata antara Israel dan kelompok Jihad Islam Palestina (PIJ) pada hari Ahad (7/8), setidaknya delapan anak Palestina gugur dalam dua serangan terpisah yang hanya berselang beberapa menit.

Tiga anak di antara mereka adalah kembar Dalia dan Mohammed (13 tahun) serta adik mereka Ahmed (9 tahun). Ketiganya gugur bersama ayah mereka, Yaser Nabahin, akibat serangan udara Israel terhadap rumah mereka di kamp pengungsi al-Bureij.

Lima lainnya, yang berusia mulai dari 4 hingga 17 tahun, sebagian besar berasal dari klan Najam. Mereka sempat berziarah ke makam kakek mereka di sebuah pemakaman di kamp Jabaliya, sebelum serangan drone Israel mengoyak tubuh mereka.

Ramadan Shaban, seorang saksi mata yang ada di pemakaman itu, mengatakan kepada Aljazeera bahwa hanya beberapa detik setelah mereka melintas di depannya, terdengar suara drone bersenjata menyerang mereka.

“Saya melihat ke atas dan menemukan anak-anak sudah mati,” kisahnya.

Ehab, salah satu ayah anak laki-laki dari klan Najam, mengatakan tidak ada keamanan untuk anak-anak kecil di Gaza.

“Pemakaman yang dihantam Israel ini seperti taman untuk anak-anak kami. Saya meminta masyarakat internasional menekan Israel agar berhenti membunuh anak-anak kami,” ratapnya.

Jumat lalu, Israel melancarkan serangan baru di Jalur Gaza, kawasan yang diblokade oleh Israel dan juga masih belum pulih dari perang Mei 2021 yang menewaskan lebih dari 260 warga Palestina dan menghancurkan ribuan rumah, bangunan, dan bisnis.

Kali ini, Israel mengaku melakukan serangan “preemptive” di Gaza setelah menangkap seorang anggota senior PIJ di wilayah pendudukan Tepi Barat.

PIJ tidak bereaksi terhadap penangkapan tersebut, tapi setelah sebuah rudal Israel membunuh salah satu komandan senior mereka Taysir al-Jabari pada hari Jumat, sayap bersenjata PIJ, Brigade Al-Quds, segera melepaskan roket ke arah Israel, dan kemudian terjadilah konfrontasi hebat selama tiga hari. (aljazeera)

Soal Pengorbitan Satelit Khayyam, Presiden Raisi: Iran akan Segera Capai Prestasi Baru

Presiden Iran Sayid Ebrahim memastikan negaranya akan meraih prestasi baru di bidang teknologi kedirgantaraan dalam waktu dekat.

Hal itu dia katakan sehari setelah roket Soyuz-2.1b milik Rusia meluncurkan satelit penginderaan jauh buatan dan milik Iran pada orbit berketinggian 500 kilometer dari permukaan Bumi.

Satelit yang diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome yang dioperasikan Rusia di negara Kazakhstan itu  dilaporkan akan mengirim gambar beresolusi tinggi empat kali sehari, dan digunakan untuk memantau perbatasan Iran, meningkatkan produktivitas pertanian, serta menunjang sektor-sektor sumber daya alam, lingkungan, pertambangan, dan manejemen bencana alam.

Presiden Iran mengatakan pemerintahnya bermaksud mempercepat kemajuan dalam teknologi kedirgantaraan di mana negara itu tertinggal di masa lalu, serta mengutamakan sektor-sektor lingkungan, eksplorasi mineral, manajemen bahaya alam, dan pemantauan perbatasan.

 “Di masa depan, kita akan menyaksikan pembukaan pencapaian baru di bidang ilmu kedirgantaraan yang akan memberikan layanan luar biasa bagi (bidang-bidang) lingkungan, eksplorasi mineral, manajemen bencana alam, dan pengendalian perbatasan,” ujarnya, Rabu (10/8).

Dia menyebut kesuksesan peluncuran satelit  Khayyam  sebagai prestasi para ilmuwan Iran dan kerjasama mereka dengan rekan-rekan dari Rusia.

Sebelumnya pada hari itu, kepala Badan Antariksa Iran (ISA), Hassan Salarieh, dalam konferensi pers, menawarkan rincian lebih lanjut tentang proses yang mengarah ke tahap pembuatan dan peluncuran satelit Khayyam.

Dia menjelaskan bahwa satelit itu diproduksi berdasarkan pesanan yang ditempatkan oleh Iran dengan perusahaan Rusia, dan bahwa satelit itu “mencapai tahap pembuatan berdasarkan parameter yang ditentukan oleh Iran dan juga di bawah pengawasan Republik Islam (sendiri).”

Menurutnya,  Khayyam merupakan satelit dengan akurasi pencitraan yang membuatnya mampu mengambil gambar dengan resolusi satu meter.

Dia juga menyebutkan bahwa Iran berniat melanjutkan kerjasama kedirgantaraan dengan Rusia, dan bahwa lebih banyak satelit akan diproduksi dengan akurasi pencitraan yang lebih tinggi di tahun-tahun mendatang demi memenuhi kebutuhan di kawasan. (presstv)

Dituduh AS Berniat Habisi John Bolton, Ini Tanggapan Iran

Iran menepis tuduhan pemerintah AS bahwa ada orang Iran yang merencanakan pembunuhan tokoh ternama AS John Bolton yang pernah menjabat sebagai penasihat keamanan nasional di masa kepresiden Donald Trump.

Departemen Kehakiman AS, Rabu (10/8), menuduh orang Iran bernama Shahram Poursafi mencoba mengatur pembunuhan Bolton sebagai pembalasan atas serangan udara AS pada Januari 2020 yang menewaskan jenderal legendaris Iran Qasem Soleimani.

“Pemutaran mitos ringkih dan tak berdasar ini menjadi kebiasaan yang berulang dalam sistem peradilan dan propaganda Amerika,” ujar Jubir Kemlu Iran Nasser Kan’ani pada Rabu malam.

Dia menambahkan, “Kali ini untuk membangun skenario, elemen-elemen yang bangkrut secara politik dan tidak berharga seperti Bolton digunakan untuk memajukan proses ini.”

Bolton adalah pendukung setia kelompok teroris anti-Iran, Organisasi Mujahidin Khalq (MKO), yang terkenal karena getol membuat skenario di Eropa dan AS untuk merongrong negara Iran.

Dalam skenario terbaru, Poursafi diperankan sebagai anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran yang berusaha menggerakkkan orang di Amerika Serikat pada Oktober 2021 dengan hadiah sebesar $300.000 untuk melaksanakan plot di Washington, D.C., atau Maryland.

“Melanjutkan tuduhan tak berujung mereka terhadap Republik Islam Iran dan kebijakan Iranofobia mereka yang gagal, otoritas peradilan AS, dalam putaran baru, telah mengajukan tuduhan tanpa memberikan bukti yang sah dan dokumentasi yang diperlukan,” tutur Kan’ani.

Dia menjelaskan, “Klaim tak berdasar semacam itu dibuat dengan motif dan tujuan politik, dan pada kenyataannya sama saja dengan melarikan diri ke depan, menciptakan tipu muslihat propaganda dan terutama melarikan diri dari tanggung jawab atas berbagai kejahatan teroris yang melibatkan pemerintah AS secara langsung, seperti aksi pengecut pembunuhan Jenderal Martir Soleimani, atau seperti kejahatan teroris yang dilakukan oleh rezim Zionis dan kelompok teroris seperti Daesh, mereka telah melakukannya dengan dukungan Amerika.”

Kan’ani lantas menegaskan, “Republik Islam Iran sangat memperingatkan terhadap tindakan apa pun terhadap warga negara Iran dengan dalih tuduhan konyol ini, dan menekankan bahwa ia berhak mengambil tindakan apa pun dalam kerangka hukum internasional untuk membela hak-hak pemerintah dan warga Republik Islam Iran.” (presstv)