Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 10 November 2022

Jakarta, ICMES. Menteri Intelijen Iran Ismail Khatib menyatakan kepada Arab Saudi bahwa tak ada jaminan Teheran akan berkelanjutan dalam “strategi kesabaran”.

Media Irak melaporkan bahwa Jibar Al-Mamouri, salah satu pemimpin komite koordinasi Syiah yang bernama Kerangka Koordinasi menyatakan bahwa truk tangki bahan bakar bantuan Iran untuk Lebanon mendapat serangan drone Israel di dekat pintu perbatasan Al-Qaim antara Irak dan Suriah.

Media Israel mengutip pernyataan Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz bahwa “Israel memiliki kemampuan untuk menyerang Iran, tapi para pemimpin negara ini harus terlebih dahulu mempelajari langkah ini dengan cermat.”

Menteri Pertahanan Saudi Pangeran Khalid bin Salman bin Abdulaziz menegaskan bahwa angkatan bersenjata negara-negara  Arab di kawasan Teluk Persia telah “meningkatkan levelnya agar menjadi benteng pencegah ancaman”.

Berita Selengkapnya:

Menteri Intelijen Iran Beri Peringatan Keras terhadap Arab Saudi

Teheran, LiputanIslam.com –   Menteri Intelijen Iran Ismail Khatib menyatakan kepada Arab Saudi bahwa tak ada jaminan Teheran akan berkelanjutan dalam “strategi kesabaran”.

“Iran selama ini menjalankan strategi kesabaran dengan logika yang solid, tapi di luar kemampuannya untuk menjamin strategi ini tak akan menipis jika aksi-aksi permusuhan berlanjutnya,” ujarnya, Rabu (9/11).

Dia menambahkan, “Jika Iran memutuskan untuk bereaksi dan menghukum maka istana-istana kaca akan berantakan, dan sejak itu negara-negara ini tak kan pernah stabil.”

Iran menuding negara-negara musuhnya berada di balik gelombang kerusuhan yang terjadi sejak kematian wanita muda Mahsa Amini pada September lalu.

Pada bulan lalu Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Mayjen Hossein Salami mendesak Saudi agar mengendalikan medianya yang kerap menebarkan laporan-lapiran  agitatif .

Salami menegaskan, “Waspadalah, wahai keluarga penguasa Al-Saud, waspadalah terhadap perilaku kalian, dan kendalikan media-media ini, karena jika tidak maka kalian akan membayar mahal. Ini adalah peringatan terakhir kami, karena kalian mencampur urusan negara kami melalui media kalian. Kami tegaskan kepada kalian, waspadalah.”

Jumat lalu kantor berita Fars milik Iran mengumumkan bahwa media kubu musuh negara republik Islam ini telah menyebarkan lebih dari 38,000 berita hoax anti-Iran dalam jangka waktu dari 14 September hingga 31 Oktober tahun ini.

Pekan lalu Iran membantah pihak sedang menggalang ancaman terhadap Saudi, menyusul laporan dari Wall Street Journal bahwa Riyadh telah berbagi informasi intelijen kepada AS yang berisi peringatan akan rencana serangan Iran dalam waktu dekat terhadap sasaran-sasaran di Saudi. (raialyoum)

Truk Tanki Minyak Iran di Perbatasan Irak-Suriah Diserang Drone Israel

Media Irak melaporkan bahwa Jibar Al-Mamouri, salah satu pemimpin komite koordinasi Syiah yang bernama Kerangka Koordinasi menyatakan bahwa truk tangki bahan bakar bantuan Iran untuk Lebanon mendapat serangan drone Israel di dekat pintu perbatasan Al-Qaim antara Irak dan Suriah pada dini hari Rabu (9/11).

Dikutip Baghdad Al-Youm, Mamouri mengatakan, “Tiga drone Israel menyerang muatan bahan bakar Iran untuk Lebanon di dekat pintu perbatasan Al-Qaim di barat Irak, dan menurut informasi yang masuk, ada kerugian materi dan jiwa.”

Dia menyebutkan bahwa serangan itu dilakukan dengan tujuan melaparkan berbagai bangsa sekitar dan memutus bantuan untuk mengakhiri krisis energi di Beirut dan berbagai kota lain di Lebanon.

Sumber-sumber resmi belum mengkonfirmasi ataupun membantah berita ini, namun pengiriman bahan bakar itu dilakukan secara resmi dan sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani Iran bersama Irak, Suriah dan Lebanon.

Media Irak menyebutkan bahwa pengiriman bahan bakar ini sedianya tiba di Lebanon sebagaimana pada musim dingin tahun lalu.  

Beberapa sumber media Irak menyatakan bahwa sebanyak  22 truk tangki bahan bakar seharusnya memasuki Suriah. Namun, ketika 8 tanker melintasi perbatasan Qaim dan memasuki Suriah, mereka diserang pada jarak 200 meter dari perbatasan dan di dalam wilayah Suriah, dan karena itu, truk-truk tangki lainnya masih berada di wilayah Irak.

Saluran Telegram Sabereen News melaporkan bahwa selang beberapa jam setelah serangan drone itu AS melakukan operasi pemantauan di Suriah timur.  

Disebutkan bahwa sebuah pesawat pengintai dan membidangi peperangan elektronik milik Angkatan Udara AS tipe Boeing RC-135W Rivet Joint yang diterbangkan dari Pangkalan Al-Udaid, Qatar, sedang melakukan operasi pengintaian di wilayah Suriah dan ke arah kawasan timur perbatasan Suriah-Irak.

Selain itu, menurut Sabereen News, pesawat militer AS tipe Bombardier E-11A juga diterbangkan di angkasa Al-Qaim. (fna)

Gantz: Rencana Serangan terhadap Iran Sudah Siap, Tapi Masih Perlu Dipelajari Secara Cermat

Media Israel mengutip pernyataan Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz bahwa “Israel memiliki kemampuan untuk menyerang Iran, tapi para pemimpin negara ini harus terlebih dahulu mempelajari langkah ini dengan cermat.”

Gantz menambahkan, “Israel memiliki kesiapan dan kemampuan, dan kami telah menyiapkan rencana yang diperlukan, tapi kami tetap diminta untuk mempersiapkan terlebih dahulu, setelah mempelajarinya dengan ekstra hati-hati.”

Dikutip surat kabar Israel Jerusalem Post , Tzachi Hanegbi, anggota Knesset dari Partai Likud, pekan lalu mengatakan, “Pemimpin partai ini, Benjamin Netanyahu, mungkin akan memerintahkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, jika kesepakatan nuklir tidak tercapai, setelah dia memerintah, sementara AS tak mungkin mengambil tindakan terhadap Teheran.”

Jerusalem Post juga mengutip pernyataan Gantz bahwa ketika dulu Netanyahu menjabat perdana mneteri, dia nyaris menjalankan skenario serangan terhadap Iran, tapi kemudian mengurungkannya.

Disebutkan bahwa pada kali terakhir, ketika tingkat kesiapan tentara Israel memuncak, dan Gantz saat itu menjadi Kepala Staf Umum, Netanyahu memutuskan untuk mengurungkan skenario itu sampai dia menjabat lagi sebagai perdana menteri.  

Para diplomat dari Iran, AS, dan lima negara lain (Cina, Rusia, Prancis, Inggris, dan Jerman) telah bernegosiasi selama berbulan-bulan di Wina untuk pemulihan perjanjian nuklir tahun 2015. (raialyoum)

Menhan Saudi: Level Angkatan Bersenjata Teluk Ditingkat untuk Cegah Ancaman

Menteri Pertahanan Saudi Pangeran Khalid bin Salman bin Abdulaziz menegaskan bahwa angkatan bersenjata negara-negara  Arab di kawasan Teluk Persia telah “meningkatkan levelnya agar menjadi benteng pencegah ancaman”.

Hal itu dia ungkapkan ketika memimpin pertemuan reguler para menteri pertahanan negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC) ke-19, Selasa (8/11).

Dikutip kantor berita Saudi, SPA, dalam pidato pada pertemuan itu, Pangeran Khalid bin Salman menekankan “penguatan berbagai aspek kerjasama antara negara GCC untuk; melestarikan simpanan kekayaan alam negara mereka serta pendapatan rakyat mereka;  meningkatkan capaian mereka; dan mewujudkan aspirasi dan keinginan para pemimpin mereka.”

Menteri Pertahanan Saudi juga menegaskan, “Dewan ini berusaha untuk meningkatkan level angkatan bersenjatanya menjadi bendungan yang tidak dapat ditembus dan perisai pelindung untuk menghadapi risiko dan ancaman, mencapai keamanan dan stabilitas kawasan, dan melindungi kepentingan nasional dan sumber daya ekonomi. .”

Di akhir pertemuan, Pangeran Khalid bin Salman berterima kasih kepada para menteri pertahanan GCC dan Sekretaris Jenderalnya atas upaya yang dilakukan untuk mengembangkan aksi bersama pertahanan Teluk.

SPA melaporkan bahwa pertemuan itu membahas banyak topik aksi militer bersama yang termuat dalam agenda, dan kemudian diambil keputusan dan rekomendasi yang relevan dengannya. (raialyoum)