Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 10 Desember 2020

mohsen fakhrizadeh 3Jakarta, ICMES. Iran menyatakan bahwa senjata yang digunakan untuk menghabisi ilmuwan nuklir negara ini, Mohsen Fakhrizadeh, adalah milik Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Surat kabar The Times menyebutkan bahwa telah tiba era baru di mana pembunuhan dengan menggunakan kecerdasan virtual berteknologi kendali jarak jauh.

Turki telah menunjuk duta besar barunya untuk Israel yang oleh beberapa sumber dinilai sejalan dengan upaya untuk menormalisasi hubungan dengan Zionis dan sebagai bingkisan untuk pemerintahan presiden terpilih Amerika Serikat Joe Biden.

Dinas rahasia Israel Mossad mendapat informasi mengenai kebersiapan Iran membalas pembunuhan Fakhrizadeh, dengan cara menyerang reaktor Demona di Israel.

Berita Selengkapnya:

Senjata Yang Digunakan dalam Pembunuhan Ilmuwan Nuklir Iran Dipastikan Milik NATO

Sekretaris Dewan Kemaslahatan Negara Iran Mohsen Rezaei menyatakan bahwa senjata yang digunakan untuk menghabisi ilmuwan nuklir negara ini, Mohsen Fakhrizadeh, adalah milik Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Rezaei menginformasikan temuan fakta tersebut berdasarkan laporan Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Mohammad Hossein Bagheri yang disampaikan kepada dewan tersebut pada hari Rabu (9/12/2020).

“Mayjen Bagheri hari ini menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, organisasi-organisasi teroris telah berulang kali mencoba membunuh Dr. Fakhrizadeh dan upaya mereka digagalkan, tapi kali ini dengan menggunakan teknologi canggih dan melalui laser dan senjata pintar yang dikendalikan oleh satelit, mereka berhasil melakukan operasi (pembunuhan) itu,” ujar Mohsen Rezaei.

Rezaei menyebutkan bahwa menurut laporan Bagheri, senjata itu dilengkapi peredam suara sehingga keluarga Fakhrizadeh tidak bisa mendengar suara tembakan.

“Mayjen Bagheri mengatakan bahwa senjata yang digunakan untuk membunuh Syahid Mohsen Fakhrizadeh adalah milik NATO,” lanjutnya.

Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Laksamana Ali Fadavi pada Ahad lalu mengatakan bahwa dalam peristiwa itu Fakhrizadeh  dikawal oleh 11 personil, dan sebuah mobil di tempat kejadian telah diledakkan dengan tujuan menghabisi para pengawal tersebut.

Dia menyebutkan bahwa musuh telah mengerahkan kecerdasan artifisial dan senapan mesin otomatis yang dikendalikan oleh satelit.

“Senapan mesin itu dilengkapi dengan kecerdasan artifisial untuk membidik Martir Fakhrizadeh,” ungkapnya.

Menurutnya, senapan otomatis itu memiliki kamera canggih dan menembak 13 kali, tanpa ada elemen teroris di tempat kejadian.

“Senapan itu difokuskan hanya pada Syahid Fakhrizadeh, sedangkan istrinya tidak ditembak, meski jaraknya hanya beberapa sentimeter. Ketua tim pengawal juga ditembak empat kali karena menghempaskan diri ke arah Shahid Fakhrizadeh, dan tidak ada musuh di lokasi untuk menembak para pengawal,”terangnya.

Dia juga mengatakan bahwa Fakhrizadeh ditembak beberapa kali hingga mengalami pendarahan akibat cedera tulang belakang dan akhirnya meninggal dunia di rumah sakit. (mehr)

The Times: Canggihnya Modus Pembunuhan Fakhrizadeh Pertanda Dunia Masuki Era Baru

Surat kabar The Times terbitan London, Inggris, Selasa 8 Desember 2020, memuat sebuah artikel karya Roger Boyes yang menyebutkan bahwa telah tiba era baru di mana pembunuhan dengan menggunakan kecerdasan virtual berteknologi kendali jarak jauh seperti yang telah menimpa ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh.

Sembari mengutip pepatah Arab bahwa jika Anda ingin membunuh ular maka Anda harus memenggal kepalanya, Roger menyatakan bahwa itulah yang terjadi dalam pembunuhan zaman sekarang, dan ini bahkan melampaui adegan film horor Hollywood.

Menurutnya, keadaan telah berubah berkat teknologi canggih dari kecerdasan artifisial ke perangkat pengawasan dan pelacakan korban, serta teknologi kendali jarak jauh untuk senjata presisi tinggi. Tugas menjadi mudah sekaligus menggoda.

Dalam artikel berjudul “Era Pembunuhan AI Telah tiba”, jurnalis Inggris itu menyarankan para petinggi militer, intelijen, dan politisi perlu mengadakan pertemuan dengan pengacara dan pakar etika untuk membahas batas-batas pembunuhan di era baru ini, karena sekarang tidak mengenal batasan.

Dia mencatat bahwa proses pembunuhan sedemikian teliti sehingga istri ilmuwan nuklir Iran yang bersamanya di dalam mobil tidak terluka, sehingga diyakini bahwa serangan itu menggunakan teknologi pemindai wajah.

Roger menambahkan bahwa kesalahan langsung ditujukan pada Israel, dan jika operasi itu memang dirancang oleh regu pembunuh Kidon milik dinas rahasia Israel, Mossad, maka ini akan dianggap sebagai kegagalan total dinas intelijen Iran.

Dia juga menyebutkan bahwa badan-badan Israel bekerjasama dengan CIA dalam operasi semacam itu, sementara Amerika Serikat (AS) melarang pembunuhan orang yang negaranya tidak sedang berperang dengan AS.

Roger menilai hal itu memberi peluang untuk memberikan bantuan dalam memantau target dan memberikan informasi tentang itu kepada otoritas Israel, seperti yang terjadi dalam pembunuhan petinggi Hizbullah Imad Mughniyeh, karena pemerintah AS di era George Bush menyetujui pemberian bantuan dengan syarat masalah itu tetap dirahasian, tidak ada orang lain yang terbunuh bersama target, dan AS tidak berpartisipasi dalam pembunuhan itu. (raialyoum)

Turki Tunjuk Duta Besar Barunya untuk Israel

Turki telah menunjuk duta besar barunya untuk Israel yang oleh beberapa sumber dinilai sejalan dengan upaya untuk menormalisasi hubungan dengan Zionis dan sebagai bingkisan untuk pemerintahan presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden.

Duta besar baru itu adalah Ufuk Ulutas, 40 tahun, ketua Pusat Penelitian Strategis di Kementerian Luar Negeri Turki dan seorang pejabat politik yang mempelajari politik Ibrani dan Timur Tengah di Universitas Ibrani di kota Quds (Yerusalem).

Dia juga bekerja sebagai direktur yayasan SETA yang mewadahi para pemikir pro-pemerintah Turki, dan menulis banyak makalah tentang kebijakan Timur Tengah dan sejarah Yahudi. Dia juga ahli tentang Iran.

Menurut Al-Monitor, sumber yang akrab dengan Ulutas mendeskripsikannya sebagai sesuatu yang aneh;  “sangat halus”, “sangat pintar” dan “sangat pro-Palestina.”

Turki dan Israel menarik pulang dubes masing-masing sejak Mei 2018, setelah Ankara meminta duta besar Israel “mengambil cuti”, untuk menandai protes Turki atas serangan Israel terhadap warga Palestina di Gaza serta keputusan pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk memindahkan Kedutaan Besar AS ke Quds.

Turki di era Presiden Recep Tayyip Erdogan terisolasi dan terjepit secara ekonomi. Tertekan oleh sanksi AS dan Uni Eropa (UE), Turki lantas berusaha memperbaiki hubungan dengan keduanya bahkan ketika Ankara masih terus menerapkan perilaku yang sama; menutup pintu kritik, bermesraan dengan Rusia, dan meregangkan ototnya di kawasan Mediterania timur sehingga mengundang kemarahan Barat.

Salah satu cara untuk sedikit banyak mendapat simpati Washington, lanjut Al-Monitor, adalah dianggap memiliki hubungan yang baik dengan Israel, dan dalam rangka ini, kepala intelijen Turki Hakan Fidan pada 30 November dilaporkan mengadakan pembicaraan rahasia untuk pertama kalinya dengan para pejabat Israel, dengan agenda pemulihan hubungan ke tingkat duta besar. (almonitor)

Svobodnaya Pressa: Iran Bersiap Membalas Pembunuhan Ilmuwan Nuklirnya

Media Rusia Svobodnaya Pressa (SP) memuat artikel yang menyebutkan bahwa dinas rahasia Israel Mossad mendapat informasi mengenai kebersiapan Iran membalas pembunuhan ilmuwan nuklirnya, Mohsen Fakhrizadeh, dengan cara menyerang reaktor Demona di Israel.

Menurut SP, militer Israel secara de facto sedang menjalani kondisi “perang besar” di mana sistem pertahanan udara David’s Sling dan Iron Dome, anti-rudal Arrow 2 dan Arrow 3, serta sistem pertahanan rudal Iron Beam, berada dalam siaga tinggi.

Israel sedang mencemaskan pembalasan Iran atas darah ilmuwan ternamanya yang diduga dibunuh oleh Mossad, dan Mossadpun belakangan ini mendapat informasi secara tidak langsung dari luar tentang kesiapan Iran untuk  melancarkan serangan rudal.

Breaking Defense menyebutkan, “Selama beberapa hari terakhir, para petinggi militer Israel telah mengadakan pembicaraan dengan Komando Pusat AS untuk meningkatkan kerjasama militer kedua negara terhadap kemungkinan pembalasan Iran.”

Dalam konteks ini, para ahli Israel menyebutkan bahwa Teheran, entah menginginkannya atau tidak, kali ini akan dipaksa untuk bereaksi keras terhadap Tel Aviv.

Uzi Rabi, pakar Iran terkemuka di Israel, dalam sebuah wawancara dengan Breaking Defense menilai Teheran tidak akan berani melancarkan serangan rudal, selagi Trump masih berkuasa.  Dan jika Iran melakukannya maka tidak akan ada lagi yang dapat mencegah Trump bangkit “menghukum orang-orang Persia”. Sebaliknya, dia akan dengan senang hati meninggalkan warisan yang mengerikan semisal perang berskala besar kepada Biden.

Hanya saja, menurut Rabi yang menjabat sebagai direktur Moshe Dayan Center for Middle Eastern Studies, balasan Iran itu kemungkinan besar akan datang dari arah Yaman dengan sasaran terutama Pusat Riset Nuklir yang terletak di dekat kota Dimona dan yang juga dikenal sebagai reaktor Dimona.

Rabi mengingatkan bahwa karena itulah gerakan Ansrullah (Houthi) di Yaman berulang kali mengancam akan menyerang Israel, dan bahwa meski jarak antara kedua negara sangat jauh, namun kelompok yang didukung Teheran itu mampu melancarkan serangan ke Israel seperti serangannya terhadap fasilitas minyak Aramco di Arab Saudi pada September lalu. (raialyoum)