Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 1 September 2022

Jakarta, ICMES. Israel kembali menyerang Suriah di mana kali ini menyasar bandara di kota Aleppo, Suriah, kata sumber militer yang dikutip kantor berita resmi Suriah, SANA.

Humas Angkatan Laut (AL) Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Rabu (31/8), mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan rincian insiden penyitaan pasukan elit Iran ini atas kapal nirawak AL AS  di Teluk Persia dan kemudian pembebasannya.

Aktivitas sehari-hari warga penduduk Baghdad berangsur pulih pada hari Rabu (31/8) usai  konfrontasi berdarah mereda di Zona Hijau Baghdad, meski belum ada tanda-tanda solusi untuk krisis politik yang telah berlangsung selama lebih dari setahun.

Berita Selengkapnya:

Israel Serang Bandara Aleppo “Menjelang Pendaratan Pesawat Iran”

Israel kembali menyerang Suriah di mana kali ini menyasar bandara di kota Aleppo, Suriah, kata sumber militer yang dikutip kantor berita resmi Suriah, SANA.

“Sekitar jam 20.00 (waktu setempat), musuh, Israel, membidik bandara internasional Aleppo dengan tembakan rudal, menyebabkan beberapa kerusakan material di jantung fasilitas itu,” lapor SANA, sembari menyebutkan tidak ada korban jatuh.

SANA menambahkan, “Pertahanan udara kami menghadapi rudal agresi dan menembak jatuh beberapa di antaranya, dan agresi menyebabkan beberapa kerugian materi.”

Sekira satu jam setelah serangan itu, SANA juga melaporkan, “Musuh, Israel, melakukan agresi udara dengan sejumlah rudal dari arah Danau Tiberias, utara Palestina pendudukan, menargetkan beberapa titik tenggara Damaskus.”

Televisi pemerintah mengatakan rudal itu milik Israel.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris mengkonfirmasi serangan di Aleppo, dengan mengabarkan bahwa empat rudal Israel telah menyerang landasan pacu dan depot di bandara yang diyakini berisi rudal yang dipasok Iran.

SOHR tidak melaporkan adanya korban meski serangan itu menimbulkan ledakan dan kebakaran.

Sementara itu, surat kabar Israel Haaretz mengklaim bahwa serangan Israel terhadap Bandara Internasional Aleppo dilancarkan menjelang  pendaratan pesawat Iran di bandara tersebut.

Kamis pekan lalu, SANA melaporkan dua warga sipil terluka dalam serangkaian serangan udara Israel di wilayah barat Hama dan Tartous.

Sejak tahun 2011 Israel telah melakukan ratusan serangan terhadap Suriah, namun jarang mengakui atau membahasnya. Kali inipun, menurut kantor berita AP, militer Israel juga menolak mengomentari serangan udara yang menyasar bandara Aleppo,.

Betapapun demikian, Israel mengakui pihaknya menyerang pangkalan-pangkalan kelompok pejuang sekutu Iran, seperti Hizbullah Lebanon, yang telah mengirim ribuan pejuang untuk mendukung pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Pada Ahad lalu Israel melancarkan serangan udara yang meyasar fasilitas militer di Suriah barat. Citra satelit menunjukkan kehancuran yang meluas di sebuah depot, yang menurut SOHR, menyimpan ratusan rudal jarak menengah untuk para pejuang yang didukung Iran.

Pada bulan Juni, serangan udara Israel untuk sementara membuat Bandara Internasional Damaskus tidak beroperasi.( raialyoum/sana).

Soal Penyitaan Kapal Nirawak AL AS, Ini Pernyataan AL IRGC

Humas Angkatan Laut (AL) Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Rabu (31/8), mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan rincian insiden penyitaan pasukan elit Iran ini atas kapal nirawak AL AS  di Teluk Persia dan kemudian pembebasannya.

Humas IRGC mengecam tindakan AS membangkitkan krisis dan ketidakamanan di Teluk Persia, dan menekankan bahwa Teheran tidak akan acuh terhadap segala tindakan yang menyebabkan masalah di kawasan ini.

“Kehadiran ilegal pasukan AS di Teluk Persia selalu menyebabkan ketidakamanan dan ketidakstabilan,” kata seorang pejabat militer Iran kepada Nour News, media yang dekat dengan Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran (SNSC).

“Praktek militer AS dalam mengarungi kapal militer tak berawak di Teluk Persia dan Laut Oman di bawah kedok penelitian membahayakan pelayaran di perairan itu,” tambahnya.

Dalam sebuah laporan pada Selasa malam, Nour News merilis rincian penyitaan dan kemudian pelepasan kapal permukaan nirawak (USV) milik militer AS oleh AL IRGC di perairan Teluk Persia.

Nour News menyebutkan bahwa AL IRGC telah bergerak dan bertindak tepat waktu untuk mengambil alih kapal, yang “komunikasi navigasinya telah terputus”, dan menariknya dengan menggunakan kapal pendukung untuk mencegah kecelakaan laut dan menjaga keamanan jalur pelayaran.

Kapal itu kemudian dibebaskan atas keputusan komandan kapal pendukung Iran ketika sebuah kapal patroli AS tiba di tempat kejadian dan diberi pengarahan tentang risiko keamanan.

Mengacu pada tindakan tepat waktu AL IRGC itu, Humas AL IRGC menyatakan bahwa belum lama ini “sejumlah besar kapal militer nirawak telah dikirim oleh Angkatan Laut AS ke Teluk Persia dan Laut Oman”, yang selain mengancam keamanan jalur pelayaran, juga telah menyebabkan beberapa kecelakaan laut.

“Seperti di masa lalu, kami tidak akan acuh terhadap tindakan yang menyebabkan ketidakamanan di kawasan, dan untuk mencegah segala bentuk instabilitas, kami akan melanjutkan kewajiban hukum kami dalam bentuk misi yang secara inheren melindungi dan mengamankan jalur pelayaran,” katanya.

AL IRGC dalam sebuah pernyataannya menjelaskan bahwa setelah kapal nirawak itu dibebaskan setelah IRGC melakukan penyelidikan dan mengkonfirmasi kesalahan dan kemudian mendapat jaminan dari pihak AL AS bahwa tidak ada ancaman bagi keamanan dan kepentingan nasional Iran.

Menurut AL IRGC, peringatan yang diperlukan telah dikirim ke AL AS untuk tidak mengulangi sikap dan perilaku ilegal ini.

Teheran menekankan bahwa kehadiran pasukan trans-regional telah menjadi penyebab ketegangan di kawasan, sehingga pasukan Iran memantau seluruh kawasan ini dengan cermat. (alalam/fna)

Aktivitas Penduduk Baghdad Berangsur Pulih Usai Bentrokan Berdarah, Tapi Krisis Masih Membayang

Aktivitas sehari-hari warga penduduk Baghdad berangsur pulih pada hari Rabu (31/8) usai  konfrontasi berdarah mereda di Zona Hijau Baghdad, meski belum ada tanda-tanda solusi untuk krisis politik yang telah berlangsung selama lebih dari setahun.

Dilaporkan bahwa dari pihak pendukung Blok Sadr pimpinan Sayid Muqtada  Sadr sebanyak 30 orang tewas dan sekitar 600 terluka dalam konfrontasi  bersenjata antara pendukung Sadr di satu pihak dan aparat keamanan pemerintah serta pasukan relawan Hasdh Al-Shaabi di pihak lain selama hampir 24 jam di Zona Hijau pada Senin lalu. 

Bentrokan itu terjadi setelah puluhan ribu massa pendukung Moqtada Sadr turun ke jalan untuk memperlihatkan kemarahan mereka setelah ulama berpengaruh itu mengumumkan “pensiun definitifnya” dari kehidupan politik.

Sejumlah besar massa menyerbu markas resmi di Baghdad dan daerah lain, terutama Istana Pemerintah di Zona Hijau, sehingga mereka berhadapan dengan pasukan keamanan yang berusaha menghalau mereka.

Kontak senjata mereda dan massa pun bubar meninggalkan Zona Hujau beberapa menit setelah Moqtada Sadr memerintahkan demikian dalam konferensi pers di Najaf pada hari Selasa.

Pada hari Rabu, kehidupan kembali berjalan normal di Baghdad, setelah pencabutan jam malam yang diumumkan oleh tentara akibat pecahnya konfrontasi. Kemacetan lalu lintas harian kembali terlihat di jalan-jalan utama Baghdad. Pasar dan toko kembali beraktivitas, dan ujian sekolah telah “dimulai kembali”, menurut Kementerian Pendidikan.

Konfrontasi tersebut merupakan puncak dari perselisihan dan krisis politik yang telah dialami Irak sejak pemilihan legislatif pada Oktober 2021. Akibat perpecahan yang tajam antara partai-partai politik, perdana menteri baru tidak diangkat dan pemerintahan tidak dibentuk setelah pemilu. Parlemen juga gagal memilih presiden baru.

Muqtada al-Sadr dan lawan-lawannya yang paling menonjol dalam Kerangka Koordinasi, termasuk mantan Perdana Menteri Nouri al-Maliki, menyepakati satu hal untuk menyelesaikan krisis, yaitu keharusan penyelenggaraan pemilu lagi.  Namun, Muqtada al-Sadr bersikeras menuntut pembubaran parlemen terlebih dahulu, sedangkan lawan-lawannya ingin pemerintah dibentuk di depan parlemen.

Untuk menyelenggarakan pemilihan umum dini, parlemen harus dibubarkan, dan ini hanya dapat dilakukan dengan suara mayoritas mutlak dari anggotanya, sesuai dengan konstitusi.  Hal ini dapat dilakukan atas permintaan sepertiga anggotanya, atau atas permintaan Perdana Menteri dengan persetujuan Presiden, sementara tak ada kekuatan mayoritas yang jelas di parlemen.

Setelah insiden kontak senjata tersebut, Perdana Menteri Mustafa Al-Kazemi mengancam akan mengundurkan diri jika kelumpuhan politik yang melanda negara itu terus berlanjut.  (mm/raialyoum)