Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 9 April  2021

Iran Brigjen Abolfazl ShekarchiJakarta, ICMES.  Jubir Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Abolfazl Shekarchi menyatakan negaranya akan membalas serangan terhadap kapal Iran di Laut Merah.

Kementerian Luar Negeri Turki memanggil duta besar Italia di Ankara, Massimo Gaiani , segera setelah Perdana Menteri Italia Mario Draghi menyebut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai diktator.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Irak mengatakan bahwa pasukan asing akan meninggalkan negara ini sesuai dengan jadwal tertentu.

Berita Selengkapnya:

Tuding Israel, Jenderal Iran Pastikan akan Balas Serangan terhadap Kapal Iran

Jubir Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Abolfazl Shekarchi menyatakan negaranya akan membalas serangan terhadap kapal Iran di Laut Merah.

“Tak ada keraguan sama sekali bahwa kami akan membalas serangan terhadap kapal kami, Saviz, di Laut Merah setelah pihak yang terlibat diketahui. Kami tak akan diam. Namun kami tak dapat bereaksi apapun sebelum penyelidikan selesai dan diketahui seluk beluk peristiwanya,” ujar Shekarchi, Kamis (8/4).

Dia menambahkan, “Kami tak menuduh satupun negara Teluk Persia terlibat dalam peristiwa serangan terhadap kapal kami di Laut Merah. Tuduhan mengarah kepada musuh-musuh langsung kami, Rezim Zionis dan AS.”

Dia juga mengatakan, “Washington, tak syak lagi, terlibat dalam semua upaya yang bertujuan mengusik dan merugikan Iran.”

Seperti pernah diberitakan, kapal Saviz berbendera Iran di Laut Merah Selasa lalu diterjang ledakan yang diduga terjadi akibat serangan. Kejadian ini menyebabkan kerusakan pada kapal namun tak ada laporan mengenai korban jiwa ataupun luka.

Media Iran, Kamis, melaporkan rincian baru mengenai insiden tersebut dengan mengutip keterangan seorang anggota awak kapal.

“Sehari sebelum kejadian, sebuah helikopter tak dikenal di atas mengintai Saviz selama 5 hingga 10 menit,” ungkap sumber itu.

Sumber itu menambahkan, “Pada hari kejadian, lebih dari empat jam setelah penyerangan pada kapal, dari pukul 10.00 hingga 11.00 waktu setempat, dua kapal cepat tak dikenal mengintai di dekat kapal.”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatizadeh mengatakan kepada wartawan bahwa kapal logistik Saviz mengalami kerusakan ringan akibat ledakan yang terjadi sekitar pukul 6 pagi waktu setempat (0300 GMT) pada hari Selasa, 5 April, di lepas pantai Djibouti.

Sesuai dengan pengumuman resmi sebelumnya dan berkoordinasi dengan Organisasi Maritim Internasional (IMO), kapal non-militer Saviz ditempatkan di Laut Merah dan Teluk Aden untuk keamanan maritim dan melindungi kapal dagang Iran dari aksi perompakan.

Kapal tersebut telah bertindak sebagai stasiun logistik Iran di Laut Merah dan Teluk Aden, dan misinya telah diumumkan ke IMO.

Press TV milik Iran mengutip laporan  New York Times Rabu lalu bahwa seorang pejabat anonim AS mengatakan bahwa Israel telah memberi tahu AS bahwa pasukan Israel telah menyerang sebuah kapal Iran di Laut Merah sebagai pembalasan, dan bahwa kapal itu telah diserang di bawah garis air.

Insiden serupa juga terjadi pada bulan lalu  di mana sebuah kapal kargo Iran rusak terkena serangan teroris dalam perjalanan di Laut Mediterania menuju Eropa.

Sebelum itu, pada 25 Maret Israel mengaku bahwa  kapal kontainer Lori miliknya terkena serangan rudal Iran di Laut Arab,  namun tidak ada korban atau kerusakan signifikan yang dilaporkan. (alalam/mna)

Hubungan Turki dengan Italia Memburuk Akibat Kejadian Tak Nyaman ini

Hubungan antara Turki dan Italia terusik akibat insiden protokoler di Turki yang mengganggu pihak Eropa. Kementerian Luar Negeri Turki memanggil duta besar Italia di Ankara, Massimo Gaiani , segera setelah Perdana Menteri Italia Mario Draghi menyebut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai diktator.

Draghi menyebut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan masuk dalam kategori “diktator” ketika dia mengkritik Erdogan atas atas perlakuan protokoler Turki terhadap Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dalam pertemuan dengan Erdogan di Ankara.

“Saya pikir itu adalah perilaku yang tidak pantas dan saya sangat menyayangkan penghinaan yang dialami oleh presiden komisi ini, mari kita sebut apa adanya, diktator, dengan siapa kita perlu bekerja sama,” kata Draghi kepada wartawan di Roma, Kamis (8/4).

Bersama kepala Dewan Eropa Charles Michel, Von der Leyen bertemu dengan Erdogan dalam kunjungan ke Ankara Selasa lalu untuk membahas hubungan antara Turki dan Uni Eropa (UE).

Tayangan resmi memperlihatkan bahwa setelah mereka memasuki ruangan untuk berdiskusi ternyata hanya dua kursi yang sudah disiapkan, padahal peserta utamanya tiga orang.

Saat Erdogan dan Michel menempati dua kursi di lantai tengah, Von der Leyen terbiarkan duduk di sofa yang berseberangan dengan sofa yang ditempati oleh Menlu Turki Mevlut Cavusoglu. Kejadian ini menimbulkan kehebohan diplomatik dan media.

Beberapa kelompok Parlemen Eropa menuntut pengusutuan bagaimana von der Leyen sempat dibiarkan berdiri ketika Michel sudah duduk.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan bahwa pengaturan tempat duduk itu justru sesuai dengan permintaan UE.

Cavusoglu di Twitter pada Kamis malam juga mengecam komentar Draghi tentang Erdogan.

“Kami sangat mengutuk pernyataan populis yang tidak dapat diterima oleh Perdana Menteri Italia Draghi yang ditunjuk, dan pernyataannya yang jelek dan tidak pada tempatnya tentang presiden terpilih kami,” katanya.

Turki adalah calon anggota UE, tetapi negosiasinya dengan organisasi ini tentang keanggotaan itu  terhenti sejak 2016. (raialyoum/theguardian)

Kemlu Irak: Pasukan Asing akan Keluar Sesuai Jadwal

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Irak mengatakan bahwa pasukan asing akan meninggalkan negara ini sesuai dengan jadwal tertentu.

Dikutip kantor berita Irak, INA, setelah perundingan strategis putaran ketiga antara Baghdad dan Washington berakhir, juru bicara Kementerian Luar Negeri Irak, Ahmed al-Sahaf, Rabu malam (7/4), menjelaskan ihwal penarikan pasukan asing dari negaranya.

“Kehadiran tentara AS setelah pembicaraan ini akan dibatasi pada misi penasehat dan pelatihan, dan pasukan asing akan ditempatkan di luar Irak sesuai dengan jadwal tertentu,” ungkap al-Sahaf.

Putaran ketiga pembicaraan strategis antara Washington dan Baghdad dimulai pada Rabu malam, dengan berfokus pada masalah keamanan, ekonomi, energi, politik, kontra-terorisme, dan kerjasama pendidikan dan budaya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Irak mengatakan, “Pembicaraan strategis itu berkenaan dengan tantangan keamanan, kesehatan dan ekonomi. Baghdad dan Washington menekankan perlunya mematuhi perjanjian kerangka kerja strategis.”

Al-Sahaf menambahkan, “Pasukan asing yang tersisa hanya akan hadir di pangkalan Irak. Baghdad dan Washington telah menyetujui tidak adanya pasukan tempur (asing) di Irak.”

Putaran baru pembicaraan strategis antara Baghdad dan Washington diadakan pada 11 Juni 2020 pada masa pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump melalui konferensi video. Kedua belah pihak membahas berbagai masalah, terutama penarikan pasukan AS dari Irak.

Berbagai pihak di Irak mendesak pemerintah Irak agar mengeluarkan pasukan asing dari Irak menyusul insiden serangan militer AS yang menggugurkan jenderal legendaris Iran Qassem Soleimani dan rekan seperjuangannya, Abu Mahdis al-Muhandis, wakil ketua pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi pada 3 Januari 2020.

Pada 23 Januari terjadi unjuk rasa jutaan rakyat Irak di Baghdad untuk menegaskan tuntutan mereka agar tentara AS angkat kaki dari Irak.

Desakan itu lantas berbuah undang-undang yang disahkan parlemen Irak dan menugaskan kepada pemerintah Baghdad agar mengeluarkan pasukan asing.

Selasa lalu Wakil komandan Pasukan Quds IRGC Brigjen Mohammad Hejazi menyatakan bahwa pasukan AS mau tidak mau akan segera ditarik dari Irak setelah gagal menjalankan misinya. (mna)