Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 1 November 2019

ranjau isis buatan ASJakarta, ICMES. Kelompok teroris ISIS mengkonfirmasi kematian pemimpinnya, Abu Bakar al-Baghdadi, sembari menyebutkan penggantinya, Abu Ibrahim al-Hashemi al-Qurashi.

Presiden Suriah Bashar Assad mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya kepala semua klaim AS, termasuk mengenai keterbunuhan pemimpin kelompok teroris ISIS, kecuali jika menyodorkan bukti.

Tentara Suriah menemukan ranjau buatan AS dan Israel dalam jumlah besar yang ditinggalkan ISIS di provinsi Quneitra.

Kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Libanon menyatakan pihaknya telah mencegat pesawat nirawak (drone) Rezim Zionis Israel di angkasa Libanon selatan.

Berita selengkapnya:

ISIS Umumkan Abu Ibrahim al-Hashemi al-Qurashi Sebagai Pemimpin Barunya

Kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (IS/ISIS/ISIL/DAESH) untuk pertama kalinya mengkonfirmasi kematian pemimpinnya, Abu Bakar al-Baghdadi, yang sebelumnya telah diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump telah tewas diterjang operasi militer AS di bagian barat laut Suriah.

Konfirmasi itu diumumkan ISIS melalui layanan pesan Telegram sembari menyebutkan pengganti al-Baghdadi, yaitu  Abu Ibrahim al-Hashemi al-Qurashi.

Juru bicara baru ISIS, Abu Hamzah al-Qurashi, dalam rekaman suara yang dipublikasi melalui akun-akun jihadis di Telegram menyatakan, “Kami berbela sungkawa kepada kalian atas (kematian) amirul mukminin dan khalifah kaum Muslimin Syeikh Mujahid Abu Bakar al-Baghdadi, dan kami berbela sungkawa kepada kalian atas (kematian) juru bicara resmi Negara Islam (IS) Syeikh Mujahid Abul Hasan al-Mujahid. Keduanya telah terbunuh pada beberapa hari lalu.”

Abu Hamzah al-Qurashi menambahkan bahwa Majelis Syura ISIS telah berbaiat atau bersumpah setia kepada Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi sebagai “amirul mukminin dan khalifah bagi Muslimin”.

Sebelumnya dilaporkan bahwa pasukan khusus AS telah mendeteksi keberadaan al-Baghdadi di wilayah barat laut Suriah dan kemudian menggempur lokasi persembunyiannya.

Disebutkan pula bahwa al-Baghdadi sempat berusaha kabur ke dalam terowongan dan melakukan bunuh diri dengan meledakkan rompi berisi bom.

Juru bicara baru ISIS, Abu Hamza al-Qurashi, mengajak umat Islam untuk berbaiat kepada Abu Ibrahim al-Hashimi.

Nama Hashemi tidak diketahui oleh pasukan keamanan, dan diyakini sebagai nama samaran selama peperangan.

ISIS menggambarkan pemimpin barunya sebagai “figur terkemuka dalam berjihad”, tanpa memberikan keterangan rinci mengenai al-Qurashi, dan tidak pula merilis fotonya.

Statemen ISIS juga mengklaim bahwa Hashemi adalah veteran dalam berbagai medan “jihad”.

Dengan menyebutkan kata “al-Qurashi”, ISIS mengklaim pemimpin barunya berasal dari suku yang sama dengan Nabi Muhammad saw, yaitu suku Quraish yang dianggap sebagai kualifikasi utama untuk menjadi seorang khalifah. (raialyoum/bbc)

Bashar Assad: ISIS akan Diproduksi lagi oleh AS Sesuai Kebutuhan

Presiden Suriah Bashar Assad mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya kepala semua klaim AS, termasuk mengenai keterbunuhan pemimpin kelompok teroris ISIS, kecuali jika menyodorkan bukti.

“(Presiden AS Donald) Trump berterus terang ‘kami menginginkan minyak’, inilah hakikat politik AS. Kita jangan mengandalkan siapapun presiden AS. Apa yang dia katakan tidaklah faktual… AS adalah pihak yang menduduki, kita tidak menggubris pernyataan-pernyataannya,” tutur Assad dalam wawancara dengan saluran TV al-Suriah dan al-Ikhbariya al-Suriah, Kamis (31//10/2019).

Mengenai kabar kematian al-Baghdadi di tangan pasukan AS dia mengatakan, “Skenario yang disebar AS untuk operasi pembunuhan Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin DAESH (ISIS), merupakan bagian dari tipudaya AS, kita tidak boleh percaya kepada segala yang dikatakan AS kecuali jika membawa bukti.”

Dia menjelaskan bahwa al-Baghdadi semula ada di dalam penjara AS di Irak tapi kemudian dibebaskan agar memainkan suatu peran di mana dia hanyalah sosok yang memang sewaktu-waktu dapat diganti dengan orang lain.

“Saya kira, hasilnya akan kembali muncul sosok lain, dan bisa jadi ISIS akan kembali diproduksi dengan nama lain sesuai kebutuhan, tapi dengan faham yang sama, rekrutmen yang sama, dan pengelolanyapun adalah AS,” ujar Assad.

Mengenai situasi di Suriah utara, Assad mengatakan bahwa perjanjian Rusia dengan Turki hanyalah bersifat sementara dan bertujuan mengendalikan iktikad buruk Turki terhadap Suriah serta menghadang jalan AS.

Menurutnya, perjanjian itu positif namun tidak berarti mewujudkan segala sesuatu, melainkan sekedar mengurangi bahaya serta untuk menyiapkan jalan bagi pembebasan kawasan Suriah utara dalam waktu dekat.

“Tentara Turki justru merupakan wakil AS dalam perang ini, kita tidak boleh mengabaikan kesempatan untuk proses politik, dan jika tidak membuahkan hasil maka kita harus bergerak menuju perang,” tegasnya.

Dia melanjutkan, “Tentara Turki semula berada dalam perjanjian dengan tentara Suriah hingga kemudian (Presiden Turki Recep Tayyip) Erdogan berbalik, dan kitapun tidak ingin mengubah (bangsa) Turki menjadi musuh, melalui koordinasi dengan Rusia dan Iran.”

Assad menilai Erdogan berusaha mengesankan dirinya sebagai “pengambil keputusan”, padahal dia justru “representasi AS dalam perang ini”.

Dia memastikan bahwa pemerintah Suriah akan membebaskan Idlib dan Suriah utara dari pendudukan kawanan bersenjata setelah semua proses politik ditempuh. (raialyoum)

Tentara Suriah Temukan Sejumlah Besar Ranjau Buatan AS dan Israel Peninggalan ISIS

Tentara Suriah menemukan ranjau buatan AS dan Israel dalam jumlah besar yang ditinggalkan oleh kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (IS/ISIS/ISIL/DAESH) di provinsi Quneitra.

Sumber keamanan Suriah kepada SANA, Kamis (31/10/2019), mengatakan, “Pihak-pihak keamanan yang bekerjasama dengan satuan-satuan tentara telah menemukan tempat penyembunyian bawah tanah berisi sejumlah besar ranjau anti-tank buatan Israel dan AS yang ditinggalkan oleh kelompok teroris DAESH di dekat jalur al-Shaik yang berhadapan dengan wilayah pendudukan Tal al-Saqiah dan selatan desa Saida al-Hanut, di utara provinsi Quneitra.”

Sumber itu menambahkan, “Ranjau-ranjau ini serta banyak senjata dan peralatan lainnya yang ditinggalkan ISIS dan telah ditemukan sebelumnya melalui penyisiran kawasan-kawasan yang telah dibebaskan menunjukkan adanya ikatan erat antara kelompok-kelompok teroris dengan entitas musuh, Zionis, yang telah gagal melanjutkan perlindungan dan dukungannya kepada mereka berkat operasi militer dan kemajuan tentara Suriah di kawasan itu, yang telah menyebabkan kekalahan kawanan teroris dan pembersihan kawasan selatan dari noda mereka.”

Tentara Suriah berhasil merebut kembali Quneitra pada tahun 2018 setelah provinsi di bagian selatan Suriah ini diduduki oleh kelompok-kelompok teroris, termasuk ISIS dan Jabhat al-Nusra, sejak Suriah dilanda perang pada tahun 2011. (alalam)

Hizbullah Cegat Drone Israel di Angkasa Libanon

Kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Libanon menyatakan pihaknya telah mencegat pesawat nirawak (drone) Rezim Zionis Israel di angkasa Libanon selatan.

Dalam statemennya yang disiarkan saluran TV al-Manar milik Hizbullah, Kamis (31/10/2019), Hizbullah menjelaskan bahwa pencegatan itu dilakukan dengan menggunakan “senjata yang sesuai” dan membuatnya terpaksa meninggalkan angkasa Libanon.

Di pihak lain, Rezim Zionis tanpa memberikan keterangan lebih jauh mengumumkan bahwa “sebuah rudal” telah ditembakkan ke arah drone miliknya yang sedang terbang di zona udara Libanon, namun tidak mengena drone itu.

Sebelumnya, tentara Libanon menyatakan Israel pada 13 Oktober lalu telah menerbangkan drone-nya di angkasa wilayah selatan Beirut yang menjadi pangkalan Hizbullah, dan menerbangkan pula dua unit drone pembawa bahan peledak di Libanon pada Agustus lalu.

Hizbullah sendiri bersumpah akan berusaha menembak jatuh setiap drone Israel yang melanggar zona udara Libanon.

Hizbullah dan Israel pernah terlibat perang hebat pada tahun 2006, yang menyebabkan tewasnya lebih dari 1200 orang di Libanon yang sebagian adalah warga sipil, dan 160 orang lainnya tewas di Israel, yang sebagian besarnya adalah militer.

AS dan Israel menyebut Hizbullah yang juga terlibat dalam perang di Suriah untuk membela Presiden Suriah Bashar Assad sebagai organisasi teroris. (raialyoum)