Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 4 November 2019

khameneiJakarta, ICMES. Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayid Ali Khamenei kembali menegaskan penolakan keras negaranya terhadap perundingan dengan Amerika Serikat (AS).

Militer Iran menilai serangan yang menerjang fasilitas minyak Aramco milik Arab Saudi sebagai bukti bahwa dana yang dihamburkan Arab Saudi untuk belanja senjata dari AS, Inggris, Prancis, dan Israel gagal menahan serangan terhadap fasilitas tersebut.

Di tengah maraknya gelombang unjuk rasa di berbagai kota dan daerah Irak dilaporkan bahwa konsulat jenderal Iran di Karbala dikepung dan dilempari batu oleh sekelompok massa tak dikenal.

Arab Saudi dalam dua hari terakhir mengumumkan kematian lima tentaranya lima tentaranya dalam kontak senjata dengan para pejuang Ansarullah (Houthi) di wilayah perbatasan Saudi-Yaman.

Berita selengkapnya:

Pemimpin Besar Iran Tegaskan Lagi Penolakan terhadap Perundingan dengan AS

Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayid Ali Khamenei kembali menegaskan penolakan keras negaranya terhadap perundingan dengan Amerika Serikat (AS).

“Sebagian orang mengira bahwa perundingan ini akan dapat mengatasi problematika negara. Padahal pikiran demikian salah besar, sebab pihak lawan akan menganggap Iran menyerah ketika bersedia berunding. Mereka ingin menetapkan bahwa tekanan maksimal (terhadap Iran) merupakan kebijakan yang benar, dan karena itu mereka tidak akan bersedia memberikan konsesi apapun,” ungkap Ayatullah Khamenei.

Dia menyebut penolakan terhadap perundingan itu sebagai “salah satu cara menutup jalan bagi pengaruh AS”.

“Bagi negara arogan AS yang menerapkan persyaratan untuk kesediaannya duduk berunding dengan para pemimpin negara lain tentu saja sulit bersikeras untuk berunding dengan para pemimpin Republik Islam Iran sejak beberapa tahun lalu, sementara Republik Islam Iran enggan terhadapnya. Ini menunjukkan bahwa di dunia ini ada suatu bangsa yang pantang tunduk terhadap kekuatan thaghut AS,” tegasnya.

Ayatullah Khamenei memastikan sia-sia AS berusaha meniadakan ataupun membatasi kekuatan rudal Iran.

“Berkat anugerag Allah swt dan kepedulian para pemuda negeri ini, Iran memiliki ruda-rudal berjarak jelajah 2000 kilometer dengan presisi yang memungkinkannya membidik target apapun dengan selisih hanya satu meter saja,” tuturnya.

Dia menambahkan, “Seandainya dulu kita pergi berunding niscaya AS sudah mengangkat isu rudal dengan mengatakan bahwa rudal Iran tidak boleh memiliki jarak tempuh lebih dari 150 kilometer.”

AS pada tahun lalu keluar secara sepihak dari perjanjian nuklir Iran dengan enam negara besar dunia, yaitu AS, Inggris, Prancis, Rusia, Cina, dan Jerman. Perjanjian ini sedianya ditujukan untuk mencegah Iran memiliki arsenal nuklir, dan negara inipun diberi imbalan berupa keuntungan-keuntungan ekonomi.

Selanjutnya, AS melancarkan tekanan maksimal terhadap Iran untuk memaksa negeri mullah ini berunding lagi dengan AS demi mencapai kesepakatan yang melampaui isu nuklir Iran.

Namun, alih-alih menyerah kepada tekanan itu, Iran justru melakukan pembekuan terhadap banyak komitmennya kepada perjanjian nuklir yang dinamai Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA tersebut.

Pembekuan ini dilakukan Iran demi menekan negara-negara lain yang terlibat dalam JCPOA agar melakukan tindakan kongkret untuk menjamin keuntungan ekonomi Iran yang telah dicanangkan dalam JCPOA di depan tekanan dan embargo AS. (alalam/raialyoum)

Militer Iran Sebut AS Tak akan Berani Menyerang ketika Tak Bisa Lindungi Aramco

Militer Iran menilai serangan yang menerjang fasilitas minyak Aramco milik Arab Saudi sebagai bukti bahwa dana yang dihamburkan Arab Saudi untuk belanja senjata dari AS, Inggris, Prancis, dan Israel gagal menahan serangan terhadap fasilitas tersebut.

“Serangan Yaman terhadap Aramco merupakan skandal bagi sistem pertahanan, radar, dan persenjataan AS yang demi semua ini kekayaan negara-negara regional terjarah,” ungkap juru bicara Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran Abulfazl Shekarchi kepada kantor berita Fars, seperti dikutip Rai al-Youm, Ahad (3/11/2019).

Dia lantas menilai negara musuhnya, Amerika Serikat (AS), tidak memiliki nyali untuk menyerang Iran, terutama ketika peralatan dan persenjataannya tak sanggup melindungi fasilitas minyak Aramco.

“Musuh tidak akan berani menyerang Iran setelah menyadari betapa dana sebesar ratusan miliar dolar yang dibelanjakan (Saudi) untuk (mendapatkan) senjata AS, Inggris, Prancis, dan Israel gagal melindungi fasilitas Aramco Saudi,” sumbarnya.

Shekarchi memastikan bahwa bangsa Yaman sanggup melancarkan serangan serta membuat pesawat nirawak dan rudal berpresisi tinggi.

“Semakin besar tekanan agresor terhadap orang-orang Yaman semakin berlipat ganda kekuatan orang-orang ini,” tuturnya.

Dia melanjutkan, “Tuduhan bahwa Teheranlah yang melancarkan serangan ke Aramco muncul akibat frustasi dan kekalahan musuh di Yaman. Ansarullah (Houthi) sanggup membuat nirawak berjarak jelajah 1200 kilometer.” (raialyoum)

Massa Tak Dikenal Serang Konsulat Jenderal Iran di Karbala

Di tengah maraknya gelombang unjuk rasa di berbagai kota dan daerah Irak dilaporkan bahwa konsulat jenderal Iran di Karbala dikepung dan dilempari batu oleh sekelompok massa tak dikenal.

Reporter al-Alam melaporkan bahwa pada Ahad malam waktu setempat (3/11/2019) sekira 1000 massa telah mengepung gedung konsulat Iran di kota yang disucikan oleh umat Islam bermazhab Syiah tersebut hingga tak lama kemudian pasukan keamanan datang ke lokasi, mengendalikan keamanan, dan memulihkan situasi.

Kepolisian Karbala memastikan pihaknya telah mengendalikan dan memulihkan keamanan terkait dengan aksi massa tersebut.

Al-Alam menyebutkan bahwa pasukan keamanan Irak telah menggagalkan upaya sejumlah orang dikenal mendekati gerbang konsulat Iran tersebut.

Sementara itu, sekjen kelompok relawan Irak Asaib Ahl al-Haq, Syeikh Qais al-Haz Ali, menuding pimpinan satu di antara tiga lembaga tinggi negara Irak berada di balik kerusuhan yang melanda Irak.

Al-Haz Ali juga memastikan bahwa dinas rahasia Israel, Mossad, memiliki markas di provinsi Sulaimaniyah di Irak utara.

Dalam sebuah acara televisi dia menjelaskan bahwa 99 persen demonstran Irak tak ada kaitannya dengan agenda atau partai manapun.

Dia juga mengatakan, “Problema sesungguhnya di Irak ada dalam konsitusi Irak, bukan Islam, dan pembentukan komisi pemilihan umum independen di tengah sistem pemerintahan partai parlementer adalah kedustaan yang tak akan dipercaya oleh siapapun.” (alalam)

Saudi Umumkan Lima Tentaranya Tewas dalam Pertempuran di Jizan

Arab Saudi dalam dua hari terakhir mengumumkan kematian lima tentaranya lima tentaranya dalam kontak senjata dengan para pejuang Ansarullah (Houthi) di wilayah perbatasan Saudi-Yaman.

Kantor berita Saudi, SPA, menyebutkan bahwa pada Ahad (3/11/2019), telah diberitakan kematian tentara Saudi bernama Mohammad Zayegh al-Naja’i, sedangkan pada sehari sebelumnya dikabarkan bahwa empat tentara Saudi lain juga tewas, yaitu Sultan al-Wad’ani dan Abdurrahman al-Khabrani dari pasukan penjaga perbatasan serta Jubran al-Maliki dan Hamud bin Shau’ei dari angkatan darat.

Disebutkan bahwa lima tentara itu tewas dalam pertempuran di perbatasan selatan Saudi di kawasan Jizan, dan hal itu diumumkan saat ada pemberintaan dari SPA mengenai keberkabungan para pejabat Saudi.

SPA tidak menyebutkan secara detail kapan dan bagaimana lima tentara Saudi itu tewas, sedangkan  kelompok pejuang Ansarullah sering menyatakan adanya tentara Saudi yang tewas dan atau luka dalam kontak senjata dengan mereka di wilayah perbatasan Saudi-Yaman.

Ansarullah menguasai Sanaa, ibu kota Yaman, sejak September 2014 sebelum kemudian kekuasaannya merebak ke berbagai provinsi di negara ini.

Sejak Maret 2015 pasukan koalisi Arab yang digalang dan dipimpin oleh Saudi melancarkan serangan ke Yaman dengan dalih memerangi Ansarullah dan membela pemerintahan presiden tersingkir Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi di depan Ansarullah.

Invasi militer Saudi dan sekutunya ke Yaman itu menimbulkan krisis kemanusiaan yang bahkan dinilai PBB sebagai yang terburuk di dunia.  (raialyoum)