Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 2 November 2019

isis abu bakar al-baghdadiJakarta, ICMES. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan negaranya menginginkan informasi lebih jauh tentang kematian pemimpin kelompok teroris ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi, yang disebutnya “buatan AS” sendiri.

Sekjen Hizbullah di Libanon, Sayid Hassan Nasrallah, mengimbau kepada para pengunjuk rasa yang tergabung dalam aksi “Al-Harak” (Gerakan) untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat menjurus pada chaos atau kekacauan serta konflik horisontal.

Militer Israel menyatakan telah terjadi penembakan 10 roket dari Jalur Gaza ke kawasan Israel (Palestina pendudukan 1968), namun Israel dapat mencegat 8 roket di antaranya.

Kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) di Yaman berhasil menembak jatuh pesawat nirawak (drone) ScanEagle RM1 buatan AS yang diluncurkan dari wilayah Arab Saudi.

Berita selengkapnya:

Menlu Rusia Sebut Al-Baghdadi Buatan AS

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan negaranya menginginkan informasi lebih jauh tentang kematian pemimpin kelompok teroris ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi, yang disebutnya “buatan AS” sendiri.

“Kementerian Pertahanan Rusia telah merilis komentar mengenai al-Baghdadi. Kami menginginkan informasi tambahan. Pengumuman (mengenai kematian al-Baghdadi) disampaikan dalam suasana perayaan dan kegembiraan, tapi militer kami masih mempelajari fakta-fakta tambahan, dan sampai sekarang belum dapat memastikan kebenaran semua yang dikatakan AS,” ujarnya dalam wawancara dengan Russia-24, Jumat (1/11/2019).

Dia menambahkan bahwa al-Baghdadi sudah berulangkali dikabarkan terbunuh sehingga jika kali ini kabar itu benar maka merupakan satu langkah positif karena al-Baghdadi “berperan dalam pembentukan ISIS dan pendirian negara khilafah”.

“Kami mengetahui dengan baik, tapi dia merupakan buatan AS… ISIS muncul setelah terjadi perang ilegal atas Irak oleh AS, pembuyaran pemerintah Irak, dan pembebasan para ekstremis dari penjara. Karena itu AS melakukan tindakan besar dengan membasmi orang yang dibuatnya sendiri, jika peristiwa (kematian al-Baghdadi) itu memang terjadi,” imbuhnya.

Pada 27 Oktober lalu Presiden AS Donald Trump mengumumkan kematian al-Baghdadi bersama tiga anaknya, akibat aksi meledakkan diri ketika menghadapi operasi pasukan khusus AS di provinsi Idlib, Suriah.

Trump saat itu juga mengaku berterima kasih kepada Rusia, Irak, Suriah, dan Turki atas peran masing-masing dalam memuluskan operasi tersebut, sembari menyatakan bahwa Rusia telah membuka zona udara yang dikendalikannya di Suriah bagi pasukan udara AS.

Namun demikian, Kementerian Pertahanan Rusia saat itu justru mengaku tidak tahu menahu ihwal kematian al-Baghdadi, membantah telah memberikan bantuan untuk penerbangan jet tempur AS di kawasan Idlib, dan menyatakan tidak mendeteksi serangan udara di kawasan ini pada hari pelaksaan operasi pasukan khusus AS tersebut. (alalam)

Nasrallah: Ada Yang Berusaha Mengubah Unjuk Rasa di Libanon Menjadi Konflik Horisontal

Sekjen Hizbullah di Libanon, Sayid Hassan Nasrallah, mengimbau kepada para pengunjuk rasa yang tergabung dalam aksi “Al-Harak” (Gerakan) untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat menjurus pada chaos atau kekacauan serta konflik horisontal, karena ada pihak-pihak tertentu, termasuk sebagian media, berusaha mengupayakan demikian.

Dalam pidatonya di Beirut, Jumat (1/11/2019), Nasrallah menyatakan bahwa unsur yang selama ini dapat mencegah aksi itu menjurus kepada kekacauan adalah kesadaran banyak orang Libanon sendiri, dan berbagai elemen politikpun juga berusaha mengendalikan situasi agar tidak terjebak pada kekacauan.

Dia juga mengimbau kepada media untuk tidak mengompori keadaan dan menebar fitnah, dan kepada para petinggi politik untuk tidak membiarkan gelombang unjuk rasa ditunggungi oleh slogan dan tendensi sektarian.

“Segala yang kami lakukan sejak pekan lalu ialah berusaha mencegah kejatuhan negara kepada kekacauan dan kevakuman, dan ini demi menghadang orang yang berupaya menebar kekacauan dan pihak yang berada di baliknya,” ungkap Nasrallah.

Dia menambahkan, “Ada tuntutan-tuntutan yang benar (dari demonstran), ada korupsi besar di negara ini, dan ada kesulitan-kesulitan untuk menjamin adanya alternatif-alternatif. Karena itu kami melakukan tindakan-tindakan penuh rasa tanggungjawab, tidak menunggangi gelombangnya, dan mengutamakan tanggungjawab mencegah keruntuhan negara hingga kemudian terjadi pengunduran diri pemerintah.”

Sayid Nasrallah memastikan bahwa pemerintah Libanon belakangan ini bukanlah pemerintahan Hizbullah karena kelompok pejuang ini tidak memegang kementerian-kementerian utama dan bukan pula pihak terkuat dalam pemerintahan. Menurutnya, pihak asinglah yang bersikeras berusaha mengesankan dan menyebut pemerintahan itu sebagai pemerintahan Hizbullah.

Dia juga mengaku tidak mencemaskan kondisi muqawamah (resistensi anti Israel) terkait dengan gelombang unjuk rasa al-Harak.

“Kami tidak mendukung mundurnya pemerintah bukan karena pemerintahan ini adalah pemerintahan Hizbullah. Kami tidak mencemaskan muqawamah, karena muqawamah sangat tangguh, tak ada yang menduga ada sesuatu yang menggoyang kami, kami hanya mencemaskan kondisi negara,” tegasnya.

Dia menjelaskan bahwa mengenai pengunduran itu ada dua pandangan yang satu di antaranya “mendorong kami untuk tidak mendukung pengunduran, namun kami harus mendengarkan al-Harak yang hakiki. Sebagian orang berbicara mengenai benturan positif, dan kami memandang bahwa benturan positif itu ialah pertemuan pemerintah siang malam untuk menetapkan undang-undang pemberantasan korupsi, pengembalian harta yang ditilap, dan undang-undang amnesti umum. Kita harus memenuhi tuntuan masyarakat.”

Dia melanjutkan bahwa pandangan yang lain menganggapnya sebagai “netralisasi pemerintahan atau pengunduran diri pemerintah”, dan dia mengaku mengkhawatirkan opsi ini karena akan ada kevakuman pemerintahan dan penonaktifan undang-undang.

Sekjen Hizbullah kemudian menegaskan keharusan mengatasi kevakuman sesegera mungkin, dan pemerintahan baru nanti harus mendengarkan tuntutan rakyat yang telah turun ke jalan-jalan.  (raialyoum)

Israel Umumkan Terjadi Serangan Roket dari Gaza

Militer Israel menyatakan telah terjadi penembakan 10 roket dari Jalur Gaza ke kawasan Israel (Palestina pendudukan 1968), namun Israel dapat mencegat 8 roket di antaranya, Jumat (1/11/2019).

“Telah terpantau penembakan 10 roket dari Jalur Gaza menuju Israel, dan delapan di antaranya dapat dicegat oleh sistem Kubah Besi,” ungkap militer Israel.

Beberapa media Israel, termasuk harian Yedioth Ahronoth, menyebutkan bahwa salah roket tersebut mengena sebuah rumah penduduk di kota Sderot di dekat Jalur Gaza namun sampai menjatuhkan korban.

Media Israel juga menyebutkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah melakukan kontak telefon dengan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (SDF) Aviv Khuchavi dan para petinggi militer dan keamanan Israel lainnya untuk membahas reaksi yang akan dilakukan Israel atas serangan itu.

Di Jalur Gaza sendiri tidak ada kelompok yang menyatakan bertanggungjawab atas penembakan roket tersebut. (alalam)

ScanEagle Tertembak Jatuh di Yaman, Drone Saudi dan Sekutunya Tak Bisa Sembarang lagi

Kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) di Yaman berhasil menembak jatuh pesawat nirawak (drone) ScanEagle RM1 buatan AS yang diluncurkan dari wilayah Arab Saudi, Jumat (1/11/2019).

Ansarullah dalam statemennya tentang ini menyebutkan bahwa nirawak itu tertembak jatuh oleh rudal di garis kontak ketika terbang di angkasa wilayah Saudi mendekati perbatasan.

Nirawak jenis ScanEagle RM1 milik AS pernah direbut kendalinya pada tahun 2012 dan kemudian diduplikasi oleh Iran.

Nirawak ini tergolong tipe lama dan jauh tak semutakhir nirawak Global Hawk yang ditembak jatuh oleh Iran beberapa bulan lalu, namun ScanEagle RM1 banyak diandalkan AS karena beberapa faktor, yaitu harganya yang lebih terjangkau, ukurannya yang kecil, dapat diluncurkan di mana saja, tak mudah terdeteksi, dan dapat menghasilkan data-data akurat.

Keberhasilan Ansarullah menembak jatuh ScanEagle RM1 menunjukkan bahwa kelompok pejuang pimpinan Abdul Malik al-Houthi ini memiliki rudal-rudal pintar yang diduga berasal dari Iran, dan pada gilirannya pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang didukung AS tidak mudah lagi menerbangkan drone-drone mereka di angkasa Yaman.

ScanEagle RM1 tidak memiliki fleksibilitas dan kemampuan jet tempur yang melesat dengan cepat pada ketinggian optimal, sementara AS dan pasukan koalisi Arab Saudi-Uni Emirat Arab yang mengandalkan satelit dan drone juga kesulitan mendeteksi lokasi-lokasi penembakan rudal Ansarullah. (raialyoum)