Rangkuman Berita Utama Timteng  Jumat 9 Oktober 2020

perahu tempur IRGC iranJakarta, ICMES. Komandan Angkatan Laut (AL) pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Laksamana Alireza Tangsiri menyatakan armada AL-nya kini sedang berada di puncak kesiapan menghadapi agresi Amerika Serikat (AS) yang disebutnya “setan besar”.

Kelompok pejuang Hizbullah menegaskan bahwa antara Libanon dan Israel dengan mediasi Amerika Serikat  untuk menyelesaikan sengketa perbatasan tidak ada kaitannya dengan “kompromi” ataupun “normalisasi” hubungan dengan Israel.

Para peziarah dari berbagai penjuru Irak berkumpul di kota Karbala, Irak, pada malam Arbain, yaitu peringatan 40 hari kesyahidan cucunda Rasul saw, Imam Husain ra.

Presiden Suriah Bashar Al-Assad menyatakan bahwa orang Iran yang ada di negaranya bukanlah pasukan, melainkan para ahli dan penasehat militer.

Berita selengkapnya:

IRGC Pastikan Armada AL-nya Siap Menghadapi “Setan Besar” Amerika Serikat

Komandan Angkatan Laut (AL) pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Laksamana Alireza Tangsiri menyatakan armada AL-nya kini sedang berada di puncak kesiapan menghadapi agresi Amerika Serikat (AS) yang disebutnya “setan besar”.

Dalam pernyataan di televisi pemerintah Iran saat menandai peringatan hari AL Iran pada Rabu malam lalu (7/10/2020), Tangsiri mengenang kepahlawanan Nadir Mahdavi yang ditawan dan kemudian meninggal bersama sejumlah kader IRGC lainnya dalam menghadapi pasukan AS di Teluk Persia pada tanggal 7 Oktober 1987.

“Amerika saat itu berusaha mengawal kapal-kapal dagang internasional di kawasan, tapi di saat yang sama juga menyerang kapal-kapal dagang dan minyak Iran di Teluk Persia, namun Syahid Mahdavi dan para syuhada lain yang bersamanya telah membangkitkan semangan kepahlawanan yang abadi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, “Amerika mendapat serangan telak dari Syahid Mahdavi dan rekan-rekannya. Amerika kemudian mencari-cari kesempatan untuk membalas sehingga menyerang unit perahu perang para syuhada yang terdiri atas tiga unit  itu dengan mengerah sejumlah besar helikopter.”

Dia kemudian menyebut keberhasilan AL IRGC terkait dengan komposisi AL dan AU, terutama di bidang drone.

“Semangat kepahlawan yang ada pada Mahdavi itu sekarang pada anak-anak bangsa Iran di AL IRGC… Daya tempur yang tersedia di AL IRGC memancar dari kemampuan dan rasa percaya diri yang ada anak-anak bangsa ini,” katanya.

Dia juga menuturkan, “AL IRGC bahu membahu dengan AL Angkatan Bersenjata dalam suatu koordinasi dan kerjasama di Teluk Persia dan Laut Oman serta jauh dari perbatasan air dan darat negara ini dalam menghadapi Setan Besar Amerika penebar kejahatan dan semua musuh revolusi Islam.” (fna)

Hizbullah: Perundingan Perbatasan Libanon dengan Israel Tak Ada Kaitannya dengan Normalisasi

Kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Libanon menegaskan bahwa perundingan yang direncanakan pada pekan depan antara Libanon dan Israel dengan mediasi Amerika Serikat (AS) untuk menyelesaikan sengketa perbatasan tidak ada kaitannya dengan “kompromi” ataupun “normalisasi” hubungan dengan Israel.

Sebelumnya, Libanon dan Israel telah mengumumkan bahwa keduanya telah mencapai kesefahaman mengenai perundingan yang disponsori Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam sebuah langkah yang disebut AS sebagai “bersejarah”, sebutan yang juga selalu disematkan pada kesepakatan normalisasi hubungan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan Israel.

Dalam sebuah komentar resmi, Kamis (8/10/2020), fraksi Hizbullah di parlemen Libanon menjelaskan, “Perundingan itu berkenaan dengan tema tertentu yang berkaitan dengan perbatasan laut selatan kami, pengembalian wilayah darat kami, hingga pemetaan posisi-posisi kedaulatan nasional kami, dan tak ada kaitannya sama sekali dengan kompromi dengan musuh, Zionis perampas Palestina, maupun dengan normalisasi yang belakangan ini telah dan bisa jadi masih akan diadopsi oleh berbagai negara Arab yang memang tak pernah percaya barang sehari kepada opsi resistensi.”

Fraksi Hizbullah menambahkan, “Penentukan koordinat kedaulatan nasional adalah tanggung jawab negara Lebanon, yang secara eksklusif berkaitan dengan pernyataan bahwa tanah dan air ini adalah tanah dan air Lebanon.”

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric , Selasa lalu mengumumkan bahwa perundingan itu akan dimulai sekitar pertengahan bulan ini di markas PBB di Naqoura, Lebanon selatan, di mana AS akan bertindak sebagai “mediator dan fasilitator untuk pembahasan demarkasi perbatasan laut.”

Ketua Parlemen Nabih Berri, sekutu Hizbullah paling terkemuka dan yang mengumumkan bahwa kesepakatan telah dicapai seminggu yang lalu, mengatakan bahwa pertemuan itu akan diadakan “secara berkelanjutan di markas PBB … di bawah naungan tim Koordinator Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa” di Lebanon. (raialyoum)

Malam Arbain, Para Peziarah Irak Membanjiri Kota Karbala

Para peziarah dari berbagai penjuru Irak berkumpul di kota Karbala, Irak, pada malam Arbain, yaitu peringatan 40 hari kesyahidan cucunda Rasul saw, Imam Husain ra.

Warga Muslim Syiah, Sunni, dan bahkan warga non-Muslim Negeri 1001 Malam itu telah menempuh perjalanan yang sebagian besar dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 100 kilometer sejak beberapa hari lalu dari kota Najaf menuju pusara Imam Husain di kota yang disucikan tersebut. Mereka tiba di Karbala pada hari Kamis untuk menandai Arbain.

Di tahun-tahun sebelumnya, umat Islam dari pelbagai penjuru dunia, teruatama Iran dan termasuk Indonesia, telah mengikuti napak tilas jalan kaki itu, namun pada tahun ini mereka tak dapat mengikutinya karena penutupan perbatasan Irak akibat pandemi Covid-19.

Pada September lalu para peziarah Irak juga telah berbondong-bondong ke Karbala dan Kadhmiyah di Baghdad Utara untuk memperingati Asyura, yaitu hari kesyahidan Imam Husain ra.

Imam Husain ra beserta puluhan anggota keluarga dan sahabatnya gugur syahid dalam pertempuran pertempuran tak seimbang melawan puluhan ribu pasukan Yazid bin Muawiyah di padang Karbala pada tahun 61 Hijriah/680 Masehi.

Peristiwa itu menjadi tragedi besar bagi keluarga suci Nabi saw dan para pecinta mereka  karena Imam Husain ra dan orang-orang dekatnya dibantai dengan sangat sadis dan tak berprikemanusiaan.

Semua laki-laki anggota keluarga, kerabat, dan sahabat dekat Imam Husain yang berjumlah 72 orang dipenggal bersamanya dalam perang yang tidak seimbang melawan pasukan musuh yang berkekuatan 30.000 orang.

Narasi kepahlawanan cucunda Nabi saw dalam peristiwa yang diceritakan melalui banyak prosa dan syair itu menjadi sumber inspirasi perjuangan dan pelajaran moral yang abadi bagi para pecinta Ahlul Bait Nabi saw, baik dari kalangan Syiah maupun Sunni. (fna)

Assad Nyatakan Tak Ada Pasukan Iran di Suriah

Presiden Suriah Bashar Al-Assad menyatakan bahwa orang Iran yang ada di negaranya bukanlah pasukan, melainkan para ahli dan penasehat militer.

“Kami tidak memiliki pasukan Iran, dan ini sangat jelas. Mereka mendukung Suriah. Mereka mengirim pakar militer dan bekerjasama dengan pasukan kami di darat, dan mereka bersama tentara Suriah,” ungkap Assad wawancara dengan Sputnik milik Rusia, seperti dikutip Al-Masdar, Kamis (8/10/2020).

“Mari kita ambil contoh praktis; sekitar setahun lalu, Amerika mengatakan kepada Rusia untuk meyakinkan Iran bahwa mereka harus berada di 80 kilometer dari perbatasan dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki oleh Israel,” terangnya.

Assad menambahkan, “Meski tak ada tentara Iran, Iran sangat fleksibel, jadi mereka mengatakan, ‘Baiklah, tak akan ada awak Iran di selatan garis itu.’ Amerika mengatakan, ‘Jika kami dapat menyetujui ini, kami akan mundur dari pendudukan atas bagian timur Suriah,’ yang berbatasan dengan Irak, atau daerah yang disebut al-Tanf, tapi ternyata tidak terjadi apa-apa.”

Presiden Suriah kemudian mengecam tindakan AS menjadikan isu Iran sebagai dalih untuk menduduki sebagian wilayah Suriah.

“Masalah Iran adalah dalih untuk terus menduduki tanah Suriah dan mendukung teroris, digunakan sebagai kedok untuk menyembunyikan niat mereka yang sebenarnya. Satu-satunya cara bagi mereka untuk menerapkan apa yang mereka katakan adalah ketika Suriah menjadi negara boneka di tangan Amerika Serikat. Ini yang mereka inginkan dan bukan yang lain,” kecamnya.

“Hal lain yang mereka bicarakan tidaklah lebih dari kebohongan dan tuduhan palsu. Karena itu, menurut saya, tidak ada solusi nyata dengan Amerika selama mereka tidak mau mengubah perilaku mereka,” imbuhnya. (amn)