Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 9 Juli 2021

relawan irak al-hashdJakarta, ICMES. Kelompok-kelompok pejuang Irak menegaskan bahwa perlawanan terhadap pasukan AS merupakan keputusan rakyat sendiri dan tak ada kaitannya dengan persiteruan antara AS dan Iran. Bersamaan dengan ini tentara AS dilaporkan menyembunyikan kerugian yang dideritanya akibat intensitas serangan para pejuang Irak.

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dan beberapa pejabat Iran lain, termasuk Presiden Terpilih Ebrahim Raisi, menyatakan belasungkawa atas wafatnya mantan Sekjen Front Rakyat Pembebasan Palestina (PFLP) Ahmad Jibril alias Abu Jihad.

Gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman menyatakan bahwa pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi kalah dalam pertempuran melawan Ansarullah di provinsi Al-Bayda meski dibantu oleh kelompok teroris takfiri ISIS dan Al-Qaida.

Berita Selengkapnya:

Pejuang Irak Pastikan akan Terus Melawan, Pasukan AS Sembunyikan Kerugian

Kelompok-kelompok pejuang Irak bersumpah akan terus melanjutkan sepak terjang mereka untuk mengusir pasukan AS dari tanah air mereka. Mereka juga menegaskan bahwa perlawanan ini merupakan keputusan rakyat sendiri dan tak ada kaitannya dengan persiteruan antara AS dan Iran. Bersamaan dengan ini tentara AS dilaporkan menyembunyikan kerugian yang dideritanya akibat intensitas serangan para pejuang Irak.

Abu Ali Al-Askari, pejabat keamanan Brigade Hizbullah Irak, Kamis (8/7), menegaskan bahwa perlawanan terhadap pasukan pendudukan AS merupakan keputusan yang sepenuhnya memancar dari rakyat Irak sendiri sehingga tak patut dikaitkan dengan pihak luar negeri, termasuk Iran.

Dia menegaskan bahwa perjuangan melawan tentara AS di Irak merupakan keputusan bangsa negara ini, dan tak akan berhenti sebelum mereka angkat kaki dari Negeri 1001 Malam ini.

Meski demikian, Abu Ali menekankan bahwa kelompok-kelompok pejuang Irak menolak serangan terhadap perwakilan-perwakilan diplomatik.

“Keputusan kelompok-kelompok resistensi ialah bahwa bahkan kedutaan besar keji (AS – red.) di Baghdad jangan sampai dibom. Keputusan perlawanan terhadap tentara pendudukan adalah murni keputusan orang Irak tanpa ada kaitan apapun dengan pihak luar negeri,” ungkap Abu Ali dalam sebuah pesannya di Twitter.

Hal itu dia nyatakan ketika sebagian orang beranggapan bahwa serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer yang ditempati oleh pasukan AS merupakan imbas perang dingin antara AS dan Iran.

Dia menambahkan, “Tujuan resistensi rakyat Irak ialah memaksa keluar pasukan pendudukan agar dengan demikian undang-undang parlemen dapat terlaksana.”

Senada dengan ini, anggota biro politik gerakan Ashaib Ahl Al-Haq Irak, Saad Al-Saadi, menegaskan bahwa kelompok-kelompok resistensi Irak menentang kebercokolan pasukan AS di Irak.

Kepada Shafaq News dia mengatakan, “Serangan kelompok-kelompok resistensi ke pangkalan-pangkalan AS adalah karena komitmen mereka pasca kejahatan beruntun AS terhadap pasukan (relawan) Al-Hashd Al-Shaabi dan terornya terhadap Syahid Jenderal Qasem Soleimani dan Syahid Abu Mahdi Al-Muhandis.”

Belakangan ini serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di Irak semakin intensif setelah kelompok-kelompok pejuang Irak bersumpah membalas serangan AS terhadap Al-Hashd Al-Shaabi yang menggugurkan empat relawan di dekat perbatasan Irak-Suriah.

Al-Saadi menegaskan, “Kelompok-kelompok resistensi dalam beberapa hari ke depan akan meningkatkan operasinya terhadap kebercokolan AS, (negara) yang tak menghormati kedaulatan Irak dan undang-undang parlemen dan pemerintah.”

AS Sembunyikan Kerugian

Menyusul terjadinya serangan roket secara masif ke pangkapan Ain Al-Assad yang ditempati oleh militer AS di provinsi Anbar, Irak barat, tentara AS melarang masuk tim keamanan Irak yang bermaksud menaksir kerugian akibat serangan tersebut.

Sumber keamanan Irak, Kamis, kepada situs Al-Maloomah melaporkan bahwa sebuah tim keamanan tingkat tinggi sempat mendatangi pangkalan Ain Assad dengan maksud mendata kerugian akibat serangan, tapi tentara AS di sana tak mengizinkan mereka memasukinya dengan cara mencegat mobil rombongan di tengah jalan.

Sumber itu menambahkan, “Informasi yang ada menunjukkan bahwa banyak korban manusia dan kerugian materi yang menimpa pasukan AS di pangkalan ini.” (fna)

Ayatullah Khamenei Berbelasungkawa atas Wafatnya Sekjen Front Rakyat Pembebasan Palestina

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dan beberapa pejabat Iran lain, termasuk Presiden Terpilih Ebrahim Raisi, menyatakan belasungkawa atas wafatnya mantan Sekjen Front Rakyat Pembebasan Palestina (PFLP) Ahmad Jibril alias Abu Jihad.

Dalam sebuah pesannya, Kamis (8/7), Ayatullah Khamenei menyatakan, “Kepada bangsa Palestina dan seluruh mujahidin dan aktivis gelanggang penuh gelora perjuangan Palestina serta seluruh anasir resistensi di Asia Barat (Timur Tengah – red.) dan keluarga yang ditinggal, saya mengucapkan belasungkawa atas wafatnya pejuang tak kenal lelah Ahmad Jibril.”

Dia menambahkan, “Pria pemberani ini telah menghabiskan usianya untuk berjuang demi tanah air yang terampas dan bangsa yang teraniaya. Kami memohon semoga Allah memberinya pahala, rahmat dan maghfirah.”

Ungkapan belasungkawa juga dinyatakan oleh Presiden Terpilih Iran Sayid Ebrahim Raisi dengan menyebutkan; “Pejuang tak kenal lelah ini hingga akhir hayatnya tak berhenti berjuang untuk kebebasan kiblat pertama umat Islam, dan juga telah mengorbankan putranya yang mulia di jalan ini. Abu Jihad tergolong orang-orang yang setia kepada cita-cita Palestina dan pembela kebenaran Poros Resistensi yang berdiri teguh di tengah badai aneka peristiwa di jalan ini.”

Ketua parlemen Iran Majelis Permusyawatan Islam Mohammad Bagher Qalibaf menyebut Ahmad Jibril sebagai sosok pejuang anti penindasan yang telah menghabiskan usianya untuk pembebasan Quds sehingga namanya akan tetap cemerlang dan abadi dalam sanubari para pendamba kebebasan dan bangsa tertindas Palestina.

Ucapan belasungkawa juga dinyatakan oleh Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigjen Esmail Qaani dan Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif.

Ahmad Jibril wafat di usia 83 tahun pada hari Rabu 7 Juli 2021 setelah 60 tahun berjuang demi cita-cita Palestina. Sedangkan seorang putranya gugur syahid diteror oleh dinas rahasia Israel Mossad pada dua dekade silam.  (mna)

Ansarullah: Pasukan Teroris Kalah di Al-Bayda, AS Berubah Sikap Lagi

Gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman menyatakan bahwa pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi kalah dalam pertempuran melawan Ansarullah di provinsi Al-Bayda meski dibantu oleh kelompok teroris takfiri ISIS dan Al-Qaida.

Juru bicara Ansarullah Mohammad Abdul Salam, Kamis (8/7), mengatakan, “Pasukan koalisi agresor Saudi kalah di Provinsi Al-Bayda, sebagaimana di semua front lain, meskipun dibantu oleh Al-Qaida dan ISIS… Koalisi agresor Saudi terbelit suatu keadaan yang seberapapun mereka berusaha tetap tak dapat lolos darinya.”

Dia memperingatkan, “Selagi musuh tak menghentikan agresi dan blokadenya terhadap bangsa Yaman perjuangan melawan agresor, pasukan pendudukan dan para antek bayarannya akan terus berlanjut.”

Mengenai AS dia mengatakan, “AS beberapa hari lalu mengaku sudah lelah mengajak Ansarullah dan Pemerintah Keselamatan Nasional untuk dialog dan solusi politik, tapi pada kesempatan yang krusial AS mengubah nadanya dan bersikukuh pada pendiriannya.”

Abdul Salam menjelaskan, “Dengan dimulainya agresi belakangan ini ke beberapa kawasan Provinsi Al-Bayda, AS menyatakan berdiri bersama pemerintahan (presiden) Yaman yang sudah mengundurkan diri (Abd Rabbuh Mansour Hadi), padahal pasukan yang terlibat dalam agresi ini adalah pasukan Al-Qaeda dan ISIS. Tapi setelah kawanan teroris itu kalah, AS mengubah nadanya dan kembali ke keadaannya semula; mengaku menghendaki gencatan senjata dan perdamaian, dan kembali menuduh kami  menyulitkan proses penegakan perdamaian di Yaman.”

Dia menambahkan, “Kebijakan tipu daya AS berubah-ubah dan terlihat setiap kali terjadi perubahan di lapangan.”

Pasukan Ansarullah yang bersekutu dengan tentara Yaman kubu Sanaa dan dibantu oleh kelompok-kelompok adat setempat Rabu lalu memulai dua operasi militer di daerah Al-Soma’ah dan Al-Zahir di Provinsi Al-Bayda. Puluhan teroris Al-Qaeda dan ISIS, beberapa di antaranya berstatus komandan, tewas dan luka diterjang operasi tersebut, dan sejumlah kawasan di dua daerah itu jatuh ke tangan Ansarullah.

Sejak beberapa pekan lalu, pasukan Mansour Hadi memulai operasi militer di provinsi Al-Bayda dengan tujuan mengurangi tekanan Ansarullah di berbagai front lain, terutama Ma’rib. Mereka mengaku bahwa dalam operasi ini telah merebut beberapa kawasan dari tangan Ansarullah.

Di sisi lain, meskipun pasukan koalisi menyokong milisi yang membantu Mansour Hadi namun dalam beberapa hari terakhir ini milisi itu terlibat kontak senjata sengit dengan kelompok-kelompok bersenjata lain yang didukung oleh Uni Emirat Arab di beberapa provinsi di Yaman selatan. (mna)