Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 8 November 2019

senjata israelJakarta, ICMES. Situs Times of Israel melaporkan bahwa rudal canggih hasil kolaborasi Israel- Amerika Serikat (AS) yang jatuh di Suriah tanpa meledak dan lalu dipungut oleh Rusia telah menimbulkan keresahan AS.

Sebuah sumber yang dekat dengan kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) di Yaman menyatakan bahwa Ansarullah telah mengadakan pembicaraan rahasia dengan pemerintah Arab Saudi dengan tujuan menyudahi perang di Yaman.

Militer menuding AS dan Israel menggalang konspirasi untuk menunggangi gelombang unjuk rasa di Libanon dan Irak demi mendatangkan pemerintahan yang bersedia membuntuti keduanya.

Berita selengkapnya:

Rudal Israel Gagal Meledak di Suriah, AS Gelisah

Situs Times of Israel melaporkan bahwa rudal canggih hasil kolaborasi Israel- Amerika Serikat (AS) yang jatuh di Suriah tanpa meledak dan lalu dipungut oleh Rusia telah menimbulkan keresahan AS.

Menurut situs itu, rudal dari sistem pertahanan udara “David’s Sling” itu jatuh di wilayah Suriah ketika pertama kali di pakai pada musim panas tahun 2018.

Pada Juli 2018 militer Israel mengakui bahwa satu di antara dua rudalnya gagal menerjang targetnya, dan kemudian AS dan Israel meminta Rusia agar mengembalikan rudal itu kepada Israel.

Sebuah situs berita Cina menyebutkan bahwa rudal Israel yang gagal meledak itu telah diserahkan kepada tentara Rusia di Hmeimim, Suriah, dan dari situ kemudian dibawa ke Moskow agar berbagai teknologi terbarunya dapat dipelajari oleh Rusia.

David’s Sling adalah sistem petahanan udara jarak menengah anti rudal dan drone, yang dikembangkan secara kolektif oleh unit pertahanan udara Israel dan unit pertahanan rudal Kementerian Pertahanan AS, Pentagon.

Sistem itu rencananya akan dipakai untuk menggantikan sistem pertahanan udara Patriot di arsenal Israel, terutama setelah sistem Kubah Besi (Iron Dome) kurang efektif mencegat roket-roket yang melesat dari Jalur Gaza, dan berbagai laporanpun menyebutkan bahwa Israel menambah jumlah baterai sistem itu agar dapat mencegat roket-roket yang ditembakkan dalam jumlah besar ke wilayah Israel (Palestina pendudukan 1948).

Disebutkan pula bahwa kepercayaan kepada efektivitas sistem Patriot buatan AS sudah jauh merosot setelah gagal mencegat rudal-rudal balistik Yaman yang menerjang kamplek penyulingan minyak Aramco milik Arab Saudi. Dalam rekaman video yang pernah viral, terlihat pula salah satu rudal Patriot seakan tergelincir ke arah sebaliknya dan kemudian jatuh ke tanah secara mengejutkan.

Sumber militer Israel di Tel Aviv menyatakan Israel kuatir Rusia ataupun Iran dapat membongkar rahasia rudal David’s Sling yang jatuh dan gagal meledak di Suriah, karena dengan begitu Rusia atau Iran akan dapat mengatasi kemampuan rudal itu.

David’s Sling dirancang untuk menghadang rudal-rudal yang datang dari radius 40 hingga 300 kilometer, sehingga sistem ini menempati lapisan tengah dalam serangkaian sistem pertahanan udara canggih Israel. (alalam)

Ansarullah Dikabarkan Mengadakan Pembicaraan Rahasia dengan Para Pejabat Saudi

Sebuah sumber yang dekat dengan kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) di Yaman menyatakan bahwa Ansarullah telah mengadakan pembicaraan rahasia dengan pemerintah Arab Saudi dengan tujuan menyudahi perang di Yaman.

Sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan itu mengatakan kepada kantor berita Jerman, DPA, Kamis (7/11/2019), bahwa sedang terjadi pembicaraan “rahasia” para petinggi Ansarullah dengan para petinggi Arab Saudi melalui perantara di Muscat, ibu kota Oman.

Sumber itu menjelaskan bahwa Amerika Serikat (AS), Utusan Khusus PBB Martin Griffiths, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, adalah pihak yang memediasi perundingan tersebut.

“Ada beberapa perkara yang telah ditentukan dalam perundingan ini demi mencapai solusi final bagi krisis Yaman,” tuturnya.

Dia menambahkan bahwa perundingan itu dilakukan bahwa sejak Mahdi al-Mashat Ketua Dewan Tinggi Politik Yaman yang berafiliasi dengan Ansarullah pada September lalu menggulirkan secara sepihak inisiatif penghentian serangan drone dan rudal balistik serta berbagai serangan Ansarullah lainnya ke wilayah Saudi. Inisiatif itu mendapat respon yang dinilai positif dari Kerajaan Arab Saudi.

Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman menyebut inisiatif itu sebagai satu langkah positif menuju dialog lebih serius perihal Yaman. Dia juga menekankan bahwa negaranya “terbuka bagi semua prakarsa penyelesaian secara politik bagi Yaman, dan bahkan berharap terjadi hari ini pula tanpa menanti besok.”

Yaman sejak sekira lima tahun lalu dilanda perang antara pasukan presiden tersingkir Yaman Abd Mansour Hadi yang didukung oleh koalisi pimpinan Arab Saudi di satu pihak dan kelompok pejuang Ansarullah di pihak lain. Perang ini telah menjatuhkan banyak korban jiwa dan luka serta membuat Yaman terpuruk dalam tragedi kemanusiaan yang bahkan dinilai oleh PBB sebagai yang terburuk di dunia. (raialyoum)

Militer Iran Tuding AS dan Israel Tunggangi Aksi Demo di Libanon dan Irak

Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Mohammad Bagheri menuding AS dan Israel menggalang konspirasi untuk menunggangi gelombang unjuk rasa di Libanon dan Irak demi mendatangkan pemerintahan yang bersedia membuntuti keduanya.

Dalam sebuah festival militer di kota Qum, Iran, Bagheri menjelaskan bahwa gelombang unjuk rasa di Irak berlanjut sejak 1 Oktober lalu dan telah menjatuhkan korban tewas lebih dari 250 orang, sedangkan unjuk rasa rasa di Libanon yang bermula sejak 17 Oktober lalu telah menyebabkan Saad Hariri mundur dari jabatannya sebagai perdana menteri.

“AS dan Israel ingin menjauhkan bangsa Irak dan Libanon dari otoritas masing-masing, namun otoritas keagamaan dan rakyat di negara-negara ini melawan konspirasi itu,” ujarnya.

Aksi protes berlangsung di Lebanon sejak 17 Oktober lalu. Massa mengecam kenaikan pajak dalam anggaran 2020, dan kemudian menuntut para elit politisi yang ada selama ini agar menyingkir.

Setelah gelombang demo berlangsung lebih dari 20 hari, krisis tampaknya terhenti karena semua kelompok tetap teguh pada sikap masing-masing di tengah kekhawatiran akan semakin memburuknya situasi negara yang terdera krisis ekonomi terburuk sejak perang saudara 1975-1990 ini.

Hariri mengundurkan diri dari pemerintahannya pada 29 Oktober, sedangkan elit penguasa lain bertahan pada posisinya bersama janji Presiden Michel Aoun untuk membangun negara sipil, mereformasi ekonomi, dan memerangi korupsi melalui penyelidikan yang “tidak akan mengecualikan pejabat mana pun.”

Sedangkan di Irak, aksi protes masih berlangsung sejak awal Oktober lalu, namun Perdana Menteri Adel Abdul-Mahdi menolak mundur, dan menggantungkan suksesi pada kesepakatan berbagai elemen politik. Dia mengingatkan bahwa pengunduran diri tanpa “alternatif cepat dan cepat” akan membuat masa depan Irak yang kaya minyak justru menjadi semakin tidak jelas.

Sebagai bagian dari upaya partai-partai yang berkuasa untuk menahan gelombang protes, pemerintah Irak telah mengadopsi serangkaian langkah reformasi di beberapa bidang.

Dewan Perwakilan Rakyat Irak juga telah membentuk sebuah komite untuk mempertimbangkan amandemen konstitusi 2005, namun ditolak oleh pengunjuk rasa yang mencoba untuk memaksakan pembangkangan sipil dengan menutup lembaga-lembaga pemerintahan dan ekonomi.

Meskipun sedikitnya 275 pengunjuk rasa tewas dan lebih dari 12.000 lainnya cidera, serta terdapat kerugian sebesar US$ 6 miliar, menurut angkatan bersenjata, para pengunjuk rasa tetap bersikukuh pada perang melawan korupsi dan penindakan terhadap para koruptor, serta mundurnya pemerintah yang telah berkuasa sejak Oktober 2018. (railayoum)