Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 8 Januari 2021

gedung capitol ASJakarta, ICMES. Presiden Iran Hassan Rouhani menilai insiden kerusuhan berdarah di gedung Capitol, Washington, Amerika Serikat, sebagai bukti kelemahan dan kerapuhan demokrasi Barat.

Menteri Luar Negeri Qatar Mohammad bin Abdulrahman Al-Thani menyatakan bahwa hubungan negaranya dengan Iran dan Turki tidak akan terpengaruh oleh penandanganan rekonsialisi Qatar dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir.

Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran, Behrouz Kamalvandi, menyatakan bahwa Iran dengan mudah mampu memperkaya uranium hingga kemurnian 90%.

Kementerian Luar Negeri Suriah menyatakan bahwa serangan rudal Israel ke wilayah Suriah yang dilakukan bersamaan dengan serangan kawanan bersenjata terhadap mobil-mobil bus di Suriah menunjukkan adanya “koordinasi” segi empat Israel, Turki, Amerika Serikat, dan organisasi teroris.

Berita Selengkapnya:

Rouhani Sebut Kerusuhan Berdarah di Capitol Bukti Kegagalan Demokrasi Barat

Presiden Iran Hassan Rouhani menilai insiden kerusuhan berdarah di gedung Capitol, Washington, Amerika Serikat (AS), Kamis (7/1), sebagai bukti kelemahan dan kerapuhan demokrasi Barat.

“Apa yang kita lihat di AS kemarin malam menunjukkan kehancuran demokrasi Barat di dunia,” komentar Rouhani.

Dia menambahkan, “Semua orang melihat apa yang dilakukan suatu massa terhadap negaranya dan merusak reputasi negaranya di gelanggang internasional.”

Mengenai kebijakan luar negeri AS, Rouhani menilai Trump telah menciptakan masalah serius dalam hubungan AS dengan dunia luar dan menimbulkan kerusakan parah di di Palestina, Suriah dan Yaman, dan insiden Capitol menjadi pelajaran bagi penguasa Gedung Putih berikutnya maupun  bagi khalayak internasional.

Rouhani kemudian kembali menekan apa yang harus dilakukan AS di bawah kepresidenan Joe Biden nanti terhadap Iran.

“Pemerintah AS berikutnya di bawah Biden harus mengkompensasi kerugianyang diderita rakyat Iran,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Kami mengharapkan presiden terpilih AS Biden dapat mengembalikan kondisi internasional ke status sebelumnya dan mematuhi undang-undang dan regulasi, karena kembalinya AS kepada komitmen internasionalnya akan menjadi kepentingannya sendiri dan juga kepentingan dunia.”

Sebelumnya pada hari itu, massa pendukung Trump menyerbu gedung Capitol AS, menghancurkan properti dan menduduki ruang rotunda, ketika Kongres hendak mengesahkan kemenangan presiden Joe Biden dari Partai Demokrat dalam pilpes.

Setidaknya empat orang tewas dan 52 lainnya ditangkap dalam insiden berdarah di gedung Kongres AS tersebut, dan kini Trump mendapat kecaman dan tuntutan dari berbagai pihak atas peristiwa berdarah itu. Akun Trump di berbagai media sosial serta Youtube bahkan juga ditutup. (mna)

Menlu Qatar Nyatakan Kesepakatan GCC Tak Pengaruhi Hubungan Doha dengan Ankara dan Teheran

Menteri Luar Negeri (Menlu) Qatar Mohammad bin Abdulrahman Al-Thani menyatakan bahwa hubungan negaranya dengan Iran dan Turki tidak akan terpengaruh oleh penandanganan rekonsialisi Qatar dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir.

Dalam wawancara dengan Financial Times, Al-Thani menjelaskan bahwa Doha sepakat untuk kerjasama kontra-terorisme dan keamanan lintas perbatasan dengan Saudi dan tiga negara Arab lain itu, namun “hubungan bilatera diatur secara mendasar oleh resolusi kedaulatan dan kemaslahatan nasional” dan ini “tidak akan pernah mempengaruhi hubungan kami dengan negara lain manapun”.

Pada tahun 2017 Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir mengumumkan pemutusan hubungan dengan Qatar antara lain dengan dalih hubungan Doha dengan Teheran dan Ankara, selain dukungan Qatar kepada gerakan-gerakan Islamis dan pendanaannya atas saluran TV Al-Jazeera.

Dalam wawancara itu Menlu Qatar juga memastikan tak akan ada perubahan kebijakan Doha terkait dengan Al-Jazeera.

“Kami berharap agar dalam jangka waktu seminggu setelah penandatangan  dapat ditempuh-langkah untuk memulihkan semua urusan sesuai kondisinya semula,” ungkap Al-Thani, mengacu pada deklarasi Dewan Kerjasama Teluk (GCC) di Al-Ula, Arab Saudi, belum lama ini.

Dia menekankan bahwa semua negara itu diuntungkan oleh perjanjian itu, namun dia juga mengakui bahwa urusannya bisa jadi membutuhkan waktu beberapa lama untuk mewujudkan rekonsiliasi sepenuhnya. (raialyoum)

Iran Nyatakan Mudah Perkaya Uranium hingga 90%

Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, menyatakan bahwa Iran dengan mudah mampu memperkaya uranium hingga kemurnian 90%.

“Tentu saja, teks undang-undang yang disetujui oleh Majelis Permusyawaratan Islam ialah bahwa Organisasi Energi Atom Iran dapat melakukan pengayaan uranium di atas 20% jika diperlukan, dan kami sedang mempelajari bidang-bidang lain,” ungkap Kamalvandi di sela-sela peringatan 40 hari gugurnya ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh, Kamis (7/1).

“ Seandainya hari ini kami memutuskan untuk memperkaya di atas 20% maka itu mudah saja, dan kami sedang mempelajari hal-hal yang diperlukan… Kami mempelajari kebutuhan negara kepada pengayaan di atas 20%.  Pengayaan uranium bukan satu-satunya bidang yang digeluti oleh industri-industri nuklir Iran, melainkan ada bidang-bidang lain,“ imbuhnya.

Dia menjelaskan, “Kami sedang membangun dua pembangkit listrik tenaga nuklir di bidang obat radiasi. Selain menyediakan obat-obatan yang dibutuhkan di dalam negeri, kami mengekspor ke sekitar 11 negara, sementara Amerika Serikat (AS) –sayangnya- memberlakukan embargo pada perusahaan-perusahaan terpenting dengan anggapan bahwa kami akan menghadapi masalah, padahal kami mengekspor di bidang ini.”

Kamalvandi juga mengatakan, “Kami memiliki kemajuan yang sangat baik di berbagai bidang, termasuk kuantum dan laser, yang sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan masa lalu. Ini adalah sesuatu yang diakui oleh laporan-laporan intelijen musuh kami dan mereka menganggapnya sebagai hasil kebijakan keliru mereka.”

Dia lantas mengatakan, “Dengan izin Allah, di masa mendatang kami akan memperlihatkan perkembangan lebih lanjut di bidang industri nuklir.” (alalam)

Suriah Sebut Serangan Israel Terkoordinasi dengan Turki, AS, dan Teroris

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Suriah menyatakan bahwa serangan rudal Israel ke wilayah Suriah yang dilakukan bersamaan dengan serangan kawanan bersenjata terhadap mobil-mobil bus di Suriah menunjukkan adanya “koordinasi” segi empat Israel, Turki, Amerika Serikat, dan organisasi teroris.

Dalam suratnya kepada Ketua Dewan Keamanan PBB dan Sekjen PBB, Antonio Guterres, Kementerian Luar Negeri Suriah, Kamis (7/1), menyebutkan, “Otoritas musuh, Israel, pada hari Rabu pukul 23:30 menyerang lagi di wilayah Republik Arab Suriah dalam pelanggaran mencolok terhadap resolusi Dewan Keamanan Nomor 350 tahun 1974 mengenai kesepakatan penyekatan pasukan kedua belah pihak, yang dilakukan dengan meluncurkan hujan tembakan berturut-turut dari arah wilayah pendudukan Golan Suriah ke kawasan selatan.”

Kemenlu Suriah menjelaskan bahwa Rezim Zionis Israel semakin getol memraktikkan terorisme setelah gagal melicinkan konspirasinya terhadap Suriah, dan itu dilakukan bersamaan dengan terjadinya serangan kelompok-kelompok bersenjata terhadap fasilitas transportasi di kawasan Badiyah Suriah yang menewaskan dan melukai sejumlah warga Suriah.

“Hal ini sekali lagi dan tanpa diragukan lagi menunjukkan koordinasi penuh antara terorisme Israel dan terorisme takfiri untuk mencapai tujuan bersama mereka memperpanjang krisis di Suriah dengan mendukung kelompok teroris bersenjata, mitra Israel dalam terorisme, dan untuk menghalangi Tentara Arab Suriah (SAA) dan sekutunya mengalahkan ISIS dan Front Al-Nusra  serta kelompok-kelompok teroris lainnya yang terkait dengan keduanya namun menggunakan beragam nama sendiri,” papar Kemenlu Suriah.

Pada Rabu malam lalu sumber militer SAA  mengumumkan bahwa Israel melancarkan serangan udara dan rudal ke beberapa sasaran di wilayah selatan dari arah Golan, yang lantas dihadapi oleh pasukan pertahanan udara Suriah hingga mereka dapat merontokkan sebagian besar rudal di antaranya. (rta)