Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 7 Januari 2022

Jakarta, ICMES. Kerusuhan di Kazakhstan makin membara dan menjatuhkan banyak korban tewas dan luka  manakala kota terbesar dan pusat pemerintahan negara ini, Almaty, dilanda bentrokan berdarah antara demonstran dan pasukan keamanan.

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian melontarkan pernyataan bernada peringatan terhadap negara-negara Arab Teluk Persia yang menormalisasi hubungan dengan Rezim Zionis Israel.

Komplek ladang gas alam Conoco, yang digunakan oleh pasukan pendudukan Amerika Serikatsebagai pangkalan militer ilegalnya di Suriah timut, menjadi sasaran serangan rudal.

Berita Selengkapnya:

Kazakhstan Kian Membara, Puluhan Orang Tewas, Rusia Kirim Pasukan

Kerusuhan di Kazakhstan makin membara dan menjatuhkan banyak korban tewas dan luka  manakala kota terbesar dan pusat pemerintahan negara ini, Almaty, dilanda bentrokan berdarah antara demonstran dan pasukan keamanan pada hari Kamis (6/1).

Juru bicara polisi kota Saltanat Azirbek mengatakan kepada saluran berita lokal bahwa “puluhan penyerang telah dibasmi” ketika mereka mencoba menyerbu gedung-gedung pemerintah.

Pihak berwenang menyatakan sedikitnya 18 polisi tewas, satu di antaranya ditemukan dengan kondisi kepala terpenggal. Kantor walikota juga dilaporkan dibakar setelah demonstran masuk ke gedung. Polisi mengaku telah menangkap sekira 2000 orang di Almaty.

Situasi mengerikan itu terjadi sehari setelah tentara diperintahkan turun tangan untuk mengendalikan kerusuhan. Saksi mata mengatakan mereka melihat kendaraan lapis baja dan puluhan tentara bergerak di alun-alun utama Almaty.

Kementerian Kesehatan Kazakhstan mengumumkan melalui saluran televisi resmi bahwa lebih dari seribu orang terluka dalam aksi protes dan kerusuhan yang telah mengguncang negara ini sejak beberapa hari lalu.

Bank Sentral Kazakhstan mengumumkan penangguhan aktivitas bank dan bursa, menyusul penjarahan lembaga-lembaga keuangan di beberapa kota, sementara lalu lintas udara ke dan dari Kazakhstan telah dihentikan secara total.

Gelombang protes yang dipicu oleh kenaikan harga gas bermula pada Ahad lalu di kota barat Zhanazin, dan kemudian meluas ke Almaty pada Selasa malam.

Dugaan Terorisme dan Pengiriman Pasukan CSTO

Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, yang membubarkan kabinet dan mengumumkan keadaan darurat,  dalam pidato televisi mengatakan, “Kelompok elemen kriminal memukuli tentara kita, mempermalukan mereka, menyeret mereka telanjang di jalan-jalan, menyerang wanita dan menjarah toko.”

Tokayev mengaku telah meminta kepada para kepala negara anggota Organisasi Traktat Keamanan Kolektif (CSTO), aliansi militer yang disponsori Rusia, untuk membantu Kazakhstan mengatasi “ancaman teroris”. Menurutnya, “komplotan teroris yang terlatih di luar negeri” telah memimpin demonstrasi.

Senada dengan ini, juru bicara polisi Saltanat Azerbek mengatakan, “Pasukan ekstremis tadi malam mencoba menyerbu gedung administrasi dan kantor polisi kota Almaty.”

Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan selaku ketua CSTO mengumumkan bahwa organisasi ini akan mengirim “pasukan penjaga perdamaian kolektif” ke Kazakhstan. Dalam sebuah posting di Facebook dia menambahkan bahwa pasukan ini akan menetap di sana  “untuk jangka waktu terbatas demi stabilitas dan pemulihan situasi” yang mengalami “gangguan eksternal.”

Rusia mengumumkan batalion pertama “pasukan penjaga perdamaian” telah dikirim atas permintaan Presiden  Tokayev.

Juru bicara kementerian Rusia Maria Zakharova mengatakan, “Sebuah pasukan penjaga perdamaian kolektif dari CSTO telah dikirim ke Kazakhstan untuk jangka waktu terbatas demi menjamin stabilitas dan pemulihan situasi.” (raialyoum/dw)

Menlu Iran Peringatkan Negara-Negara Teluk Penormalisasi Hubungan dengan Israel

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian melontarkan pernyataan bernada peringatan terhadap negara-negara Arab Teluk Persia yang menormalisasi hubungan dengan Rezim Zionis Israel.

Dalam wawancara dengan saluran berita Al-Jazeera, Kamis (6/1), mula-mula dia mengatakan bahwa putaran keenam perundingan nuklir di Iran sedang berjalan di jalur yang benar, dan bahwa kesepakatan yang baik mengenai nuklir Iran akan bisa dicapai jika pihak Barat serius menghendakinya.

“Kesepakatan yang baik dapat dicapai di Wina jika pihak-pihak Barat memiliki niat dan kemauan untuk itu, dan kami menuntut pencabutan sanksi yang dijatuhkan oleh Trump, terutama yang bertentangan dengan perjanjian nuklir,” kata Abdullahian.

Dia menyebutkan bahwa negaranya menuntut adanya jaminan untuk tidak ada lagi  penerapan sanksi-sanksi yang sudah dicabut.

Abdollahian kemudian menyebutkan kecaman Iran terhadap negara-negara penormalisasi hubungan dengan Israel.

“Kami telah memperingatkan para tetangga kami bahwa normalisasi dengan Israel adalah kesalahan strategis, dan bahwa mereka adalah pihak pertama yang akan membayar harganya,” ujar Abdollahian.  

Mengenai hubungan Iran dengan negara-negara Arab, dia menekankan bahwa dialog dengan Arab Saudi berlangsung positif dan konstruktif, dan Iran siap untuk pemulihan hubungan kapan saja. Dia menilai Riyadh menginginkan dialog mengenai berbagai isu regional, namun berfokus pada hubungan bilateral.

Abdullahian menambahkan bahwa perwakilan Iran untuk Organisasi Kerjasama Islam (OKI) akan kembali ke markas besarnya di kota Jeddah, Arab Saudi, dalam beberapa hari mendatang. “Ini adalah satu langkah positif,” katanya.

Dia melanjutkan, “Kami meyakini penting dialog regional secara meluas dan mencakup Saudi, Mesir dan Turki untuk penyelesaikan problematika kawasan.”

Arab Saudi dan Iran sejauh ini telah mengadakan empat putaran pembicaraan di Baghdad, ibu kota Irak, mengenai normalisasi hubungan dan mekanisme penyelesaian perselisihan.  Diperkirakan bahwa Baghdad masih akan menjadi tuan rumah putaran dialog selanjutnya.

Menanggapi ancaman Israel terhadap Iran, Abdollahian menyebut ancaman demikian bukanlah hal baru, dan menilai Israel tidak dalam posisi yang sanggup menepati ancaman serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

Pada tahun 2020, empat negara Arab, yaitu UEA, Bahrain, Sudan dan Maroko menjalin kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel, di tengah upaya pejabat Israel untuk memasukkan Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya dalam kelompok negara-negara Arab penormalisasi hubungan dengan Israel, yang juga mencakup Mesir dan Yordania.

Normalisasi itu, selain dikecam keras oleh pihak-pihak Palestina, juga dikutuk oleh Iran, yang dipandang Israel sebagai musuh terbesarnya di Timur Tengah. (alalam/raialyoum)

Empat Rudal Guncang Pangkalan Militer AS di Suriah

Komplek ladang gas alam Conoco, yang digunakan oleh pasukan pendudukan Amerika Serikat (AS) sebagai pangkalan militer ilegalnya di Suriah timut, menjadi sasaran serangan rudal dari arah yang tidak diketahui pada hari Kamis (6/1).

Dikutip lembaga pemberitaan Awqat Al-Sham, sumber lokal di Deir Ezzor mengkonfirmasi bahwa pangkalan ilegal AS itu diserang dengan empat rudal, yang suara ledakannya terdengar di daerah sekitarnya. Namun demikian, tak ada informasi mengenai dampak serangan tersebut.

“Pemboman itu disusul dengan pengerahan pasukan AS secara besar-besaran di kawasan sekitar, terlihat penyebaran tentara AS di sekitar pangkalan, di tengah penerbangan intensif helikopter dan jet tempur di langit angkasa, hingga menyebabkan kepanikan di tengah penduduk desa dan kota yang tinggal di pinggiran dan sekitar ladang gas itu, terutama setelah jet-jet tempur memecah dinding suara saat terbang di ketinggian yang relatif rendah,” ungkap sumber itu.

Sumber itu menambahkan, “Suasana di daerah itu masih tegang, karena sejumlah besar pria bersenjata SDF (pasukan Kurdi) yang loyal kepada tentara AS juga dikerahkan, pos-pos pemeriksaan didirikan untuk mereka di daerah Al-Izba dan Al-Maamal, utara Deir ez-Zor, dan dilakukan pengawasan ketat terhadap para pemuda setempat.”

Serangan tersebut tercatat sebagai yang keempat kalinya terhadap pangkalan militer AS di wilayah provinsi Deir ez-Zor sejak awal tahun baru 2022.

Komplek ladang gas Conoco, 20 km timur laut kota Deir ez-Zor, adalah ladang gas terbesar di Suriah. Komplek ini dibangun pada tahun 2005 di bawah kontrak antara Perusahaan Gas Suriah dan perusahaan AS ConocoPhillips. (alalam)