Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 6 September 2019

aliansi saudi dan drone yamanJakarta, ICMES. Pasukan koalisi Arab Saudi-UEA menyatakan pihaknya telah memperlihatkan kepada dua pejabat Amerika Serikat (AS) serpihan “senjata Iran” yang digunakan oleh kelompok Ansarullah (Houthi) di Yaman.

Saudi mengungkapkan kekecawaan dan kecamannya terhadap keretakan dan konflik di tubuh kelompok-kelompok bersenjata di Yaman selatan yang didukungnya sendiri bersama Uni Emirat Arab (UEA) dalam perang melawan pasukan Ansarullah (Houthi).

Belasan lembaga swadaya masyarakat (LSM) menyerukan kepada pemerintah Perancis untuk segera berhenti menjual senjata kepada Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, menyusul laporan terbaru PBB mengenai buruknya situasi kemanusian di Yaman.

Pejabat lokal Irak di provinsi Anbar mengungkap kedatangan konvoi besar militer AS dari wilayah Yordania menuju Pangkalan Ain al-Assad, Irak.

Berita selengkapnya:

Koalisi Saudi-UEA Laporkan Keberadaan “Senjata Iran” di Yaman Kepada AS

Pasukan koalisi Arab Saudi-UEA menyatakan pihaknya telah memperlihatkan kepada dua pejabat Amerika Serikat (AS) serpihan “senjata Iran” yang digunakan oleh kelompok Ansarullah (Houthi) di Yaman.

Hal itu dinyatakan dalam statemen pasukan koalisi yang dirilis usai sebuah pertemuan yang dihadiri oleh Asisten Menteri Luar Negeri AS Urusan Timur Dekat, David Schenker, Asisten Wakil Menteri Luar Negeri AS Urusan Teluk Persia Timothy Lenderking, dan wakil pasukan koalisi, Abdullah al-Ghamdi,  Kamis (5/9/2019).

Statemen itu menjelaskan bahwa dua pejabat AS itu telah meninjau tempat “serpihan senjata Iran yang diselundupkan oleh Houthi dan digunakan dalam aksi permusuhan dan teror.”

Hingga berita ini disusun belum ada tanggapan dari Iran terkait dengan tudingan tersebut.

Beberapa waktu lalu, Schenker dalam jumpa pers di Riyadh menyatakan, “Washington melakukan pembicaraan dengan Houthi dengan tujuan mengadakan solusi yang dapat diterima oleh kedua pihak yang berkonflik di Yaman.”

Perang Yaman telah memasuki tahun kelima antara pasukan presiden tersingkir Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi yang dibantu pasukan koalisi Saudi-UEA di satu pihak dan pasukan Ansarullah, yang menguasai Sanaa, ibu kota Yaman, dan beberapa provinsi sejak September 2014, di pihak lain.

Pasukan koalisi Saudi-UEA mulai terlibat langsung dengan melancarkan serangan udara ke Yaman sejak Maret 2015. Sejak itu sedikitnya belasan ribu orang yang sebagian besar warga sipil terbunuh, puluhan ribu lainnya terluka, dan situasi kemanusiaan memburuk hingga ke level, yang menurut PBB, bahkan terparah di dunia dalam beberapa dekade terakhir. (alalam)

Saudi Mengecam Keras Eskalasi Militer di Aden

Kerajaan Arab Saudi mengungkapkan kekecawaan dan kecamannya terhadap keretakan dan konflik di tubuh kelompok-kelompok bersenjata di Yaman selatan yang didukungnya sendiri bersama Uni Emirat Arab (UEA) dalam perang melawan pasukan Ansarullah (Houthi).

Dalam statemen terbarunya mengenai perkembangan situasi di Yaman selatan, Kamis (5/9/2019), Riyadh menyudutkan pasukan al-Hizam al-Amni (Sabuk Pengaman), yang didukung oleh UEA, dengan menyerukan supaya semua kamp militer, markas, dan institusi militer maupun sipil diserahkan kepada “pemerintahan yang sah” dan meminta kedua pihak secepatnya berdialog.

Saudi menyatakan “prihatin atas terjadinya fitnah di antara para saudara di Yaman” dan menekankan “keharusan komitmen penuh, segera, dan tanpa syarat untuk penghentian kontak senjata, penerapan gencatan senjata, dan pencegahan segala bentuk pelanggaran dan tindakan yang mengusik kehidupan bangsa Yaman.”

Saudi mengingatkan bahwa konflik sesama mereka tidak akan menguntungkan siapapun “kecuali milisi teroris Houthi yang didukung Iran, dan organisasi-organisasi lain yang direpresentasi oleh ISIS dan Al-Qaeda.”

Pemerintah Riyadh kemudian menegaskan kesolidan sikapnya bahwa di Yaman hanya ada satu pemerintahan yang sah, yaitu pemerintahan Abd Rabbuh Mansour Hadi, sehingga tidak boleh ada upaya apapun untuk “menciptakan realitas baru di Yaman dengan menggunakan kekuatan ataupun ancaman terhadapnya”.

Saudi menyatakan “kesiapan membantu pihak yang menderita kerugian akibat fitnah ini, dan andil dalam mengobati para korban luka demi meringankan penderitaan mereka”.

Pasukan loyalis Mansour Hadi yang didukung Saudi dan pasukan al-Hizam al-Amni belakangan ini terlibat perang secara lebih terbuka yang bahkan melibatkan jet tempur UEA. Dalam perkembangan terbaru, kedua pihak mengerahkan kekuatan masing-masing di Aden dan daerah sekitarnya untuk kemungkinan bertempur lagi antara kedua secara lebih sengit. (raialyoum)

Menyusul Laporan PBB Tentang Yaman, Perancis Kembali Diseru Berhenti Jual Senjata ke Saudi

Sebanyak 17 lembaga swadaya masyarakat (LSM) menyerukan kepada pemerintah Perancis untuk segera berhenti menjual senjata kepada Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), menyusul laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai buruknya situasi kemanusian di Yaman akibat serangan udara aliansi Saudi-UEA.

Lembaga-lembaga peduli kemanusiaan dan HAM itu menyatakan “kembali menyampaikan seruannya dengan bertolak dari dua peristiwa krusial yang terjadi pada pekan ini.”

Mereka menjelaskan bahwa “pada hari Minggu telah terbunuh lebih dari 100 tawanan akibat serangan udara” di Dhamar di bagian barat Yaman, dan bahwa “dalam laporan yang dirilis Selasa oleh para ahli di PBB mengenai Yaman telah diungkap kebrutalan serangan terhadap warga sipil di Yaman serta keharusan sejumlah negara, termasuk Perancis, berhenti menutrisi konflik dengan suplai senjata.”

Tim ahli yang dibentuk oleh Dewan HAM PBB (UNHRC) pada 2017 dalam laporan terbaru menyebutkan terjadinya “sejumlah kejahatan perang” di Yaman sejak tahun 2014. Tim ini meminta masyarakat internasional tidak melakukan suplai senjata yang dapat digunakan dalam perang di Yaman.

Pada Juni lalu pemerintah Inggris menangguhkan penjualan senjata yang dapat digunakan di Yaman setelah Pengadilan Banding Inggris melarang penjualan senjata.

Berbagai LSM menyerukan kepada Perancis agar mengikuti jejak pemerintah Inggris dengan menghentikan penjualan senjata kepada Saudi dan UEA. (raialyoum)

Pejabat Irak Ungkap Kedatangan Konvoi Militer Besar AS dari Yordania ke Irak

Pejabat lokal Irak di provinsi Anbar di bagian barat negara ini mengungkap kedatangan konvoi besar militer AS yang terdiri 108 kendaraan yang mengangkut berbagai jenis perlengkapan perang dari wilayah Yordania menuju Pangkalan Ain al-Assad, Irak, melalui pintu perbatasan Turaibil.

Pejabat yang meminta identitasnya dirahasiakan itu mengatakan, “Konvoi itu disertai oleh perusahaan jasa keamanan yang disebut Al-Tawoos Kingdom dan kedatangannya terjadi bersamaan dengan penerbangan jet tempur AS secara intensif untuk pengamanan konvoi.”

Meski demikian, pejabat itu mengaku tidak mengetahui alasan kedatangan konvoi militer AS secara mencolok itu.

“Proses pemindahan perlengkapan militer AS dari wilayah Yordania ke pangkalan udara Ain al-Assad tidak jelas motifnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Para komandan keamanan (Irak) yang mengawasi jalur barat provinsi ini tidak memiliki informasi apapun mengenai pemindahan perlengkapan itu, dan tindakan ini sepertinya tidak jelas tujuannya.” (alalam)