Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 6 Agustus 2021

ebrahim raisi dan ayatullah khameneiJakarta, ICMES. Presiden baru Iran Sayid Ebrahim Raisi dalam kata sambutan usai upacara pengangkatan sumpah di gedung parlemen Iran, Majelis Syura Islam, menekankan penyelesaian krisis regional melalui “dialog sejati” antarnegara regional.

Juru Bicara Kemlu Iran Saeed Khatibzadeh menanggapi ancaman Rezim Zionis Israel dengan memperingatkan untuk tidak mencoba “menguji” Iran, karena segala “tindakan bodoh” Israel terhadap Iran akan segera mendapat respon tegas.

Pemerintah AS mendesak Presiden baru Iran Sayid Ebrahim Raisi agar kembali ke perundingan untuk pemulihan kesepakatan nuklir Rencana Aksi Komprehesif Bersama (JCPOA).

Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz menyebut Iran sebagai “masalah global dan regional” dan menyatakan militer Zionis siap menindak negara republik Islam tersebut.

Berita Selengkapnya:

Presiden Baru Iran Sayid Ebrahim Raisi: Kami Julurkan Tangan kepada Negara-Negara Jiran

Presiden baru Iran Sayid Ebrahim Raisi dalam kata sambutan usai upacara pengangkatan sumpah di gedung parlemen Iran, Majelis Syura Islam, menekankan penyelesaian krisis regional melalui “dialog sejati” antarnegara regional.

“Kami menjulurkan tangan persahabatan kepada segenap negara regional, terutama jiran,” ungkapnya dihadapan para anggota Majelis Syura Islam, para petinggi militer, Ketua Mahkamah Agung Hujjatul Islam Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i serta puluhan delegasi dari luar negeri, Kamis (5/8).

Raisi mengatakan, “Penguatan pasukan Iranlah yang akan menyediakan keamanan dan stabilitas di kawasan, dan menjadi pembendung di depan kekuatan-kekuatan arogan… Krisis regional hendaknya diselesaikan melalui dialog sejati antarnegara regional.”

Dia juga menegaskan negaranya akan terus berpihak kepada kaum tertindas di manapun.

“Kami bersama orang yang tertindas di manapun, di Suriah, Palestina, Afrika, atau Yaman,” ujarnya.

Presiden Raisi memastikan campurtangan asing di kawasan Timur Tengah tak akan dapat menyelesaikan masalah, “karena justru merupakan masalah itu sendiri”.

Menyinggung permusuhan AS terhadap Iran, dia menekankan keharusan negara arogan itu mencabut sanksinya terhadap Iran.

“Kebijakan tekanan dan boikot tak akan pernah dapat mengalihkan bangsa Iran dari tuntutan akan haknya yang sah, termasuk di bidang sains,” imbuhnya.

Mengenai proyek nuklir Iran, presiden berserban hitam sebagai pertanda bahwa dia adalah seorang “sayyid” atau “habib” (keturunan Nabi Muhammad saw) ini mengatakan, “Program nuklir Iran bertujuan damai, dan senjata nuklir secara syariat hukumnya haram dalam akidah kami.”

Raisi juga menekankan bahwa revolusi Islam Iran yang dipelopori oleh Imam Khomaini telah membuka babak baru kebebasan dan demokrasi di negara ini, dan kehendak bangsa Iran sudah mengkristal untuk melanjutkan proses revolusi ini dan mengelola negara di jalur kebebasan, keadilan dan pembangunan, dan oleh sebab itu dia mengaku bangga “menjadi pelayan bagi rakyat Iran”. (alalam)

Kepada Israel, Kemlu Iran: Jangan Coba Menguji Kemampuan Perang Iran

Juru Bicara Kemlu Iran Saeed Khatibzadeh menanggapi ancaman Rezim Zionis Israel dengan memperingatkan untuk tidak mencoba “menguji” Iran, karena segala “tindakan bodoh” Israel terhadap Iran akan segera mendapat respon tegas.

“Rezim Israel baru saja melakukan pelanggaran terbuka terhadap undang-undang internasional, tapi sekarang malah tanpa malu-malu mengancam Iran dengan tindakan militer. Perilaku keji ini berpangkal dari dukungan buta Barat,” ungkap Khatibzadeh di Twitter, Kamis (5/8).

Dia menambahkan, “Kami umumkan secara gambang bahwa segala bentuk tindakan bodoh terhadap Iran akan mendapat respon tegas. Jangan menguji kami.”

Jubir Kemlu Iran sebelumnya juga telah menyebut insiden-insiden keamanan yang terjadi belakangan ini secara beruntun di Teluk Persia sebagai gelagat “mencurigakan”, dan memperingatkan kepada semua pihak terkait untuk tidak mencoba membuat “atmosfir palsu untuk tujuan-tujuan politik tertentu”.

Seperti diketahui, Israel dan sejumlah negara Barat, terutama AS dan Inggris, menuduh Iran berada di balik serangan terhadap kapal tanker minyak Israel yang terjadi pada akhir pekan lalu. Rencananya, hari Jumat ini (6/8), mereka akan membahas serangan itu di sebuah pertemuan tertutup.

Zahra Ershadi, Asisten Wakil Tetap Iran di PBB, melayangkan surat kepada Ketua Dewan Keamanan PBB ihwal provokasi para pejabat Zionis terhadap Iran, dan memperingatkan implikasi berbahaya “petualangan dan perhitungan” Israel dan negara-negara pendukungnya.

Di Iran sendiri, pasukan elit Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan pihaknya siap memberikan respon “telak, menghancurkan dan menjerakan” terhadap segala bentuk serangan dari musuh-musuh Iran. (fna)

Kepada Presiden Baru Iran, AS: Gunakan Kesempatan Diplomasi yang Tersedia Sekarang

Pemerintah AS mendesak Presiden baru Iran Sayid Ebrahim Raisi agar kembali ke perundingan untuk pemulihan kesepakatan nuklir Rencana Aksi Komprehesif Bersama (JCPOA).

Iran telah bernegosiasi dengan beberapa negara terkemuka dunia untuk menghidupkan kembali kesepakatan yang ditinggalkan secara sepihak pada 2018 oleh Presiden AS Donald Trump, yang mengklaim perjanjian itu tidak efektif, dan kemudian menerapkan kebijakan garis keras terhadap Teheran.

Pembicaraan multilateral di Wina itu ditangguhkan pada 20 Juni sambil menunggu hasil pilpres Iran yang dimenangkan Raisi.

Juru bicara Kemlu AS Ned Price kepada wartawan di Washington, DC, Kamis (5/8), mengatakan,”Pesan kami kepada Presiden Raisi sama dengan pesan kami kepada para pendahulunya … AS akan membela dan memajukan kepentingan keamanan nasional kami dan kepentingan mitra kami.”

Sembari memperingatkan bahwa jendela untuk diplomasi tidak akan selamanya terbuka, Price menambahkan, “Kami berharap Iran mengambil kesempatan sekarang untuk memajukan solusi diplomatik.”

Pesan ini disampaikan ketika tensi ketegangan antara Iran dan Israel yang didukung AS dan Inggris meningkat  drastis dalam beberapa hari terakhir menyusul peristiwa serangan terhadap kapal tanker minyak Israel Mercer Street di Laut Oman yang menewaskan dua orang awaknya.

AS, Inggris, dan Israel menyalahkan Iran atas serangan yang dilaporkan menggunakan pesawat nirawak  tersebut, namun Iran membantah dugaan terlibat di baliknya. (raialyoum)

Israel Mengaku Siap Menyerang Iran

Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz menyebut Iran sebagai “masalah global dan regional” dan menyatakan militer Zionis siap menindak negara republik Islam tersebut.

Gantz melontarkan pernyataan panas itu ketika ketegangan kian meningkat di Timur Tengah menyusul serangan drone mematikan terhadap sebuah kapal tanker Israel, Mercer Street, di lepas pantai Oman pada pekan lalu.

Tanpa memberikan rincian, Israel mengaku telah menyodorkan “bukti kuat” kepada para sekutunya bahwa Iran berada di balik serangan tersebut.

AS dan Inggris juga menyalahkan Iran dan bersumbar akan menanggapi serangan yang menewaskan dua orang  awak kapal tersebut, masing-masing berkewarganegaraan Inggris dan Rumania.

Iran menepis keras tuduhan itu sembari memastikan akan memberikan respon telak dan menjerakan jika negara lain memutuskan untuk menyerang kepentingannya.

Dalam wawancara yang disiarkan di situs media lokal Israel, Ynet, Kamis (5/8), Gantz menjawab “ya” ketika apakah Israel siap untuk menyerang Iran.

Dia mengatakan Israel siap terlibat dalam konflik “multi-front” yang mungkin mencakup Iran.

“Iran adalah masalah global dan regional serta tantangan bagi Israel,” kata Gantz.

Dia juga mengatakan, “Kami perlu terus mengembangkan kemampuan kami untuk mengatasi berbagai bidang, karena ini adalah masa depan,” tambahnya.

Di hari yang sama, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh menyebut ancaman militer Israel sebagai “pelanggaran berani lagi terhadap hukum internasional”.

Khatibzadeh di Twitter menegaskan, “Kami menyatakan ini dengan jelas: Setiap tindakan bodoh terhadap Iran akan mendapat tanggapan yang tegas. Jangan uji kami.”

Sehari sebelumnya, Panglima Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami menegaskan bahwa pasukan elit Iran ini siap meladeni serangan negara-negara musuhnya dengan respon yang telak dan menjerakan. (aljazeera)