Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 4 Oktober 2019

kerusuhan irak 0kt 2019Jakarta, ICMES. Perdana Menteri Irak Adil Abdul-Mahdi memastikan adanya kelompok-kelompok perusuh yang menyusup dalam unjuk rasa dengan membawa slogan-slogan yang mengancam ketertiban umum hingga menyebabkan jatuhnya korban dari pihak pengunjuk rasa maupun aparat keamanan.

Suasana di Baghdad, ibu kota Irak, dan beberapa kota lain di Negeri 1001 Malam ini kembali tenang setelah pemerintah menerapkan jam malam menyusul gelombang demonstrasi yang telah menjatuhkan sejumlah korban jiwa dan luka.

Ansarullah menegaskan bahwa rakyat Yaman serius mengharapkan terwujudnya perdamaian, namun operasi militer Yaman melawan pasukan koalisi Arab Saudi-Uni Emirat Arab (UEA) akan dilanjutkan jika koalisi itu tetap mengabaikan semua inisiatif Yaman untuk perdamaian.

Presiden Rusia Vladimir Putin meminta Republik Islam Iran dan Kerajaan Arab Saudi tidak menjadikan Suriah sebagai jembatan untuk berkonfrontasi dengan negara-negara lain di kawasan sekitar.

Berita selengkapnya:

AS Bermain di Balik Kerusuhan Irak

Dewan Keamanan Nasional Irak, Kamis (04/10/2019), mengadakan rapat darurat untuk membahas gelombang unjuk rasa rusuh yang terjadi di Irak pada Selasa dan Rabu lalu.

Perdana Menteri Irak Adil Abdul-Mahdi memastikan adanya kelompok-kelompok perusuh yang menyusup dalam unjuk rasa dengan membawa slogan-slogan yang mengancam ketertiban umum hingga menyebabkan jatuhnya korban dari pihak pengunjuk rasa maupun aparat keamanan.

Beberapa narasumber di Irak menyatakan bahwa massa perusuh digerakkan oleh situs-situs media sosial yang didanai oleh AS yang sedang kecewa terhadap kunjungan Abdul-Mahdi ke Cina dan penekenan sejumlah perjanjian senilai miliaran dolar untuk pemulihan kondisi ekonomi Irak.

Adil Abdul Mahdi yang memimpin rapat tersebut menyatakan bahwa pemerintah sudah memulai penyelidikan secara profesional untuk memastikan motif di balik insiden kerusuhan. Dia mengisyaratkan adanya kelompok-kelompok sabotase yang mengangkat slogan-slogan yang mengancam ketertiban umum dan perdamaian sipil hingga terjadi kerusuhan berdarah.

Gelombang demonstrasi melanda sejumlah kota Irak, terutama di wilayah selatan negara ini, namun tidak ada pihak yang mengaku bertanggungjawab sebagai penggeraknya.

Menteri Pertahanan Irak Najah al-Shammari menginstuksikan status siaga, penutupan semua gerbang kawasan Khadra di pusat kota Baghdad, penyebaran pasukan reaksi cepat di jalan-jalan kota, terutama di Jalan Abu Nawas di dekat alun-alun al-Tahrir.

Berbagai keterangan yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa dalam unjuk rasa itu juga diangkat isu-isu yang menjurus pada ado domba antara Irak dan Iran, terutama  menjelang peringatan akbar Arba’in Husaini, yaitu peringatan 40 hari kesyahidan cucunda Nabi saw, Imam Husain ra. (alalam)

Jam Malam Diterapkan, Suasana Irak Berangsur Kondusif

Suasana di Baghdad, ibu kota Irak, dan beberapa kota lain di Negeri 1001 Malam ini kembali tenang setelah pemerintah menerapkan jam malam menyusul gelombang demonstrasi yang telah menjatuhkan sejumlah korban jiwa dan luka.

Presiden Irak Barham Salih menyatakan bahwa pimpinan kepresidenan, pemerintahan, dan parlemen serta para petinggi politik di negara ini dalam rapatnya, Kamis (4/10/2019), telah bersepakat mengenai urgensi percepatan penyelidikan atas demonstrasi yang terjadi selama dua hari berturut-turut.

Salih menambahkan bahwa para peserta rapat sepakat mengutamakan kesabaran dan pengindahan undang-undang serta mencegah penggunaan kekuatan secara berlebihan dalam penanganan unjuk rasa, sebagaimana mereka juga sama-sama menekankan tanggungjawab konstitusional dan sosial dalam menghadapi para penyusup yang sengaja menyasar keamanan publik.

Baghdad dan sejumlah kota lain di wilayah selatan negara ini dilanda gelombang unjuk rasa besar yang sebagian di antaranya berubah menjadi kerusuhan berdarah. Massa meneriakkan tuntutan penyingkiran para koruptor dan penyediaan lapangan kerja bagi para pemuda.

Pada Kamis kemarin pasukan khusus mengerahkan mobil-mobil lapis baja untuk mencegah kerumunan. Pemerintah Irak menerapkan jam malam sejak Kamis pagi hingga pemberitahuan selanjutnya. (alalam/raialyoum)

Ansarullah Yaman Ancam Lanjutkan Operasi Militer Melawan Koalisi Saudi-Emirat

Anggota Dewan Tinggi Politik Yaman, Mohammad Ali al-Houthi, menegaskan bahwa rakyat Yaman serius mengharapkan terwujudnya perdamaian, namun operasi militer Yaman melawan pasukan koalisi Arab Saudi-Uni Emirat Arab (UEA) akan dilanjutkan jika koalisi itu tetap mengabaikan semua inisiatif Yaman untuk perdamaian.

“Kelambanan dalam memulai proses politik untuk mengawal initisiatif pendahuluan akan membuat pemahaman negara-negara agresor keliru dan seolah itu adalah hasil kondisi lemah,” ungkap al-Houthi, seperti dilansir saluran TV al-Masirah milik Ansarullah, Kamis (3/10/2019).

Menurut al-Masirah, dalam pertemuan Rabu lalu Ansarullah telah mengimbau Utusan Khusus PBB untuk Yaman Martin Griffiths agar mempertimbangkan perkembangan situasi di lapangan, yang membuat Yaman mendapat skala perhatian atas kondisi kemanusiaannya yang parah, serta data-data ihwal Hudaydah yang membuatnya kondusif untuk perdamaian dan menjadi kesempatan besar bagi negara-negara koalisi Arab.

Ansarullah menolak tuntutan de-eskalasi pasukan koalisi terhadap Ansarullah sementara pihak koalisi sendiri masih melanjutkan operasi serangan udaranya di sejumlah provinsi Yaman dan masih pula melakukan pergerakan di sejumlah front.

Ansarullah mendesak PBB agar bergerak membenahi situasi kemanusiaan di kawasan al-Duraihimi dan lain-lain serta mengupayakan pembebasan tentara Yaman dan para pejuang Ansarullah yang tertawan. (raialyoum)

Putin Minta Iran dan Saudi Tidak Jadikan Suriah Ajang Konfrontasi

Presiden Rusia Vladimir Putin meminta Republik Islam Iran dan Kerajaan Arab Saudi tidak menjadikan Suriah sebagai jembatan untuk berkonfrontasi dengan negara-negara lain di kawasan sekitar.

Dalam sidang umum Klub Valday, sebuah forum kajian Rusia, di Moskow, Kamis (3/10/2019), mengatakan, “Konfrontasi antarnegara besar dan paling berpengaruh di kawasan, konfrontasi ini tidak tidak mungkin tidak berpengaruh di belahan kawasan dunia ini, termasuk keadaan di Suriah.”

Menurut Putin, para pemimpin Saudi maupun Iran pada prinsipnya sama-sama menghendaki kebaikan dan perdamaian untuk rakyat Suriah.

Dia kemudian mengimbau, “Kami mengajak kepada keduanya untuk bertolak dari prinsip ini, dan melakukan segala yang memungkinkan untuk tidak menggunakan wilayah Suriah sebagai jembatan untuk konfrontasi antara keduanya.”

Dia mengaku berharap tersedianya “kemungkinan untuk kerjasama, alih-alih konfrontasi”, dan terdapat “motivasi-mativasi lain yang mendorong perubahan situasi kontemporer dalam hubungan antara Saudi dan Iran, dan peralihan dari konfrontasi menuju kerjasama.”

Presiden Rusia menambahkan bahwa Iran dan Saudi “terkadang menghadapi tantangan kolektif berupa radikalisme dan terorisme” dan memiliki pula “tujuan-tujuan kolektif terkait dengan pembangunan”.

Putin lantas menegaskan, “Rusia hanya berkemungkinan andil dalam upaya mengatasi perselisihan antara keduanya, tapi keputusan kembali kepada Saudi dan Iran.” (sputnik)