Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 4 Desember 2020

rouhani dan erdogan2Jakarta, ICMES. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengutuk pembunuhan ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh dan menyebut aksi itu bertujuan mengacaukan keamanan regional.

Pemerintah Pakistan menyatakan belasungkawa atas tragedi pembunuhan ilmuwan Iran Muhsen Fakhrizadeh dalam sebuah serangan misterius yang Israel diduga sebagai dalangnya.

Mantan kepala intelijen Arab Saudi Pangeran Turki Al-Faisal menyatakan bahwa negaranya tidak sedang bersiap untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, dan bahwa kredibilitas Arab Saudi “jauh lebih tinggi” dibandingkan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Berita Selengkapnya:

Erdogan: Pembunuhan Ilmuwan Iran Bertujuan Mengacaukan Keamanan Regional

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengutuk pembunuhan ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh dan menyebut aksi itu bertujuan mengacaukan keamanan regional.

Direktorat Komunikasi Turki dalam sebuah pernyataannya, Kamis (3/12/2020), menyebutkan bahwa dalam kontak telefon dengan sejawat Presiden Iran, Hassan Rouhani, Erdogan mengekspresikan kesedihan yang mendalam atas gugurnya Fakhrizadeh, dan menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Iran dan keluarga ilmuwan.

Erdogan mengatakan, “Teror terhadap Fakhrizadeh mengincar perdamaian di kawasan, dan saya yakin harapan pihak-pihak pelaku kejahatan itu untuk dapat mengacaukan stabilitas dan keamanan di kawasan kembali tidak akan terwujud.”

Fakhrizadeh dibunuh secara misterius dan tanpa ada pelaku yang terdeteksi di tempat kejadian pada hari Jumat pekan lalu, dan dengan demikian fisikawan itu menjadi ilmuwan nuklir Iran kelima yang dibunuh oleh musuh Iran sejak tahun 2010.

Berbagai negara, termasuk Inggris dan Rusia serta Bahrain dan Uni Emirat Arab, turut mengecam serangan teror tersebut.

Dalam percakapan telefon itu, Erdogan dan Rouhani juga membicarakan upaya penguatan kerjasama bilateral dan regional.

Erdogan juga menyinggung kesepakatan gencatan senjata di Karabakh antara Azerbaijan dan Armenia, dan menekankan bahwa segala tindakan yang mengancam integritas wilayah Azerbaijan harus dihindari.

Menurutnya, kesepakatan itu sangat penting bagi keamanan dan perdamaian di kawasan itu serta merupakan baru bagi semua negara regional, termasuk Armenia sendiri.

Di pihak lain, Presiden Hassan Rouhani mengapresiasi kecaman Ankara  dan menyebut pembunuhan ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh sebagai kejahatan besar yang justru menandakan kelicikan musuh Iran setelah tak berdaya menyaksikan pesatnya gerakan sains para ilmuwan Iran.

“Jelas bagi kami metode yang digunakan dalam pembunuhan ini dan oleh siapa itu dilakukan,” ujar Rouhani.

Rouhani mengatakan bahwa Fakhrizadeh telah menghabiskan banyak waktunya dalam beberapa bulan terakhir untuk menanggulangi pandemi Covid-19, dan telah melakukan penelitian untuk membuat peralatan diagnostik untuk penyakit tersebut.

Karena itu, Rouhani menambahkan bahwa pembunuhan ilmuwan Iran itu merupakan kejahatan besar dan tindakan tidak manusiawi. (fna/anadolu/irna)

Kecam Pembunuhan Ilmuwan Iran, Pakistan Berharap Tak Terjadi Eskalasi Ketegangan

Pemerintah Pakistan menyatakan belasungkawa atas tragedi pembunuhan ilmuwan Iran Muhsen Fakhrizadeh dalam sebuah serangan misterius yang Israel diduga sebagai dalangnya.

Juru bicara Kementerian Luar negeri Pakistan Zahid Hafeez Chaudhri dalam jumpa pers mingguan di Islamabad, Kamis (3/12/2020), mengatakan, “Kami menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada anggota keluarga Tuan Fakhrizadeh dan kepada rakyat Iran.”

Dia menambahkan, “Pakistan sangat mendesak semua pihak untuk menahan diri secara maksimal dan menghindari eskalasi ketegangan lebih lanjut di kawasan.”

Mohsen Fakhrizadeh, Kepala Organisasi Riset dan Inovasi Kementerian Pertahanan, dibunuh oleh teroris dalam serangan di daerah Damavand di dekat Teheran, ibu kota Iran, pada Jumat pekan lalu.

Menanggapi sebuah pertanyaan dalam jumpa pers tersebut Chaudhri mengatakan bahwa ketegangan di kawasan perlu diturunkan.

“Kami selalu memainkan peran dalam peningkatan hubungan antara Iran dan Arab Saudi, dan Perdana Menteri Imran Khan pun telah menawarkan jasa baiknya dalam hal ini,” lanjutnya.

Dia juga mengatakan, “Kami tetap berkomitmen untuk perdamaian di kawasan, dan upaya kami untuk mengurangi ketegangan serta menjaga persatuan di antara umat Muslim akan terus berlanjut.”

Ditanya mengenai proyek nuklir Iran dia mengatakan, “Kami percaya kebijakan keterlibatan dengan Iran harus lebih diutamakan daripada sanksi apapun, dan itulah mengapa kami mendukung JCPOA”.

JCPOA adalah nama untuk perjanjian nuklir Iran dengan beberapa negara terkemuka dunia, termasuk Amerika Serikat (AS), yang diteken pada tahun 2015, namun AS di bawah kepresidenan Donald Trump mengkhianati perjanjian itu dengan keluar darinya dan kemudian kembali menerapkan sanksi berat terhadap Iran.

Juru bicara Kementerian Luar negeri Pakistan menyebut JCPOA mewakili contoh yang baik tentang bagaimana masalah sulit dapat diatasi melalui keterlibatan diplomatik dan negosiasi.

“Semua pihak dalam JCPOA harus mematuhi komitmen yang dibuat berdasarkan perjanjian,” pungkasnya. (irna)

Mantan Kepala Intelijen Saudi Nyatakan NegaranyaTak Berencana Normalisasi Hubungan dengan Israel

Mantan kepala intelijen Arab Saudi Pangeran Turki Al-Faisal menyatakan bahwa negaranya tidak sedang bersiap untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, dan bahwa kredibilitas Arab Saudi “jauh lebih tinggi” dibandingkan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Al-Faisal berkomentar demikian dalam wawancara dengan CNN, Kamis (3/12/2020), sebagai tanggapan atas laporan-laporan yang bersumber dari Israel mengenai adanya pertemuan terselubung Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dengan Netanyahu belum lama ini.

“Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, membantah sepenuhnya, dan sayangnya media mengikuti apa yang dikeluarkan dari Israel dan tidak mengikuti apa yang dikeluarkan dari Kerajaan (Saudi),” ujarnya.

Dia menambahkan, “Kerajaan menyangkal ini dan saya pikir kredibilitas Kerajaan harus jauh lebih tinggi daripada kredibilitas orang seperti Netanyahu, orang yang di negaranya dituduh telah berbohong kepada orang-orang Israel dalam beberapa hal, jadi bagaimana mereka bisa mempercayai seorang pembohong dan tidak percaya kepada orang yang jujur dalam semua publikasi sebelumnya.”

Menanggapi pertanyaan apakah ada persiapan normalisasi antara Arab Saudi dan Israel, Al-Faisal mengatakan, “Tidak ada persiapan apa-apa. Kerajaan memiliki pendirian yang tetap, dan Raja pun dalam pidatonya kepada Majelis Permusyawaratan telah menyebutkan bahwa masalah Palestina adalah masalah pertama Kerajaan, dan bahwa Kerajaan konsisten kepada Inisiatif Arab untuk Perdamaian.”

Beberapa waktu lalu, berbagai media dan bahkan sejumlah pejabat Israel melaporkan bahwa Netanyahu diam-diam berkunjung ke kota Neom, Arab Saudi, untuk mengikuti pertemuan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dengan Mohamed bin Salman sehingga rapat kabinet Netanyahu untuk membahas penanggulangan pandemi Covid-19 ditunda.  (raialyoum)