Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 31 Januari 2020

Palestinian demonstrators burn a crossed-out poster depicting U.S. President Trump during a protest against Bahrain's workshop for U.S. Middle East peace plan, in the southern Gaza StripJakarta, ICMES. Penasehat pemimpin besar Iran menyatakan bahwa prakarsa Presiden AS Donald Trump untuk perdamaian Timteng yang dinamai Perjanjian Abad Ini merupakan konspirasi yang bertujuan menuntaskan ambisi para Salibis dan Zionis.

AS sedang berupaya mengirimkan sistem rudal Patriot ke Irak setelah terjadi serangan rudal balistik Iran pada awal bulan ini, namun membutuhkan “izin” dari pemerintah Irak.

Pasukan pemerintah terus bergerak maju dan sudah mencapai daerah sekitar kota Saraqib di bagian timur laut Provinsi Idlib.

Ansarullah (Houthi) di Yaman menyatakan bahwa kemenangannya dalam pertempuran di kawasan Nahom merupakan bukti bahwa rakyat Yaman memiliki opsi di depan “agresi” musuh-musuhnya.

Berita selengkapnya:

Ali Velayati Sebut Perjanjian Abad Ini Bermuatan Salibis-Zionis

Penasehat pemimpin pesar Iran urusan politik luar negeri, Ali Akbar Velayati, menyatakan bahwa prakarsa Presiden AS Donald Trump untuk perdamaian Timteng yang dinamai Perjanjian Abad Ini merupakan konspirasi yang bertujuan menuntaskan ambisi para Salibis dan Zionis.

Velayati dalam jumpa pers di Teheran, Kamis (30/1/2020), menyebut prakarsa yang diumumkan oleh Trump pada Selasa lalu itu sebagai “proyek pelelangan dan pembagian tanah-tanah Islam”.

“Tujuan (Trump) tersembunyi dalam upaya merealisasikan impian para Salibis dan Zionis. Rencana ini akan gagal sebagaimana rencana-rencana agresif sebelumnya terhadap umat Islam,” tegas Velayati.

Menurutnya, prakarsa Trump itu sekarang justru menyebabkan orang-orang Palestina bersatu dan terjadi solidaritas pada mereka di level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dia kemudian memastikan bahwa Republik Islam Iran “tidak akan bungkam” dalam masalah ini, dan akan bertukar pikiran dengan negara-negara Arab “yang masih konsisten kepada urusan Palestina”.

“Bangsa Iran di bawah pemimpin besarnya (Ayatullah Ali Khamenei) memandang urusan Palestina sebagai orientasi Dunia Islam,” imbuhnya.

Perjanjian Abad Ini yang oleh Trump disebut sebagai “solusi realistis bagi kedua pihak” namun ditolak mentah-mentah oleh semua komponen Palestina mencanangkan pemberian beberapa konsesi kepada Israel, termasuk kedaulatan atas Lembah Yordania dan pengakuan atas Quds (Yerussalem) sebagai ibu kota Israel.

Republik Islam Iran pantang mengakui eksistensi Rezim Zionis Israel. Alih-alih menyebut prakarsa itu “Perjanjian Abad Ini”, kementerian luar negeri Iran pada Selasa lalu justru menyebutnya “Pengkhianatan Abad Ini”. (alalam)

AS Mengaku Sedang Menunggu Izin Pemerintah Irak untuk Pengerahan Rudal Patriot

AS sedang berupaya mengirimkan sistem rudal Patriot ke Irak setelah terjadi serangan rudal balistik Iran pada awal bulan ini, namun membutuhkan “izin” dari pemerintah Irak, demikian dikatakan Menteri Pertahanan Mark Esper, Kamis (30/1/2020).

Bersamaan dengan ini, Kepala Staf Gabungan Militer AS Jenderal Mark Milley mengkonfirmasi bahwa AS “bekerja dengan pemerintah Irak,” dengan “mekanisme” yang masih perlu diselesaikan.

Proses itu “sedang berlangsung,” ujarnya.

Belum lama ini Kementerian Pertahanan AS Pentagon merilis laporan baru bahwa korban cedera tentara AS akibat serangan rudal Iran pada 8 Januari bertambah dari 34 menjadi menjadi 50 orang dan bahwa mereka memerlukan perawatan untuk cedera otak traumatik.

Menanggapi laporan ini, Esper menyatakan bahwa Presiden Donald Trump sepenuhnya menyadari keseriusan cedera ini, dan berjanji akan memberi penjelasan singkat kepada Kongres soal ini di kemudian hari.

Serangan udara AS di dekat Bandara Internasional Baghdad pada dini hari tanggal 3 Januari 2020 telah menewaskan komandan Pasukan Quds IRGC Jenderal Qassem Soleimani dan wakil ketua pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, serta beberapa orang lain yang menyertai keduanya.

Pada dini hari Rabu 8 Januari 2020 IRGC membalas serangan AS itu dengan menembakkan belasan rudal balistiknya ke dua pangkalan militer AS di Irak, termasuk Lanud Ain Assad yang ditempati oleh sekira 1500 tentara AS.

IRGC mengklaim serangannya itu menewaskan 80 tentara AS, sementara Presiden AS Donald Trump semula mengklaim serangan balasan Iran itu tidak menjatuhkan korban tewas maupun luka, namun belakangan Pentagon secara resmi menyatakan 34 dan kemudian 50 tentara AS cidera .

Pada 10 Januari pemerintah Irak meminta pemerintah AS mengirim delegasi untuk membahas mekanisme penarikan pasukan dari Irak, namun AS menolaknya dan malah mengancam akan menerapkan embargo terhadap Irak jika Baghdad bersikeras menuntut pasukan AS keluar dari Irak.

Pada Jumat 23 Januari terjadi unjuk rasa jutaan rakyat Irak di Baghdad untuk menegaskan tuntutan mereka agar tentara AS angkat kaki dari Irak, dan setelah itu para pejuang Irak  kerap menyerang pasukan AS dan area komplek Kedutaan Besar AS di Zona Hijau di pusat Baghdad, ibu kota Irak. (amn/railalyoum)

Tentara Suriah Berada di Perbatasan Kawasan Saraqib

Lembaga Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) yang berafiliasi dengan kubu oposisi negara ini,  Kamis (30/1/2020), menyatakan pasukan pemerintah terus bergerak maju dan sudah mencapai daerah sekitar kota Saraqib di bagian timur laut Provinsi Idlib.

SOHR menyebutkan bahwa tentara Suriah sudah berada di lokasi yang hanya berjarak sekira 2 kilometer dari Saraqib setelah mereka menguasai daerah Tal Madrikh, Jubas, Hartamiyah, dan Qamhanah.

Tentara Suriah juga melanjutkan operasi militernya di bagian selatan Provinsi Idlib dan kini mencapai lokasi yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Saraqib setelah membebaskan kota strategis Maarat al-Nouman dan dua desa Maardabah dan Khan al-Subul dari pendudukan kelompok-kelompok militan bersenjata.

Sedangkan di bagian barat provinsi tersebut, tentara Suriah melanjutkan pergerakannya menuju kalur internasional setelah membebaskan beberapa daerah, termasuk Khan Touman dan al-Rashidin al-Rabiah. (alalam)

Ansarullah: Kemenangan di Nahom Bukti Baru Rakyat Yaman Sanggup Melawan Agresi

Juru bicara kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) di Yaman, Mohammad Abdul Salam, menyatakan bahwa kemenangan pihaknya dalam pertempuran di kawasan Nahom merupakan bukti bahwa rakyat Yaman memiliki opsi di depan “agresi” musuh-musuhnya.

Dia menekankan bahwa pihaknya melancarkan operasi militer bersandi “Bun-yan al-Marshush” (BM) tak lain sebagai reaksi atas berlanjutnya serangan dan blokade yang dilakukan “kubu agresor” (aliansi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab /UEA), terutama setelah terjadi serangan masif dan meluas “pasukan bayaran” (loyalis presiden pelarian Abed Rabbuh Mansour Hadi) di front Nahom.

“Operasi militer (Ansarullah) yang diberkahi itu dilakukan sebagai reaksi atas arogansi dan upaya negara-negara agresor mempertahankan blokade dan perang terhadap Yaman dengan anggapan bahwa bangsa Yaman sudah tidak memiliki opsi lagi,” ungkap Abdul Salam.

Dia menjelaskan bahwa daerah Nahom dan kawasan yang berbatasan dengan di Jawf dan Ma’rib telah dibebaskan setelah pihak lawan melakukan gerakan-gerakan yang bertujuan mengancam keamanan Sanaa, ibu kota Yaman, yang dikuasai oleh Ansarullah dan tentara Yaman.

Juru bicara Ansarullah juga menegaskan bahwa kemenangan kelompok pejuang yang dimusuhi oleh Saudi dan UEA ini di front Nahom telah menghasilkan banyak rampasan perang, yang disusul dengan serangan rudal mereka ke bandara-bandara pihak agresor. (alalam)