Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 31 Desember 2021

Jakarta, ICMES. Iran mengumumkan keberhasilannya melesatkan wahana peluncur satelit “Simorgh” ke luar angkasa dengan membawa tiga kargo instrumen penelitian.

Panglima pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mayjen Hossein Salami, menegaskan bahwa Poros Resistensi meneropong musuh dan berjuang menghadang ambisinya di seluruh negeri Islam.

Pemimpin Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ) Ziyad Al-Nakhalah memperingatkan Israel ihwal kondisi tahanan Palestina Hisham Abu Hawash yang sejauh ini sudah 137 hari melalukan aksi mogok makan.

Intelijen Israel mengklaim bahwa Iran telah mempersingkat batas waktu bagi jumlah uraniumnya yang diperkaya dengan jumlah cukup untuk membuat bom nuklir.

Berita Selengkapnya:

Iran Sukses Luncurkan Wahana Peluncur Satelit “Simorgh”, AS Prihatin

Iran mengumumkan keberhasilannya melesatkan wahana peluncur satelit “Simorgh” ke luar angkasa dengan membawa tiga kargo instrumen penelitian.

Juru bicara Kelompok Luar Angkasa Kementerian Pertahanan Iran Sayid Ahmad Hosseini, Kamis (30/12), mengumumkan kesuksesan itu sembari menyebutkan bahwa pengembangan peluncur satelit dengan kemampuan yang lebih tinggi menjadi pertimbangan serius setelah negara republik Islam itu berhasil meluncurkan satelit skala kecil dengan roket “Safir” dan “Ghased”.

Menurutnya, desain dan pengembangan Pangkalan Luar Angkasa Imam Khomeini dan roket “Simorgh” menjadi agenda utama industri luar angkasa Iran.

Hosseini menjelaskan, “Dalam peluncuran ini, kinerja dan fungsi komponen pangkalan ruang angkasa dan juga kinerja tahap peluncuran satelit dilakukan dengan benar, dan akhirnya tujuan penelitian yang diinginkan dari peluncuran ini tercapai sepenuhnya.”

Dia menambahkan bahwa dalam misi penelitian ini, untuk pertama kalinya, tiga kargo instrumen penelitian diluncurkan secara bersamaan pada ketinggian 470 km dan kecepatan 7350 meter/detik, dan data telemetri dari proses peluncuran telah diperoleh secara lengkap sehingga dengan pencocokan data dan fungsi dilakukan perencanaan yang diperlukan untuk operasional peluncuran satelit.

Pada bulan Februari 2021, Iran mengumumkan keberhasilan uji coba wahana peluncur satelit Zoljanah, yang dapat mengorbitkan muatan seberat 220 kilogram.  Pada April 2020, Iran juga berhasil mengorbitkan satelit militer pertamanya.

Menurut pemerintah Iran, satelit-satelit Iran berfungsi mengumpulkan data cuaca, bencana alam dan pertanian, dan tidak ada kaitannya dengan tujuan militer.

Namun demikian, Amerika Serikat (AS) dan Israel menentang program satelit Iran karena khawatir Teheran akan menggunakan teknologi ini untuk mengembangkan rudal militer jarak jauh.

Kamis kemarin, AS mengaku prihatin atas peluncuran roket Iran ke luar angkasa dengan alasan bahwa peluncuran itu akan menunjang proyek rudal. Meski demikian AS mengaku masih berusaha untuk kembali ke perjanjian nuklir melalui saluran diplomatik.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri AS mengatakan, “AS tetap prihatin atas pengembangan wahana peluncur satelit Iran, yang merupakan masalah yang sangat memprihatinkan mengenai proliferasi.”

Dia beralasan bahwa wahana peluncur satelit “mencakup teknologi yang identik, dan berpotensi dapat diganti dengan yang digunakan dalam rudal balistik, termasuk sistem jarak jauh.”

Dia juga menyebutkan bahwa peluncuran rudal Iran ke luar angkasa melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 2231, yang mendukung perjanjian nuklir dan meminta Iran menahan diri dari pengembangan rudal balistik yang mampu membawa hulu ledak nuklir. (fna/raialyoum)

Komandan IRGC Pastikan Poros Resistensi akan Terus Menghadang Ambisi Musuh

Panglima pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mayjen Hossein Salami, menegaskan bahwa Poros Resistensi meneropong musuh dan berjuang menghadang ambisinya di seluruh negeri Islam.

Pada upacara haul ke-2  mantan komandan Pasukan Quds IRGC Qassem Soleimani dan wafatnya Ayatullah Misbah Yazdi, Kamis (30/12), Jenderal Salami mengatakan bahwa jika kemampuan demikian tidak terwujud maka musuh akan menyerang seluruh tanah Islam.

Dia memastikan bahwa pejuangan dan jihad di jalan Allah membuat Iran semakin tangguh dan berpengaruh di dunia, sementara musuh semakin tersisih.  

“Poros Resistensi sekarang sedang mengejar musuh di semua negeri Islam, tak akan membiarkan musuh mencapai tujuannya, dan seandainya kemampuan seperti ini tak mengkristal masa musuh sudah mengegresi semua negeri Islam,” tuturnya.

Dia juga menegaskan, “Kami akan menangani semua masalah negara dengan menginvestasikan energi dan kemampuan internal dan keinginan rakyat,” katanya, sembari menekankan pentingnya perlawanan terhadap  embargo, sanksi ekonomi dan ancaman militer.

Salami juga menjelaskan kebesaran pribadi martir pahlawan legendaris Iran Jenderal Soleimani, termasuk dalam gaya hidupnya yang bersahaya serta ketulusan dan komitmen yang tinggi.

 “Dengan membunuh Syahid Soleimani, musuh ingin melemahkan front resistensi, tapi kontras dengan semua perimbangan, Poros Resistensi justru semakin kuat dan perkasa berkat syahid ini,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Panglima IRGC Brigjen Mohammad Reza Fallahzadeh dalam wawancara dengan Al-Ahed berkenaan dengan peringatan yang sama, Kamis, menyebut ancaman AS dan Israel terhadap Iran belakangan ini hanyalah gertak sambal belaka.

Dia menegaskan, “Ancaman AS dan Zionis belakangan ini terhadap Republik Islam Iran hanya omong kosong dan tak lebih dari kampanye propaganda demi perang psikologis mereka terhadap Iran, tapi mereka tidak akan mencapai apapun.”

Dia juga mengatakan, “Pasukan Poros Resistensi akan tetap teguh di jalan Syahid Qassem Soleimani, dan mereka terus bersama Pemimpin Besar Revolusi Islam (Ayatullah Sayid Ali Khamenei) di jalan ini. Mereka tidak akan menutup mata sampai janji ilahi akan runtuhnya Rezim Zionis (Israel) dan terkoyaknya proyek-proyek AS di kawasan terpenuhi.” (alalam)

Jihad Islam Palestina akan Bereaksi Keras terhadap Israel Jika Tahanan Abu Hawash Meninggal Dunia

Pemimpin Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ) Ziyad Al-Nakhalah memperingatkan Israel ihwal kondisi tahanan Palestina Hisham Abu Hawash yang sejauh ini sudah 137 hari melalukan aksi mogok makan.

Al-Nakhalah mengatakan dalam sebuah pernyataan pers singkat yang dirilis pada hari Kamis (30/12) menegaskan, “Jika tahanan Hisham Abu Hawash gugur syahid maka kami akan menganggap ini sebagai operasi pembunuhan yang dilakukan musuh (Israel) dengan terencana, dan kami akan menangani masalah ini sesuai konsekuensi komitmen kami untuk menanggapi setiap aksi pembunuhan.”

Di hari yang sama Klub Tahanan Palestina merilis pernyataan bahwa tahanan Abu Hawash “mengalami kondisi kesehatan yang kritis di Rumah Sakit Assaf Harofeh Israel.”

LSM Palestina ini menambahkan bahwa Abu Hawash “melanjutkan perjuangannya (mogok makan) selama 136 hari berturut-turut….dan rezim pendudukan (israel) masih enggan merespon tuntutannya untuk mengakhiri penahanan administratifnya.”

Klub Tahanan Palestina menyebutkan bahwa tahanan Abu Hawash adalah satu dari sekira 60 tahanan biasa dan tahanan administrasi yang melakukan mogok makan pada tahun ini. Aksi itu sebagian besar bertujuan menentang penahanan administratif.

Israel menangkap Abu Hawash, ayah dari lima anak, pada 27 Oktober 2020. Sejak itu dia dikenai tahanan administratif sehingga dipenjara tanpa proses pengadilan.

Penahanan administratif merupakan keputusan pemenjaraan atas perintah militer Israel untuk jangka waktu hingga enam bulan, dan dapat diperpanjang, dengan dalih ancaman keamanan dan tanpa dakwaan serta proses pengadilan.

Klub Tahanan Palestina mencatat ada sekira 500 tahanan administratif Palestina, termasuk empat anak di bawah umur dan seorang wanita, di antara total  4550 tahanan Palestina. (raialyoum)

Intelijen Israel Klaim Beberapa Minggu lagi Iran Punya Bahan yang Cukup untuk Membuat Bom Nuklir

Intelijen Israel mengklaim bahwa Iran telah mempersingkat batas waktu bagi jumlah uraniumnya yang diperkaya dengan jumlah cukup untuk membuat bom nuklir.

Saluran resmi Israel Kan melaporkan hal itu sembari menyebutkan bahwa menurut data sistem pertahanan Israel, “Iran sekarang tinggal 6-8 minggu lagi untuk mendapatkan bahan fisil yang cukup untuk sebuah bom.”

Pada Agustus lalu Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz memperkirakan Iran berjarak 8-10 bulan dari targetnya.

Menurut Kan, Iran telah memperpendek jarak dalam perjalanannya menuju jumlah bahan fisil yang dibutuhkan.

Dalam beberapa minggu terakhir, bersamaan dengan putaran baru negosiasi nuklir Iran dengan sejumlah negara besar dunia di Wina, ibu kota Austria,  untuk pemulihan perjanjian nuklir Iran, para pejabat Israel berulang kali menyatakan bahwa negara Zionis ini sedang bersiap untuk meluncurkan serangan terhadap  fasilitas nuklir Iran. (raialyoum)