Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 3 Mei 2019

Iranian soldiers march during a military parade marking National Army Day in TehranJakarta, ICMES: Komandan Umum Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Abdolrahim Mousavi menyerukan kepada segenap korpsnya untuk bersiaga perang dan bersiap menghadapi serangan di malam hari.

Iran menegaskan bahwa proyek rudal negara ini adalah urusan nasional, tidak bisa dinegosiasikan, dan tidak pula menyalahi resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB.

Sekretaris Jenderal Hizbullah tersinggung melihat dan mendengar di televisi bagaimana Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperolok Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi.

Pemerintah Damaskus bersumpah akan menggunakan segala cara untuk memulihkan kedaulatannya atas seluruh wilayah Suriah dan membebaskannya dari “pendudukan” Turki, Amerika Serikat dan lain-lain.

Berita selengkapnya:

Angkatan Bersenjata Iran Bersiap Hadapi Serangan Di Malam Hari

Komandan Umum Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Abdolrahim Mousavi menyerukan kepada segenap korpsnya untuk bersiaga perang dan bersiap menghadapi serangan di malam hari.

“Seluruh pasukan dan korps kita harus berkesiapan pada level tertinggi seakan sedang mengalami sedangan di malam hari, dan harus selalu berlatih permainan perang,” ujarnya pada Forum ke-12 Para Komandan Unit-Unit Utama dan Independen Angkatan Darat Iran, Rabu (1/5/2019).

Dia melanjutkan, “Ancaman musuh sekarang serius, dan tentu ancaman ini pada awalnya tidak akan berkenaan dengan darat. Meski demikian, Angkatan Darat harus menjaga kesiapannya, mengingat hal ini merupakan poros semua operasi.”

Seruan ini dikemukakan setelah Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayyid Ali Khamenei di hari yang sama juga menyerukan kepada kepada pasukan negaranya untuk memperlihatkan kekuatan militernya di depan musuh.

“Musuh tidak mengungkap kesiapan militer untuk perang, tapi bangsa Iran hendaknya memperlihatkan kemampuan perangnya,” ujar Ayatullah Khamenei.

Pada forum yang sama, Komandan Markas Besar Khatamul Anbiya’ pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigjen Gholam Ali Rashid memperingatkan bahwa jika terjadi perang di kawasan Teluk Persia maka semua negara regional akan menanggung dampaknya.

Retorika militer Iran meningkat tajam ketika negara republik Islam ini mendapat tekanan keras dari Amerika Serikat (AS) yang menerapkan sanksi keras terhadapnya, termasuk di sektor perminyakan, sembari menuding Iran sebagai negara kekuatan terbesar di dunia yang mensponsoriterorisme dan mengacaukan stabilitas Timteng.

Tindakan AS ini mendapat dukungan dari negara-negara sekutunya di Timur Tengah, terutama Arab Saudi dan Israel. (raialyoum)

Iran Tegaskan Program Nuklirnya Pantang Dinegosiasikan

Wakil Tetap Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Majid Takht-Ravanchi menegaskan bahwa proyek rudal negara ini adalah urusan nasional, tidak bisa dinegosiasikan, dan tidak pula menyalahi resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB.

Takht-Ravanchi menjelaskan bahwa Amerika Serikat (AS) menuding Iran melanggar resolusi itu.

“Salah seorang pejabat Kementerian Luar Negeri AS di New York berdiskusi dengan para anggota Dewan Keamanan dan Sekretariat PBB mengenai apa yang disebut aktivitas rudal balistik Iran. Mereka berusaha membangkitkan iklim negatif di PBB anti-aktivitas rudal Iran… Sikap kami sangat jelas, karena rudal kami sama sekali tidak masuk dalam kerangka resolusi 2231,” terangnya.

AS dan beberapa negara anggota lain perjanjian nuklir Iran turut andil dalam perilisian resolusi 2231.

Namun, lanjut Takht-Ravanchi, rudal yang dibicarakan dalam resolusi ini adalah rudal yang dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir, sedangkan rudal Iran “jelas tidak bertujuan demikian.”

“Kami memiliki 14 laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang mengkonfirmasi hal ini,” ujarnya, sembari menyoal mengapa AS keluar dari perjanjian nuklir Iran.

“Sikap kami dalam masalah ini jelas sepenuhnya, dan bahwa Iran berdikusi dan menjalin komunikasi dengan berbagai negara anggota Dewan Keamanan dalam rangka ini,” imbuhnya.

Dia lantas mengingatkan bahwa Iran pantang mundur dari pendiriannya, dan bahwa masalah rudal ini merupakan isu pertahanan nasional Iran sehingga sama sekali tak dapat dinegosiasikan. (alalam)

Nasrallah Tanggapi Penghinaan Trump Terhadap Raja Salman

Sekretaris Jenderal kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Lebanon, Sayid Hassan Nasrallah, mengaku sangat prihatin dan tersinggung ketika melihat dan mendengar di televisi bagaimana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperolok Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi.

Dalam pidatonya pada acara peringatan haul ketiga Sayid Mostafa Badruddin, Kamis (2/5/2019), Nasrallah menyebutkan bahwa Trump kerap menghina dan memperolok para petinggi Saudi.

“Kita melihat di televisi Saudi bagaimana Trump dan orang-orang yang bersamanya tertawa, dan hati saya terkoyak ihwal Raja Saudi ketika saya mendengar (perkataan) Trump,” tuturnya.

Tokoh yang mengenakan serban hitam sebagai tanda keturunan Rasulullah SAW ini melanjutkan, “Saya tidak menyukai Raja Saudi, saya bahkan membencinya sepenuh hati, tapi saya sangat tersinggung oleh pernyataan Trump. Mana Raja Saudi di depan penghinaan dan keterpukulan ini, mana pan Arabisme, mana Islam, mana Khadimul Haraimain al-Syarifain, mana kelompok-kelompok suku dan adat, mana tari pedang? Apa yang terselesaikan oleh semua ini? Semua orang diam dan tak ada yang menanggapinya barang sepatah kata.”

Sayid Nasrallah juga mengatakan, “Ketika saya dan atau sebagian saudara berbicara tentang Saudi, kelompok-kelompok tertentu di Lebanon menanggapi kami dan perkataan kami. Tapi sekarang mana mereka, para pahlawan Arab gagah berani itu? Mengapa mereka tidak menanggapi Trump yang telah menghina raja dan melecehkan kerajaan kalian?” (alalam)

Suriah Bersumpah Akan Pulihkan Kedaulatan Di Semua Wilayahnya  

Pemerintah Damaskus bersumpah akan menggunakan segala cara untuk memulihkan kedaulatannya atas seluruh wilayah Suriah dan membebaskannya dari “pendudukan” Turki, Amerika Serikat (AS) dan lain-lain.

Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Mekdad dalam wawancara dengan saluran TV al-Mayadeen yang berbasis di Beirut, Lebanon, Kamis (2/5/2019), menegaskan, “Kami tidak akan mengizinkan Turki mengendalikan satu sentimeter pun wilayah Suriah…  Pihak Turki harus tahu bahwa kami tidak akan menerima kelangsungan hidup kelompok-kelompok bersenjata di Idlib.”

Dia menambahkan, “Keputusan Suriah adalah membebaskan setiap bagian tanah Suriah, tak terkecuali Idlib. Turki dan yang lainnya harus tahu bahwa Suriah bertekad untuk memulihkan setiap butir tanah di wilayahnya. Turki juga harus memahami bahwa dukungannya kepada terorisme dan pendudukannya atas wilayah Suriah tidak akan mendatangkan keamanan.”

Mekdad juga bernasihat kepada kelompok-kelompok Kurdi Suriah agar tidak “menjadi alat murah bagi AS” dan hendaknya “mengutamakan loyalitas kepada tanah air daripada kepada musuh-musuhnya.”

Di bagian lain, kepada kantor berita Sputnik milik Rusia di hari yang sama usai pertemuan dengan delegasi dari Afrika Selatan dia menegaskan, “Pemerintah Suriah akan menggunakan semua cara untuk merebut kembali tanahnya dari pendudukan Turki, AS, dan semua musuh Suriah.” (raialyoum)