Rangkuman Berita Utama Timteng  Jumat 3 Desember 2021

Jakarta, ICMES. Otoritas Yaman kubu Sanaa menyelenggarakan resepsi nikah massal yang menghadirkan tak kurang dari 7200 pengantin pria dan perempuan di alun-alun Masjid Jami Al-Shaab di Sanaa, ibu kota Yaman.

Komandan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami memastikan “musuh tak akan bernyali untuk melancarkan serangan militer” terhadap negara republik Islam ini.

Perunding nuklir Iran Ali Bagheri Kani menegaskan penolakannya terhadap negosiasi urusan senjata Iran maupun sepak terjangnya di Timur Tengah dalam perundingan nuklir yang putaran terbarunya sedang berlangsung di Wina, Austria.

Ulama muda dan politisi Irak pemimpin Blok Sadr, Sayid Moqtada Sadr  mengadakan pertemuan dengan para pemimpin blok lawan politiknya yang tergabung dalam Poros Koordinasi di rumah Sekjen Organisasi Badr Sayid Hadi Amiri.

Berita Selengkapnya:

Nikah Massal 7200 Pengantin di Yaman, Al-Houthi: Bangsa Ini Tetap Bersemangat Hidup

Otoritas Yaman kubu Sanaa menyelenggarakan resepsi nikah massal yang menghadirkan tak kurang dari 7200 pengantin pria dan perempuan di alun-alun Masjid Jami Al-Shaab di Sanaa, ibu kota Yaman, Kamis (12/11).

Badan Umum Zakat yang menaungi acara akbar tersebut menyatakan bahwa acara itu merupakan salah satu hasil Revolusi 21 September dan bertujuan menyantuni warga fakir miskin yang memerlukan bantuan.

Menurut lembaga ini, pasangan yang disertakan diseleksi sesuai kriteria syariat, yaitu dimulai dari kalangan yang paling miskin dan paling lama melajang akibat beban kesulitan ekonomi sehingga di antara mereka bahkan ada berusia 47 tahun.

Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman Sayid Abdul Malik Badruddin Al-Houthi dalam kata sambutannya untuk  resepsi nikah massal itu menyatakan bahwa musuh-musuh bangsa Yaman berusaha memerangi semua fenomena kehidupan di Yaman melalui kejahatan pembantaian, pelaparan, blokade dan perang lunak yang bertujuan menebar asusila di tengah para pemuda.

Dia memastikan bahwa bangsa Yaman dengan segala penderitaan dan kesulitan yang mereka alami akibat perang dan tekanan ekonomi dari musuh tetap bersemangat melanjutkan putaran roda kehidupan mereka dalam semua aspeknya, terutama sosial.

“Bangsa Yaman sekarang menjadi tersendiri dalam segala bidang yang bercorak keimanan…. Pernikahan massal ini adalah yang terbesar dalam sejarah negara kita, dan bisa jadi juga terbesar di kawasan Arab secara keseluruhan,” tuturnya.

Dia menambahkan, “Bangsa kita, meski menghadapi penderitaan, tantangan, blokade dan kondisi ekonomi serba sulit, tetap menjaga proses kehidupannya di semua aspeknya, terutama sosial. Pernikahan massal ini diselenggarakan di saat kita berada di puncak tantangan, di puncak blokade dan penderitaan, dan di tengah agresi besar.”

Dia juga menegaskan, “Kita sekarang menyampaikan pesan keteguhan dalam melawan musuh dan menghadapi semua tantangan yang dihasilkan oleh konspirasi musuh… Dalam pernikahan massal ini, bangsa kita telah mengkristalkan prinsip saling kasih saya dan gotong royong dalam kebaikan, ketakwaan, serta memberikan pejaran tentang kekompakan sosial.” (alalam)

Komandan IRGC: Musuh Tak Bernyali Melancarkan Serangan Militer terhadap Iran

Komandan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami memastikan “musuh tak akan bernyali untuk melancarkan serangan militer” terhadap negara republik Islam ini.

Dalam sidang penutupan Konferensi Para Pemimpin dan 3000 Martir di provinsi Elam, Kamis (2/12), dia menegaskan hal tersebut sembari mengatakan, “Kehormatan terbesar bagi saya dan rekan-rekan saya serta para pemimpin dan IRGC ialah menjadi pelayan bagi bangsa Iran…. sementara harapan terbesar kami ialah berkorban dengan jiwa demi terwujudnya cita-cita besar dan cemerlang pemimpin besar kita, imam kita dan pemimpin revolusi kita.”

Dia menuturkan, “Jika suatu umat lemah dalam perang maka mereka akan terhapus dari catatan sejarah… Rencana-rencana para aroghan dunia terhadap bangsa Iran dalam 43 tahun sejak kemenangan revolusi (Islam di Iran) sangatlah berbahaya, luas dan sarat konspirasi yang mendalam.”

Salami menambahkan, “Amerika Serikat (AS) dan sekutunya tak berhenti berusaha mengacaukan kehendak bangsa ini dan mencegahnya dari mengitari revolusi.”

Sementara itu, Komandan Pasukan Quds yang bernaung di bawah IRGC, Brigjen Esmail Qaani, memperingatkan AS bahwa negara arogan ini “akan rontok giginya” jika nekat menyerang Iran.

Dia menambahkan, “Kekuatan dan kemampaun umat (Iran) ini telah mencapai taraf di mana jika kalian (AS) melakukan tindakan (menyerang), seremeh apapun, maka gigi di mulut kalian akan rontok.”

Pernyataan-pernyataan panas ini mengemuka bersamaan dengan berlangsungnya perundingan Iran dengan kelompok 4+1 (Inggris, Perancis, Rusia, China plus Jerman) di Wina, Austria, untuk menyelamatkan perjanjian nuklir tahun 2015. (alalam/raialyoum)

Perunding Iran Tolak Pengaitan Perundingan Nuklir dengan Urusan Alutsista  

Perunding nuklir Iran Ali Bagheri Kani, Kamis (2/12), menegaskan penolakannya terhadap negosiasi urusan senjata Iran maupun sepak terjangnya di Timur Tengah dalam perundingan nuklir yang putaran terbarunya sedang berlangsung di Wina, Austria.

Dalam wawancara dengan surat kabar Inggris Middle East Eye, dia membantah keras spekulasi yang menyebutkan kemungkinan akan tercapainya perjanjian sementara ataupun perjanjian nuklir baru yang juga akan menyentuh kemampuan rudal dan aktivitas regional Iran.

 “Urusan negosiasi sekarang bergantung pada AS, bukan Iran, sebab AS-lah yang melanggar perjanjian nuklir, resolusi 223 dan ketetapan-ketatapan internasional, keluar dari perjanjian dan lalu menerapkan banyak sanksi terhadap bangsa Iran, serta masih juga menerapkan sanksi-sanksi baru,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Langkah-langkah yang kami ambil di bidang nuklir (dalam menanggapi keluarnya AS dari perjanjian nuklir dan inkonsistensi Eropa pada komitmennya) merupakan langkah-langkah pengambilan ganti rugi dan suatu reaksi, dan karena itu bola sekarang ada di arena AS di mana mereka harus mencabut sanksinya.”

Bagheri Kani memastikan Iran serius dalam perundingan ini sehingga delegasi perundingnyapun mengikutinya dengan sungguh-sungguh di Wina.

“Kami berkeyakinan bahwa perjanjian nuklir tidak diterapkan secara benar dalam beberapa tahun terakhir ini. Bahkan ketika AS masih menjadi anggota perjanjian nuklir ini dan belum keluar darinya mereka juga tidak menerapkannya secara benar, sementara Eropa yang tidak keluar darinya juga tidak menerapkannya, tidak memenuhi komitmen mereka kepadanya.”

Bagheri Kani menegaskan penolakan Teheran bernegosiasi dengan AS soal senjata serta aktivitas regional Iran. Dia menyinggung bahwa Iran terus berkomunikasi dengan negara-negara jirannya sebagaimana juga terlihat dalam kunjungan dirinya ke Uni Emirat Arab dan Kuwait sebelum kepergiannya ke Wina.

“Sudah sepenuhnya jelas bahwa Iran sama sekali tak akan bernegosiasi mengenai kemampuan rudal dan pertahanan yang notabene urusan keamanan nasional negara,” pungkasnya. (alalam)

Moqtada Sadr Adakan Pertemuan dengan Para Lawan Politiknya

Ulama muda dan politisi Irak pemimpin Blok Sadr, Sayid Moqtada Sadr, Kamis (2/12), mengadakan pertemuan dengan para pemimpin blok lawan politiknya yang tergabung dalam Poros Koordinasi di rumah Sekjen Organisasi Badr Sayid Hadi Amiri.

Poros Koordinasi terdiri atas berbagai kelompok politik Syiah terbesar di Irak, yang menolak hasil pemilu parlemen yang berlangsung pada 10 Oktober lalu dan dinyatakan dimenangi oleh Blok Sadr.

Dalam pertemuan yang dituan rumahi oleh Poros Koordinasi ini mereka membahas berbagai isu dan perkembangan situasi politik terkini di Irak dalam rangka mempererat persatuan dan persaudaraan antarsesama anak bangsa Negeri 1001 Malam ini, yang menjadi prioritas mereka, menurut sebuah pernyatan tentang pertemuan itu.

Dalam pernyataan itu juga disebutkan bahwa mereka telah membahas beberapa poin antara sebagai berikut;

1. Pengambilan langkah-langkah kongkret yang diperlukan untuk memerangi korupsi, menuntut pertanggungjawaban koruptor, dan penghentian pemborosan uang publik yang disengaja.

2. Penekanan pada keluarnya pasukan asing sesuai dengan jadwal yang diumumkan dan pengembangan mekanisme untuk memastikan bahwa senjata dibatasi di tangan negara.

3.  Perlindungan, dukungan dan pengaturan pasukan relawan Hashd Al-Shaabi dengan cara yang meningkatkan perannya dalam menjaga keamanan di Irak.

4.  Penolakan terhadap normalisasi hubungan dengan Israel dan segala sesuatu yang terkait dengannya.

5. Kerjasama pelestarian konstanta rakyat Irak dalam menghadapi penyimpangan moral dan sosial sesuai dengan kerangka hukum.

6. Upaya peningkatan  taraf ekonomi daerah-daerah tertinggal dan penghapusan persaingan politik dari semua proyek layanan.

Kedua pihak sepakat untuk melanjutkan dialog dan diskusi yang mengarah pada pengembangan solusi realistis bagi kebuntuan yang terjadi di kancah politik. (alalam/aljazeera)