Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 3 April 2020

masjidil haram di musim corona2Jakarta, ICMES. Otoritas Arab Saudi meningkatkan upayanya dalam memerangi virus corona (Covid-19) dengan memberlakukan jam malam selama 24 jam di kota suci Mekkah al-Mukarromah dan Madinah al-Munawwaroh.

Beberapa negara Arab di kawasan Teluk Persia menerapkan lockdown di daerah-daerah yang ditempati oleh sejumlah besar pekerja asing berupah rendah, demi menekan volume penyebaran virus corona .

Teheran membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa Iran akan menyerang pasukan AS di Irak, dan menegaskan kembali pendirian Teheran bahwa Iran tidak akan memulai perang, tapi siap meladeni segala bentuk agresi.

Angkatan Bersenjata Iran bersumpah akan memberikan reaksi sengit terhadap AS jika negara arogan ini mengusik keamanan Iran.

Berita selengkapnya:

Perangi Covid-19, Saudi Perpanjang Jam Malam di Mekkah dan Madinah Menjadi 24 Jam

Otoritas Arab Saudi meningkatkan upayanya dalam memerangi virus corona (Covid-19) dengan memberlakukan jam malam selama 24 jam di kota suci Mekkah al-Mukarromah dan Madinah al-Munawwaroh.

Kementerian Dalam Negeri Saudi menetapkan pengecualian untuk beberapa kalangan, termasuk pekerja penting serta penduduk yang diizinkan membeli makanan dan mengakses perawatan medis. Mobil hanya dapat membawa satu penumpang.

Sejauh ini, di Saudi tercatat 1.885 kasus infeksi dengan 21 kematian, jumlah terbanyak di Dewan Kerjasama Teluk (GCC) yang beranggotakan enam negara.

Kondisi itu telah membekukan penerbangan internasional, menangguhkan kunjungan umrah, meliburkan sebagian besar tempat umum, dan membatasi pergerakan internal secara ketat.

Di TV pemerintah Selasa lalu, Menteri Haji dan Umrah Mohammed Saleh Benten, meminta umat Islam menunda persiapan ibadah haji yang dijadwalkan pada akhir Juli akibat pandemi Covid-19.

Otoritas Saudi juga membatasi keluar masuk kota Riyadh, Mekah, Madinah, dan Jeddah. (aljazeera)

Negara-Negara Arab Teluk Persia Berlakukan Lockdown di Berbagai Daerah Pekerja Asing

Beberapa negara Arab di kawasan Teluk Persia menerapkan lockdown di daerah-daerah yang ditempati oleh sejumlah besar pekerja asing berupah rendah, demi menekan volume penyebaran virus corona (Covid-19).

Menteri Kesehatan Kuwait menyatakan pihak berwenang mempertimbangkan penutupan beberapa daerah setelah Qatar pada Rabu malam lalu mengumumkan pihaknya memperpanjang lockdown di kawasan industri dan setelah Oman menutup Muttrah, tempat salah satu pasar tertua di negara ini.

Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), Selasa lalu menutup Al-Ras, daerah yang terkenal dengan emas dan rempah-rempahnya serta ditinggali oleh banyak pekerja asing.

Jutaan pekerja asing, terutama dari negara-negara Asia seperti Nepal, India dan Filipina, merupakan bagian dari populasi ekspatriat besar di enam negara Teluk, di mana infeksi dipastikan meningkat hingga di atas 4.700 kasus dengan 36 kematian.

Kementerian kesehatan Bahrain melaporkan 66 kasus baru pada hari Kamis, dan  semuanya ada di zona industri Salmabad.

“Para pekerja asing  telah berada di bawah karantina pencegahan di tempat tinggal mereka, kemarin ditempatkan di fasilitas karantina khusus, dan tidak ada wabah di antara para pekerja,” katanya.

Menteri kesehatan Oman menyatakan distrik komersial pantai Muttrah ditutup karena ditemukannya penyebaran virus oleh masyarakat.

“Keputusan demikian tidak mudah diambil … tapi itu demi kebaikan publik,” ungkapnya.

Arab Saudi Rabu lalu menyatakan pihaknya berusaha memungkinkan kepulangan warga asing ke negara asal mereka  bahkan ketika penerbangan penumpang tetap ditangguhkan.

Pada pertengahan Maret lalu Qatar melaporkan sebagian besar kasus virus corona ada di area yang disebut Kawasan Industri, pusat komersial di luar Doha, ibu kota Qatar, di mana banyak pekerja asingnya tinggal. Area itu sekarang dilockdown sepenuhnya untuk membantu pencegahan wabah. (aljazeera)

Iran Bantah akan Serang Pasukan AS di Irak

Teheran membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa Iran akan menyerang pasukan AS di Irak, dan menegaskan kembali pendirian Teheran bahwa Iran tidak akan memulai perang, tapi siap meladeni segala bentuk agresi.

“Iran tidak memulai perang, tapi memberi pelajaran kepada mereka yang melakukannya,” cuit Mohammad Javad Zarif di Twitter, Kamis (2/4/2020), sehari setelah Trump mengklaim bahwa “Iran atau penguasanya sedang merencanakan serangan diam-diam terhadap pasukan AS dan atau aset di Irak”.

Zarif menepis tuduhan ini sembari menyatakan Iran bukan memiliki “proksi” di Irak, melainkan teman.

Pekan lalu, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap 20 perusahaan atas tuduhan bahwa mereka memberikan dukungan kepada  Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Pasukan Quds IRGC, serta dua kelompok pejuang Irak Brigade Hizbullah Irak dan gerakan Asa’ib Ahl al-Haq yang sama-sama merupakan elemen pasukan relawan besar Irak Hashd Shaabi.

Teheran berulang kali menegaskan bahwa ancaman dan tuduhan AS tidak berdasar, dan siap membela kepentingannya di kawasan.

Sumber-sumber keamanan Irak Ahad lalu menyatakan AS mengerahkan pasukan barunya ke pangkalan Ain al-Asad di provinsi Anbar, Irak barat,  di saat tersiar laporan bahwa Pentagon sedang mempersiapkan eskalasi baru di Negeri 1001 Malam.

Kamis pekan lalu Kata’ib Hezbollah  faksi utama Hashd Shaabi  mengungkapkan bahwa militer AS sedang bersiap untuk melakukan operasi udara besar-besaran yang didukung oleh angkatan daratnya terhadap pangkalan-pangkalan pasukan Hashd Shaabi yang saat ini sibuk membantu Baghdad dalam perang melawan pandemi Covid-19.

Sehari kemudian, The New York Times melaporkan bahwa Pentagon telah memerintahkan perencana di Komando Pusat militer AS dan di Irak untuk menyusun strategi untuk membongkar Kata’ib Hezbollah.

Namun, komandan senior AS di Irak telah memperingatkan bahwa kampanye demikian berbahaya, kontraproduktif dan berisiko perang dengan Iran.

Mayjen Yahya Rahim Safavi Penasehat militer Pemimpin Besar Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei Rabu lalu memperingatkan Washington ihwal konsekuensi  “tindakan provokatif” AS di Irak.

Dia mengatakan, “Kami menyarankan politisi dan militer AS untuk bertanggung jawab atas konsekuensi tindakan provokatif mereka… Setiap tindakan AS akan menandai kegagalan strategis yang bahkan lebih besar dalam rapor presidennya saat ini .”

Para pejuang Irak sendiri bersumpah akan melawan segala bentuk agresi AS. (presstv)

Militer Iran Nyatakan Siap Membalas Jika AS Menyerang

Angkatan Bersenjata Iran bersumpah akan memberikan reaksi sengit terhadap AS jika negara arogan ini mengusik keamanan Iran.

“Jika (AS) sampai melakukan tindakan sekecil apapun terhadap keamanan negara kami maka mereka akan berhadapan dengan reaksi paling sengit,” tegas Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Mohammad Baqeri, Kamis (2/4/2020).

Ancaman Iran ini dinyatakan Baqeri terkait dengan pergerakan baru militer AS di Irak, yang dinilai oleh para pengamat sebagai awal dari kemungkinan serangan AS terhadap pasukan relawan Irak Hashd Shaabi yang bersekutu dengan Iran.

“Dalam beberapa hari terakhir terjadi peningkatan hingga batas tertentu pada aktivitas militer AS di Irak dan Teluk Persia,” katanya.

Dia menambahkan, “Di bidang psikologis dan mediapun, mereka (AS) terlibat dalam penyebaran secara  besar-besaran berita yang menunjukkan bahwa mereka memiliki rencana-rencana terhadap kelompok-kelompok perlawanan di Irak dan Hashd al-Sha’abi… Kami benar-benar memonitor aktivitas demikian.”

Rabu lalu Presiden AS Donald Trump menuding Iran akan melancarkan serangan diam-diam terhadap pasukan AS dan atau asetnya di Irak.

“Jika ini terjadi, Iran akan membayar harga yang sangat berat, memang,” ancamnya. (presstv)