Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 29 Maret 2019

tentara israel dan anak palestinaJakarta, ICMES: Lembaga Dana Anak-Anak PBB mencatat sekitar 40 anak kecil Palestina terbunuh dalam satu tahun aksi “Al-Awdah” (Great March of Return) yang digelar di sepanjang pagar pemisah Jalur Gaza-Israel.

Pasukan Suriah menemukan senjata dan amunisi, termasuk rudal anti-tank buatan Amerika Serikat (AS) saat menyisir bekas tempat persembunyian teroris di bagian selatan negara Arab ini.

Pelapor khusus PBB mendesak Arab Saudi agar mengadili secara terbuka para tersangka kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi demi memberikan kredibilitas pada proses pengadilan tersebut.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengadakan pembicaraan dengan Wakil Menteri Pertahanan Saudi Pangeran Khalid bin Salman tentang krisis di Yaman dan “campur tangan Iran” di kawasan Timteng.

Berita selengkapnya:

UNICEF: 40 Anak Palestina Terbunuh Selama 1 Tahun Aksi Great March of Return

Lembaga Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) mencatat sekitar 40 anak kecil Palestina terbunuh dalam satu tahun aksi “Al-Awdah” (Great March of Return) yang digelar di sepanjang pagar pemisah Jalur Gaza-Israel (Palestina Pendudukan 1948).

Lembaga ini, Kamis (28/3/2019), juga menyebutkan bahwa sebanyak hampir 3000 anak Palestina lainnya terluka dan dilarikan ke rumah sakit selama aksi protes itu dengan kondisi banyak di antarnya cacat seumur hidup.

Direktur Timur Tengah UNICEF Geert Cappelaere menyuarakan kemarahan atas meningkatnya jumlah korban, dan menyerukan diakhirinya kekerasan terhadap anak kecil di Gaza dan di tempat lain di seluruh wilayah pendudukan.

“UNICEF mengulangi kemarahannya atas makin tingginya jumlah anak yang terbunuh dan terluka akibat konflik bersenjata 2018,” kata Cappelaere.

Bulan lalu, dia juga mengaku prihatin atas terbunuhnya anak-anak remaja laki-laki Palestina oleh tembakan Israel di Jalur Gaza.

Seorang anggota senior Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pada Oktober tahun lalu mengatakan militer Israel sengaja menarget dan membunuh anak-anak kecil Palestina.

Lembaga peduli hak anak, Defense for Children International – Palestina, menyerukan penangkapan pasukan Israel yang membunuh atau melukai anak-anak Palestina karena jelas melanggar hukum internasional.

Lebih dari 260 warga Palestina gugur syahid dan sekitar 26.000 lainnya terluka akibat serangan pasukan Israel sejak aksi Great March of Return dimulai di Jalur Gaza pada 30 Maret 2018.

Aksi terbaru rencananya akan digelar pada Sabtu besok (30/3/2019) untuk menandai peringatan tahun pertama aksi yang dilancarkan demi memperjuangkan hak pengungsi Palestina untuk pulang ke kampung halaman mereka di seluruh bagian tanah Palestina tersebut.

Bentrokan di Jalur Gaza mencapai puncaknya pada 14 Mei tahun lalu yang bertepatan dengan relokasi kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Al-Quds (Yerussalem) Timur. (presstv/raialyoum)

Suriah Temukan Misil-Misil Anti Tank Buatan AS

Pasukan Suriah menemukan senjata dan amunisi, termasuk rudal anti-tank buatan Amerika Serikat (AS) saat menyisir bekas tempat persembunyian teroris di bagian selatan negara Arab ini.

Tanpa menyebutkan lokasi temuan, kantor berita Suriah (SANA) melaporkan bahwa senjata-senjata yang ditemukan pada hari Kamis (28/3/2019) itu mencakup rudal TOW anti-tank.

Tentara Arab Suriah (SAA) sudah berulangkali menemukan dan menyita senjata yang dipasok oleh pihak asing di sarang militan dan teroris.

Pada awal Januari lalu SAA menemukan senjata dan amunisi buatan Israel dan AS dari bekas posisi militan takfiri di provinsi Daraa di barat daya negara ini.

SANA juga melaporkan penemuan senjata AS dan obat-obatan Israel pada Desember tahun lalu di Dara’a dan Quneitra, dua provinsi lain di bagian selatan.

Senjata yang ditemukan itu antara lain tank buatan Israel serta senapan mesin, senapan serbu, peluncur mortir, peluru mortir, granat berpeluncur roket, ranjau anti-personil, dan alat peledak.

Seperti diketahui, Suriah dilanda krisis pemberontakan dan terorisme yang disponsori oleh Amerika AS dan banyak sekutu Barat dan regionalnya sejak tahun 2011, namun negara ini akhirnya dapat mengendalikan keadaan setelah sempat terdesak hebat.

Kelompok teroris ISIS, yang pernah menduduki banyak wilayah Suriah, belakangan ini dinyatakan telah kalah secara total dan telah kehilangan hampir semua wilayah pendudukannya, dan Suriah kini telah membangun kembali pemerintahannya di hampir seluruh wilayah teritorialnya. (presstv)

Pelapor Khusus PBB Minta Saudi Gelar Pengadilan Kasus Khashoggi Secara Terbuka

Pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak Arab Saudi agar mengadili secara terbuka para tersangka kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi demi memberikan kredibilitas pada proses pengadilan tersebut.

“Tidak seperti apa yang dinyatakan Saudi, ini bukan urusan internal atau domestik,” kata Pelapor Khusus PBB untuk Eksekusi Sewenang-wenang atau Di luar Pengadilan, Agnes Callamard, Kamis (28/3/2019).

“Pemerintah Arab Saudi sangat keliru jika percaya bahwa proses ini, seperti yang saat ini dilembagakan, akan memuaskan masyarakat internasional, baik dalam hal keadilan prosedural berstandar internasional atau dalam hal validitas kesimpulan mereka,” lanjutnya.

Callamard sedang menjalankan misi yang disebutnya “penyelidikan independen HAM” terkait pembunuhan Khashoggi.

Khashoggi dibantai di dalam Konsulat Jenderal Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober 2019, oleh sekelompok orang Saudi sendiri yang oleh otoritas Saudi diklaim telah melakukan tindakan diluar kewenangan mereka. Hingga kini, yaitu empat bulan sejak Khashoggi menghilang, jenazah kontributor harian Washington Post ini masih belum juga ditemukan.

Pembantaian Khashoggi dengan cara yang sangat sadis dan mengerikan telah menjerumuskan Arab Saudi ke dalam krisis diplomatik serius, dan mencoreng reputasi Putra Mahkota Mohammed bin Salman yang diduga banyak orang sebagai dalang kejahatan tersebut.

Callamard sebelumnya pernah mengatakan bahwa pembunuhan Khashoggi telah “direncanakan dan diatur sebelumnya” oleh para pejabat Saudi, namun penyelidikan Callamard tidak didasarkan pada resolusi PBB atau penyelidikan formal. (raialyoum)

Pompeo Dan Khalid Bin Salman Bicarakan Krisis Yaman Dan “Campur Tangan” Iran di Timteng

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo mengadakan pembicaraan dengan Wakil Menteri Pertahanan Saudi Pangeran Khalid bin Salman tentang krisis di Yaman dan “campur tangan Iran” di kawasan Timteng.

“Menteri (Pompeo) menyampaikan rasa terima kasihnya atas dukungan kontinyu Arab Saudi kepada upaya Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Martin Griffith, untuk menggerakkan proses politik di Yaman,” ungkap Kementerian Luar Negeri AS, Kamis (28/3/2019).

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Pompeo dan Khalid menyutujui perlunya mendukung pelaksanaan Perjanjian Stockholm yang dinaungi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan disepakati oleh pihak-pihak yang bertikai di Yaman.

Keduanya telah membahas sejumlah masalah bilateral dan regional yang dinilai urgen, termasuk menghadapi apa yang mereka klaim “campur tangan Iran di kawasan” dan krisis Yaman antara kubu presiden tersingkir Yaman Abed Rabbo Mansour Hadi dan kelompok pejuang Ansarullah (Houthi).

Seminggu setelah penekenan Perjanjian Stockholm Sekjen PBB Antonio Guterres mengumumkan serangkaian kesepakatan yang dicapai antara kedua belah pihak, termasuk perjanjian gencatan senjata di provinsi Hodeydah.

Hari berikutnya, utusan PBB Martin Griffith mengumumkan pengiriman para pengamat internasional di wilayah tersebut.

Pada akhir Desember 2018 sebuah tim pengamat PBB dikerahkan di Hodeidah untuk mengawasi implementasi perjanjian gencatan senjata, sementara Ansarullah dan kubu Mansour Hadi terlibat aksi saling tuding melanggar perjanjian tersebut. (raialyoum)