Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 28 Juni 2019

perang twitter Zarif-TrumpJakarta, ICMES: Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menegaskan AS bahwa pihak yang memulai perang tidak akan dapat mengakhirnya, dan AS keliru dan berilusi belaka jika beranggapan akan dapat berperang dengan Iran dalam waktu singkat.

Kemhan Turki mengumumkan bahwa satu tentara negara ini tewas dan tiga lainnya terluka akibat serangan yang menimpa sebuah pos pemeriksaan yang ditempati oleh militer Turki dalam misi penjagaan zona de-eskalasi di provinsi Idlib di bagian barat laut Suriah.

Menteri Informasi Yaman Dhaifullah al-Shami menyatakan bahwa pasukan Yaman dalam waktu dekat ini bisa jadi  akan menggempur ibu kota masing-masing negara yang terlibat dalam agresi dan invasi militer ke Yaman.

Mendagri Irak Yaseen al-Yasiri menyatakan bahwa pasukan keamanan negara ini telah menangkap puluhan orang yang diduga terlibat dalam serangan ke Kedubes Bahrain.

Berita selengkapnya:

Zarif: Pemula Perang Terhadap Iran Jangan Harap Dapat Mengakhirinya

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menegaskan AS bahwa pihak yang memulai perang tidak akan dapat mengakhirnya, dan AS keliru dan berilusi belaka jika beranggapan akan dapat berperang dengan Iran dalam waktu singkat.

Hal tersebut dinyatakan Zarif di halaman Twitter-Nya Kamis (27/6/2019), saat menanggapi sumbar Presiden AS Donald Trump bahwa jika terjadi konfrontasi antara Iran dan AS maka tidak akan berlangsung lama karena AS dapat segera menundukkan Iran.

“Kesalahpahaman membahayakan perdamaian @ realDonaldTrump; … Perang singkat dengan Iran adalah ilusi,” cuit Zarif.

Dia menambahkan. “Siapa pun yang memulai perang tidak akan menjadi orang yang mengakhirinya.”

Sehari sebelumnya, kepada Fox Business Trump bersumbar, “Saya tidak berbicara sepatu bot di tanah. Saya hanya mengatakan jika sesuatu akan terjadi, itu tidak akan bertahan lama. ”

Zarif di Twitter juga memperlihatkan cuitan Trump pada hari Selasa lalu yang bersumbar bahwa Iran akan mengalami “pemusnahan” jika sekali-kali menyerang “apa pun yang Amerika.”

Sebelum itu, Zarif mengatakan kepada CNN bahwa AS “tidak mampu” bertindak atas ancaman semacam itu. Dia juga menyebut Trump “tentu saja salah” dalam mengklaim karena Washington tidak berada dalam posisi yang dapat “memusnahkan” Iran, kecuali jika menggunakan ” senjata terlarang.”

Karena itu, pada cuitan Kamis kemarin Zarih menuliskan, “Pemusnahan=genosida=kejahatan perang. (presstv)

Tentaranya Terbunuh, Turki Janji Balas Suriah

Kemhan Turki mengumumkan bahwa satu tentara negara ini tewas dan tiga lainnya terluka akibat serangan yang menimpa sebuah pos pemeriksaan yang ditempati oleh militer Turki dalam misi penjagaan zona de-eskalasi di provinsi Idlib di bagian barat laut Suriah.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Kamis malam (26/6/2019), Kemhan Turki menjelaskan bahwa pasukan Suriah yang ditempatkan di dekat zona de-eskalasi telah menyerang pos pemantau ke-10 dengan peluru artileri.

Menurut kementerian ini, serangan itu “disengaja” karena posisi pos tersebut berada di sudut daerah di bagian selatan provinsi Idlib. Akibatnya, satu tentara Turki “terbunuh oleh serangan itu,” tiga lainnya cidera sehingga dievakuasi dan kini sedang menjalani perawatan.

Kemhan Turki menyatakan bahwa dengan latar belakang demikian maka Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Turki memanggil atase militer Rusia di Ankara agar kemudian Turki dan Rusia mengambil tindakan yang diperlukan terkait dengan insiden ini.

Kemhan Turki berjanji akan mereaksi serangan itu “dalam bentuk yang paling keras.”

Sejak Mei lalu, Kemhan Turki telah mengumumkan terjadinya beberapa kali serangan ke beberapa titik kontrol pasukan Turki di wilayah Idlib, dan menuduh pemerintah Suriah sengaja melakukan serangan itu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berjanji negaranya akan mereaksi apa yang disebutnya “serangan pasukan Assad” ke pos-pos pemeriksaan.

Idlib merupakan bagian dari zona de-eskalasi yang juga mencakup beberapa wilayah provinsi Hama dan Lattakia. Zona ini ditetapkan pada tahun 2017 sebagai hasil dari kesepakatan yang dicapai dalam bingkai Perjanjian Astana antara Rusia, Turki dan Iran untuk penyelesaian krisis Suriah. (raialyoum)

Ansarullah Ancam Segera Menggempur  Ibu Kota Negara-Negara Agresor

Menteri Informasi Yaman Dhaifullah al-Shami menyatakan bahwa pasukan Yaman dalam waktu dekat ini bisa jadi  akan menggempur ibu kota masing-masing negara yang terlibat dalam agresi dan invasi militer ke Yaman.

Dalam acara “al-Masyhad al-Yamani” (Panorama Yaman) di saluran TV Al-Alam, Kamis (27/6/2019), al-Shami menjelaskan bahwa serangan ke bandara Abu Dhabi di Uni Emirat Arab, pelabuhan Yanbu di Arab Saudi, dan lain-lain merupakan bukti bahwa pasukan Yaman dari kubu Ansarullah (Houthi) sanggup menjangkau sasaran manapun yang dikehendakinya.

Dia memastikan bahwa dalam serangannya itu pasukan Yaman bukan asal menyerang, melainkan dapat membidik sasaran secara langsung dan tepat. Karena itu, dia juga menyatakan pihaknya menyambut baik jika dilakukan pembentukan sebuah tim internasional untuk “menyingkap kebohongan klaim-klaim Saudi” bahwa pasukan Yaman menggempur sasaran-sasaran sipil.

Lebih lanjut Dhaifullah al-Shami menyatakan bahwa pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi telah mengirim para anggota kelompok teroris al-Qaeda dan ISIS ke berbagai daerah di provinsi al-Dali, Shabwa, dan Mokha,  sebagai pasukan proksi Arab Saudi. (alalam)

Kedubes Bahrain Diserang  Pengunjuk Rasa, Pasukan Irak Tangkap 54 Orang

Mendagri Irak Yaseen al-Yasiri menyatakan bahwa pasukan keamanan negara ini telah menangkap puluhan orang yang diduga terlibat dalam serangan ke Kedubes Bahrain.

“Pasukan keamanan telah menangkap 54 orang di antara para penyerang Kedubes Bahrain,” ungkapnya, Kamis (27/6/2019).

Dia menambahkan bahwa “tindakan hukum akan dilakukan terhadap mereka” karena “keamanan kedubes dan perwakilan asing adalah garis merah sehingga pelanggaran terhadapnya tak dapat ditolerir dalam kondisi bagaimanapun.”

Al-Yasiri juga mengaku telah memerintahkan pembentukan sebuah tim untuk memeriksa komandan pasukan perlindungan kedubes.

Gedung Kedubes Bahrain di kawasan al-Mansour, Baghdad, diserang oleh massa pengunjuk rasa yang memrotes Perjanjian Abad Ini dan lokakarya ekonomi Bahrain. Mereka menurunkan bendera Bahrain dan menggantinya dengan bendera Palestina.

Sejumlah besar pasukan keamanan yang bernaung di bawah Kemendagri kemudian mendatangi lokasi tersebut untuk membubarkan massa dan mengendalikan situasi.

Kantor Perdana Menteri Irak Adel Abdul-Mahdi, Jumat (28/6/2019), merilis pernyataan kecaman atas insiden tersebut.

“Pemerintah sangat prihatin atas tindakan sejumlah pengunjuk rasa kemarin malam melanggar Kedubes Kerajaan Bahrain, melakukan perusakan, dan melanggar hukum serta kedaulatan dan kekebalan utusan diplomatik,” bunyi pernyataan itu.

Pernyataan itu juga memastikan bahwa tindakan tegas segera dilakukan untuk mengusir mereka dari kedubes Bahrain dan menangkap para pelakunya untuk kemudian diproses secara hukum. (alalam)