Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 27 September 2019

erdogan di pbb2Jakarta, ICMES. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendapat serangan masif dari berbagai media Arab Saudi karena dia tampak keberatan atas tuduhan Saudi dan sekutunya terhadap Iran terkait dengan insiden serangan yang menerjang dua kilang minyak Aramco milik Saudi.

Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayid Ali Khamenei kembali menegaskan bahwa sebagaimana AS, Eropa juga tak dapat dipercaya karena mengekor kepada AS, dan Iran kini sudah lebih tangguh dan berpengaruh bahkan daripada kondisinya pada 10 silam.

Presiden Iran Hassan Rouhani meminta negara-negara Barat menghentikan pasokan senjatanya ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab agar krisis di Yaman dapat  segera berakhir dan kemudian tercipta perdamaian di kawasan sekitar.

Kelompok pejuang Ansarullah di Yaman mengancam akan menggempur wilayah Uni Emirat Arab (UEA) yang, menurut mereka, lebih rapuh daripada Arab Saudi.

Berita selengkapnya:

Keberatan Iran Disalahkan dalam Insiden Aramco, Erdogan Jadi Bulan-Bulanan Media Saudi

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendapat serangan masif dari berbagai media Arab Saudi karena dia tampak keberatan atas tuduhan Saudi dan sekutunya terhadap Iran terkait dengan insiden serangan yang menerjang dua kilang minyak Aramco milik Saudi.

Erdogan kembali membuat pernyataan yang sangat mengusik Saudi ketika Riyadh sedang mengerahkan segenap upayanya untuk membangun opini yang menyudutkan Iran di tengah khalayak dunia.

Dilaporkan bahwa di sela-sela sidang Majelis Umum PBB di New York, AS, Erdogan menolak tuduhan Saudi dan AS bahwa Iran bertanggungjawab atas serangan ke Aramco.

“Serangan yang menyasar Aramco datang dari berbagai kawasan di Yaman, tidak seharusnya Iran dilimpahi tanggungjawab sepenuhnya atas serangan ini, dan dunia hendaknya peduli kepada perang di Yaman dan menghentikannya,” ungkap Erdogan dalam sebuah wawancara dengan Fox News, AS, yang disiarkan pada hari Rabu (25/9/2019).

Dia juga mengatakan, “Saya kira tidak benar tuduhan Iran berada di balik serangan yang terjadi belakangan ini (terhadap Aramco). Berbagai petunjuk yang ada sejauh ini tidak mesti mengarah kepada tanggungjawab Iran atas serangan itu.”

Menanggapi pernyataan Erdogan ini, koran Asharq al-Awsat memuat artikel karya Mashari al-Dzaidi yang menyebutkan, “Recep tampil mengejutkan, berlawanan dengan Arab dan non-Arab, dan semua ini lantaran satu sebab, yaitu agar tidak disalahkan oleh tetangga tercintanya, Iran!”

Middle East Online juga berkomentar dengan menyebutkan, “Presiden Turki melawan fakta dan realitas yang berkaitan dengan serangan Iran terhadap fasilitas minyak Saudi, dan mencari celah-celah di Iran setelah hubungannya dengan Saudi memburuk.”

Senada dengan komentar-komentar di atas, saluran TV Alarabiya menyatakan, “Recep Tayyip Erdogan mengambil sikap yang berlawanan dengan semua sikap internasional yang mengecam serangan terhadap Aramco pada 14 September lalu dan menyalahkan Iran. Kicauan Presiden Turki berada di luar jalur internasional.”

Dalam jumpa pers usai pertemuan puncak segi tiga Turki, Iran, dan Rusia di Ankara belum lama ini Erdogan juga membuat pernyataan yang menyudutkan Saudi terkait dengan insiden Aramco. Saat itu Erdogan menyoal siapa yang mulai menjatuhkan bom ke Yaman.  (alalam/rtarabic/usnews)

Ayatullah Khamenei: Iran Sekarang Bahkan Lebih Tangguh Daripada 10 Tahun Silam

Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayid Ali Khamenei kembali menegaskan bahwa sebagaimana AS, Eropa juga tak dapat dipercaya karena mengekor kepada AS, dan Iran kini sudah lebih tangguh dan berpengaruh bahkan daripada kondisinya pada 10 silam.

“Eropa membutuhkan kekuatan dan menggunakan pikiran yang sama dengan AS, namun tampil seolah mediator, padahal janji-janji mereka kosong. Jalan masih terbuka untuk berinteraksi dengan Eropa, tapi kita tidak dapat percaya kepada negara-negara yang secara terbuka memusuhi kita,” ujarnya dalam kata sambutannya saat ditemui oleh ketua dan para anggota Dewan Ahli Kepemimpinan Iran di Teheran, Kamis (26/9/2019), sembari menegaskan bahwa pintu dialog, perundingan, dan pertemuan hanya tertutup bagi Israel dan AS.

Dia menjelaskan bahwa AS dan Eropa takut kepada slogan dan jalan yang ditempuh revolusi Islam Iran sehingga mereka selalu saja berusaha mengesankan bahwa rakyat Iran hanya akan sejahtera apabila Teheran menuruti kemauan dan dikte mereka.

Padahal,  lanjutnya, Iran telah menghasilkan lompatan-lompatan besar di berbagai bidang justru karena berani melawan mereka, dan sekarang mereka ingin membendung lompatan-lompatan ini dengan berbagai macan cara, termasuk dengan menggalang aliansi anti-Iran di kawasan Teluk Persia.

Ayatullah Khamenei memastikan bahwa Iran sekarang bukan saja lebih tangguh daripada 40 tahun silam, melainkan bahkan juga lebih hebat daripada 10 tahun silam, dan pengaruhnyapun semakin besar di Timur Tengah.  (alalam)

Presiden Iran Minta Barat Berhenti Pasok Senjata ke Saudi dan UEA

Presiden Iran Hassan Rouhani meminta negara-negara Barat menghentikan pasokan senjatanya ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) agar krisis di Yaman dapat  segera berakhir dan kemudian tercipta perdamaian di kawasan sekitar.

Mengenai insiden serangan ke Aramco, Rouhani di sela sidang Majelis Umum PBB di New York, AS, Kamis (26/9/2019), menepis segala bentuk keterkaitan Iran dengan serangan ini.

Saat ditanya mengenai mengenai dukungan Iran kepada kelompok Ansarullah (Houthi) dalam serangan tersebut, Presiden Iran mengatakan bahwa pihak penuduhlah yang harus menyodorkan bukti atas klaim dan tuduhannya, bukan Iran.

Menurutnya, Ansarullah memiliki rudal sendiri sehingga sebelumnya juga sudah melancarkan serangan-serangan serupa, dan krisis regional hendaknya diselesaikan hanya melalui jalur diplomatik.

Mengenai kemungkinan dialog Iran dengan AS, Rouhani kembali menegaskan bahwa perundingan itu tidak mungkin dilakukan sebelum AS mencabut sanksi-sanksinya terhadap Iran.

Dia menambahkan bahwa negara-negara Eropa telah berusaha menyediakan perangkat untuk mempertahankan perjanjian nuklir Iran dan interaksi ekonomi mereka dengan Iran, namun ketika upaya itu sampai pada tahap penerapan, mereka ternyata tak sanggup atau tidak memiliki kemauan untuk menerapkan komitmennya, dan malah masih membutuhkan persetujuan AS.

Mengenai kesulitan mendapat visa kunjung ke AS yang dialami para pejabat Iran, Venezuela, dan Rusia untuk menghadiri sidang Majelis Umum PBB, Presiden Iran menegaskan AS tidak berhak mencegah ataupun menunda pemberian visa karena para pejabat itu datang ke AS untuk hajatan PBB, bukan terkait hubungan bilateral AS dengan negara lain. Rouhani mengaku setuju apabila ada ide pemindahan markas PBB dari AS ke negara lain. (raialyoum)

Ansarullah Yaman Ancam Gempur Emirat

Kelompok pejuang Ansarullah di Yaman mengancam akan menggempur wilayah Uni Emirat Arab (UEA) yang, menurut mereka, lebih rapuh daripada Arab Saudi.

Ancaman itu dinyatakan oleh anggota biro politik Ansarullah Mohammad Al-Bukhaiti dalam wawancara dengan saluran TV Al-Mayadeen yang berbasis di Libanon, Kamis (26/9/2019), sembari memastikan bahwa segala sesuatu sudah siap untuk pelaksanaan operasi serangan itu, “tapi keputusannya sekarang masih dibekukan.”

Dia mengingatkan bahwa peningkatan ketegangan oleh negara-negara agresor akan mendapat reaksi besar, dan dalam hal ini UEA “tak akan sanggup menanggung serangan ke kedalaman wilayahnya” jika terjadi eskalasi.

“Kami memperingatkan Emirat agar menghindari esklasi, karena wilayahnya yang notabene lebih rentan akan menjadi sasaran serangan. Kesempatan yang telah diberikan kepada mereka terbatas,” tegasnya.

Mohammad Al-Bukhaiti menekankan bahwa Emirat harus menarik keluar pasukannya dari provinsi-provinsi di Yaman selatan dan kawasan pesisir Yaman.

Menurutnya, negara-negara yang menyerang Yaman menggunakan kapal dan pelabuhan sipil sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan militer sehingga mengancam keamanan pelayaran.

Di bagian akhir wawancara dia menyatakan bahwa negara-negara agresor berusaha memukul mundur Iran, Hamas, Hizbullah, dan Ansarullah dari garis perjuangan mereka membela Palestina. (alalam)