Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 27 Desember 2019

erdogan dan fayez al-sarrajJakarta, ICMES. Pemerintahan Kesepakatan Nasional (Government of National Accord/GNA) yang dipimpin Fayez al-Sarraj di Tripoli, Libya, secara resmi meminta kepada Turki dukungan militer darat, laut, dan udara untuk melawan Tentara Nasional Libya (Libyan National Army/LNA) yang dipimpin Marsekal Lapangan Khalifa Haftar.

Komandan Angkatan Laut (AL) Iran Laksamana Hossein Khanzadi menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) sejak awal berdiri sudah berwatak antagonis dan agresif terhadap pihak lain, tapi ternyata tak bernyali menyerang Iran karena negara republik Islam ini memiliki angkatan bersenjata yang tangguh.

Sumber keamanan di Irak menyatakan bahwa pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi sedang menerapkan status siaga keamanan tertinggi.

Pasukan koalisi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan pihaknya sedang meninjau catatan hasil final mengenai operasi militernya terhadap Ansarullah (Houthi) di provinsi Sa’dah menyusul adanya laporan jatuhnya banyak korban tewas dan luka warga sipil.

Berita selengkapnya:

Pemerintah Libya Resmi Minta Intervensi Militer Turki untuk Melawan Pasukan Haftar

Pemerintahan Kesepakatan Nasional (Government of National Accord/GNA) yang dipimpin Fayez al-Sarraj di Tripoli, Libya, secara resmi meminta kepada Turki dukungan militer darat, laut, dan udara untuk melawan Tentara Nasional Libya (Libyan National Army/LNA) yang dipimpin Marsekal Lapangan Khalifa Haftar.

Hal tersebut dinyatakan oleh seorang pejabat Libya di Tripoli, Kamis (26/12/2019), seperti dikutip Sky News.

Sebelumnya di hari yang sama, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan parlemen negaranya kemungkinan pada 8 dan 9 Januari 2020 akan mengesahkan mandat pengiriman tentara ke Libya.

Kantor berita Turki, Anatolia, menyebutkan bahwa mandat itu akan disahkan setelah pembukaan sidang parlemen bulan depan “untuk memenuhi undangan GNA” yang diakui oleh PBB.

Dalam pidatonya kepada anggota faksi Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa di Turki, Erdogan mengatakan “Kami akan memberikan semua jenis dukungan kepada pemerintah Tripoli dalam perjuangannya melawan jenderal pemberontak (Khalifa Haftar) yang didukung oleh berbagai negara Eropa dan Arab.”

Di pihak lain, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi kembali menegaskan dukungannya kepada pasukan Haftar sembari menyatakan penolakannya terhadap intervensi militer asing di Libya.

Sejak 4 April lalu, Tripoli dan kawasan sekitarnya menjadi ajang pertempuran setelah pasukan Haftar melancarkan serangan untuk mengendalikannya, di tengah kecaman internasional yang meluas, kegagalan berulang-ulang pasukan Haftar, dan kekhawatiran akan terpupusnya solusi politik bagi krisis Libya.

Libya dewasa ini terbelah dalam dua kubu kekuasan; satu GNA yang diakui PBB, dipimpin Perdana Menteri Fayez Mustafa al-Sarraj, bermarkas di ibu kota, Tripoli, dan didukung Turki; dan yang lain adalah LNA yang terdiri atas kelompok-kelompok milisi yang dipimpin Khalifa Belqasim Haftar serta didukung Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA). (raialyoum)

Jenderal Iran: AS Antagonis Tapi Berani Serang Iran

Komandan Angkatan Laut (AL) Iran Laksamana Hossein Khanzadi menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) sejak awal berdiri sudah berwatak antagonis dan agresif terhadap pihak lain, tapi ternyata tak bernyali menyerang Iran karena negara republik Islam ini memiliki angkatan bersenjata yang tangguh.

Dalam pidato di depan pasukan khusus AL Iran di kota Masyhad Khanzadi mengatakan, “Amerika mengusir suku Indian dari negeri mereka yang perang saudara, membunuh 800,000 orang, merupakan satu-satunya negara yang telah menggunakan senjata nuklir dalam perang, dan ia pula yang mengobarkan perang Irak-Iran, dan mendirikan kelompok ISIS. Karena itu, di mana ia berada maka di situ juga ada perang.”

Khanzadi menyerukan kepada Angkatan Bersenjata Iran, terutama AL, agar sepenuhnya siap melawan setiap agresor agar tak seorangpun antagonis berani mendekati dan mengusik Iran.

Dia menjelaskan bahwa dalam peristiwa “Perang Pertahanan Suci” Iran melawan Irak (1980-1988) berbagai negara telah bahu membahu menyokong rezim diktator Irak Saddam Hossein, namun “pemenangnya justru Republik Islam Iran, dan AL memiliki andil besar dalam kemenangan ini”.

Dia juga menyebutkan bahwa perang ekonomi kini menjadi trend para antagonis dalam berusaha menundukkan bangsa yang hendak mereka mangsa.

“Musuh melakukan tekanan untuk menundukkan Republik Islam Iran dengan berbagai cara, termasuk perang ekonomi dan penyebaran propaganda melalui dunia maya,” ujarnya, sembari menegaskan keharusan untuk selalu waspada dan meneroping rencana-rencana musuh. (alalam)

Pasukan Relawan Irak Terapkan Status Siaga Keamanan Tinggi, Ada Apa?

Sumber keamanan di Irak menyatakan bahwa pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi sedang menerapkan status siaga keamanan tertinggi.

“Para pejuang al-Hashd al-Shaabi berada di level keamanan siaga keamanan tinggi,” ujar narasumber yang meminta tidak disebutkan identitasnya itu kepada saluran TV Irak al-Sumaria, Kamis (26/12/2019).

Dia menambahkan bahwa siaga keamanan tinggi pasukan relawan yang andil besar dalam penumpasan kelompok teroris ISIS di Irak itu diterapkan kali ini bukan terhadap ISIS, melainkan terhadap dugaan mengenai adanya “suatu pergerakan” Amerika Serikat (AS) di Irak.

Sayangnya, dia juga enggan memberikan keterangan lebih jauh mengenai pergerakan AS di Negeri 1001 Malam itu.

Al-Hashd al-Shaabi yang belakangan menjadi bagian dari Angkatan Bersenjata Irak didirikan pada tahun 2014 menyusul fatwa jihad dari ulama paling berpengaruh di Irak Grand Ayatullah Sayid Ali al-Sistani setelah kawanan teroris ISIS yang diam-diam didukung AS, Israel, Turki, dan beberapa rezim Arab datang dari Suriah menyerbu Irak dan berhasil menguasai banyak wilayah utara dan barat negara ini.

Bahu membahu dengan pasukan militer Irak, pasukan relawan itu diakui memiliki peranan yang sangat besar dalam perang dan penumpasan ISIS yang berlangsung selama beberapa tahun.

Popularitas al-Hashd al-Shaabi yang didukung, dilatih, dan dipersenjatai Iran itu lantas menimbulkan kecemasan pada AS dan sekutunya. Kecemasan AS ini diduga kuat menjadi latar belakang di balik serangan-serangan misterius pada basis-basis dan arsenal al-Hashd al-Shaabi.

Beberapa penyelidikan menunjukkan bahwa serangan-serangan yang sebagian diantaranya menyebabkan kebakaran dan ledakan itu berasal dari pesawat-pesawat nirawak AS dan Israel. (fars)

Setelah Menggempur Pasar di Yaman, Ini Komentar Aliansi Saudi-UEA

Pasukan koalisi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan pihaknya sedang meninjau catatan hasil final mengenai operasi militernya terhadap Ansarullah (Houthi) di provinsi Sa’dah menyusul adanya laporan jatuhnya banyak korban tewas dan luka warga sipil.

Juru bicara koalisi itu, Kol. Turki al-Maliki, Kamis (26/12/2019), menjelaskan bahwa pihaknya sedang dalam proses merampungkan peninjauan prosedur pasca-kerja untuk operasi yang dilakukan di distrik Monabbih, provinsi Sa’dah pada tanggal 24 Desember lalu, mengingat “kemungkinan adanya kerugian aksidental dan kerusakan sampingan” serta “kemungkinan jatuhnya korban sipil” dalam proses serangan terhadap “tempat-tempat perkumpulan anasir milisi Houthi.”

Al-Maliki menyebutkan bahwa semua dokumen terkait dengan insiden ini dilimpahkan kepada “tim gabungan” untuk evaluasi dan pengumuman mengenai hasilnya.

Dia mengklaim pihaknya “berkomitmen menerapkan standar tertinggi penargetan dan memraktikkan prinsip-prinsip yang ada dalam hukum humaniter internasional serta kaidah-kaidah konvensional operasi militer.”

Kelompok pejuang Ansarullah Selasa lalu mengumumkan bahwa pasukan Saudi dan sekutunya telah menyerang Pasar al-Raqw di distrik Monabbih, provinsi Sa’dah, di bagian barat laut Yaman.

Kelompok yang dimusuhi Saudi dan sekutunya itu juga menyebut Prancis turut bertanggungjawab atas kejahatan ini karena senjata yang digunakan dalam serangan itu berasal dari Prancis.

Laporan terbaru dari PBB menyatakan sebanyak 17 orang tewas akibat serangan brutal tersebut, 12 di antaranya imigran dari Ethiopia.

PBB mengecam keras serangan ke pasar tersebut, dan mencatat peristiwa ini sebagai kasus yang ketiga kalinya pasar mendapat serangan militer.

Sayangnya, PBB enggan menyebutkan pihak mana yang melancarkan, meskipun sudah jelas-jelas dilakukan oleh pasukan koalisi pimpinan Saudi.

Sejak tahun 2014 Yaman dilanda konflik antara Ansarullah dan pasukan loyalis presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi. Konflik ini membesar setelah pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer membela Mansour Hadi sejak Maret 2015.

Sejak intervensi itulah korban dalam jumlah besar berjatuhan. Jumlah jorban tewas tercatat resmi sekira 10,000 orang, sementara korban luka mencapai lebih dari 56,000 orang, namun pihak lembaga-lembaga kemanusiaan menyatakan jumlah korban jauh lebih besar dari itu.

Selain itu, sebanyak 3,3 juta orang mengungsi, 24,1 orang atau lebih dari sepertiga populasi negara ini, membutuhkan bantuan, menurut catatan PBB yang bahkan menyebut krisis Yaman sebagai yang terburuk di dunia sekarang.  (raialyoum/aljazeera)