Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 26 Juli 2019

kapal stena emperoJakarta, ICMES: IRGC menyatakan bahwa angkatan laut pasukan elit Iran ini telah menggelandang kapal tanker minyak Inggris “Stena Impero” menuju kawasan lepas pantai Iran di depan empat kapal perang AS dan satu kapal destroyer Inggris.

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengaku bersedia berkunjung ke Iran untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat Teheran jika dirasa perlu, di tengah ketegangan antara Teheran dan Washington.

Wakil ketua biro politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) Saleh al-Arouri menyebut kunjungan terbaru delegasi faksi pejuang Palestina ini ke Iran sebagai “historis” dan “strategis”.

Juru bicara Hamas menyatakan bahwa mayoritas masyarakat Arab, termasuk di Arab Saudi, menolak kunjungan sejumlah aktivis media sosial Arab ke Israel.

Delapan tentara negara kerajaan ini terbunuh dalam konfrontasi dengan tentara dan milisi Komite Rakyat Yaman di bagian selatan Saudi.

Berita selengkapnya:

Kapal Tanker Inggris Ternyata Digelandang di Depan Armada Perang AS dan Inggris

Komandan umum Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami menyatakan bahwa angkatan laut pasukan elit Iran ini telah menggelandang kapal tanker minyak Inggris “Stena Impero” menuju kawasan lepas pantai Iran di depan empat kapal perang AS dan satu kapal destroyer Inggris.

“Jika imperialis renta yang telah banyak menjarah kekayaan berbagai bangsa selama 100 tahun silam ini ingin menunjukkan ototnya di depan kami maka ketahuilah bahwa anak-anak bangsa (Iran) ini di laut telah menyeret kapal (tanker Inggris) itu di hadapan empat kapal perang AS dan kapal perusak milik Inggris menuju kawasan lepas pantai tanpa mengindahkan semua seruan mereka di balik sarana nirkabel. Anak-anak bangsa ini telah menyungkurkan wibawa dan pamor imperialis ke tanah,” ujar Mayjen Hossein Salami dalam sebuah pertemuan, Kamis (25/7/2019).

Dia memastikan tak ada satupun kekuatan besar di dunia yang dapat membuat keputusan semaunya terhadap Iran, dunia harus menghormati kehendak bangsa Iran, mengakui kedudukannya, dan siapapun tak dapat memaksakan kehendaknya terhadap bangsa ini.

“Musuh jangalah keliru berpikir tentang Iran. Mereka harus mengetahui bahwa bangsa Iran adalah guru besar resistensi. Tekanan, blokade, dan intimidasi tidak akan pernah ampuh di depan bangsa Iran,” lanjutnya.

Jenderal IRGC ini menilai lawan-lawannya mengalami kemunduran, sementara pihaknya mengalami kemajuan.

“Dalam situasi sekarang Iran lebih solid, bertekad, dan berkehendak, dan inilah yang telah dibuktikan oleh bangsa Iran kepada musuh yang telah bersumbar bahwa mereka tidak akan membiarkan Iran menjual minyaknya barang setetes dan bahwa ‘tak ada pilihan di depan kami (musuh) kecuali menyerah’, tapi sekarang mereka malah mengajak berunding,” papar Salami.

Dia kemudian menekankan, “Bangsa Iran tidak akan menipu dan tidak akan pula tertipu, melainkan akan berbuat sejujurnya, dan menolak kezaliman sesuai prinsip dan budaya Asyura.” (alalam)

Menlu AS Mengaku Siap Berkunjung ke Iran

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengaku bersedia berkunjung ke Iran untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat Teheran jika dirasa perlu, di tengah ketegangan antara Teheran dan Washington.

“Tentu. Jika itu panggilannya, saya akan dengan senang hati pergi ke sana … Saya akan menyambut baik kesempatan untuk berbicara langsung kepada orang-orang Iran,” tutur Pompoe saat ditanya apakah dia mau pergi ke Teheran dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg TV, Kamis (25/7/2019).

Ketegangan antara Iran dan AS meningkat sejak tahun lalu, ketika Presiden AS Donald Trump menarik negaranya dari kesepakatan nuklir Iran, yang secara resmi disebut “Rencana Aksi Komprehensif Bersama” (JCPOA), dengan dalih bahwa perjanjian itu sangat tidak mencukupi kebutuhan. Washington juga menerapkan kembali sanksi beratnya terhadap Teheran.

Hubungan antara kedua negara semakin tegang dalam tiga bulan terakhir menyusul insiden serangan terhadap tanker minyak di Selat Hormuz di lepas pantai Iran.

Trump dan para pemimpin Iran telah secara terbuka mengatakan pembicaraan itu mungkin, meskipun masing-masing pihak memiliki kondisi dan persyaratan yang berbeda untuk kelangsungan negosiasi itu.

Namun, Rabu lalu penasihat militer terkemuka Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan Teheran tidak akan bernegosiasi dengan Washington dalam keadaan apa pun, satu tanda bahwa telah terjadi pengerasan posisi Iran di tengah krisis. (reuters)

Al-Arouri: Kunjungan Terbaru Hamas ke Iran “Historis dan Strategis”

Wakil ketua biro politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) Saleh al-Arouri menyebut kunjungan terbaru delegasi faksi pejuang Palestina ini ke Iran sebagai “historis” dan “strategis”.

Delegasi Hamas pimpinan Al-Arouri tiba di Teheran, ibu kota Iran, pada Sabtu pekan lalu dalam sebuah lawatan yang berlangsung selama beberapa hari.

Dalam wawancara dengan channel Al-Aqsa milik Hamas, Kamis (25/7/2019), dia mengatakan, “Kunjungan ini dilakukan dalam situasi yang sangat krusial, pelik, dan sensitif di kawasan, dan (termasuk) urusan Palestina… Hubungan kami dengan Iran adalah bagian dari aliansi kokoh kami dengan berbagai bangsa, negara, dan kalangan yang menolak agenda Zionis serta menyokong kebenaran Palestina… Hubungan kami dengan Iran bukan ditujukan untuk melawan Arab ataupun Muslim manapun, melainkan dalam rangka mempersatukan upaya menghadapi rezim pendudukan (Israel),” paparnya.

Dia melanjutkan, “Kami berada di garis pertahanan atas semua elemen umat ini, termasuk Iran, Mesir, dan Saudi… Telah kami perlihatkan dengan jelas bahwa kami datang ke Iran untuk pengembangan hubungan dalam satu arah, yaitu perlawanan terhadap agresi Zionis dan dominasi AS yang berusaha mengatur kawasan sesuai kepentingan rezim pendudukan… Iran telah menunjukkan kesiapan operasional untuk memberikan segala bentuk dukungan, dan meskipun ada dalam kondisi blokade (Israel terhadap Gaza sejak tahun 2006), Iran tidak keberatan memberikan dukungan ini.”

Hubungan Hamas dengan Iran sempat dingin dan terusik menyusul konflik yang melanda Suriah sejak tahun 2011 karena Hamas mendukung oposisi sedangkan Iran menyokong pemerintahan Presiden Bashar al-Assad. Namun, para petinggi Hamas mengatakan bahwa pada tahun 2017 hubungan Hamas dengan Iran memulih. (raialyoum)

Hamas Tanggapi Isu Kunjungan Para Blogger Arab ke Israel

Juru bicara Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) Palestina, Hazim Qasim, Kamis (25/7/2019), menyatakan bahwa mayoritas masyarakat Arab, termasuk di Arab Saudi, menolak kunjungan sejumlah aktivis media sosial Arab ke Israel, dan bahwa ini menunjukkan bangsa-bangsa Arab masih memandang Israel sebagai musuh utama umat Arab dan Islam.

Dia menambahkan bahwa bangsa-bangsa Arab menolak “segala bentuk perilaku normalisasi dengan Israel” dan bahwa “isu Palestina akan senantiasa hadir dalam jiwa kolektif Arab sampai berakhirnya rezim pendudukan yang menyerang semua elemen umat kita ini.”

Pernyataan ini disampaikan Hazim setelah sekian hari beredar viral beberapa penggalan video pengusiran dan pemukulan terhadap seorang blogger Saudi Mohamed Saud dari halaman Masjid al-Aqsa oleh warga Palestina yang tinggal di kota Quds (Yerussalem).

Saud saat itu datang ke Palestina pendudukan dan mendatangi parlemen Israel, Knesset,   bersama 4-5 aktivitis media sosial Arab lain atas undangan Kementerian Luar Negeri Israel.

Saud yang merupakan mahasiswa ilmu hukum Universitas King Saud, Riyadh, menjadi sasaran hujatan masyarakat dan netizen Arab karena dalam berbagai kesempatan dia memamerkan video dukungan dan simpatinya kepada Rezim Zionis Israel. (alalam/rt)

Delapan Tentara Saudi Terbunuh dalam Perang Melawan Pasukan Yaman

Media Arab Saudi menyatakan bahwa delapan tentara negara kerajaan ini terbunuh dalam konfrontasi dengan tentara dan milisi Komite Rakyat Yaman di bagian selatan Saudi, Kamis (26/7/2019).

Sebelumnya, media gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman mengaku berhasil mencegah gerak maju pasukan Saudi di dekat perbatasan Najran, Jizan, dan Asir setelah terjadi kontak senjata sengit antara kedua belah pihak.

Menurut Ansarullah, dalam pertempuran itu pasukan Saudi mengerahkan helikopter Apache.

Peristiwa ini terjadi sehari setelah Ansarullah mengumumkan keberhasilannya menguasai tiga posisi militer Saudi di Asir, Saudi selatan. (alalam)