Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 25 Juni 2021

pasukan drone yamanJakarta, ICMES. Tentara Yaman yang bersekutu dengan kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) menyatakan pihaknya telah melancarkan serangan besar-besaran yang menjatuhkan puluhan korban tewas dan luka pasukan Arab Saudi dan bayarannya di dekat perbatasan Yaman-Saudi.

Seorang petinggi gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman menyatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat (AS) terpaksa mengakui eksistensi Ansarullah setelah kelompok pejuang Yaman yang didukung Iran ini berhasil mencetak kemenangan demi kemenangan di medan tempur dalam melawan invasi militer pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi.

Sejumlah warga Palestina menggelar unjuk rasa protes di kota Al-Khalil (Hebron) dan Ramallah, Tepi Barat, menyusul kematian aktivis politik dan HAM Palestina Nizar Banat.

Media massa dan para pegiat medsos Qatar menunjukkan kemarahan mereka atas pembuatan sebuah film di Hollywood yang didanai oleh sebuah perusahaan Uni Emirat Arab (UEA), karena dalam film itu Qatar dikesankan sebagai negara yang menjalankan terorisme negara.

Berita Selengkapnya:

Serangan Drone Ansarullah Tewaskan dan Lukai Puluhan Pasukan Saudi Dekat Perbatasan

Tentara Yaman yang bersekutu dengan kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) menyatakan pihaknya telah melancarkan serangan besar-besaran yang menjatuhkan puluhan korban tewas dan luka pasukan Arab Saudi dan bayarannya di dekat perbatasan Yaman-Saudi.

Juru bicara tentara Yaman, Brigjen Yahya Saree, di Twitter, Kamis (24/6), menyatakan, “Unit pasukan drone berhasil melancarkan serangan meluas dan hebat ke sebuah kamp pelatihan pasukan koalisi agresor Saudi-AS di kawasan Al-Wadi’ah dengan puluhan drone jenis Qasif K2 yang menyasar pusat komando, posisi-posisi pelatihan, sektor-sektor mobilisasi dan posisi-posisi lain dalam kamp. Serangan ini tepat mengena sasaran, berkat pertolongan Allah.”

Saree menambahkan,”Operasi serangan ini menewaskan dan melukai lebih dari 60 pasukan bayaran agresor, termasuk para komandan mereka, serta beberapa perwira Saudi.”

Dia menyebutkan bahwa operasi tersebut dilancarkan pada dua hari sebelumnya (Selasa-Rabu) dan telah terdokumentasi dalam bentuk audio visual yang akan segera dipublikasi.

Serangan masif ini terjadi meskipun pada pekan lalu beberapa sumber Yaman menyatakan bahwa delegasi Oman dalam kunjungannya ke Sanaa, ibu kota Yaman, telah menyampaikan pesan dari Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman (MBS) kepada pemimpin Ansarullah Sayid Abdul Malik Al-Houthi.

Disebutkan bahwa dalam pesan itu pemerintah Saudi mengaku siap menutup semua biaya rekonstruksi Yaman serta mengakui kekuasaan Ansarullah dan sekutunya atas Yaman utara dengan syarat Ansarullah bersedia menghentikan serangannya ke wilayah Saudi dan operasi militernya untuk merebut kota Ma’rib.

Sudah tujuh tahun Saudi dan sekutunya melancarkan invasi militer di Yaman dengan dalih membela pemerintahan presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi yang kabur dari Sanaa akibat gelombang revolusi rakyat yang digerakkan oleh Ansarullah.

Sebelum melancarkan invasi militer, MBS sempat bersumbar bahwa Saudi akan dapat menumpas Ansarullah dalam hitungan hari atau paling lambat beberapa minggu. Tapi perang sekarang sudah berlarut dan berkepanjangan sampai tujuh tahun dalam kondisi di mana Ansarullah menjadi jauh lebih kuat sehingga dapat melancarkan serangan-serangan mematikan ke wilayah Saudi. (raialyoum/fna)

Kehebatan Ansarullah di Medan Tempur Paksa AS Akui Eksistensi Ansarullah

Seorang petinggi gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman menyatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat (AS) terpaksa mengakui eksistensi Ansarullah setelah kelompok pejuang Yaman yang didukung Iran ini berhasil mencetak kemenangan demi kemenangan di medan tempur dalam melawan invasi militer pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi.

Abdul Wahhab Al-Mahbasyi, anggota Biro Politik Ansarullah, dalam wawancara dengan saluran Al-Mayadeen, Kamis (24/6), mengatakan, “Pengakuan utusan khusus AS untuk Yaman(Tim Lenderking) atas eksistensi Ansarullah merupakan pengakuan implisit atas keberadaan AS di balik perang terhadap Yaman.”

Dia menambahkan, “Prestasi-prestasi Ansarullah di lapangan telah membuat AS terpaksa mengakui Ansarullah sebagai satu pihak yang legal di Yaman.”

Sebelumnya di hari yang sama Lenderking menyebut Ansarullah sebagai salah satu pihak yang legal di Yaman dan kelompok yang telah memperoleh capaian-capaian tertentu.

Petinggi Ansarullah lain, Mohammad Ali Al-Houthi, anggota Dewan Tinggi Politik Yaman, turut menanggapi pernyataan Lenderking dengan mengatakan, “Yaman menang berkat kemampuan dan resistensinya, dan telah mendapatkan legitimasi dan independensinya.”

Dia juga menegaskan, “Masyarakat dunia harus berlaku adil kepada Yaman. Mereka harus jauh dari sikap mendikte, memaksakan kehendak dan memandang Yaman dengan tatapan lapar. Agresi dan blokade terhadap Yaman serta campurtangan dalam urusan politik, sosial dan ekonomi Yaman harus dihentikan.” (fna)

Aktivis HAM “Tewas Dianiaya”, Petugas Keamanan Otoritas Palestina Bentrok dengan Demonstran

Sejumlah warga Palestina menggelar unjuk rasa protes di kota Al-Khalil (Hebron) dan Ramallah, Tepi Barat, menyusul kematian aktivis politik dan HAM Palestina Nizar Banat, Kamis (24/6).

Pihak keluarga Banat mengatakan bahwa kritikus Otoritas Palestina (PA) itu meninggal setelah diringkus oleh aparat keamanan PA dari rumah salah seorang anggota keluarganya di Al-Khalil di selatan Tepi Barat, Kamis.

Sejumlah massa Palestina menggelar aksi protes di Ramallah dan Al-Khalil atas peristiwa ini dan mengutuk apa yang mereka sebut “kejahatan pembunuhan” terhadap aktivis oposisi. Massa menuntut penyilidikan dan hukuman terhadap pihak-pihak yang bertanggungjawab atas kejadian ini.

Aksi massa di Ramalah diwarnai bentrokan mereka dengan polisi PA manakala massa dalam jumlah besar bergerak menuju markas kepresidenan Palestina.

Dikutip reporter Al-Jazeera, Shirin Abu Aqilah, pihak keluarga Nizar mengatakan kepada saluran yang berbasis di Qatar ini bahwa Nizar ditangkap di sebuah rumah di Al-Khalil setelah dipukuli dengan pentungan dan disemprot dengan gas air mata. Satu jam setelah penangkapan, Gubernur Al-Khalil Jibrin al-Bakri memberitahu pihak keluarga bahwa Nizar meninggal dunia akibat kondisi kesehatannya memburuk.

Pihak keluarga lantas menyatakan bahwa Nizar meninggal akibat dianiaya, karena dia ditangkap dalam kondisi bugar dan tak memiliki masalah kesehatan apapun sebelumnya.

Nizar Banat dikenal sebagai sosok kritikus tajam terhadap PA. Kritik terbarunya dia sampaikan dalam sebuah rekaman video di mana dia menuntut penyelidikan atas dugaan adanya korupsi dalam kontrak penyediaan vaksin Covid-19 antara PA dan Rezim Zionis Israel.

Reporter Al-Jazeera melaporkan bahwa jenazah Nizar telah dibawa ke sebuah fasilitas kesehatan di distrik Abu Dis untuk diotopsi dan diketahui penyebab kematiannya. Utusan keluarga serta utusan sebuah lembaga peduli HAM dan hukum ikut dilibatkan dalam proses otopsi. (raialyoum)

Film Hollywood “The Misfits” Picu Ketegangan lagi Antara Qatar dan UEA

Media massa dan para pegiat medsos Qatar menunjukkan kemarahan mereka atas pembuatan sebuah film di Hollywood yang didanai oleh sebuah perusahaan Uni Emirat Arab (UEA), karena dalam film itu Qatar dikesankan sebagai negara yang menjalankan terorisme negara.

Dikutip Fars, Kamis (24/6), Al-Quds Al-Arabi melaporkan bahwa film berjudul The Misfits (Orang-Orang Canggung) yang diinvestasi oleh perusahaan Film Gate Pruduction yang bermarkas di Abu Dhabi, UEA, mengisahkan seorang pencuri yang berhasil kabur dari sebuah penjara  yang dijaga ekstra ketat di AS dan kemudian melanjutkan kejahatannya sebagai pencuri. Pencuri itu diperankan oleh aktor Pierce Brosnan.

Film ini menampilkan sebuah negara bernama Jazirah yang diasosiakan kepada negara Qatar dan disebutkan bahwa semua penduduknya mendukung terorisme, dan menampilkan pula pasukan UEA sebagai pasukan yang memerangi terorisme.

Film ini juga menyebut ulama ternama berhaluan Ikhwanul Muslimin yang tinggal di Qatar, Syeikh Yusuf Qardhawi, sebagai sosok pendukung terorisme global.

Menanggapi film ini, penulis Qatar Mohammad al-Kubaisi di Twitter menyatakan, “Semoga Allah tidak memberikan kebaikan kepada para pemimpin UEA. Dengan dana US$ 50 juta mereka telah membuat film The Misfits di Hollywood untuk mencemarkan nama baik Qatar dan menuduh masyarakat Qatar sebagai pendukung terorisme.”

Surat kabar Qatar Al-Sharq juga menurunkan laporan detail tentang ini sembari menyebutkan bahwa sejumlah pengacara Qatar bermaksud membuat pengaduan terhadap perusahaan UEA tersebut.

Krisis hubungan selama tiga setengah tahun Qatar dengan Arab Saudi, UEA, Bahrain dan Mesir sepintas sudah berakhir dalam sebuah pernyataan bersama pada KTT Dewan Kerjasama Teluk (GCC) di kota Al-Ula, Arab Saudi, pada 5 Januari 2021.

Namun demikian, kenyataan di lapangan memperlihatkan bahwa krisis itu masih menyisakan bara yang tak semudah itu dapat dipadam dalam sebuah deklarasi bersama yang terkesan dipaksakan karena ada mediasi dari Jared Kushner, menantu sekaligus penasehat Donald Trump yang saat itu masih menjabat sebagai presiden AS.  Sebab, meski hubungan Qatar dengan Mesir dan Saudi berkembang dan meluas lagi, namun Qatar dan Bahrain tampak kurang berminat memperbaiki hubungan dengan Qatar. (fna)