Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 24 Januari 2020

relawan irak al-hashdJakarta, ICMES. Ulama muda berpengaruh di Irak Sayid Moqtada Sadr menyerukan kepada seluruh rakyat Irak agar berpartisipasi dalam unjuk rasa akbar untuk menyuarakan pengusiran tentara AS dari Irak.

Iran mengutuk pernyataan Utusan Khusus AS untuk Iran Brian Hook yang berisi ancaman bahwa AS akan membunuh penerus Jenderal Qassem Soleimani.

Seorang anggota parlemen Irak mengecam rencana AS untuk memasang sistem rudal Patriot di Irak, dan menyebutnya melanggar kedaulatan Irak.

Kelompok pejuang Ansarullah (Houth) mengancam akan melancarkan gelombangan serangan baru terhadap Arab Saudi jika pertempuran masih berlanjut di timur Sanaa, ibu kota Yaman.

Berita selengkapnya:

Rakyat Irak Bersiap Gelar Unjuk Rasa Akbar Anti-AS

Ulama muda berpengaruh di Irak Sayid Moqtada Sadr menyerukan kepada seluruh rakyat Irak, baik laki-laki maupun perempuan” untuk “menyelamatkan tanah air” dengan berpartisipasi dalam unjuk rasa akbar untuk menyuarakan pengusiran tentara AS dari Irak, yang akan digelar hari ini, Jumat (24/1/2020), dan rakyat Irakpun lantas melakukan berbagai persiapan untuk mengikuti unjuk rasa ini.

Moqtada Sadr adalah orang yang pertama kali menyampaikan seruan itu. Melalui Twitter dia menegaskan bahwa “lonceng kemerdekaan dan keadulatan telah berbunyi”, sembari menjanjikan “Irak yang merdeka, diperintah oleh orang-orang salih, dan bersih dari korupsi”.

Seruan ini lantas disusul dengan seruan serupa dari berbagai kelompok, partai, dan fraksi parlemen kepada rakyat agar berpartisipasi dalam unjuk rasa akbar, yang diperkirakan akan dilakukan dalam bentuk aksi pawai yang mengarah ke gerbang Kedutaan Besar AS di Zona Hijau, Baghdad.

Unjuk rasa akbar yang melibatkan jutaan orang itu diserukan menyusul peristiwa serangan udara AS yang menewaskan mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Qassem Soleimani dan wakil ketua pasukan relawan Irak Hasdh Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, serta beberapa orang lain yang menyertai keduanya di dekat Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari lalu.

Di Negeri 1001 itu bercokol ribuan tentara AS dengan dalih memberikan pelatihan tentara Irak dan melindungi Kedutaan Besar AS.

Pasukan AS telah berulangkali melanggar kedaulatan Irak secara terbuka, termasuk dengan kedatangan para pejabat AS tanpa koordinasi dengan pemerintah Irak, campur tangan dalam urusan internal Irak, dan penerbangan para pilot AS tanpa seizin otoritas Irak, dan yang belakangan ini menggemparkan ialah serangan teror pasukan AS terhadap Soleimani dan al-Muhandis di Baghdad. (mm/alalam/raialyoum)

Iran Tanggapi Ancaman AS untuk Membunuh Penerus Jenderal Soleimani

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi mengutuk pernyataan Utusan Khusus AS untuk Iran Brian Hook yang berisi ancaman bahwa AS akan membunuh Brigjen Esmail Qaani yang menjadi penerus Mayjen Qassem Soleimani sebagai komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

“Pernyataan pejabat Kementerian Luar Negeri AS ini terhitung sebagai pernyataan resmi dan pelepasan kendali secara terbuka untuk terorisme sistematis pemerintah AS,” ungkap Mousavi, Kamis (23/1/2020).

Dia mengingatkan bahwa Iran mencatat pemerintah AS sebagai rezim kedua setelah  Rezim Zionis Israel yang “telah secara resmi menggunakan fasilitas negara dan angkatan bersenjatanya untuk melakukan aksi teror”.

Mousavi menyebutkan bahwa terorisme yang diandalkan AS justru menunjukkan frustasi Washington dan ketidak berdayaannya melicinkan ambisi-ambisi politiknya di Timteng.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran lantas mengingatkan bahwa aksi teror AS itu cepat atau lambat akan berdampak pada semua orang, dan karena itu dia juga menyerukan kepada masyarakat dunia agar mengutuk praktik kotor AS itu.

Sebelumnya di hari yang sama, Brian Hook dalam wawancara dengan surat kabar Asharq al-Awsat di Davos, Swiss, bersumbar bahwa AS juga akan menghabisi Esmail Qaani  jika penerus Soleimani ini melanjutkan jalan membunuh orang-orang Amerika.

Hooke mengatakan bahwa jika Esmail Ghaani “mengikuti jalan yang sama untuk membunuh orang Amerika, maka ia akan menemui nasib yang sama”.

Dia menambahkan, “Presiden (AS Donald Trump) telah menjelaskan selama bertahun-tahun bahwa setiap serangan terhadap personel atau kepentingan AS di kawasan akan ditanggapi dengan reaksi tegas.” (alalam/vox)

Anggota Parlemen Irak Kecam Rencana AS Kerahkan Sistem Patriot

Seorang anggota parlemen Irak mengecam rencana AS untuk memasang sistem rudal Patriot di Irak, dan menyebutnya melanggar kedaulatan Irak.

“Parlemen Irak mewakili semua kelompok dan arus politik. Keputusan (parlemen) yang menuntut penarikan pasukan militer AS didukung oleh opini publik. Karena itu, upaya pasukan (AS) mengerahkan sistem rudal Patriot di pangkalannya untuk meningkatkan kemampuan tempurnya ditolak dan dianggap sebagai pelanggaran atas kedaulatan kita, ” ungkap Karim Alawi, anggota Komisi Keamanan dan Pertahanan parlemen Iran, kepada kantor berita Baghdad al-Yaoum, Kamis (23/1/2020).

Dia menambahkan, “Kehadiran pasukan AS di Irak adalah ilegal. Keputusan parlemen baru-baru ini jelas. Bola sekarang ada di pengadilan pemerintah untuk mengeluarkan pasukan itu. Jika itu tidak dilaksanakan, akan ada reaksi dari semua lini, termasuk mengajukan pengaduan ke PBB dan organisasi Islam lainnya dengan tujuan menyingkirkan pasukan Amerika. ”

Alawi menegaskan bahwa rakyat Irak akan berunjuk rasa di Baghdad pada hari ini, Jumat (23/1/2020), untuk menyampaikan pesan kepada pasukan AS bahwa “rakyat Irak menolak kehadiran mereka dan sudah saatnya mereka meninggalkan pangkalan mereka.”

Pada 3 Januari lalu AS melancarkan serangan udara ke sebuah lokasi di dekat Bandara Internasional Baghdad hingga menewaskan komandan Pasukan Quds IRGC Jenderal Qassem Soleimani dan wakil ketua pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, serta beberapa orang lain yang menyertai keduanya.

Pada 8 Januari 2020 IRGC membalas serangan AS itu dengan melesatkan puluhan rudal balistiknya ke dua pangkalan militer AS di Irak, termasuk Lanud Ain Assad yang ditempati oleh ribuan tentara AS.

Jaringan berita televisi Fox News saat itu mengklaim tidak ada sistem rudal AS untuk menembak jatuh rudal Iran.

IRGC mengklaim serangannya itu menewaskan sekira 80 tentara AS, sementara Pentagon belakangan ini secara resmi menyatakan 11 tentara AS terluka dalam serangan rudal balistik tersebut, setelah Presiden AS Donald Trump semula mengklaim tidak ada korban tewas maupun luka.

Iran berjanji masih akan menempuh berbagai cara untuk membalas serangan udara AS, terutama agar AS terusir dari kawasan Teluk Persia dan Timur Tengah secara umum. (presstv)

Ansarullah Ancam Saudi dengan Gelombang Serangan Baru

Kelompok pejuang Ansarullah (Houth) mengancam akan melancarkan gelombangan serangan baru terhadap Arab Saudi jika pertempuran masih berlanjut di timur Sanaa, ibu kota Yaman.

Sebagaimana dilaporkan kantor berita Saba, Ketua Dewan Tinggi Politik Yaman yang berafiliasi dengan Ansarullah dan berpusat di Sanaa, Mahdi al-Mashat, dalam pertemuan dengan Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Yaman, Martin Griffiths, Kamis (23/1/2020), menyatakan pihaknya sangat mengharapkan dapat memberikan fasilitas yang memadai kepada organisasi-organisasi kemanusiaan agar mereka dapat bekerja secara optimal.

Tapi dia lantas mendesak PBB agar menekan aliansi militer pimpinan Arab Saudi agar membiarkan perusahaan telekomunikasi umum menyelesaikan pemasangan kabel, yang telah dibayar jutaan dolar di seluruh Al-Hudaydah untuk dimanfaatkan , dan itu bukan kabel laut yang telah diputus.

Al-Mashat mengeluhkan “tertundanya banyak langkah” yang telah dijanjikan PBB, termasuk membuka Bandara Internasional Sanaa dan “jembatan medis” untuk mengangkut pasien, selain adanya “kesewenang-wenangan”  di Laut Merah.

Dia lantas mengatakan, “Eskalasi front Marib dan Nahum yang didukung oleh penerbangan jet-jet tempur Saudi jika terus berlanjut akan dapat menghentikan insiatif dan menjurus pada hasil-hasil yang berbahaya di tengah perkembangan situasi di kawasan.”

Bersamaan dengan ini, ketua dewan perwakilan Houthi, Yahya al-Ra’ei, menyatakan bahwa al-Mashat mendapat tekanan besar dari publik akibat inisiatifnya menghentikan serangan ke Saudi karena jet-jet tempur Saudi terus “melakukan pemboman setiap hari tanpa ada reaksi”.

Sementara itu, Griffith hari itu juga mengadakan pertemuan dengan pemimpin Ansarullah, Abdul Malik al-Houthi.

Jubir dan perunding Ansarullah Mohammad Abdul Salam menyebutkan bahwa dalam pertemuan itu telah dibahas berbagai kendala serta berlanjutnya serangan Saudi dan sekutunya hingga menjadi “batu sandungan” bagi upaya perdamaian.

Griffiths tiba di Sanaa, Kamis, beberapa hari setelah terjadi serangan terhadap sebuah kamp militer di kota Ma’rib yang menewaskan 111 personil pasukan loyalis presiden tersingkir Yaman Abed Rabbuh Mansour Hadi dan melukai beberapa orang lainnya.

Saudi menuding Ansarullah sebagai pelaku serangan itu, tapi Ansarullah membantahnya.

Kedatangan Griffiths itu juga terjadi bersamaan dengan meningkatnya pertempuran antara pasukan Ansarullah dan pasukan loyalis Hadi di front Nahum dan Dali.

Griffiths Rabu lalu mengaku prihatin atas eskalasi kekerasan yang, menurutnya telah menjatuhkan banyak korban sipil. (saba/raialyoum)