Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 23 Juli 2021

pelabuhan jask iranJakarta, ICMES. Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan negaranya telah membuka pelabuhan minyak pertamanya di Teluk Oman, yang akan membuat negara republik Islam ini tidak lagi memerlukan Selat Hormuz sebagai satu-satunya jalur pelayaran kapal-kapal tanker minyaknya.

Media Israel melaporkan bahwa Rusia ada di balik kegagalan serangan udara Israel ke kawasan selatan Aleppo yang terjadi pada Senin malam lalu.

Kemlu Suriah merilis pernyataan resmi terkait dengan serangan udara terbaru Rezim Zionis Israel terhadap Suriah yang terjadi Senin malam lalu.

Surat kabar AS Wall Steet Journal (WSJ) menyebutkan bahwa para petinggi Washington dan Baghdad telah bersepakat mengenai penarikan tentara AS dari Irak.

Berita Selengkapnya:

Pukulan bagi AS, Iran Resmikan Pelabuhan Minyak Pertamanya di Teluk Oman

Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan negaranya telah membuka pelabuhan minyak pertamanya di Teluk Oman, yang akan membuat negara republik Islam ini tidak lagi memerlukan Selat Hormuz sebagai satu-satunya jalur pelayaran kapal-kapal tanker minyaknya.

Pelabuhan minyak baru Iran di kota Bandar-e Jask itu menjadi terobosan negara ini untuk tidak bergantung pada Selat Hormuz yang rawan gangguan atau bahkan konfrontasi militer antara Iran dan negara-negara musuhnya, terutama AS.

Presiden Rouhani dalam sebuah pidato televisi, Kamis (22/7), mengatakan, “Langkah strategis ini penting karena Iran akan menjamin kelanjutan ekspor minyaknya. Pelabuhan baru untuk ekspor minyak mentah ini membuktikan kegagalan sanksi-sanksi AS.”

Dia menjelaskan bahwa Iran bermaksud mengekspor satu juta barel minyak per hari dari pelabuhan Bandar-e Jask.

Iran telah berulang kali mengancam akan menutup Selat Hormuz jika negara ini tak dapat mengekspor minyaknya akibat sanksi yang dikembali diterapkan AS sejak tiga tahun lalu setelah presiden AS saat itu Donald Trump menarik AS dari perjanjian nuklir yang diteken Iran bersama enam negara besar dunia.

Selat Hormuz merupakan jalur perairan di gerbang Teluk Persia dan dilintasi oleh sekira seperlima pasokan minyak dunia dari Timur Tengah ke pasar-pasar di Asia, Eropa, Amerika utara dan lain-lain, namun kerap diwarnai pergesekan antara pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan pasukan AS. (alalam/ raialyoum)

Israel Sebut Rusia Ada di Balik Kegagalan Serangan Israel ke Suriah

Media Israel melaporkan bahwa Rusia ada di balik kegagalan serangan udara Israel ke kawasan selatan Aleppo yang terjadi pada Senin malam lalu.

Wakil Kepala Pusat Rekonsiliasi Rusia di Suriah, Laksamana Muda Vadim Kolet, Selasa lalu untuk pertama kalinya angkat bicara secara detail mengenai serangan tersebut. Dia mengatakan bahwa serangan itu dilancarkan Israel dengan menggunakan empat unit jet tempur F-16.

Vadim Kolet juga menjelaskan bahwa tak seperti sebelumnya di mana Israel biasa melanggar zona udara Libanon dalam menyerang Suriah, kali ini pasukan udara Zionis melancarkan serangan melalui wilayah Yordania, namun sistem pertahanan udara Suriah yang dilengkapi dengan rudal Rusia telah menangkis serangan terbaru Israel tersebut.

Situs berita militer Debka milik Israel, Kamis (22/7), mengutip pernyataan sumber-sumber militer Zionis bahwa dengan pernyataan itu Rusia secara tidak langsung mengaku mulai campur tangan.

Menurut sumber-sumber itu, tindakan Rusia tersebut memiliki tiga pesan untuk Israel sebagai berikut;

Pertama, peringatan kepada Israel bahwa sistem radar Rusia di Suriah berkemampuan mendeteksi segala bentuk penerbangan pesawat Israel yang akan masuk ke Suriah melalui Yordania.

Kedua, Rusia menempatkan sistem rudal Pantsir, S-300 dan S-400 di Suriah untuk menghadapi serangan rudal Israel.

Ketiga, pesan Rusia secara khusus untuk Perdana Menteri Israel Naftali Bennett bahwa Bennett tak akan dapat menyerang posisi-posisi tentara Suriah dan sekutunya, dan bahwa kesepakatan strategis Rusia-Israel di masa jabatan Benjamin Netanyahu sebagai perdana menteri Israel sudah dibatalkan sehingga selanjutnya Rusia akan mematahkan segala bentuk serangan udara Israel ke Suriah.

Berdasarakan kesepakatan di masa Netanyahu itu Rusia tidak akan campur tangan apabila Israel menyerang Suriah. (alalam)

Kemlu Suriah Tanggapi Resmi Serangan Terbaru Israel

Kemlu Suriah merilis pernyataan resmi terkait dengan serangan udara terbaru Rezim Zionis Israel terhadap Suriah yang terjadi Senin malam lalu.

Dalam statemen tersebut Kemlu Suriah, Kamis (22/7), menegaskan bahwa tentara negara ini selalu bersiaga dan tak akan pernah melemah dalam membela negara dan bangsanya.

“Agresi berulang Rezim Zionis terhadap wilayah Suriah yang terjadi bersamaan dengan serangan teroris ke kawasan sekitar Aleppo dan pemutusan air provinsi Hasakah oleh rezim Turki menunjukkan bahwa semua tindakan ini dilakukan dalam rangka kerja strategi geopolitik konspiratif anti-Suriah lantaran pendiriannya dalam pemberantasan terorisme dan para anteknya di kawasan,” bunyi statemen itu.

Kemlu Suriah menyebutkan bahwa Israel melanjutkan serangan adalah karena mendapat dukungan dari pemerintah AS dan beberapa negara Barat lain, dan karena mengetahui bahwa kejahatannya itu tidak akan diperkarakan oleh khalayak dunia.

Kemlu Suriah juga menekankan bahwa ketidak pedulian sebagian anggota masyarakat dunia kepada agresi dan kejahatan Israel tak ubahnya dengan kemitraan mereka dalam kejahatan Zionis.

Kemlu Suriah lantas menegaskan, “Suriah tak akan lemah ataupun abai barang sesaat dari tindakan yang benar dalam membela wilayah, rakyat dan kedaulatannya, yang diakui oleh semua undang-undang internasional.”

Seperti diketahui, sistem pertahanan udara Suriah berhasil merontokkan tujuh rudal yang ditembakkan oleh jet tempur Israel dalam peristiwa serangan rezim Zionis tersebut terhadap Suriah pada Senin malam lalu.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa serangan Zionis itu dilancarkan dengan menggunakan empat unit jet tempur F-16 dari wilayah Yordania. (alalam)

Media AS Laporkan Pasukan Negara Ini akan Keluar dari Irak Sampai Akhir Tahun 2021

Surat kabar AS Wall Steet Journal (WSJ) menyebutkan bahwa para petinggi Washington dan Baghdad telah bersepakat mengenai penarikan tentara AS dari Irak.

Dikutip situs berita Fars milik Iran, Kamis (22/7),  WSJ menyebutkan bahwa para pejabat senior Irak dan AS  rencananya akan segera mengumumkan kesepakatan ini dalam sebuah pernyataan resmi yang antara lain mengkonfirmasi bahwa tentara AS akan ditarik dari Irak sampai akhir tahun ini.

WSJ juga menyebutkan bahwa dalam pernyataan bersama itu juga ditekankan bahwa meski demikian Irak masih memerlukan kehadiran militer AS untuk membantu tentara Irak dalam penumpasan kelompok teroris ISIS.

Tentang ini, Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein kepada WSJ mengatakan, “Kami tidak memerlukan pasukan lebih banyak, sebab kami sendiri memiliki pasukan demikian.”

Dia menambahkan, “Apa yang kami perlukan? Yang kami perlukan adalah kerjasama di bidang informasi. Kami memerlukan pelatihan pasukan. Kami butuh pasukan yang membantu kami di udara.”

Pada tahun 2008 Irak dan AS menandatangani kesepakatan “Kerangka Strategi” yang mencanangkan penarikan pasukan AS sampai tahun 2011 atau setelah delapan tahun AS menduduki Irak.

Sejak tahun 2014 AS memimpin koalisi internasional untuk apa yang mereka klaim sebagai perang melawan ISIS. Koalisi ini mengerahkan 3000 pasukan di Irak, termasuk 2500 tentara AS.

Pada 5 Januari 2020 parlemen Irak mensahkan undang-undang yang menuntut penarikan pasukan asing tersebut dari Irak. (fna)