Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 22 Februari 2019

jenderal qasem soleimaniJakarta, ICMES: Komandan Pasukan Quds Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayjen Qasem Soleimani mengancam Arab Saudi dengan reaksi terhadap serangan teror yang menewaskan 27 anggota IRGC di Iran tenggara pekan lalu.

Penasehat Militer Pemimpin Besar Iran, Mayjen Yahya Rahim Safavi, mengimbau pemerintah Pakistan untuk tidak bergantung pada Arab Saudi karena negara yang secara de facto sedang dikuasai oleh Putra Mahkota Mohamed bin Salman ini “tidak akan bertahan lama.”

Iran menggelar latihan perang angkatan lautnya hingga tiga hari di kawasan yang luas antara Teluk Persia dan Samudra Hindia dan mencakup rute sensitif pelayaran internasional.

Pasukan Irak menerima 130 anggota kelompok teroris ISIS asal Irak yang digulung oleh milisi Kurdi, Pasukan Demokrsi Suriah (SDF), di wilayah Suriah.

Berita selengkapnya:

IRGC Diteror, Ini Bunyi Ancaman Pembalasan Jenderal Soleimani

Komandan Pasukan Quds Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayjen Qasem Soleimani mengancam Arab Saudi dengan reaksi terhadap serangan teror yang menewaskan 27 anggota IRGC di Iran tenggara pekan lalu.

“Arab Saudi membangun pengaruhnya di kawasan hanya dengan uang.  Ini adalah pengaruh yang keliru dan sia-sia … Kami akan membalas para syuaha kami … dan itu akan ada di mana saja di dunia,” ancam jenderal tersohor Iran itu, seperti dikutip Tasnim, Kamis (21/2/2019).

Iran menuding Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berada di balik serangan teror kelompok teroris  penyerang pasukan keamanan Iran, namun kedua negara Arab Teluk Persia itu membantah terkait dengan serangan itu.

Kelompok teroris Jaish al-Adl  mengaku bertanggung jawab atas serangan di dekat perbatasan dengan Pakistan tersebut.

Pihak berwenang Iran mengatakan bahwa kelompok-kelompok militan beroperasi dari tempat-tempat yang aman di Pakistan dan karena itu Iran telah berulang kali meminta Pakistan agar menindak mereka.

“Saya memperingatkan Anda: jangan menguji kemampuan Iran,” kata Soleimani dalam ancaman terbaru pejabat Iran sejak serangan yang terjadi pada 13 Februari 2019 tersebut.

Sebagaimana dilansir al-Alam, dalam sebuah pidato di sebuah acara mengenang para martir Iran di Babel, provinsi Mazandaran, utara Iran, Soleimani mengatakan, “Serangan yang terjadi belakangan di Zahedan itu sangat menyakitkan, tetapi pesan saya kepada bangsa Muslim Pakistan yang mulia dan sebagian pejabatnya ialah bahwa Pakistan semula kami bayangkan memandang Iran sebagai kedalaman strateginya.”

Dia juga mengatakan, “Telah kami nyatakan berulangkali kepada para pemimpin Pakistan bahwa kami mendukung Pakistan dan peranannya di kawasan, namun pertanyaan yang mengarah kepada pemerintah Pakistan ialah ke mana Anda berarah?”

Soleimani menambahkan, “Sekelompok pengkhianat didanai oleh Saudi, dan menyerang para tetangga terpercaya di Pakistan. Tapi apakah Pakistan tidak sanggup membendung kelompok teroris yang jumlahnya 200-300 orang ini?”

Jenderal yang diakui dunia banyak berperan dalam penumpasan teroris di Irak dan Suriah ini kemudian menegaskan, “Kami tidak mengancam, melainkan bicara berdasar semangat persahabatan dengan Pakistan. Namun, Republik Islam Iran tentu akan membalas darah para syuhada kami terhadap para antek, dan akan menyerang kawanan ini di manapun mereka berada.” (raialyoum)

Jenderal Iran: Tak Ada Lagi Negara Bernama Arab Saudi Pada Tahun 2030

Penasehat Militer Pemimpin Besar Iran, Mayjen Yahya Rahim Safavi, mengimbau pemerintah Pakistan untuk tidak bergantung pada Arab Saudi karena negara yang secara de facto sedang dikuasai oleh Putra Mahkota Mohamed bin Salman ini “tidak akan bertahan lama.”

“16 lembaga dan pusat penelitian di Eropa menyimpulkan dalam sebuah dokumen berjudul ‘Dunia Pada 2030’ bahwa tidak akan ada lagi negara bernama Arab Saudi di dunia dan bahwa Iran akan menjadi negara terkuat di kawasan,” kata Safavi dalam pidatonya di sebuah upacara di Isfahan, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut mengenai dokumen itu.

Dia melanjutkan, “Pihak berwenang Pakistan harus sepenuhnya menyadari bahwa Iran menghormati negara-negara tetangga, termasuk Pakistan, dan hendaknya juga mengetahui bahwa rezim yang berkuasa di Arab Saudi tidak akan bertahan lama, maka jangan mengandalkannya.”

Iran menuding Arab Saudi dan Amerika Serikat sebagai dalang serangan bunuh diri yang menyasar bus militer Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan menewaskan 27 anggota pasukan ini di Zahedan pekan lalu.

Pihak berwenang Iran mengumumkan bahwa serangan itu dilakukan dari Pakistan, dan memanggil Duta Besar Pakistan untuk menyampaikan nota protes dalam masalah ini.

Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman baru-baru ini mengunjungi Pakistan sebagai bagian dari tur Asia-nya. (raialyoum)

Iran Gelar Latihan Perang Di Kawasan Seluas Jutaan Kilometer Di Teluk Persia Dan Samudera India

Iran menggelar latihan perang angkatan lautnya sejak hari ini, Jumat (22/2/2019), hingga tiga hari di kawasan yang luas antara Teluk Persia dan Samudra Hindia dan mencakup rute sensitif pelayaran internasional.

“Latihan itu akan dilakukan di perairan Selat Hormuz, Laut Oman, dan Samudra India utara di area seluas 2 juta kilometer persegi dan akan berlangsung selama tiga hari,” ungkap Komandan Angkatan Laut Iran Laksamana Hussein Khanzadi, Kamis (21/2/2019).

Dia menambahkan bahwa latihan perang ini bertujuan mengevaluasi “senjata, peralatan dan personil” untuk “kesiapan untuk pertempuran yang sesungguhnya.”

Selat Hormuz merupakan kawasan vital bagi pasokan energi global, dan sepertiga dari minyak yang diangkut melalui laut setiap hari melintas di kawasan ini.

Latihan perang terjadi di tengah meningkatnya ketegangan hubungan Iran dengan Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS).  AS adalah negara yang telah menarik diri dari perjanjian nuklir Iran dengan beberapa negara terkemuka dunia dan kemudian memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran.

Selat Hormuz juga merupakan rute internasional yang secara rutin dilintasi oleh pasukan AS.

Khanzadi mengatakan bahwa latihan perang bersandi “Wilayat 97” itu akan melibatkan kapal selam Iran, kapal perang, helikopter, pesawat tempur, dan rudal yang akan ditembakkan dari kapal.  (raialyoum)

Irak Terima 130 Teroris ISIS Dari Pasukan Kurdi Suriah

Pasukan Irak, Kamis (21/2/2019), menerima 130 anggota kelompok teroris ISIS asal Irak yang digulung oleh milisi Kurdi, Pasukan Demokrsi Suriah (SDF), di wilayah Suriah, demikian menurut keterangan sebuah sumber keamanan kepada AFP.

Kepala komite keamanan di provinsi Anbar, Naim al-Ka’ud, mengatakan bahwa pasukan Irak “telah menerima dari SDF 130 anggota teroris yang dicari oleh pemerintah Irak.”

Secara terpisah, seorang petinggi militer pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi yang ada di wilayah perbatasan Irak-Suriah mengatakan, “Mereka semua adalah warga Irak, dan tidak ada orang asing di antara mereka.”

Pejabat yang meminta identitasnya dirahasiakan itu menjelaskan bahwa pejabat resmi Irak yang diwakili oleh Pauskan Elang Keamanan Nasional, Intelijen Angkatan Bersenjata,  dan para pemimpin operasi al-Jazirah dan al-Badiyah telah menerima ekstradisi para anggota ISIS itu secara resmi.”

Dia menambahkan, “Beberapa gelombang lagi juga akan dikirim ke pihak Irak, termasuk keluarga militan yang telah menyeberangi perbatasan ke sisi Suriah.”

Perdana Menteri Irak Adel Abdul-Mahdi mengatakan dalam konferensi pers mingguannya Selasa lalu bahwa negaranya sedang memantau situasi di Suriah timur dengan penuh waspada untuk mengantisipasi penyusupan sisa-sisa anggota ISIS ke perbatasan Irak.

Pada bulan Desember 2017 Irak mengumumkan kemenangan finalnya atas ISIS di semua wilayah seluas sekira sepertiga negara ini yang semula diduduki oleh ISIS sejak tahun 2014.

Belakangan SDF yang didukung oleh pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat menggalakkan operasi penumpasan ISIS di kantung terakhirnya di provinsi timur Deir al-Zour, Suriah timur, hingga ISIS kemudian terkepung di area hanya seluas setengah kilometer persegi. (railayoum)