Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 2 Juli 2021

serangan ansarullah di al-wadi'ah 2Jakarta, ICMES. Angkatan Bersenjata Yaman yang bersekutu dengan gerakan Ansarullah (Houthi) merilis rekaman video dan foto serangannya ke sebuah pangkalan milik Arab Saudi di dekat perbatasan negara ini dengan Yaman.

Kemlu Rusia mengecam tindakan pemerintah AS memblokir puluhan website yang berafiliasi dengan Poros Resistensi, termasuk situs-situs berita yang berbasis di Iran.

Diplomat senior Israel Dore Gold menyatakan bahwa perubahan kebijakan AS mengenai Dataran Tinggi Golan, tanah Suriah yang diduduki Israel, berpotensi dipandang Iran sebagai kesempatan untuk mengepung Israel.

Sirine di dalam komplek Kedubes AS untuk Irak di Baghdad berbunyi menyusul dugaan adanya drone yang terbang di atas komplek tersebut.

Berita Selengkapnya:

Pasukan Yaman Gempur Pangkalan Arab Saudi dengan Puluhan Drone

Angkatan Bersenjata Yaman yang bersekutu dengan gerakan Ansarullah (Houthi) merilis rekaman video dan foto serangannya ke sebuah pangkalan milik Arab Saudi di dekat perbatasan negara ini dengan Yaman.

Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman Brigjen Yahya Saree di Twitter, Kamis malam (1/7), menyatakan pihaknya telah menyerang  sebuah kamp pelatihan pasukan koalisi yang dipimpin Saudi di kawasan Al-Wadi’ah di wilayah Saudi dekat perbatasan Yaman.

Saree menjelaskan bahwa dalam operasi serangan itu sebanyak 10 drone penyerang jenis Qasef K2 telah dilesatkan pada sasaran-sasaran berupa pusat komando, pusat-pusat pelatihan dan beberapa bangunan yang ada di pangkalan tersebut.

Dia menyebutkan bahwa serangan itu dilancarkan selama dua hari sebelumnya, dan tepat menimpa semua sasaran.

Menurut Yahya Saree, serangan ini menjatuhkan korban tewas dan luka di pihak pasukan koalisi sebanyak lebih dari 60 orang, dan korban tewas antara lain beberapa perwira Saudi. (alalam)

Rusia: Pemblokiran Situs-Situs Poros Resistensi oleh AS Melanggar Hukum Internasional

Kemlu Rusia mengecam tindakan pemerintah AS memblokir puluhan website yang berafiliasi dengan Poros Resistensi, termasuk situs-situs berita yang berbasis di Iran.

Jubir Kemlu Rusia Maria Zakharova dalam jumpa pers di Moskow, Kamis (1/7), menyatakan bahwa pemblokiran terhadap lebih dari 30 website itu melanggar hukum internasional. Dia mengecam apa disebutnya sensor informasi secara ketat oleh AS.

“AS telah melawati batas dalam melakukan sensor informasi di internet, dan benar-benar telah melupakan komitmen-komitmen internasionalnya mengenai penyiaran informasi secara bebas, yang merupakan salah satu aspek HAM,” ujar Zakharova.

Dia menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan besar teknologi informasi yang telah melakukan sensor informasi di internet secara resmi berafiliasi dengan pemerintah AS.

“Perusahaan-perusahaan ini dengan mudahnya menutup mata terhadap standar-standar internasional, dan tidak membiarkan negara-negara lain (penentang hegemoni AS) menyampaikan sikapnya kepada khalayak internasional,” ungkap Zakharova.

Seperti pernah diberitakan, sejak 22 Juni lalu pemerintah AS telah memblokir puluhan situs tersebut, termasuk Press TV dan Al-Alam milik badan penyiaran Iran, IRIB, situs berita Al-Masirah milik Ansarullah Yaman, situs berita Al-Maloumah yang berbasis di Irak, situs Palestine Today milik Jihad Islam Palestina (PIJ) yang berbasis di Gaza, situs Al-Loulou milik kelompok oposisi Bahrain, dan situs Al-Naba milik kantor berita Libanon.

Situs-situs milik Iran itu tertutup oleh halaman bertuliskan keterangan dari Biro Investigasi Federal (FBI) dan Biro Industri dan Keamanan Kemlu AS bahwa  pemerintah AS telah mengambil alih situs-situs itu.

Seorang pejabat keamanan nasional AS mengatakan kepada CNN bahwa demi mengatasi “informasi-informasi menyesatkan” pemerintah AS telah memblokir beberapa website yang terkait dengan Iran. (tasnim/fna)

Diplomat Israel: Perubahan Sikap AS Soal Golan Kesempatan bagi Iran untuk Kepung Israel

Diplomat senior Israel Dore Gold menyatakan bahwa perubahan kebijakan AS mengenai Dataran Tinggi Golan, tanah Suriah yang diduduki Israel, berpotensi dipandang Iran sebagai kesempatan untuk mengepung Israel.

Gold menjelaskan bahwa pemerintah AS sekarang berhak mengubah kebijakan pemerintah sebelumnya. Karena itu, Perdana Menteri Israel Naftali Bennett setidaknya mengemban satu misi dalam masalah ini, yaitu mempertahankan kondisi yang ada sekarang.

“Pernyataan Presiden AS Joe Biden bahwa Iran tak akan pernah memiliki senjata nuklir di masa kepresidenannya sangatlah penting dan strategis, demikian pula halnya dengan penegasan komandan tertinggi Angkatan Bersenjata AS. Namun, dalam beberapa pekan terakhir ini terjadi penitik beratan pada hubungan Israel-AS untuk urusan yang berkaitan dengan harapan agar Biden melanjutkan dukungan kepada kedaulatan Israel atas Golan, yang telah diakui secara resmi di masa pemerintahan Trump,” ujar Gold kepada saluran 12 Israel, seperti dikutip Rai Al-Youm, Kamis (1/7).

Gold yang kini menjabat sebagai direktur Institut Yerussalem untuk Kajian Sosial juga mengatakan bahwa perlu proses diplomatik lebih lanjut antara Israel dan AS untuk memungkinkan penyelesaian masalah ini sebelum pertemuan puncak pertama antara Biden dan Bennett.

“Sebab, jika kebijakan AS mengenai Golan berubah maka ini dapat ditafsirkan oleh orang-orang Iran sebagai terwujudnya harapan mereka untuk mengepung Israel dengan milisi mereka di Libanon dan Suriah, dan bahkan bisa jadi juga Yordania, hal yang bisa jadi akan menjurus pada konfrontasi yang tak diinginkan oleh AS maupun Israel,” pungkas Gold. (raialyoum)

Dibayangi Drone Maut, Kedubes AS di Baghdad Pekikkan Sirine

Sirine di dalam komplek Kedubes AS untuk Irak di Baghdad berbunyi menyusul dugaan adanya drone yang terbang di atas komplek tersebut, demikian dilaporkan oleh reporter RT di Baghdad dini hari Jumat (2/7).

Dalam berita segera yang dimuat di situs berita RT milik Rusia disebutkan bahwa sang reporter melaporkan, “Pasukan perlindungan Kedubes AS di Baghdad baru saja menduga adanya sebuah drone di atas Kedubes, dan karena itu mereka menetapkan status siaga.”

Reporter itu menambahkan bahwa sejauh ini tak ada serangan terhadap Kedubes AS.

Sebelumnya, berbagai kelompok pejuang relawan Irak bersumpah untuk membalas serangan udara pasukan AS terhadap posisi-posisi pasukan relawan Al-Hashd Al-Shaabi di dekat perbatasan Irak-Suriah yang telah menggugurkan empat relawan.

Dalam perkembangan terbaru, Jubir kelompok pejuang Al-Nujaba Irak, Nasr Al-Shammari, mengecam apa yang dia sebut lemahnya sikap pemerintah Irak di depan agresi AS.

“Apa arti semua pengabaian ini? Pelaksanaan undang-undang parlemen mengenai pengeluaran orang-orang Amerika merupakan salah satu janji pemerintahan (Perdana Menteri Irak Mustafa) Al-Kadhimi. Tapi sekarang kita melihat Washington menyerang pasukan Al-Hashd Al-Shaabi di wilayah Irak dan secara blak-blakan mengaku bertanggungjawab atas serangan ini,” ujar Al-Shammari.

Dia menambahkan bahwa merilis pernyataan kecaman saja adalah “tindakan memalukan yang bahkan musuhpun bergembira atas keluarnya statemen yang tak menghasilkan apa-apa”.

Dia lantas menegaskan lagi sumpah para pejuang Irak untuk membalas serangan tersebut.

“Kami tak dapat duduk menunggu hasil perundingan para pejabat yang mereka sendiri bergantung pada Amerika. Kami tak dapat duduk melihat abainya lembaga-lembaga politik, sementara para pemuda Irak setiap hari berguguran. Karena itu kami harus menyerang semua struktur musuh,” tegasnya.

Al-Shammari lantas memperingatkan bahwa pasukan relawan Irak kini memiliki kemampuan resistensi yang lebih besar.

“Jika kami tak melakukan (pembalasan) ini maka kami akan melihat terulangnya agresi musuh, sedangkan jika Washington mengerti bahwa agresi terhadap orang-orang Irak berbiaya tinggi maka silakan meninjau ulang kebijakannya dalam hal ini,” lanjutnya.

Dia juga menegaskan bahwa gerakan Al-Nujaba Irak berkemampuan menyerang semua kepentingan AS di Irak, dan akan melakukannya.

Berbagai laporan menyebutkan bahwa kelompok-kelompok pejuang Irak belakangan ini telah didukung oleh Iran dengan berbagai jenis senjata, termasuk pesawat nirawak atau drone. (rt/tasnim)