Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 19 Juni 2020

ujicoba rudal jelajah iranJakarta, ICMES. Angkatan Laut (AL) Iran sukses mengujicoba rudal-rudal jelajah (cruise) jarak menengah dan jarak jauh generasi baru buatannya di tengah eskalasi hubungan negeri sejuta mullah ini dengan Amerika Serikat .

Pemimpin gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman, Sayid Abdul Malik Badruddin al-Houthi  memperingatkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) ihwal upaya normalisasi hubungan keduanya dengan Israel.

Kubu presiden pelarian Yaman, Abd Rabbuh Mansour Hadi, yang didukung Arab Saudi dan sekutunya, mengakui empat perwiranya, termasuk satu jenderal, tewas dalam pertempuran terbaru melawan para pejuang Ansarullah (Houthi).

Wakil Presiden Iran Eshaq Jahangiri optimis Suriah akan kembali stabil dalam menghadapi tekanan AS, dan mengatakan bahwa keterbunuhan mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Qassem Soleimani, di tangan AS di Irak tidak mempengaruhi dukungan Iran kepada Suriah.

Berita selengkapnya:

Iran Sukses Ujicoba Rudal Jelajah Generasi Baru Buatan Dalam Negeri

Angkatan Laut (AL) Iran sukses mengujicoba rudal-rudal jelajah (cruise) jarak menengah dan jarak jauh generasi baru buatannya di tengah eskalasi hubungan negeri sejuta mullah ini dengan Amerika Serikat (AS).

Dalam sebuah latihan perang, rudal-rudal darat-ke-laut dan laut-ke-laut telah ditembakkan dari kawasan pantai dan dari dek kapal serta berhasil menghantam sasaran dengan presisi tinggi di Laut Oman dan bagian utara Samudera Hindia, Kamis (18/6/2020). Rudal jarak jauh di antaranya telah menghancurkan target yang ditentukan pada jarak 280 kilometer.

Wakil Komandan Angkatan Bersenjata Iran Laksamana Muda Habibollah Sayyari mengatakan, “Sekarang daya pertahanan kita di laut sangat bagus. Kita berusaha dengan segenap kemampuan mempertahankan kepentingan negara, dan kita mencapai ini di tengah penerapan sanksi dan melalui kerjasama penuh, terutama antara antarunit Angkatan Bersenjata serta antara Angkatan Bersenjata dan Kementerian Pertahanan.”

Menurutnya, meskipun dikenai “sanksi brutal” AS, Iran akan terus bergerak menuju swasembada dan tidak memerlukan peralatan militer asing,

“Ujicoba penembakan rudal jarak jauh yang sukses ini merupakan tanda kemajuan luar biasa dalam peningkatan sinergi antara Angkatan Bersenjata dan industri pertahanan,” imbuhnya.

Wakil Menteri Pertahanan Iran Jenderal Qassem Taqizadeh mengatakan, “Hari ini kita menyaksikan ujicoba sukses rudal-rudal jelajah buatan dalam negeri. Kita berjuang mengembangkan keahlian kita di bidang sains dan kognisi pertahanan, dan kita kerahkan segenap kemampuan yang tersedia di negara ini untuk mewujudkan hal ini.”

Sasaran-sasaran di laut diperankan sebagai musuh buatan, dan telah dihancurkan dengan rudal laut-ke-laut yang ditembakkan dari dek kapal AL, dan rudal darat-ke-laut yang dilesatkan dari bibir pantai, sebagai penegasan atas kesiapan Angkatan Bersenjata Iran mencegah gangguan terhadap keamanan dalam negeri dan regional.

Komandan AL Iran Laksamana Hossein Khanzadi mengatakan, “Kawasan utara Samudera Hindia, Laut Oman, Selat Hormuz, dan Teluk Persia tergolong kawasan yang sangat penting secara geopolitik untuk pengamanan sumber-sumber energi. Karena itu, pengamanan di kawasan ini sangatlah penting.”

Penembakan rudal jelajah berjarak 280 kilometer – yang juga masih dapat ditambah- dinilai Teheran sebagai langkah optimistik di bidang penguatan daya pertahanan dan pencegahan, dan Teheran bersikukuh melanjutkan jalan ini meski dikenai sanksi oleh AS. (alalam/presstv)

Pemimpin Ansarullah Yaman Sebut Saudi dan UEA Berpihak kepada Israel

Di tengah ketegangan Timur Tengah terkait dengan aneksasi Israel terhadap beberapa bagian Tepi Barat, Palestina, pemimpin gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman, Sayid Abdul Malik Badruddin al-Houthi  memperingatkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) ihwal upaya normalisasi hubungan keduanya dengan Israel yang notabene musuh umat Islam serta keberpihakan keduanya kepada rezim Zionis penjajah Palestina tersebut.

“Arab Saudi dan UEA berpihak kepada Israel, yang merupakan musuh utama dunia Muslim,” ujar al-Houthi dalam pidato televisi yang disiarkan langsung dari Sana’a, ibu kota Yaman, dalam peringatan tahunan “Teriak Perlawanan terhadap Mustakbirin”, Kamis (19/6/2020).

Dia menekankan bahwa kedua negara Arab pesisir Teluk Persia itu bahkan bersekongkol dengan Israel terhadap Palestina dan berusaha menggembosi perjuangannya.

Al-Houthi juga mengatakan Israel dan Amerika Serikat (AS) terus berusaha merongrong dan memerangi Yaman.

“Musuh ingin mendorong sikap apatis publik di antara orang-orang Yaman agar acuh tak acuh terhadap rencana dan skema (musuh) mereka,” ungkapnya.

Sembari mengecam negara-negara Arab tertentu yang dinilainya melayani kepentingan Washington dan Tel Aviv di wilayah Timur Tengah, Al-Houthi menekankan bahwa perlawanan berbasis ajaran Islam merupakan strategi terbaik dalam melawan konspirasi musuh.

“AS dan Israel berupaya memperbudak rakyat Yaman. Plot mereka menarget seluruh komunitas Muslim, dan bertujuan menghancurkan negara-negara Islam dari dalam dengan menabur benih perselisihan dan perpecahan,” ungkapnya.

Pemimpin Ansarullah memastikan pihaknya akan terus melawan ambisi AS dan Israel di kawasan, dan menilai Washington takut berkonfrontasi langsung dengan para pejuang Yaman sehingga lantas mengandalkan Arab Saudi.

Namun, dia lantas menegaskan, “Pasukan bayaran AS dan rezim Israel pada akhirnya akan menarik diri dari Yaman setelah menderita kekalahan memalukan.” (alalam/presstv)

Kubu Pro-Saudi Akui 4 Perwira Militernya, Termasuk 1 Jenderal, Tewas

Kubu presiden pelarian Yaman, Abd Rabbuh Mansour Hadi, yang didukung Arab Saudi dan sekutunya, mengakui empat perwiranya, termasuk satu jenderal, tewas dalam pertempuran terbaru melawan para pejuang Ansarullah (Houthi).

Pusat media kubu Mansour Hadi, Kamis (18/6/2020), merilis statemen yang menyebutkan bahwa pada hari itu telah disemayamkan jenazah Brigjen Hamid bin Mansour al-Qaefi, penasehat komandan operasi gabungan yang bernaung di bawah kementerian pertahanan pemerintahan Hadi, serta jenazah tiga perwira lainnya, yaitu Mayor Abdul Fattah Abu Rais, Letnan Bilal Mohammad Jabir, dan Letnan Sholah Hamid.

Menurut statemen tersebut, empat perwira itu terbunuh dalam “pertempuran perampungan pembebasan tanah air dari milisi pemberontak Houthi”.

Statemen itu tidak menyebutkan waktu dan tempat terbunuhnya empat perwira tersebut, namun dalam beberapa hari terakhir berkobar pertempuran sengit di distrik Nahom di sebelah timur Sanaa, ibu kota Yaman, antara pasukan loyalis Hadi dan Ansarullah hingga jatuh beberapa korban tewas dan luka dari kedua belah pihak.

Yaman dilanda perang antara pasukan loyalis Mansour Hadi dan para pejuang gerakan Ansarullah yang menguasai Sanaa dan beberapa provinsi sejak 2014.

Sejak Maret 2015, koalisi militer Arab, yang dipimpin oleh Arab Saudi, melancarkan invasi militer ke Yaman dengan dalih membela pemerintahan Mansour Hadi melawan Ansarullah yang didukung oleh Iran.

Perang ini menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di mana 80 persen penduduk Yaman membutuhkan bantuan, sementara semua sektor negara ini nyaris hancur total, termasuk sektor kesehatan di tengah pandemi Covid-19. (raialyoum)

Soal UU Caesar AS, Wapres Iran Optimis Suriah akan Kembali Stabil

Wakil Presiden Iran Eshaq Jahangiri mengatakan bahwa keterbunuhan mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Qassem Soleimani, di tangan AS di Irak tidak mempengaruhi dukungan Iran kepada Suriah.

Dalam kontak telefon dengan Perdana Menteri Suriah Hussein Arnous, Kamis (18/6/2020), Jahangiri meyakinkan Arnous bahwa Iran tidak akan ragu mengambil tindakan apapun untuk mengurangi tekanan AS terhadap Suriah.

Dia juga menyebutkan Suriah “akan kembali meraih kekuatan, ketenangan, dan stabilitasnya.”

Jahangiri menambahkan bahwa keteguhan “pemerintah, rakyat dan tentara (Suriah) dalam menghadapi masalah telah membuahkan hasil”, dan bahwa Damaskus telah mencetak berbagai prestasi.

Sebelumnya, Arnous mengadakan pembicaraan dengan Penasihat Wakil Presiden Pertama Iran dan Kepala Komite Pengembangan Hubungan Ekonomi Iran dengan Suriah dan Irak, Hassan Danaisar, mengenai langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dalam menghadapi sanksi AS yang dinamai “Undang-Undang Caesar”. (rtarabic)