Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 19 Agustus 2022

Jakarta, ICMES. Hadi Matar, 24 tahun, penyerang novelis anti-Islam Salman Rushdi, 75 tahun, dilaporkan telah memuji pendiri Republik IslamIran, Alm. Imam Khomaini, namun mengaku tak memiliki hubungan apapun dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.  

Juru bicara Gerakan Perlawanan Islam Palestina  (Hamas), Abdul Latif al-Qanou, menegaskan bahwa konfrontasi di Nablus, Tepi Barat, menunjukkan bahwa “senapan syahid Ibrahim al-Nabulsi tidak jatuh.”

Banjir di Sudan menewaskan 77 orang, sementara kebakaran hutan di Aljazair menewaskan 37 orang.

Berita Selengkapnya:

Penikam Salman Rushdie Puji Imam Khomaini dan Tercatat sebagai Simpatisan Hizbullah

Hadi Matar, 24 tahun, penyerang novelis anti-Islam Salman Rushdi, 75 tahun, dilaporkan telah memuji pendiri Republik IslamIran, Alm. Imam Khomaini, namun mengaku tak memiliki hubungan apapun dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.  

Kepada New York Post dari Penjara Chautauqua County, pemuda AS berdarah Lebanon itu mula-mula mengaku terkejut mendengar kabar bahwa Rushdie yang telah dia tikam berulang kali ternyata masih bertahan hidup.

“Ketika saya mendengar dia selamat, saya terkejut,” ujar Matar.

Dia menambahkan, “Saya tidak suka orang itu. Saya tidak berpikir dia orang yang sangat baik. Saya tidak menyukainya. Saya sangat tidak menyukainya.”

Matar beralasan, “Dia adalah seseorang yang menyerang Islam, dia menyerang kepercayaan mereka, sistem kepercayaan mereka.”

Dia lantas menyebutkan nama Imam Khomaini yang pada tahun 1988 telah mengeluarkan fatwa hukuman mati terhadap Rushdie.

 “Saya menghormati Sang Ayatullah Saya pikir dia orang yang hebat. Sejauh itu yang akan saya katakan tentang itu.”

Matar mengaku hanya “membaca beberapa halaman” novel kontroversial The Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan) karya Salman Rushdie.

Meski demikian, dia tidak mengaku terinspirasi oleh Imam Khomaini.

Salman Rushdia ditikam oleh Matar sekitar 12 kali, termasuk di bagian wajah dan leher, saat Salman sedang diperkenalkan di Institusi Chautauqua, kata pejabat setempat.

Menurut NBC News,  tinjauan awal media sosial Matar menunjukkan bahwa dia bersimpati pada IRGC dan kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Labenon. Namun, terdakwa, dari Fairview di New Jersey, yang telah muncul di pengadilan, itu membantah melakukan kontak dengan IRGC.

Dia juga mengaku secara pribadi terdorong pergi ke Chautauqua setelah melihat tweet yang mengumumkan kunjungan Salman di musim dingin. Dia menceritakan bagaimana dia naik bus ke Buffalo sehari sebelum dia menikam Rushdie, dan kemudian naik taksi ke Chautauqua.

“Ini tempat yang bagus,” katanya, merujuk pada institusi tersebut.

“Saya cukup banyak berkeliaran. Tidak melakukan sesuatu yang khusus, hanya berjalan-jalan,” imbuhny.

Dia mengaku tidur di atas rumput pada Kamis malam lalu.

“Aku hanya di luar sepanjang waktu,” ujarnya.

Akibat tikaman Matar, Rushdie dilaporkan menderita luka pada bagian hati, saraf di lengan terputus, dan matanya kemungkinan besar akan buta. Namun belakangan dilaporkan membaik, dapat mengucapkan sepatah kata dan lepas ventilator.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kana’ani mengutuk penghinaan terhadap Islam dengan alasan kebebasan berbicara, namun menepis kaitan apapun antara Teheran dan serangan terhadap Salman. (alalam/newssky)

Hamas: Konfrontasi di Nablus Bukti Senapan Syahid Al-Nablusi Masih Aktif

Juru bicara Gerakan Perlawanan Islam Palestina  (Hamas), Abdul Latif al-Qanou, menegaskan bahwa konfrontasi di Nablus, Tepi Barat, menunjukkan bahwa “senapan syahid Ibrahim al-Nabulsi tidak jatuh.”

Dalam sebuah pernyataanya, Kamis (18/8), Al-Qanou mengatakan, “Konfrontasi merebak setiap hari di wilayah pendudukan Tepi Barat, dan semua itu menunjukkan kontinyuitas resistensi dan revolusi Palestina.”

Dia menambahkan “Rezim okupasi (Israel) tidak akan menikmati keamanan atau stabilitas di wilayah pendudukan Tepi Barat, dan bangsa Palestina menegaskan bahwa mereka bersatu dalam resistensi, dan bagaimanapun musuh tak berhasil menumpas resistensi yang telah tertanam kuat dalam sanubari para pemuda Palestina.”

Al-Qanou juga mengatakan, “Sepak terjang rezim pendudukan untuk mematahkan resistensi tak berhasil, dan Tepi Barat bukanlah gelanggang yang diperbolehkan untuk rezim pendudukan dan para imigrannya.”

Rabu lama lalu satu pemuda Palestina gugur dan sekira 30 lainnya menderita luka tembak dan sesak nafas dalam bentrokan melawan pasukan Zionis Israel di sekitar Makam Yusuf (Joseph Tomb) di timur kota Nablus. (alalam)

Ngeri, Banjir di Sudan Tewaskan 77 Orang, Kebakaran Hutan di Aljazair Tewaskan 37 Orang

Banjir di Sudan menewaskan 77 orang, sementara kebakaran hutan di Aljazair menewaskan 37 orang.

Banjir di Sudan juga menghancurkan sekitar 14.500 rumah saat hujan lebat musiman melanda negara ini dan menyebabkan sungai-sungai meluap.

Juru bicara Dewan Nasional Pertahanan Sipil Sudan, Brigjen Abdul-Jalil Abdul-Rahim, mengatakan bahwa korban tewas sejak musim hujan mulai Mei sekarang mencapai 77 orang.

Menurutnya, provinsi yang paling terpengaruh oleh hujan musiman antara lain Kordofan Utara, Gezira, Kordofan Selatan, Darfur Selatan dan Sungai Nil.

Hujan lebat biasanya turun di Sudan antara Mei dan Oktober, dan setiap tahun negara ini dilanda banjir parah yang merusak properti, infrastruktur, dan tanaman.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada awal pekan ini melaporkan bahwa, menurut Komisi Bantuan Kemanusiaan pemerintah, organisasi kemanusiaan, dan otoritas lokal, lebih dari 136.000 orang terkena dampak banjir.

Badan PBB itu juga menyebutkan pihaknya memperkirakan jumlah itu akan meningkat karena penilaian masih berlangsung dan diperkirakan akan turun hujan lebat.

PBB juga mengatakan jumlah orang dan daerah yang terkena dampak hujan musiman pada 14 Agustus telah “dua kali lipat” dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Sementara itu, kebakaran hutan telah menewaskan sedikitnya 37 orang dan melukai puluhan lainnya di Aljazair utara, sementara api terus berkobar di beberapa daerah.

Kebakaran pada hari Rabu (17/8) menghancurkan 14 provinsi Aljazair, sementara penduduk sebelumnya mengeluhkan kurangnya dukungan dan kesiapan pemerintah selama musim kebakaran tahunan yang mematikan.

Sebagian besar korban dilaporkan berada di provinsi El Tarf, dekat perbatasan utara Aljazair-Tunisia, di mana 34 orang ditemukan tewas. Korban tewas termasuk satu keluarga yang terdiri dari lima orang yang ditemukan di rumah mereka dan delapan orang di bus umum yang sopirnya dikejutkan oleh api saat bepergian di daerah pegunungan.

“Sebagian besar korban di El Tarf adalah wisatawan yang datang untuk menikmati pantai surgawi dan pemandangan yang mempesona,” kata Perdana Menteri Aïmene Benabderrahmane.

Dia dan beberapa pejebat pemerintah tiba di El Tarf pada hari Kamis (18/8). Perdana menteri mengatakan negara bagian Aljazair akan mendukung keluarga para korban dan membayar pekerjaan renovasi dan kompensasi atas hilangnya ternak dan sarang lebah. (aljazeera)